NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20 - Di Depan Pintu Operasi

Hujan membuat jalan ke Fatukoa bawah hampir tidak bisa dikenali.

Mobil tinggi milik satuan bergerak pelan melewati lumpur. Air mengalir dari bukit, membawa batu kecil dan ranting. Di belakang, kendaraan kedua membawa Rina, Joko, dan peralatan tambahan.

Alya duduk di depan, memegang radio dan tas emergensi.

Damar mengemudi.

Tidak ada yang membahas perjanjian tiga tahun.

Tidak ada ruang untuk itu.

"Kontraksi tiap berapa menit?" tanya Damar.

Alya menekan tombol radio. "Pos tiga, update kondisi pasien."

Suara prajurit di radio pecah-pecah.

"Suami pasien lapor kontraksi sering. Ada bercak darah. Mereka masih di rumah. Jalan masuk desa tergenang."

Alya menutup mata sebentar.

Bercak darah bisa normal.

Bisa juga awal petaka.

"Kita harus cepat."

"Aku tahu."

Mobil melewati kubangan besar. Tubuh Alya terdorong ke depan, tapi sabuk menahannya. Damar menahan setir dengan kedua tangan.

Setelah hampir empat puluh menit, kendaraan tidak bisa melanjutkan. Jalan tertutup batang pohon dan lumpur dalam.

Damar turun, menilai medan.

"Kita jalan kaki dari sini."

Rina turun dari kendaraan belakang, wajahnya pucat.

"Dok, kalau harus evakuasi balik?"

Alya melihat hujan, jalan, dan langit yang makin gelap.

"Kita stabilkan dulu. Kalau harus tandu, kita tandu."

Mereka berjalan melewati jalan desa yang tergenang sampai mata kaki. Dua prajurit membawa tandu lipat. Damar berjalan di depan, membuka jalur. Beberapa warga menyambut dengan payung dan lampu senter.

Rumah Maria berada di lereng kecil. Di dalam, suara rintihan terdengar dari kamar.

Anton, suaminya, langsung menghampiri Alya.

"Dok, tolong. Dia kesakitan sekali."

"Sejak kapan darah keluar?"

"Setengah jam lalu. Sedikit, lalu lebih banyak."

Alya masuk ke kamar. Maria terbaring di kasur tipis, wajahnya basah oleh keringat. Kain di bawah tubuhnya bernoda darah.

Rina langsung memeriksa tekanan darah.

Angkanya tinggi.

Terlalu tinggi.

Alya memeriksa cepat. Pembukaan belum lengkap, perdarahan aktif, tanda bahaya. Dia menatap Rina.

Rina paham.

"Rujuk sekarang?"

"Sekarang."

Maria menangis. "Dok, saya takut."

Alya menggenggam tangannya.

"Saya tahu. Tapi kalau kita tetap di sini, risikonya lebih besar. Kita bawa ke RSUD."

"Anak saya?"

"Kita selamatkan kalian berdua."

Dia tidak menjanjikan hasil.

Dia hanya menjanjikan usaha.

Evakuasi kembali jauh lebih berat. Maria harus dibawa dengan tandu melewati hujan. Anton berjalan di samping sambil menangis dan membaca doa. Alya memantau perdarahan, Rina memegang cairan infus, Joko membawa alat, prajurit bergantian mengangkat tandu.

Di tengah jalan, Maria tiba-tiba mengerang panjang.

"Dok... saya tidak kuat..."

Alya melihat darah makin banyak.

"Berhenti sebentar. Turunkan."

Damar langsung memberi perintah. "Buat penutup. Cepat!"

Prajurit dan warga membuka terpal, menahan dari hujan. Di bawah terpal darurat, Alya memeriksa Maria lagi. Kondisinya memburuk.

"Kita tidak bisa melahirkan di sini," kata Rina dengan suara bergetar.

"Aku tahu."

Alya menatap Damar.

"Berapa lama ke kendaraan?"

"Sepuluh menit kalau jalan cepat."

"Ke RSUD?"

"Dengan kondisi jalan ini, paling cepat satu jam setengah."

Terlalu lama.

Alya mengambil keputusan.

"Hubungi Puskesmas rawat inap terdekat. Tanya apakah ruang tindakan bisa dipakai dan apakah dokter jaga ada. Kalau tidak ada, kita pakai ruang mereka untuk stabilisasi sebelum lanjut."

Damar langsung menghubungi pos. Dalam tiga menit, kabar datang. Puskesmas rawat inap di kecamatan punya ruang tindakan kecil, dokter jaga baru sampai, ambulans mereka terjebak banjir di sisi lain.

"Kita ke sana," kata Alya.

Damar menatapnya.

"Bisa?"

"Harus."

Puskesmas itu dicapai hampir satu jam kemudian. Ruang tindakannya sederhana, tapi bersih. Dokter jaga, Dokter Nanda, perempuan muda dengan wajah tegang, sudah menyiapkan alat.

"Saya belum pernah menangani kasus seberat ini sendiri," katanya jujur.

"Kamu tidak sendiri," jawab Alya.

Mereka bekerja cepat. Diagnosis mengarah pada perdarahan antepartum dengan tekanan darah tinggi, risiko solusio atau komplikasi lain. Janin masih ada denyut, tapi melemah. Maria perlu tindakan bedah segera di rumah sakit, namun kondisinya harus distabilkan agar tidak meninggal di jalan.

Alya memimpin stabilisasi, memasang jalur infus kedua, obat sesuai protokol, memantau tekanan darah, menyiapkan transfusi jika memungkinkan dari stok terbatas. Dia meminta Damar mengatur donor darah dari prajurit dengan golongan sesuai sambil RSUD menyiapkan tim operasi.

