Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Penumpang Gelap
Malam turun menyelimuti perairan utara dengan kepekatan yang nyaris sempurna. Gumpalan awan hitam menggantung rendah di atas lautan, menghalangi cahaya bulan dan bintang untuk menyentuh permukaan air.
Hujan mulai turun rintik-rintik. Tetesan air yang dingin jatuh menimpa gulungan ombak, menciptakan suara gemerisik yang menyatu dengan deru angin malam. Suhu udara anjlok secara drastis. Hawa dingin merayap masuk melalui celah-celah papan kayu kapal, memaksa siapa pun yang berada di luar ruangan untuk menggigil kedinginan.
Kapal Bajak Laut Taring Berkarat terus berlayar membelah kegelapan. Layar putihnya basah kuyup, menegang menahan hembusan angin yang membawanya menjauh dari rute patroli militer.
Di atas geladak, suasana terasa sangat sunyi. Tidak ada kru yang berjaga di luar. Mereka semua meringkuk di dalam kabin bawah, kelelahan setelah mengalami serangkaian guncangan mental yang luar biasa sepanjang hari. Mantan kapten gemuk telah menyerahkan kemudi pada mekanisme pengikat tali sementara, membiarkan kapal melaju mengikuti arus lurus yang telah ditetapkan oleh Robin.
Hanya ada suara derit kayu tua dan deburan air laut yang memecah keheningan malam.
Jauh di atas langit malam, sebuah siluet kecil meluncur menembus tirai hujan.
Siluet itu bergerak dengan kecepatan yang sangat stabil, menentang hukum gravitasi dan hukum alam. Tidak ada kepakan sayap. Tidak ada suara baling-baling. Hanya ada dengungan mesin bernada sangat rendah yang diredam oleh suara jatuhnya air hujan.
Itu adalah Vinsmoke Reiju.
Gadis remaja itu melayang di udara menggunakan sepatu bot berteknologi tinggi dari perlengkapan tempur kerajaannya. Raid Suit miliknya memancarkan cahaya redup di bagian tumit, menyemburkan tenaga dorong antigravitasi yang memungkinkannya melintasi lautan luas tanpa menyentuh air.
Mata biru Reiju menatap lurus ke bawah, membelah kegelapan malam dengan bantuan kacamata visor khusus yang terpasang di wajahnya. Sensor termal di kacamatanya menangkap sebuah titik panas kecil yang bergerak perlahan di tengah lautan dingin.
Sebuah kapal kayu berukuran sedang. Kapal yang sama persis dengan yang dia lihat melarikan diri dari hadapan armada ayahnya beberapa jam yang lalu.
Jantung Reiju berdetak sedikit lebih cepat saat dia mengarahkan tubuhnya menukik turun.
Dia telah membuat keputusan yang paling gila dalam hidupnya. Beberapa jam setelah pasukan Germa 66 menyelesaikan perbaikan darurat dan mulai berlayar menjauh, Reiju menyusup ke ruang navigasi. Dia meretas sistem radar kerajaan, melacak arah pelarian kapal kayu ini, lalu terbang keluar melalui lubang ventilasi pembuangan udara tanpa diketahui oleh siapa pun.
Dia muak.
Kemuakannya pada kekejaman keluarganya telah mencapai batas maksimal. Melihat ayahnya yang arogan merasionalisasi kekalahan memalukan tadi siang sebagai sebuah kemenangan politik adalah puncak dari segala kebodohan yang tidak sanggup lagi dia saksikan.
Dia tidak ingin lagi hidup bersama manusia-manusia buatan yang tidak memiliki jiwa. Dia melihat pemuda berarmor merah itu sebagai sebuah jalan keluar. Sebuah kekuatan absolut yang menolak untuk tunduk pada aturan dunia yang konyol.
Reiju memelankan kecepatan terbangnya saat dia mendekati tiang layar utama kapal kayu tersebut. Dia mengatur pendorong mekanis di sepatu botnya untuk melakukan pendaratan yang paling halus.
Ujung sepatunya menyentuh lantai geladak kayu di bagian belakang kapal. Tidak ada suara benturan. Tidak ada getaran. Dia mendarat tanpa suara bagaikan sehelai daun yang jatuh di atas genangan air.
Hujan rintik-rintik langsung membasahi tubuhnya.
