Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DuaLima—Dasar Bibi Liu!
Tandu kayu telah berangkat, bergerak perlahan menjauh dari kediaman Shen. Di dalamnya, Gu Mingyue duduk dengan tenang sambil sesekali melirik pergelangan kakinya yang terbalut perban. Di sampingnya, Shen Mufeng duduk dengan tegap. Sepasang netra elangnya memperhatikan gerak-gerik sang istri sebelum akhirnya bertanya, "Apakah masih sakit?"
"Sedikit," jawab Mingyue jujur, menahan denyut nyeri yang mulai kembali terasa.
"Anda terlalu memaksakan diri, Nyonya Besar," puji Mufeng rendah, ada nada takjub yang terselip dalam suaranya yang berat.
Gu Mingyue terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya dengan lebih rileks pada bantalan sutra. "Aku tidak mungkin membiarkan Bibi Liu merasa di atas angin dan memandang rendah diriku. Pelayan tua itu sudah terlalu lancang."
Shen Mufeng mengangkat sebelah alisnya tebalnya, tertarik dengan arah pembicaraan ini. "Bagaimana bisa?"
"Dia terang-terangan mengataiku materialistis di depan para pelayan lain," Gu Mingyue mendadak mengubah raut wajahnya. Ia berpura-pura terisak kecil dan sedih, lalu menyeka air mata kosong di sudut matanya dengan ujung lengan hanfu sutranya. "Tuduhan itu sungguh kejam, Tuan. Padahal aku hanya sedikit... ingin menguasai harta dan kuncinya saja."
Shen Mufeng menatap istrinya, mendalami ekspresi dan gerak-gerik gadis itu cukup lama dengan pandangan menilai. "Menurutmu, menguasai seluruh harta dan kunci gudang utama di hari pertama itu hanya... sedikit?"
Gu Mingyue menyunggingkan senyuman manja, matanya berbinar penuh kelicikan yang menggemaskan. "Tentu saja. Bagi saya, ini masih bagian yang sangat sedikit, Tuan."
Shen Mufeng menyandarkan kembali punggung tegapnya pada sandaran kursi tandu. Arah tubuhnya bergerak santai, mengikuti goyangan ritmis dari tandu yang tengah dipikul menjauh dari kediaman. "Sedikit bagi Nyonya Besar... belum tentu terasa sedikit bagi para pelayan yang urat nadinya baru saja kau cekik."
Gu Mingyue terkekeh pelan, menutup mulutnya anggun dengan ujung lengan bajunya. "Begitukah menurutmu, Tuan?"
Shen Mufeng terdiam sesaat. Ia mengangkat sebelah alisnya, lalu sebuah senyuman samar terukir di sudut bibirnya. "Setidaknya Bibi Liu harus bersyukur. Nyonya Besar di hadapanku ini hanya meminta kunci gudang, bukan nyawanya."
Gu Mingyue kembali terkekeh pelan, melambaikan tangannya dengan gerakan anggun yang dibuat-buat. "Tentu saja tidak. Aku ini Nyonya Besar Shen yang lemah lembut. Bagaimana mungkin aku tega membunuh, bahkan kepada pelayan yang telah bertindak lancang sekalipun, Tuan?"
Pria itu meliriknya sekilas, setengah terhibur dengan sandiwara manis istrinya, sebelum sebuah ketukan berirama di jendela kayu tandu terdengar nyaring.
"Tuan Besar," panggil He Si dari luar dengan suara rendah yang tersamar di antara keriuhan jalanan.
Shen Mufeng menggeser sedikit jendela kayu tandu tersebut. "Bagaimana?"
"Bibi Liu sudah bergerak," lapor He Si. Gu Mingyue yang berada di dalam tandu langsung menajamkan pendengarannya, mencoba mencuri dengar pembicaraan samar itu.
"Apa yang dilakukannya?" tanya Mufeng, suaranya mendadak berubah dingin dan berwibawa.
"Dia buru-buru keluar dari kediaman secara sembunyi-sembunyi, tepat setelah tandu Anda berdua berangkat."
