Demi takhta tertinggi Klan Zhou, Zhou Yu dijebak oleh konspirasi kejam. Menggunakan ramalan palsu, para tetua mengasingkannya ke Pulau Sunyi—tempat para biksu tanpa kekuatan kultivasi, tempat di mana masa depannya sengaja dikubur hidup-hidup.
Enggan membiarkan takdirnya mati dalam kesunyian, Zhou Yu nekat melarikan diri ke Hutan Keramat yang tabu. Di sana, di balik kabut abadi, dia menemukan kerangka naga raksasa yang terantai.
Siapa sangka, setetes darah Zhou Yu justru menghancurkan segel kuno dan membangkitkan takdir yang sebenarnya: Garis Keturunan Iblis Kuno yang ditakuti langit dan bumi! Dengan tulang naga iblis di tubuhnya dan dendam yang membara di hatinya, Zhou Yu berjalan keluar dari pulau pengasingan.
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena sekarang aku kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibuang ke Pulau Sunyi
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena suatu hari nanti aku akan kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Kalimat kelam itu diucapkan Zhou Yu tiga bulan lalu di atas dek kapal pengasingan, tepat sebelum para penjaga Klan Zhou mendorongnya dengan kasar hingga jatuh ke pasir pantai Pulau Sunyi. Saat itu, Penatua Liu—anjing setia pamannya—menatapnya dari atas kapal dengan senyum meremehkan yang amat kejam.
“Di Pulau Sunyi ini, tidak ada energi spiritual untuk kultivasi, Zhou Yu. Kamu akan membusuk di sini sebagai manusia biasa yang fana.”
Malam ini, di bawah siraman dingin bulan purnama, kata-kata kutukan itu menjelma menjadi kenyataan yang menampar wajahnya.
Zhou Yu berdiri di tepi jendela kamarnya yang sempit, menatap sepasang telapak tangannya sendiri. Kulitnya yang dulu halus sebagai Tuan Muda kini dipenuhi kapalan kasar dan luka gores akibat menimba air serta memotong kayu bakar.
Lebih buruk lagi, di dalam dadanya, dantian tempatnya menyimpan energi spiritual terasa kosong dan dingin. Tanpa adanya Qi di atmosfer pulau ini, ranah kultivasinya yang semula berada di Pengumpulan Qi Tingkat 3 telah merosot tajam.
Jika dia terus bertahan di tempat ini selama setahun lagi, dia akan benar-benar berubah menjadi manusia biasa yang lemah. Mengingat hal itu, sepasang mata Zhou Yu menyala oleh api amarah yang murni.
Dia adalah putra dari istri pertama, pewaris sah yang menyandang darah murni Pemimpin Klan Zhou terdahulu. Namun, semenjak ayahnya menghilang secara misterius di wilayah terlarang satu tahun lalu, langitnya runtuh.
Pamannya sendiri, Zhou Gung, bersama para tetua klan yang serakah, menyuap Peramal Besar untuk merekayasa sebuah ramalan palsu. Zhou Yu dicap sebagai ‘Anak Pembawa Bencana’. Dia dituduh membawa nasib sial yang kelak akan meruntuhkan kejayaan klan jika dibiarkan menetap di Benua Langit Timur.
"Ramalan sialan... Konspirasi menjijikkan..." desis Zhou Yu, suaranya bergetar menahan badai yang bergejolak di dalam dada.
Klan Zhou mengasingkannya ke pulau terpencil ini bukan demi keselamatan klan. Mereka ketakutan. Mereka takut bakat kultivasi Zhou Yu akan melampaui Zhou Feng—putra dari pamannya—dan mengambil kembali takhta yang menjadi haknya.
Bagi seorang kultivator, kehilangan kemampuan untuk menjadi kuat adalah hukuman yang jauh lebih kejam daripada tebasan pedang. Pamannya tidak hanya ingin membuangnya; pria kejam itu ingin membunuh jiwanya secara perlahan dalam kesunyian.
Di luar kamar, sayup-sayup terdengar suara genta perunggu yang dipukul berulang kali, diikuti oleh lantunan doa dari para biksu berkepala botak di kuil utama. Mereka berdoa meminta kedamaian dan pengampunan.
Kedamaian? Pengampunan?
Zhou Yu tersenyum sinis, sebuah senyuman dingin yang mengerikan bagi remaja berusia delapan belas tahun. Bagaimana mungkin dia bisa berdamai, jika setiap kali memejamkan mata, wajah-wajah licik orang yang telah mengkhianatinya selalu menuntut balas?
"Jika langit menuntutku untuk memaafkan, maka aku akan merobek langit itu sendiri," bisik Zhou Yu bertekad.