Reiju mengangkat tangan kanannya. Dia menyentuh sebuah tombol kecil di sabuk pinggangnya.
Suara desisan elektronik terdengar sangat pelan. Perlengkapan tempur Raid Suit yang membungkus tubuhnya perlahan terurai menjadi partikel nano, lalu tersedot masuk kembali ke dalam kapsul penyimpanan di sabuknya. Kacamata visor di wajahnya ikut menghilang.
Kini, dia kembali mengenakan pakaian biasa yang dia kenakan di balik perlengkapan tempur tersebut. Sebuah kemeja lengan panjang berwarna gelap dan celana panjang berbahan kain tebal yang sangat pas menempel di tubuh rampingnya.
Hawa dingin langsung menyengat kulitnya. Pakaian biasanya dengan cepat menjadi basah oleh air hujan. Namun Reiju mengabaikan rasa tidak nyaman tersebut. Fokusnya saat ini adalah mencari tempat bersembunyi.
Dia tidak berencana untuk langsung menampakkan diri. Dia berniat menyelinap masuk ke dalam ruang penyimpanan logistik, menunggu sampai matahari terbit, lalu mencari cara yang tepat untuk menawarkan kesetiaannya kepada pemuda mengerikan itu.
Reiju mulai berjingkat perlahan.
Sebagai seorang pembunuh terlatih dari Germa 66, langkah kakinya sangat ringan. Dia mengatur ritme napasnya, menyelaraskan suara pijakannya dengan suara deburan ombak yang menghantam lambung kapal. Dia melewati tumpukan tali tambang basah dan beberapa barel kayu kosong tanpa menimbulkan suara decit sedikit pun dari lantai geladak.
Ruang penyimpanan berada tepat di bawah tangga kecil di dekat tiang layar utama.
Reiju mengulurkan tangannya yang pucat dan basah, bersiap meraih gagang pintu kayu ruangan tersebut. Jantungnya berdegup dengan ritme yang teratur. Dia merasa rencananya berjalan dengan sangat sempurna. Tidak ada kru yang berjaga. Tidak ada alarm peringatan.
Namun, dunia di luar logika Germa 66 bekerja dengan cara yang jauh berbeda.
Tepat saat jari-jarinya hampir menyentuh gagang besi pintu tersebut, sebuah suara memecah keheningan hujan.
“Napasmu terlalu berisik untuk seorang penyusup, Gadis Kupu-Kupu.”
Suara itu terdengar sangat dingin, datar, dan diucapkan dengan nada bariton yang bergema langsung di telinganya. Suara itu tidak berasal dari balik pintu. Suara itu turun dari arah kegelapan di atas tiang layar utama.
Reiju tersentak hebat. Seluruh otot di tubuhnya membeku seketika.
Tangannya yang terulur berhenti di udara. Matanya membulat sempurna. Rasa dingin yang menjalar di tulang belakangnya kini bukan lagi disebabkan oleh air hujan, melainkan oleh teror yang luar biasa pekat.
Dia adalah pembunuh elit. Dia telah dilatih untuk menyembunyikan hawa keberadaannya dari sensor pelacak termal paling canggih sekalipun. Namun, seseorang baru saja mendengar suara napasnya di tengah gemuruh ombak dan hujan lebat.
Di atas tiang layar penyangga, Uchiha Madara membuka matanya perlahan.
Dia tidak pernah benar-benar tidur. Duduk bersila di atas kayu palang yang tinggi, dia membiarkan hujan membasahi tubuhnya sementara kesadarannya terus terhubung dengan lingkungan sekitar melalui Haki Pengamatan.
Dia telah merasakan kehadiran gadis ini sejak sepuluh menit yang lalu. Sejak gadis itu masih berupa titik kecil yang terbang melintasi awan mendung di atas lautan.
Madara membaca fluktuasi energi gadis itu. Dia mengenali pola energi yang sama persis dengan yang dia rasakan dari atas balkon kastil logam Germa 66 siang tadi. Gadis berambut merah muda yang menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman.
Dia membiarkan gadis itu mendarat. Dia membiarkan gadis itu melucuti perlengkapan mekanisnya. Dia mengamati setiap gerakan mengendap-endap yang dilakukan gadis itu dari atas ketinggian.
Madara ingin tahu seberapa jauh tikus kecil ini akan menyelinap di kapalnya. Namun ketika gadis itu mencoba memasuki ruang penyimpanan makanan, kesabaran Madara habis.
