NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Delapan—Bidak Weiqi Berjalan Mengepung

Angin pagi musim semi berembus pelan. Pepohonan dan bunga-bunga di halaman Kediaman Jenderal Besar Gu tampak semakin rimbun dan bermekaran. Namun, berbanding terbalik dengan keindahan di luar, keheningan justru menyelimuti ruang tamu kediaman itu dengan begitu pekat.

Tuan Besar Zhao duduk dengan wajah tenang. Sesekali jemarinya menyisir janggut putihnya sambil memainkan sebutir batu weiqi. Di hadapannya, Jenderal Besar Gu membalas setiap langkah permainan tanpa sedikit pun mengangkat pandangan.

"Jenderal Besar Gu, saya penasaran mengapa Anda tidak langsung menjelaskan inti persoalannya."

Pria tua itu memindahkan satu batu putih, mengepung beberapa batu hitam milik lawannya.

"Mengapa putra saya kini dikurung seperti seorang kriminal?"

Jenderal Besar Gu terdiam cukup lama. Tatapannya tetap terpaku pada papan weiqi, sementara rahangnya mengeras menahan sesuatu.

"Karena jawabannya ada di papan weiqi ini."

Sebuah batu hitam jatuh pelan sebagai langkah pertahanan.

"Apa maksud Anda?" tanya Tuan Besar Zhao, masih mempertahankan ketenangan yang dibuat-buat.

"Tuan Besar Zhao." Suara Jenderal Besar Gu terdengar datar. "Putra Anda telah membuat skandal besar yang merusak nama baik putri saya tadi malam."

Alih-alih terkejut, Tuan Besar Zhao justru terkekeh pelan. Pandangannya masih terpaku pada papan permainan, seolah aib itu hanyalah persoalan kecil yang dapat diselesaikan dengan kekuasaan.

"Kalau begitu, bukankah lebih baik jika pernikahan mereka dipercepat?"

Tak!

Satu batu weiqi menghantam papan kayu dengan suara nyaring. Jenderal Besar Gu mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol saat ia berusaha menahan amarah yang kembali bergolak.

"Jadi... itu menurutmu?"

Pada saat itulah Gu Mingyue melangkah memasuki aula. Hanfu putih polos yang dikenakannya hanya dihiasi bordir sederhana. Sebuah jepit rambut perak menjadi satu-satunya hiasan di kepalanya.

Langkahnya tampak lunglai, sementara riasan wajah yang sengaja dipucatkan membuatnya terlihat seperti perempuan yang baru semalaman menangis.

"Salam, Ayahanda. Salam, Tuan Besar Zhao."

Ia membungkukkan badan dengan anggun.

Melihat kedatangannya, Tuan Besar Zhao terkekeh kecil. Keyakinan bahwa keadaan masih berada dalam kendalinya membuat pria tua itu semakin percaya diri.

"Nona Besar Gu, skandal ini sudah cukup besar. Bukankah kita harus segera membereskannya?"

Gu Mingyue hanya tersenyum lembut. Ia memberi isyarat kepada para pelayan untuk meletakkan teko teh, cangkir, dan kue-kue musim semi di atas meja. Setelah semuanya tersusun rapi, ia menuangkan teh dengan gerakan perlahan, seolah pembicaraan yang sedang berlangsung sama sekali tidak memengaruhinya.

"Itukah menurut Anda, Tuan Besar Zhao?"

"Tentu. Semakin cepat, semakin baik."

Pria tua itu mengangguk mantap, mengira jalan politik putranya menuju kekayaan peninggalan mendiang ibu Gu Mingyue tinggal selangkah lagi.

Senyum Mingyue menipis. "Ayah, Tuan Besar Zhao sudah setuju."

"Tentu." Sahut Tuan Besar Zhao dengan cepat sambil tertawa kecil.

Gu Mingyue mundur beberapa langkah menuju seorang pelayan, lalu membisikkan sesuatu.

Tak lama kemudian, Zhao Yuchen digiring memasuki ruang tamu. Wajahnya pucat pasi dengan rambut yang masih berantakan. Beberapa saat setelahnya, Gu Lian ikut masuk bersama Selir Lin. Kepala keduanya tertunduk dalam.

"Selir Lin, kau juga harus menjadi saksi," ujar Tuan Besar Zhao.

"Tentu, Tuan."

Gu Mingyue mengangkat pandangannya. "Tuan Besar Zhao... gadis yang ditiduri Kakak Zhao semalam adalah Gu Lian."

Ia kembali menundukkan kepala, menyembunyikan senyum tipis yang nyaris merekah.