Damar bergerak tanpa bertanya dua kali.

Tapi situasi memburuk sebelum ambulans pengganti tiba.

Maria kehilangan kesadaran sesaat.

Anton berteriak.

"Maria!"

Alya menoleh tajam. "Pak Anton, keluar sebentar. Rina, dampingi keluarga."

"Saya mau di sini!"

"Kalau Bapak pingsan, saya punya dua pasien. Keluar."

Damar masuk dan memegang bahu Anton.

"Pak, ikut saya."

"Istri saya..."

"Dokter Alya sedang menyelamatkannya. Jangan ganggu tangannya."

Anton akhirnya keluar.

Di luar ruang tindakan, beberapa keluarga dan warga mulai ribut. Ada yang menyalahkan Anton karena terlambat membawa Maria. Ada yang menuduh Puskesmas tidak lengkap. Ada yang berteriak meminta dibawa langsung ke RSUD.

Suara itu masuk sampai ruang tindakan.

Dokter Nanda makin pucat.

Alya berkata, "Lihat saya. Jangan dengar luar. Dengar monitor."

Nanda mengangguk.

Damar berdiri di pintu, menutup akses.

Seorang pria paruh baya, mungkin paman Maria, mencoba menerobos.

"Saya mau lihat! Jangan-jangan dokternya salah tindakan!"

Damar menghalangi.

"Tunggu di luar."

"Itu keluarga saya!"

"Dan di dalam ada tim medis bekerja."

"Kalau terjadi apa-apa, kalian tanggung jawab!"

Damar menatapnya.

"Saya tanggung jawab keamanan di sini. Dokter tanggung jawab medis. Anda tanggung jawab untuk tidak membuat keributan yang bisa membunuh pasien."

Pria itu terdiam.

Kalimat Damar menyebar seperti tamparan. Keributan turun.

Di dalam, Alya mendengar suara itu.

Tangannya tidak berhenti.

Setengah jam berikutnya terasa seperti perang. Hujan di luar, darah di dalam, tekanan yang naik turun, denyut janin yang membuat semua orang menahan napas.

Akhirnya kendaraan evakuasi dari RSUD tiba bersama tim tambahan.

Maria sudah cukup stabil untuk dipindahkan, meski masih kritis.

Alya ikut naik ambulans.

Damar ikut di kendaraan belakang bersama Anton.

Di RSUD, tim obstetri sudah menunggu. Maria langsung masuk kamar operasi untuk seksio darurat. Alya menyerahkan laporan lengkap dengan suara serak.

Setelah pintu operasi tertutup, barulah tubuhnya terasa kosong.

Anton duduk di lantai, menangis.

"Dokter... istri saya akan selamat?"

Alya duduk di depannya.

"Kita sudah melakukan semua yang bisa dilakukan sebelum operasi. Sekarang tim bedah bekerja."

"Saya terlambat ya, Dok?"

Alya diam sebentar.

"Yang penting sekarang Bapak di sini. Kalau nanti Maria sadar, jangan bahas siapa salah. Bahas bagaimana merawat dia dan bayi."

Anton menutup wajahnya.

Damar berdiri tidak jauh, mendengar.

Beberapa jam kemudian, dokter operasi keluar.

"Ibu selamat. Bayi perempuan juga selamat, tapi harus observasi di NICU."

Anton menangis keras.

Rina memeluk Dokter Nanda yang ikut sampai RSUD dan akhirnya menangis juga. Joko duduk lemas di kursi.

Alya menutup mata.

Terima kasih.

Dia baru berdiri ketika kakinya goyah.

Damar menangkapnya.

Kali ini Alya tidak langsung berkata saya baik.

Dia terlalu lelah.

Damar menuntunnya duduk.

"Kamu hebat," katanya pelan.

Alya menatap pintu operasi.

"Mereka yang hebat. Maria bertahan. Nanda tidak lari. Rina, Joko, semua orang..."

"Alya."

Dia menoleh.

"Terima pujian sekali saja."

Matanya tiba-tiba panas.

"Saya takut," bisiknya.

Damar duduk di sampingnya.

"Aku tahu."

"Kalau bayi itu meninggal..."

"Tapi dia hidup."

"Kalau Maria..."

"Dia hidup."

Alya menggenggam ujung bajunya. "Saya selalu tahu ada pasien yang tidak bisa diselamatkan. Tapi setiap kali hampir kehilangan, rasanya tetap..."

Dia tidak menyelesaikan kalimat.

Damar tidak menyuruhnya kuat.

Dia hanya meletakkan tangannya di atas tangan Alya.

Di depan pintu operasi, dengan bau antiseptik dan suara tangis bahagia keluarga pasien, Alya tidak menarik tangannya.

Ponsel Damar berbunyi. Pesan dari Kapten Rendra masuk.

Dan, keluarga pasien sempat mau buat keributan di Puskesmas. Kami sudah amankan. Semua saksi bilang Dokter Alya mengambil keputusan tepat.

Damar membalas singkat.

Catat semua. Kalau ada yang menyalahkan tim medis tanpa dasar, saya yang hadapi.

Alya melihat layar itu.

"Anda tidak perlu."

"Perlu."

"Karena tanggung jawab?"

Damar menatapnya.

"Karena aku tidak akan membiarkan orang melempar kesalahan pada perempuan yang baru saja menyelamatkan dua nyawa."

Alya terdiam.

Damar menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

"Dan karena aku suamimu. Kali ini, biarkan aku berdiri di depan."

Pintu operasi tertutup di depan mereka.

Untuk pertama kalinya, Alya tidak merasa kalimat itu seperti belenggu.

Malam itu, rasanya seperti tempat berteduh.

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!