Madara menjatuhkan dirinya dari atas palang kayu penyangga layar.
Dia meluncur turun menembus kegelapan malam. Udara berdesir pelan di sekitar tubuhnya.
Menjelang persentuhan dengan lantai geladak, Madara mengalirkan sejumlah kecil Chakra ke telapak kakinya. Energi itu bertindak sebagai bantalan peredam kejut yang sangat sempurna.
Madara mendarat tepat dua langkah di belakang tubuh Reiju yang masih mematung.
Tidak ada suara papan kayu yang berderak. Tidak ada suara benturan. Pendaratannya benar-benar hening, seolah-olah dia adalah sosok hantu yang terbuat dari kabut malam itu sendiri.
Reiju merasakan hawa membunuh yang luar biasa pekat tiba-tiba menekan udara di sekitarnya.
Gadis remaja itu perlahan memutar tubuhnya. Kakinya terasa kaku. Saat dia berhasil berbalik sepenuhnya, dia harus menengadahkan wajahnya sedikit untuk menatap sosok yang menjulang di depannya.
Pemuda itu berdiri tegak menembus hujan. Pelindung dada merahnya basah dan memantulkan kilau redup dari lentera kapal yang bergoyang. Rambut hitam panjangnya menempel di leher dan bahunya.
Dan di wajah pemuda itu, sepasang mata merah menyala terang menembus kegelapan malam. Tiga tanda koma hitam berputar pelan di dalam pupil matanya.
Reiju menahan napasnya. Itu adalah mata yang sama yang menatapnya dari jarak puluhan meter siang tadi. Mata yang sanggup menghancurkan ratusan prajurit tanpa berkedip. Mata seorang monster sejati.
Insting bertahan hidup Reiju berteriak agar dia berlari atau mengaktifkan kembali perlengkapan tempurnya. Tetapi logika militer di otaknya memberitahunya bahwa semua itu sia-sia. Pemuda ini bisa mematahkan lehernya sebelum jari tangannya sempat menekan tombol di sabuk.
Reiju tahu siapa dirinya. Dia adalah seorang Vinsmoke. Dia adalah bagian dari kerajaan yang siang tadi telah menghina dan menyerang pemuda ini. Darah musuh mengalir deras di dalam nadinya.
Pemuda ini pasti berpikir bahwa dia dikirim oleh ayahnya untuk melakukan pembunuhan balasan atau sabotase di tengah malam. Dan bagi seseorang yang memiliki kekuatan absolut seperti pemuda ini, hukuman untuk seorang pembunuh bayaran adalah eksekusi di tempat.
Reiju menundukkan wajahnya sedikit. Dia melepaskan kepalan tangannya, membiarkan lengannya jatuh pasrah di sisi tubuh.
Dia memejamkan mata birunya rapat-rapat. Dia menenangkan detak jantungnya. Dia sudah bersiap mati.
Jika ini adalah akhir dari pelariannya, jika nyawanya harus berakhir di atas geladak kayu yang basah ini, maka dia akan menerimanya. Setidaknya dia mati di tangan manusia sejati, bukan membusuk di dalam laboratorium besi milik ayahnya.
Hujan terus turun membasahi wajah Reiju. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Dia menunggu rasa sakit yang akan merobek leher atau menembus dadanya. Dia menunggu hantaman mematikan dari tangan yang sebelumnya meremukkan helm baja ayahnya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu dalam keheningan yang menyiksa.
Hantaman itu tidak pernah datang.
Sebagai gantinya, terdengar suara kain basah yang bergesekan pelan.
Madara perlahan mengangkat kedua tangannya. Dia menyilangkan kedua lengannya di depan dada berarmornya dengan postur yang sangat santai dan mendominasi. Haki Pengamatan miliknya terus memindai isi pikiran dan emosi gadis yang sedang memejamkan mata di depannya.
Sejak gadis ini melayang di udara, Madara tidak merasakan setetes pun niat membunuh. Tidak ada hawa agresi. Tidak ada rencana penyergapan yang bersembunyi di balik detak jantungnya. Yang ada hanyalah rasa putus asa, kelegaan, dan sebuah tekad untuk mencari tempat bernaung.
Gadis ini tidak datang untuk membalas dendam. Gadis ini melarikan diri dari sarangnya sendiri.