Senyum Tuan Besar Zhao membeku. Dalam sekejap, seluruh kesombongan di wajahnya lenyap. Tatapannya bergerak bergantian antara Zhao Yuchen dan Gu Lian dengan penuh ketidakpercayaan.

"Demi kebaikan adik saya dan nama baik Keluarga Gu, saya bersedia membatalkan rencana pertunangan ini." Gu Mingyue kembali mengangkat wajahnya.

Tatapannya menembus wajah pria tua yang kini membisu. "Karena itu... pernikahan mereka harus segera dilaksanakan."

Brakkk!

Meja kayu berguncang hebat akibat pukulan Tuan Besar Zhao. Papan weiqi terbalik, membuat batu-batu hitam dan putih berhamburan ke lantai. Pria tua itu bangkit dengan wajah merah padam, lalu melangkah lebar menghampiri putranya.

Plakkk!

"Kurang ajar!"

Tamparan keras itu membuat Zhao Yuchen terhuyung sebelum akhirnya terjatuh ke lantai.

"Aku sedang membantumu, tetapi kau malah menghancurkan semuanya!" Ucap Tuan Besar Zhao. Dadanya naik turun hebat, nyaris kehilangan kendali oleh amarah.

Gu Mingyue perlahan melangkah mundur. Drama Keluarga Zhao bukan lagi urusannya. Ia harus meninggalkan ruangan sebelum muncul penolakan lain yang dapat mengganggu rencananya. Di ambang pintu aula, ia sempat menoleh melalui sudut matanya yang dingin.

Tuan Besar Zhao... ini adalah balasan karena di kehidupan lalu kau memanfaatkan kekayaan mendiang ibuku demi melambungkan nama keluargamu sendiri.

Menyaksikan Zhao Yuchen ditampar habis-habisan oleh ayahnya sendiri menghadirkan kepuasan yang sulit dilukiskan.

Tanpa menoleh lagi, Gu Mingyue melangkah meninggalkan aula. Kelopak-kelopak bunga musim semi berguguran perlahan, terbawa embusan angin yang sejuk.

Baru saja ia membelok menuju paviliun pribadinya, seorang pelayan perempuan berlari kecil menghampirinya. Pelayan itu membungkuk hormat sambil menyerahkan sebuah surat tertutup.

Pandangan Gu Mingyue langsung tertuju pada nama yang tertulis rapi di permukaan amplop.

Shen Mufeng.

Ia segera mempercepat langkah menuju paviliunnya. Setelah pintu kamar tertutup rapat, barulah surat itu dibuka.

     "Api menyebar dengan cepat. Seseorang harus tahu siapa yang memegang kipas."

Kening Gu Mingyue berkerut halus. Matanya bergerak ke baris berikutnya.

    "Setiap kibasan membutuhkan dorongan..."

Gadis itu terdiam. Sudut surat di jemarinya berderak pelan ketika embusan angin menyusup melalui celah jendela. Di bagian paling bawah, sebuah cap berlambang resmi tercetak jelas.

Pasukan Api.

Gu Mingyue mengangkat pandangannya sesaat, lalu mengarahkan surat itu ke nyala lilin di atas meja. Api segera melalap seluruh kertas hingga berubah menjadi abu tipis. Aroma harum yang khas perlahan memenuhi ruangan.

Kertas wangi dari wilayah utara...

Ia langsung mengenali asal kertas mahal tersebut. Bara terakhir surat itu baru saja padam ketika terdengar ketukan pelan dari balik pintu.

"Masuk."

Fan Li'er segera melangkah masuk dengan napas sedikit memburu. "Nona, saya mendengar penyusup itu berhasil melarikan diri."

Gu Mingyue menatapnya tajam. "Kabur?"

"Iya, Nona." Fan Li'er mengangguk. "Namun, saya menemukan benda ini di halaman belakang paviliun Anda."

Ia menyodorkan sebuah plakat kayu kecil berjumbai. Pandangan Gu Mingyue jatuh pada ukiran di permukaannya. Lambang yang sama.

Pasukan Api.

Gu Mingyue membeku sesaat. Benaknya langsung menghubungkan plakat itu dengan surat yang baru saja ia bakar.

Penyusup semalam... bukan sedang gagal melarikan diri.

Ia memang sengaja membiarkan dirinya tertangkap demi menyempurnakan satu bidak di papan permainan yang sedang bergerak.

Perlahan, seulas senyum puas terukir di bibir Gu Mingyue. "Li'er."

"Iya, Nona?"

"Siapkan bahan-bahan untuk membuat kantong wangi."

"Baik, Nona."

Fan Li'er membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan.

Gu Mingyue kembali menatap abu surat yang masih tersisa di atas meja.

Permainan baru saja dimulai.

...----------------...

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!