NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: BabyKucing

Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.

Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.

Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 Harga Sebuah Kepercayaan

Hujan turun malam itu, tidak deras memang. Namun cukup untuk membasahi atap jerami rumah keluarga Han dan membuat tanah di halaman berubah menjadi lumpur tipis.

Lian Yue berdiri di bawah atap sambil memandangi hujan yang jatuh di luar. Setelah beberapa hari bekerja, akhirnya langit memberikan sesuatu yang sangat mereka butuhkan.

Air.

Ladang keluarga Han tidak lagi sekering sebelumnya. Tanah di beberapa bagian mulai lebih gembur, dan tanaman jagung yang sebelumnya menguning perlahan menunjukkan warna hijau yang lebih sehat.

Namun bagi Lian Yue, hujan malam itu bukan sekadar kabar baik. Ia sedang memikirkan sesuatu yang lain. Benih kedelainya.

Benih itu baru saja ditanam kemarin. Kalau hujan terlalu deras, tanah di belakang rumah bisa tergenang.

Kalau terlalu banyak air...

Benih yang baru ditanam justru bisa membusuk. Lian Yue menghela napas. "Besok harus diperiksa."

Dari atas pagar bambu, seekor burung pipit yang bulunya basah menggigil. ["Manusia aneh...Kau masih memikirkan tanah meskipun hujan turun?"]

Lian Yue menoleh. "Kalian juga seharusnya mencari tempat berteduh."

Burung pipit itu memiringkan kepala. ["Kami sudah berteduh. Di atap rumahmu."]

Lian Yue terdiam. Ia kemudian mendongak. Benar saja. Di bawah ujung atap, terdapat lima ekor burung pipit yang berdesakan.

Lian Yue mengusap dahinya. "Jangan sampai kalian mengotori halaman."

["Tidak akan."]

["Kami burung yang sopan."]

Seekor burung kecil lainnya menyelutuk.

["Burung tua di pohon bilang rumah manusia ini sudah seperti rumah kami."]

Lian Yue hampir tertawa. "Jangan terlalu nyaman."

Namun ia tidak benar-benar mengusir mereka. Bagaimanapun, rumah itu cukup besar untuk berbagi tempat dengan beberapa ekor burung.

Ia kembali menatap hujan. Entah mengapa, suara air yang jatuh membuat pikirannya terasa lebih tenang. Sudah beberapa minggu sejak ia datang ke keluarga Han.

Awalnya ia hanya ingin bertahan hidup. Kemudian ia mulai membantu keluarga ini. Memperbaiki air, memanfaatkan hasil hutan, membuat kompos, memperbaiki tanah, juga menanam kedelai.

Semuanya dilakukan sedikit demi sedikit. Tidak ada perubahan besar. Namun ketika ia melihat wajah Nyonya Han yang mulai lebih sering tersenyum, atau melihat Han Zheng pulang dengan langkah yang tidak lagi seberat sebelumnya...

Lian Yue menyadari bahwa ia mulai memiliki sesuatu yang ingin dipertahankan. Rumah dan keluarga ini. Perasaan itu membuatnya sedikit takut. Karena semakin banyak sesuatu yang ingin dilindungi seseorang...

Semakin banyak pula yang bisa digunakan dunia untuk menyakitinya.

.

.

Pagi berikutnya, hujan telah berhenti. Langit masih kelabu ketika Lian Yue keluar rumah. Tanah di halaman basah dan licin. Lalu tanpa membuang waktu ia langsung berjalan menuju kebun kecil di belakang rumah.

Begitu melihatnya, wajah Lian Yue berubah menjadi tegang, "Airnya terlalu banyak."

Beberapa bagian tanah memang tergenang. Lian Yue segera mengambil cangkul kecil dan membuat saluran air sederhana menuju bagian tanah yang lebih rendah.

Han Zheng yang baru keluar rumah memperhatikannya. "Kau bahkan belum sarapan."

"Aku akan makan setelah ini." sahut Lian Yue sambil sibuk memperbaiki ladang kecil tempat benihnya di tanam.

Han Zheng hanya menghela napas. "Kalau kau terus seperti ini, suatu hari tubuhmu akan menyerah."

Lian Yue berhenti. Ia menoleh dan tersenyum. "Kalau begitu, hari ini aku akan bekerja lebih sedikit."