Madara menatap wajah gadis itu dengan ekspresi datar. Hujan tidak mengganggu penglihatannya sedikit pun.
“Kau tidak memiliki niat membunuh saat mendarat,” ucap Madara memecah ketegangan. Suaranya tidak bernada tinggi, namun getarannya terasa menembus dada Reiju.
“Apa tujuanmu?” tanya Madara langsung pada intinya.
Reiju tersentak pelan. Kelopak matanya terbuka perlahan.
Dia menatap mata merah yang kini tidak lagi memancarkan hawa membunuh yang tajam, melainkan sebuah pandangan interogasi yang dingin dan penuh perhitungan pragmatis. Pemuda ini tidak langsung menyerangnya. Pemuda ini membaca niat di balik kedatangannya.
Sebuah keberanian aneh tiba-tiba merasuk ke dalam jiwa Reiju.
Dia berdiri lebih tegak, mengabaikan rasa dingin dari pakaiannya yang basah kuyup. Dia menatap lurus ke arah mata merah Madara. Dia tidak akan membuang kesempatan ini dengan kebohongan atau diplomasi murahan ala bangsawan. Pemuda ini bisa melihat kebenaran, maka dia akan memberikan kebenaran.
“Aku muak,” kata Reiju dengan suara yang sedikit bergetar karena dingin, namun penuh dengan keyakinan yang keras.
Madara tidak menjawab. Dia hanya diam, membiarkan gadis itu melanjutkan penjelasannya.
“Aku muak dengan Germa 66,” lanjut Reiju, nada suaranya mulai meninggi mengalahkan suara hujan. “Aku muak dengan ayahku yang mengagungkan mesin dan membuang jiwanya sendiri. Aku muak melihat adik-adikku yang bertingkah seperti monster tanpa nurani. Mereka menyiksa orang lemah dan menyebutnya sebagai evolusi.”
Reiju mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh.
“Siang tadi, aku melihatmu bertarung. Aku melihat bagaimana kau menghancurkan karya terbaik ayahku hanya dengan tangan kosong. Dan aku melihat bagaimana kau... secara sengaja menendang tubuh prajurit itu agar tidak menimpa seorang pelayan yang sedang bersembunyi.”
Madara sedikit mengernyitkan alisnya mendengar kalimat terakhir itu. Dia mengingat kembali insiden kecil dengan prajurit klon yang dia tendang ke arah tong pelumas. Penafsiran romantis gadis ini tentang tindakannya benar-benar meleset dari kenyataan taktis yang dia lakukan.
Tetapi Madara tidak repot-repot untuk mengoreksinya. Biarkan orang-orang bodoh ini mempercayai apa pun yang ingin mereka percayai, selama itu menguntungkan posisinya.
“Dunia luar selalu mengatakan bahwa Germa adalah puncak dari kejahatan,” kata Reiju, air mata tipis mulai bercampur dengan air hujan di wajahnya. “Tetapi bagiku, tempat itu adalah sebuah sangkar besi yang mati. Aku ingin keluar dari sana. Aku melihat kekuatanmu sebagai satu-satunya jalan untuk membebaskan diriku dari bayang-bayang mereka.”
Reiju menundukkan kepalanya sedikit, sebuah gestur penyerahan diri yang sangat tulus dari seorang putri bangsawan yang sombong.
“Aku membuang nama Vinsmoke. Aku tidak memiliki tempat untuk kembali. Biarkan aku ikut di kapal ini.”
Hening kembali mengambil alih. Hanya ada suara hujan yang semakin deras memukul geladak kayu.
Reiju menahan napasnya kembali. Dia telah mempertaruhkan segalanya dalam kata-kata pengakuannya. Dia telah menyerahkan lehernya di bawah belas kasihan sang Hantu Uchiha.
Madara memejamkan mata merahnya sejenak. Saat dia membukanya kembali, warna merah Sharingan itu telah memudar, kembali menjadi iris hitam kelam yang sedingin es abadi.
Dia mendengus keras. Sebuah suara dengusan yang dipenuhi oleh rasa bosan dan ketidaktertarikan yang sangat nyata.
“Drama keluarga yang membosankan,” komentar Madara dengan nada merendahkan.
Reiju mengangkat wajahnya, sedikit terkejut mendengar tanggapan yang sangat tidak berperasaan itu. Dia mengira pengakuannya yang menyentuh hati akan mendapatkan sedikit rasa simpati, atau setidaknya pengakuan atas keberaniannya.
