Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Suami yang Aneh
Keisha tidak menanyakan seragam itu malam tersebut.
Arya keburu selesai berlatih, mengambil jaket hijau dari gantungan, lalu masuk melalui pintu samping. Keisha mundur sebelum tertangkap mengintip dan berlari ke lantai dua seperti pencuri di rumah sendiri.
Selama dua hari berikutnya, rasa ingin tahunya justru tumbuh semakin liar.
Arya bangun sebelum azan Subuh. Sepatunya selalu bersih. Kemejanya tersusun berdasarkan warna. Ia bisa melipat selimut sampai sudutnya tajam, lalu meninggalkan rumah setelah menerima telepon singkat yang isinya hanya, "Siap. Saya berangkat."
Ketika Keisha bertanya pekerjaannya, jawabannya tetap sama.
"Ada urusan."
"Urusan apa?"
"Pekerjaan."
"Pekerjaan apa?"
"Yang harus diselesaikan."
Keisha ingin melempar sendok kepadanya.
Malam sebelumnya, Keisha pulang dari rumah sakit hampir pukul sebelas. Ruang tengah gelap, tetapi lampu dapur menyala. Di atas meja ada sepiring sup hangat dengan catatan pendek: Makan sebelum tidur.
Ia tahu tulisan tangan Arya dari tanda tangan di perjanjian mereka. Tegak, tegas, tanpa satu huruf pun miring.
Keisha baru menghabiskan setengah sup ketika Arya muncul dari ruang kerja. Ia masih mengenakan kemeja, tetapi lengan bajunya digulung. Ponsel menempel di telinga.
"Besok sebelum pukul lima. Pastikan semua siap," katanya pelan, lalu memutus sambungan begitu melihat Keisha.
"Semua apa?" tanya Keisha.
"Dokumen."
"Dokumen apa?"
"Rahasia."
"Kamu baru saja mengakuinya?"
Arya mengambil mangkuk kosong yang tadi pagi ditinggalkan Keisha di wastafel dan mencucinya. "Aku mengakui bahwa kamu terlalu banyak bertanya saat makan."
Keisha memperhatikan caranya memeriksa kunci pintu dan jendela sebelum naik ke kamar. Tepat pukul empat lewat tiga puluh, ketika ia terbangun karena ingin minum, suara langkah Arya sudah terdengar di halaman.
Jaket TNI itu tidak terlihat lagi. Namun ketiadaannya justru terasa seperti jawaban yang sengaja disembunyikan.
Pada pagi ketiga, Bu Yati izin mengantar saudaranya ke klinik. Keisha yang sedang libur memutuskan membuat sarapan sebagai bukti bahwa ia mampu menjadi penghuni rumah, bukan bencana berjalan.
Tiga puluh menit kemudian, alarm asap berbunyi.
Arya masuk ke dapur saat Keisha berdiri di tengah kepulan tipis dengan spatula di tangan. Telur di wajan berwarna cokelat gelap. Sepotong roti melompat dari pemanggang dan jatuh ke lantai.
"Jangan bilang apa-apa," ancam Keisha.
Arya mematikan kompor, membuka jendela, lalu menekan tombol alarm. "Aku belum bicara."
"Wajahmu bicara."
"Wajahku sedang meminta penjelasan medis tentang kemungkinan telur berubah menjadi arang."
"Aku dipanggil pasien saat menggorengnya."
"Selama dua belas menit?"
Keisha menurunkan spatula. "Kamu menghitung?"
"Alarmnya cukup informatif."
Arya membuang roti yang jatuh, mencuci wajan, lalu mengambil telur baru dari kulkas. Gerakannya cepat dan teratur. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dua piring nasi goreng telur tersaji di meja.
"Kamu bisa memasak?" Keisha menatap piringnya dengan curiga.
"Keterampilan bertahan hidup dasar."
"Pengusaha apa yang menyebut memasak keterampilan bertahan hidup?"
Tangan Arya berhenti sepersekian detik saat mengambil air. "Pengusaha yang sering bepergian."
Jawaban terlalu licin itu membuat Keisha makin yakin. Namun aroma nasi goreng mengalahkan interogasinya. Ia mencicipi satu suap dan tanpa sadar mengangguk puas.
"Tidak buruk," katanya.
"Habiskan. Kamu belum makan sejak tadi malam."
Keisha mengangkat kepala. "Kamu tahu dari mana?"
"Kotak makan yang kamu bawa pulang masih utuh."
Nada Arya datar, seolah ia hanya menyampaikan laporan. Namun ia menggeser piring lebih dekat, mengambilkan obat lambung dari kotak pertolongan pertama, lalu meletakkan segelas air hangat di sisi tangan Keisha.
Perhatian itu sederhana. Justru karena sederhana, Keisha tidak tahu bagaimana melindungi diri darinya.
"Aku dokter," gumamnya. "Aku tahu cara menjaga lambung."
"Pengetahuanmu belum terlihat dalam tindakan."
"Kamu selalu menyebalkan setelah berbuat baik?"
Arya duduk di seberangnya. "Agar tidak disalahpahami."
Kalimat itu terasa seperti peringatan untuk mereka berdua.
Menjelang siang, Bu Yati pulang dan mendapati dapur sudah bersih. Ia mendengar cerita alarm asap dari Arya, lalu tertawa sampai bahunya berguncang.
"Pak Arya tidak pernah membiarkan orang lain mengacaukan dapurnya," katanya ketika Arya masuk ke ruang kerja. "Dulu gelas saya bergeser satu rak saja, beliau langsung tahu."
Keisha menatap tumpukan majalahnya yang kini dibiarkan di meja ruang tengah. "Mungkin dia sedang melatih kesabaran."
"Mungkin." Bu Yati merendahkan suara. "Tapi Pak Arya juga jarang membawa orang ke rumah ini. Keluarga pun harus memberi kabar dulu. Kamu istimewa."
Jantung Keisha tersandung satu ketukan.
"Saya istrinya. Wajar saya tinggal di sini."
"Menjadi istri mungkin membuatmu masuk lewat pintu." Bu Yati tersenyum. "Menjadi orang yang ia pikirkan membuat barang-barangmu dibiarkan tetap di meja."
Keisha memandang syalnya yang masih tergantung di sandaran sofa sejak hari pertama. Arya tidak memindahkannya. Bahkan ketika menyusun majalah, ia membiarkan syal itu tetap berantakan.
Ini kontrak, Kei.
Ia mengulang kalimat tersebut, tetapi kali ini bunyinya tidak setegas kemarin.
Sore harinya, Arya menerima panggilan saat mereka sedang minum teh di teras. Keisha hanya mendengar beberapa jawaban pendek. Wajah Arya yang semula tenang mengeras seketika. Ia berdiri, masuk, lalu kembali dengan tas hitam dan jaket.
"Ada apa?" tanya Keisha.
"Dinas mendadak."
"Kamu akan pergi berapa lama?"
"Belum tahu."
Ada sesuatu yang tidak menyenangkan menekan dada Keisha. Ia tidak berhak menahan Arya, tetapi ketidakjelasan itu membuatnya cemas.
Arya sudah mencapai pintu ketika berkata, "Aku harus ke markas. Jangan tunggu."
Keisha berdiri begitu cepat hingga lututnya membentur meja.
"Markas? Tentara?"
Langkah Arya terhenti.
Ia tidak berbalik.