Han Zheng menatapnya beberapa saat. "Benarkah?"

"Benar."

"Jangan bohong."

Lian Yue tertawa kecil. "Aku tidak bohong."

Han Zheng akhirnya tersenyum. "Kalau begitu, setelah selesai membuat saluran air, masuk dan makan."

"Baik."

Namun baru beberapa langkah, terdengar suara ribut dari balik pagar.

["Ada masalah!"]

["Ada masalah besar!"]

["Manusia! Manusia!"]

Lian Yue segera menoleh. Seekor burung pipit terbang turun dengan napas terengah-engah.

"Apa yang terjadi?"

Burung itu mengepakkan sayapnya. ["Di jalan menuju desa sebelah."]

["Ada gerobak terbalik."]

["Banyak karung jatuh."]

Lian Yue mengerutkan kening. "Karung apa?"

["Biji-bijian."]

Lian Yue terdiam. Han Zheng yang berdiri di dekatnya tentu tidak memahami percakapan itu. Ia hanya melihat Lian Yue menatap seekor burung seolah sedang berbicara dengannya.

"Kenapa?"

Lian Yue segera mencari alasan. "Aku melihat burung-burung itu terbang dari arah jalan."

Han Zheng mengangguk. "Lalu?"

"Sepertinya ada sesuatu di jalan."

Han Zheng berpikir sejenak. "Aku akan melihatnya."

Lian Yue ikut berdiri. "Aku ikut."

.

.

Jalan menuju desa sebelah masih berlumpur akibat hujan semalam. Beberapa ratus langkah dari Desa Qinghe, mereka benar-benar menemukan sebuah gerobak kayu yang miring di pinggir jalan.

Seorang lelaki tua sedang berusaha mengangkat karung-karung yang jatuh.

"Pak tua!" Han Zheng segera berlari membantu.

"Terima kasih..." Lelaki itu tampak kesulitan berdiri.

Salah satu roda gerobaknya patah. Di tanah berserakan beberapa karung kecil berisi biji-bijian.

Lian Yue membantu mengumpulkannya. Saat mengambil salah satu karung, ia melihat sebuah tanda pada kainnya. Cap sebuah toko benih dari kota.

Ia mengingatnya. Toko yang mereka datangi beberapa hari lalu.

"Apakah semuanya masih lengkap?" tanya Han Zheng.

Lelaki tua itu menghitung satu per satu. "Seharusnya..."

Ia berhenti. Wajahnya berubah.

"Satu karung hilang."

Han Zheng melihat sekeliling. "Mungkin jatuh lebih jauh."

Mereka mulai mencari. Lian Yue mengamati jalan. Jejak roda gerobak terlihat jelas di tanah basah. Namun ada sesuatu yang aneh.

Jejak kaki. Bukan hanya milik lelaki tua itu. Ada jejak kaki lain di dekat semak. Seseorang tampaknya pernah berdiri di sana.

Lian Yue berjongkok. Tanah masih basah, berarti jejak itu belum lama.

Ia mengikuti beberapa langkah. Lalu berhenti.

Di balik semak terdapat karung kecil yang tersembunyi. Karung tersebut masih utuh.

Lian Yue membawanya kembali. "Ini."

Lelaki tua itu langsung membelalakkan mata. "Bagaimana kau menemukannya?"

Lian Yue tersenyum. "Terlihat dari jalan."

Ia sengaja tidak mengatakan bahwa seekor burung gagak yang memberitahunya. Beberapa saat kemudian, gerobak berhasil diperbaiki sementara. Lelaki tua itu hendak pergi, tetapi sebelum berangkat ia memandang Lian Yue.

"Terima kasih."

Lian Yue hanya mengangguk. "Berhati-hatilah di jalan."

Gerobak itu kemudian bergerak perlahan menuju desa sebelah. Han Zheng memperhatikan punggung lelaki tua itu.

"Istriku, untung kau melihat karung itu."

Lian Yue mengangkat bahu. "Keberuntungan."

Han Zheng tertawa kecil. "Sejak kau datang, kata keberuntungan sering sekali keluar dari mulutmu."

Lian Yue ikut tertawa. "Karena memang begitu." Namun di dalam hati, Lian Yue tidak menganggapnya kebetulan.