Tetapi Madara bukanlah pahlawan keadilan yang peduli pada air mata seorang gadis yang lari dari rumah.
Bagi Madara, tangisan tentang ayah yang jahat atau adik yang kejam adalah dongeng pengantar tidur yang konyol. Di dunia asalnya, dia telah melihat saudara membunuh saudara demi sepasang mata. Dia telah melihat ayah mengorbankan anaknya sendiri demi ambisi klan. Tragedi keluarga Vinsmoke tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sejarah kelam klan Uchiha.
Madara tidak membutuhkan cerita sedih. Dia membutuhkan sumber daya.
Sehari sebelumnya, dia baru saja merekrut seorang sarjana wanita yang bisa menavigasi kapal dan membaca sejarah dunia, karena itu berguna untuk kelangsungan perjalanannya. Kini, dia harus menilai apakah gadis berambut merah muda ini memiliki nilai fungsional yang sama, atau hanya sekadar beban yang memakan persediaan makanan di kapalnya.
Madara mencondongkan wajahnya sedikit ke depan. Tatapan matanya tajam bagaikan pisau bedah yang sedang membedah nilai guna gadis di depannya.
“Aku tidak peduli dengan alasanmu meninggalkan sarang siput itu,” potong Madara dingin. “Aku tidak memungut anak hilang hanya karena mereka merasa sedih.”
Reiju menggigit bibir bawahnya. Dia menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan penguasa pragmatis yang tidak bisa digoyahkan oleh emosi.
“Jawab pertanyaanku,” perintah Madara mutlak. “Bisakah kau menyembuhkan luka dan racun?”
Reiju tertegun sejenak. Pertanyaan itu datang dengan sangat tiba-tiba, membelokkan arah percakapan mereka seratus delapan puluh derajat.
Otak cerdas Reiju langsung memproses arah pertanyaan tersebut. Pemuda ini tidak peduli siapa dia, pemuda ini hanya peduli apa yang bisa dia lakukan. Dan secara kebetulan, pertanyaan pemuda ini tepat sasaran pada keahlian utamanya.
Di kerajaan Germa, dia dijuluki sebagai Putri Racun. Tubuhnya dimodifikasi untuk kebal terhadap segala jenis racun mematikan di dunia. Dia bisa menyerap racun dari tubuh orang lain. Dia juga mempelajari ilmu medis tingkat tinggi untuk menutupi kelemahannya dalam pertarungan fisik kasar jika dibandingkan dengan adik-adiknya.
Reiju tidak membuang waktu sedetik pun. Dia mengangguk cepat.
“Ya,” jawab Reiju dengan nada tegas dan percaya diri. “Aku ahli dalam bidang medis. Tidak ada racun di dunia ini yang tidak bisa aku netralkan, dan aku bisa melakukan operasi bedah darurat dalam kondisi terburuk sekalipun.”
Madara menatap mata gadis itu selama beberapa detik. Haki Pengamatannya mengonfirmasi bahwa gadis itu mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada keraguan dalam nada suaranya.
Sebuah kapal bajak laut yang berlayar menuju lautan berbahaya seperti Grand Line membutuhkan seorang dokter yang kompeten. Madara tidak khawatir tentang dirinya sendiri, tetapi kru bodoh dan navigator kapalnya hanyalah manusia biasa yang rentan terhadap penyakit dan racun. Mengisi kekosongan peran medis dengan seorang mantan putri pembunuh yang kebal racun adalah sebuah transaksi yang sangat menguntungkan.
Terlebih lagi, mengikat gadis ini di sisinya mungkin akan memberikan lonjakan poin reputasi dari Sistem jika keluarga Germa menyadari bahwa putri mereka bergabung dengan kapal iblis yang baru saja mempermalukan mereka.
Madara perlahan menurunkan kedua lengannya yang bersilang di depan dada.
Dia menegakkan tubuhnya, kembali memancarkan aura dominasi yang menuntut kepatuhan absolut dari siapa pun yang berdiri di sekitarnya.
“Kalau begitu, berhentilah bersembunyi seperti tikus,” ucap Madara.
Nada suaranya tidak menjadi lebih hangat, tetapi hawa membunuh yang sebelumnya mengancam nyawa Reiju telah menguap sepenuhnya. Kalimat itu adalah sebuah bentuk penerimaan resmi di bawah benderanya.