Pandangannya kini beralih, menembus kabut malam dan tertuju pada wilayah utara Pulau Sunyi. Di sana, berdiri hamparan pohon-pohon hitam mati yang pekat, dikenal sebagai Hutan Keramat. Tempat tabu yang dilarang keras oleh para biksu untuk didekati.
Konon, ada kutukan kuno yang bersemayam di sana, menolak semua doa suci dewa, dan siapa pun yang berani melangkah masuk tidak akan pernah kembali dalam keadaan bernyawa.
Namun bagi seseorang yang masa depannya telah mati, kata ‘terlarang’ adalah sebuah undangan. Di dunia kultivasi, di mana ada bahaya ekstrem, di situ pula tersimpan peluang besar untuk membalikkan takdir. Daripada mati perlahan sebagai budak pemotong kayu di kuil ini, Zhou Yu lebih memilih mempertaruhkan nyawanya pada iblis sekalian.
Dengan gerakan seringan kucing, Zhou Yu melompat keluar dari jendela kamarnya. Jubah abu-abu tipisnya berkibar saat tubuhnya melesat menembus kegelapan malam, membelah kabut tebal menuju jantung Hutan Keramat.
Begitu kakinya melintasi batas luar hutan, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah drastis. Keheningan yang mencekam langsung mencekik indranya. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada desau angin. Hanya ada suara langkah kakinya sendiri yang menginjak dedaunan kering. Udara di sini terasa sangat berat, dingin, dan menindas.
Namun anehnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Zhou Yu tidak merasa terancam. Sebaliknya, sesuatu yang mengalir di dalam aliran darahnya perlahan-lahan mulai bergetar samar, seolah-olah menyambut energi dingin yang pekat ini.
Tiba-tiba, dari arah belakang, rentetan cahaya obor memecah kegelapan hutan, disusul oleh suara teriakan yang tergesa-gesa.
"Zhou Yu! Berhenti!"
"Tuan Muda Zhou Yu, kembali ke kuil! Hutan itu adalah wilayah terlarang!"
Itu adalah suara para biksu penjaga kuil. Rupanya, pelariannya disadari lebih cepat dari perkiraan.
"Sialan, mereka cepat sekali!" Zhou Yu menggertakkan giginya.
Jika dia tertangkap sekarang, para biksu itu memang tidak akan menyiksanya, tetapi mereka akan mengurungnya di dalam sel bawah tanah kuil selamanya demi "keselamatan jiwanya". Itu sama saja dengan memotong semua kesempatannya untuk membalas dendam.
"Aku lebih baik mati di hutan ini daripada harus kembali mendekam di kuil sialan itu!"
Zhou Yu memeras seluruh sisa kekuatan fisiknya. Dia berlari kencang, menerobos semak-semak berduri yang menggores pipi dan tangannya, mengabaikan rasa perih demi menjauh dari kejaran obor di belakangnya. Kabut hitam yang turun dari langit-langit pohon terasa semakin tebal, memangkas jarak pandangnya hingga hanya tersisa beberapa meter di depan mata.
Krak!
Tanah yang diinjaknya mendadak runtuh. Di balik semak pekat yang dikiranya jalan setapak, ternyata terdapat sebuah jurang tersembunyi yang sangat curam.
"Gawat—!"
Zhou Yu kehilangan pijakan. Tubuhnya langsung jatuh terpelanting, berguling bebas ke dalam kegelapan jurang yang dalam. Kepalanya menghantam dinding batu yang keras, membuat pandangannya seketika buram, sebelum akhirnya tubuhnya mendarat dengan dentuman keras di dasar gua bawah tanah.
Brak!
Rasa sakit yang luar biasa menjalar, meremukkan seluruh tulang di tubuhnya. Zhou Yu terengah-engah, memuntahkan seteguk darah segar yang hangat ke atas tanah gua yang dingin. Kesadarannya berada di ambang batas. Sayup-sayup, suara teriakan para biksu di atas jurang perlahan-lahan menjauh; mereka tidak memiliki keberanian untuk turun ke dalam jurang terkutuk ini.
Di tengah rasa sakit yang mendera jiwanya, pandangan Zhou Yu yang samar-samar menangkap sesuatu di ujung gua yang luas. Ketika matanya mulai terbiasa dengan kegelapan, jantung Zhou Yu seolah berhenti berdetak.
Di hadapannya, berdiri sebuah struktur raksasa yang luar biasa megah sekaligus mengerikan. Itu adalah kerangka makhluk mitologi purba—seekor naga raksasa.
Meskipun hanya tersisa tulang-belulang berwarna putih keperakan yang sudah kuno, aura keagungan dan tekanan dari kerangka naga itu masih begitu pekat hingga membuat atmosfer gua terasa membeku.