Jejak kaki tadi membuatnya tidak nyaman. Ada seseorang yang sengaja mengambil karung itu. Dan orang tersebut mungkin masih berada di sekitar mereka.

.

.

Ketika mereka kembali ke desa, suasana sudah berubah. Beberapa warga berkumpul di depan rumah kepala desa.

Lian Yue memperlambat langkah. "Ada apa?"

Seorang wanita yang mereka kenal menjawab, "Katanya ada karung benih hilang di jalan."

Han Zheng mengangguk. "Kami tadi menemukannya."

Wanita itu tampak terkejut. "Kalian?"

"Ya."

Berita itu menyebar dengan cepat. Dalam waktu kurang dari setengah jam, hampir seluruh warga mengetahui bahwa keluarga Han menemukan karung benih yang hilang.

Namun yang tidak diketahui Lian Yue...

Tidak semua orang merasa senang. Dari kejauhan, seorang pria sedang berdiri sambil memperhatikan mereka.

Liu Shan.

Tatapannya berpindah dari Han Zheng ke Lian Yue. Kemudian ke keranjang yang mereka bawa. Ekspresi wajahnya tampak sulit dibaca.

.

.

Sore harinya, keluarga Han kembali sibuk. Nyonya Han menjemur beberapa tanaman yang sebelumnya dikumpulkan dari hutan.

Tuan Han memperbaiki pagar dan Han Zheng memperbaiki alat pertanian. Sedangkan Lian Yue memeriksa kebun kecil di belakang rumah.

Benih kedelai belum menunjukkan tanda-tanda tumbuh. Ia tidak terburu-buru. Tanah yang baik membutuhkan waktu.

Ia berjongkok dan menyentuh permukaannya. Kali ini ia tidak menggunakan kemampuan.

Ia hanya menunggu.

Seekor belalang mendarat di dekat tangannya.

["Ada yang datang tadi."]

Lian Yue mengangkat kepala.

"Siapa?"

["Manusia."]

"Siapa?"

Belalang itu menggerakkan sungutnya.

["Tidak tahu."]

["Dia berdiri di luar pagar."]

["Melihat tanahmu."]

Lian Yue terdiam.

"Seperti apa?"

["Bau asap."]

["Baju cokelat."]

["Membawa pisau kecil."]

Lian Yue mengerutkan kening, kepalanya bekerja memutar ingatan siapa kira-kira manusia yang dimaksud hewan kecil ini. Tapi ia tidak mengenali siapa yang dimaksud.

Namun satu hal jelas. Ada seseorang yang mulai memperhatikan kebun mereka.

Lian Yue berdiri. Ia berjalan menuju pagar. Tidak ada siapa-siapa. Hanya tanah basah dan beberapa jejak kaki yang samar. Lian Yue menatapnya beberapa detik. Kemudian ia tersenyum tipis.

"Jadi begini rasanya ketika perubahan mulai terlihat."

Dari atas pohon, burung pipit berkicau.

["Manusia lain penasaran."]

["Mereka ingin tahu kenapa tanahmu menjadi hijau."]

Lian Yue menghela napas. "Kalau begitu, mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati."

Burung pipit memiringkan kepala.

["Haruskah kami mengawasi?"]

Lian Yue terdiam. Kemudian tersenyum. "Kalau kalian mau."

Burung-burung itu langsung berkicau riang.

["Kami mau!"]

["Kami suka rumah ini!"]

["Ada banyak makanan!"]

Lian Yue menggeleng sambil tersenyum. Ia tidak tahu apakah keputusan itu akan membawanya pada masalah. Namun ia mulai memahami sesuatu. Hutan telah memberinya informasi. Keluarga Han memberinya tempat tinggal.

Dan sekarang...

Ia harus belajar bagaimana menjaga keduanya tanpa membuat dirinya terlalu terlihat.

.

.

Malam datang perlahan. Setelah semua orang tidur, Lian Yue keluar sebentar. Ia membawa lampu minyak kecil menuju kebun.

Langit malam cerah. Bintang-bintang tampak jelas setelah hujan. Lian Yue berjongkok di depan tanah tempat benih kedelai ditanam.