Reiju melebarkan matanya. Dia tidak percaya bahwa proses interogasi ini berakhir dengan begitu cepat dan praktis.
“Mulai besok, kau adalah dokter di kapal ini,” titah Madara menetapkan peran gadis itu.
Dia memutar tubuhnya, bersiap untuk kembali ke dalam kabinnya yang hangat dan kering. Hujan tidak pernah menjadi hal yang dia sukai.
Saat Madara melangkah menjauh, dia menoleh sedikit melalui bahunya, memberikan satu peringatan terakhir yang diucapkan dengan sangat santai namun mematikan.
“Jika ada kru yang mati karena penyakit bodoh, aku akan melemparmu ke laut.”
Kalimat ancaman itu bergema pelan bersamaan dengan suara petir yang menyambar di kejauhan. Madara melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi. Dia membuka pintu kayu kabin utamanya, masuk ke dalam, dan menutup pintu tersebut rapat-rapat, meninggalkan Reiju sendirian berdiri di tengah hujan.
Gadis berambut merah muda itu mematung di atas geladak yang basah.
Air hujan terus mengguyur tubuhnya, tetapi dia tidak lagi merasakan hawa dingin yang menusuk. Sebuah perasaan hangat meledak di dalam dadanya. Jantungnya berdetak dengan ritme yang dipenuhi oleh kelegaan dan kebebasan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
Penerimaan yang diberikan oleh pemuda itu sangat kasar. Tidak ada ucapan selamat datang. Tidak ada kata-kata penghiburan. Hanya sebuah posisi fungsional dan ancaman pembunuhan jika dia gagal menjalankan tugasnya.
Namun bagi Vinsmoke Reiju, penerimaan pragmatis itu adalah hal yang paling jujur dan paling nyata yang pernah dia terima.
Pemuda itu tidak peduli bahwa dia adalah anak dari musuh. Pemuda itu tidak peduli dengan rekam jejak pembunuhannya di masa lalu. Selama dia membuktikan nilainya dan patuh pada aturan di kapal ini, dia dijamin akan aman di bawah perlindungan monster tersebut.
Reiju mengangkat wajahnya menatap langit malam yang mendung.
Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, topeng dingin yang selalu dia kenakan retak sepenuhnya. Dia tidak perlu menyembunyikan senyumannya lagi.
Reiju tersenyum lebar di tengah guyuran hujan. Sebuah senyum murni dari seorang gadis yang baru saja meruntuhkan dinding penjara emasnya.
Di dalam kabin yang gelap, Madara melepaskan pelindung dada merahnya yang basah.
Tepat saat dia meletakkan armornya di atas kursi kayu, suara mekanis yang familiar berdenting singkat di dalam kepalanya. Sebuah layar biru kecil berkedip di sudut pandangannya.
[Pemberitahuan Sistem.]
[Individu bernama Vinsmoke Reiju telah berikrar setia secara emosional. Peran: Dokter Kapal.]
[Poin Reputasi +400.]
[Ikatan hierarki kru semakin stabil. Penyesuaian batas pemulihan Chakra dipercepat.]
Madara membaca barisan teks tersebut dengan tatapan datar. Dia mendengus pelan, lalu menghapus layar itu dari pandangannya.
Kesalahpahaman dan drama melankolis dari orang-orang di dunia ini ternyata benar-benar menjadi ladang energi yang sangat subur baginya. Dia merekrut dua orang wanita bermasalah hanya dalam waktu tiga hari, dan keduanya memberikan pasokan reputasi yang jauh lebih besar daripada membantai ribuan prajurit klon tanpa jiwa.
Madara duduk di tepi ranjangnya, menyilangkan kakinya, dan menutup matanya untuk memulai meditasi pemulihan chakra.
Di luar kabin, hujan badai North Blue terus mengamuk. Namun di atas Kapal Bajak Laut Taring Berkarat, dinamika baru telah terbentuk. Sang Hantu Uchiha kini memiliki sebuah mata tajam yang memahami sejarah dunia, dan sepasang tangan medis yang kebal terhadap racun mematikan.
Pondasi Bajak Laut Madara perlahan mulai terbangun dari orang-orang buangan, bersiap untuk menelan lautan Grand Line dalam waktu dekat.