Namun, yang paling mengejutkan adalah ratusan rantai besi hitam besar yang melilit rapat tengkorak dan seluruh tulang rusuk sang naga. Pada setiap jengkal rantai tersebut, terdapat ukiran mantra suci kuno yang memancarkan cahaya merah darah redup, menyegel sisa-sisa jiwa makhluk agung itu agar tidak bisa bangkit kembali.
"Kerangka naga... yang terantai?" bisik Zhou Yu dengan suara parau yang nyaris habis.
Tepat di saat kesadarannya hampir sirna sepenuhnya, darah segar yang mengalir deras dari luka di telapak tangannya tanpa sengaja merembes menembus sela-sela batu, menetes tepat di atas salah satu ujung rantai mantra hitam yang mengikat tulang naga tersebut.
Wusss!
Seketika itu juga, seluruh gua bawah tanah bergetar hebat. Mantra merah darah pada rantai raksasa itu tiba-tiba menyala luar biasa terang, sebelum akhirnya retak, meledak, dan hancur berkeping-keping karena bereaksi keras dengan setetes darah milik Zhou Yu.
Duar!
Ledakan energi hitam bercampur merah darah menghantam dinding gua. Tekanan magis yang begitu besar meluas, dan kabut hitam yang semula tenang kini berputar ganas layaknya badai topan, berpusat tepat di atas tubuh Zhou Yu.
Auuuummm!
Sebuah raungan gaib yang menggetarkan sukma bergema langsung di dalam kepala Zhou Yu. Bersamaan dengan itu, tengkorak raksasa naga tersebut runtuh, mewujud menjadi untaian energi murni berbentuk naga hitam kecil yang terbang melesat lurus, menghantam dada Zhou Yu tanpa ampun.
Jleb!
"AAAKKKHHH!"
Zhou Yu menjerit histeris. Rasa sakit yang tak tertahankan menyerang seluruh tubuhnya saat energi naga hitam itu memaksa masuk ke dalam pembuluh darah dan membakar jantungnya. Di saat yang sama, setetes darah berwarna emas kehitaman yang selama ini tertidur di lubuk jiwanya mendadak bangkit dan memberontak.
Itu adalah Garis Keturunan Iblis Kuno.
Ternyata, ramalan Peramal Besar Klan Zhou tidak sepenuhnya salah. Zhou Yu memang terlahir dengan tanda-tanda yang dianggap merusak kegelapan. Namun, orang-orang klan terlalu bodoh untuk menyadari bahwa apa yang mereka sebut "kutukan pembawa sial" sebenarnya adalah warisan darah penguasa kegelapan yang paling ditakuti sejagat raya.
Krak! Krak!
Suara mengerikan terdengar dari dalam tubuhnya. Tulang-tulang manusianya yang remuk akibat jatuh ke jurang kini dihancurkan secara total, dilebur paksa, lalu digantikan oleh zat keperakan yang sekeras baja mitis—Tulang Naga Iblis.
Keringat dingin bercampur darah hitam pekat mengalir keluar dari pori-pori kulitnya, membuang semua kotoran tubuh fana. Wajah Zhou Yu memucat jengah, urat-urat di lehernya menonjol mengerikan. Dia merasa seperti sedang dikuliti hidup-hidup berulang kali.
Namun, di tengah siksaan batin yang luar biasa itu, bayangan wajah licik pamannya, Zhou Gung, dan senyuman meremehkan dari sepupunya, Zhou Feng, berputar di benaknya.
Aku tidak boleh mati di sini! Jika aku mati, mereka akan menang!
Merasakan tekad membara dari pemuda itu, seluruh sisa kekuatan dari kerangka naga teratai kini terserap habis tanpa sisa ke dalam dantian Zhou Yu. Ranah kultivasinya yang semula hancur, tiba-kira melonjak drastis dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Pengumpulan Qi Tingkat 1... Tingkat 5... Tingkat 8...
Bum!
Hingga akhirnya, sebuah ledakan energi internal yang kuat berdesir keluar dari tubuhnya, menyapu seluruh debu di dalam gua.
Pengumpulan Qi Tingkat 9! Hanya selangkah lagi menuju ranah Pendirian Fondasi.
Suasana gua perlahan-lahan kembali sunyi. Kabut hitam pekat kini telah terserap sepenuhnya ke dalam pori-pori kulit Zhou Yu.
Beberapa saat kemudian, jemari tangan Zhou Yu bergerak samar. Dia perlahan membuka kelopak matanya. Ketika mata itu terbuka, tidak ada lagi sepasang mata cokelat fana yang lemah.
Di dalam kegelapan gua, sepasang mata Zhou Yu kini menyala dengan kilatan vertikal berwarna merah darah yang mengerikan—Mata Iblis Naga.