Ia menyentuh permukaannya. Perasaan hangat saat menyentuh tekstur tanah, membuat senyumnya merekah. Tidak seperti sebelumnya.

Ia menyingkirkan sedikit tanah menggunakan jarinya.

Dan di sana... Sebuah titik hijau kecil muncul.

Lian Yue membeku. "Kecambah..."

Sangat kecil. Bahkan hampir tidak terlihat. Namun benar-benar ada. Ia menatapnya cukup lama. Tidak menggunakan kemampuan. Tidak ada cahaya aneh. Tidak ada keajaiban besar. Hanya sebuah benih yang tumbuh karena tanah, air, udara, dan waktu.

Lian Yue tersenyum. "Berhasil."

Dari atas pagar terdengar suara burung pipit.

["Dia lahir! Tanaman kecil!"]

["Tanah punya anak!"]

Lian Yue menahan tawa saat mendengar coletehan absurd dari burung itu, "Jangan berisik."

Burung itu segera mengecilkan suara.

["Oh..."]

Lian Yue kembali menatap kecambah tersebut. Sebuah benih kecil. Begitu kecil hingga bisa diinjak tanpa sengaja. Namun bagi keluarga Han, benda kecil itu mungkin jauh lebih berharga daripada beberapa keping uang tembaga.

Karena jika satu benih bisa tumbuh, berarti masih ada kemungkinan untuk benih-benih lain.

Dan jika ladang ini bisa kembali subur...

Mungkin keluarga Han tidak perlu takut pada musim gugur. Mungkin mereka tidak perlu menjual ternak. Dan besar kemungkinan mereka tidak perlu berutang.

Mungkin...

Mereka benar-benar bisa bertahan hidup.

Lian Yue menyentuh tanah di samping kecambah itu dengan sangat hati-hati. "Pelan-pelan saja. Jangan buru-buru tumbuh. Kita punya waktu." ujarnya dengan lembut.

Ia kemudian berdiri dan kembali ke rumah.

Tidak mengetahui bahwa dari kejauhan, di balik pepohonan, sepasang mata sedang mengawasi cahaya lampu minyaknya.

Seseorang berdiri di sana cukup lama. Kemudian berbalik dan menghilang dalam kegelapan.

Di atas atap rumah keluarga Han, seekor burung hantu membuka matanya. ["Ada manusia asing di dekat desa."]

Burung pipit yang sedang tidur terbangun.

["Siapa?"]

Burung hantu tidak langsung menjawab.

Ia menatap ke arah hutan. ["Aku tidak tahu. Tapi dia tidak mencari makanan."]

Angin malam berembus. Daun-daun pohon bergerak perlahan. Jauh di dalam kegelapan, suara langkah kaki terdengar samar.

Satu.

Dua.

Tiga.

Kemudian menghilang.

Sementara itu, di kebun kecil belakang rumah, sebuah kecambah terus berdiri diam di bawah cahaya bulan. Tidak mengetahui bahwa pertumbuhannya yang sederhana telah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Karena terkadang, hal yang paling berharga bukanlah harta yang ditemukan di dalam gunung. Melainkan sesuatu yang tumbuh perlahan di tanah yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

1
tinie
masih rumit dan terlalu rumit untk memahami
di otak saya🤣🤣
tinie
ya kamu harus tau masa lalumu apa hubungmu dgn mereka
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
tinie
tetep semangaat 💪💪💪
tinie
kenapa mengulangi faragraf yg sama
dgn diatas
tinie: ok
semangaaat thor
total 2 replies
tinie
ada dgn mereka
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
Srie Ncii Herdiansyah
aku baru nemu cerita ini, padahal aku pecinta cerita Time travel kok gk muncul awal2 yah?? semoga rajin up thorr
tinie
makin penasaran🤔🤔
tinie
wah apakah itu batu apa

sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
tinie
ya kecambah pertumbuhanmu sedikit lamban namun pasti
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
tinie
yang gak tumbuh
mungkin terlalu tua 💪💪
tinie
meskipun dekat dgn gunung ternyata
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
tinie
saking baiknya ya keluarga Han
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
tinie
apa kalian tidur dikamar sang sama
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
tinie
war biasa
bisa mendengar BHS binatang
tinie
h a d i r 💪 💪 💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
luar biasa
Fauziah Daud
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!