"Ke mana tujuannya?"
"Ke kediaman samping milik Wangsa Wang, Tuan."
Shen Mufeng mengangkat satu sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis yang pekat akan aura intimidasi. Ia menutup kembali jendela kayu tersebut, lalu mengalihkan pandangannya ke arah sang istri yang sedari tadi memasang telinga lebar-lebar.
"Kita harus segera kembali, sebelum paman dan bibiku dari Wangsa Wang datang berkunjung," ucap Mufeng tegas.
"Ada apa, Tuan?" tanya Mingyue, matanya berkilat penuh antisipasi.
"Karena kurasa, Bibi Liu baru saja melaporkan semua kelakuan kita pagi ini kepada mereka."
Atas perintah rahasia Shen Mufeng, rombongan tandu kayu itu segera berbalik arah bahkan sebelum sempat menyentuh riuh Pasar Xue. Begitu tiba kembali di kediaman, Shen Mufeng dan Gu Mingyue mulai berpisah jalan untuk mematangkan strategi mereka. Gadis itu diminta untuk pergi ke aula leluhur dan bersiap di sana, menyusun kembali topeng keanggunannya yang rapuh namun mematikan.
Dan benar saja, waktu baru saja menginjak momen tergelincirnya matahari ketika paman dan bibi Shen Mufeng dari Wangsa Wang datang berkunjung secara mendadak. Kesombongan dan keangkuhan mutlak terpancar jelas dari binar mata kedua bangsawan paruh baya tersebut saat melangkah masuk melewati ambang pintu gerbang.
Dengan langkah yang sengaja dibuat terburu-buru seolah-olah panik, Gu Mingyue berjalan pincang keluar dari aula leluhur untuk menyambut kedatangan mereka di aula depan.
"Paman, Bibi, maafkan saya karena tidak menyambut Anda berdua langsung dari pintu utama," ucap gadis itu seraya mengarahkan tatapannya sekilas ke arah belakang dengan raut bersalah yang dibuat-buat. "Saya tadi sedang berdoa di aula leluhur untuk kedua mertua saya yang telah wafat."
Paman dan Bibi Wang menatapnya dengan sorot mata yang teramat tajam dan menilai.
"Seorang istri utama dari klan militer seharusnya tahu bagaimana tata krama yang benar," sindir Bibi Wang. Sebuah senyuman licik seketika muncul di wajah kedua orang tua itu. "Tapi sudahlah, setidaknya kau masih mau meluangkan waktumu untuk mendoakan dua orang mati itu."
Gu Mingyue menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan kilat dingin di matanya yang kontras dengan suaranya yang terdengar bergetar patuh. "Mereka memang telah wafat, Bibi. Tapi berkat keberanian dan pengorbanan mereka di medan laga, negeri kita saat ini bisa cukup aman. Bagiku, jasa-jasa mereka akan selalu hidup."
Bibi Wang meledakkan tawa ringannya yang terdengar hambar dan sarat akan penghinaan. "Oh, Kakak, lihatlah menantumu yang pandai sekali menyanjungmu ini," ucapnya sinis ke arah langit-langit, sebelum berpura-pura menyeka sudut matanya yang tak pernah ada air mata. "Tentu kakak perempuanku sedang sangat senang di alam sana, mendapati dirinya mendapatkan seorang menantu yang sekurang ajar dirimu!"
Gu Mingyue menyunggingkan senyuman samar yang teramat tipis. "Bibi, kurasa kita bisa melanjutkan pembicaraan ini di aula depan," ucapnya halus. Pandangannya beralih perlahan, menatap lurus ke dalam aula leluhur, tepat pada jajaran tablet nama mendiang mertuanya yang berjajar sakral. "Kurasa kurang sopan jika kita membicarakan urusan duniawi di hadapan arwah mendiang mertuaku."
Tanpa menunggu jawaban, Gu Mingyue memberikan isyarat tangan untuk mempersilakan, lalu berbalik dan berjalan lebih dulu memimpin jalan.
Paman dan Bibi Wang melangkah mengikuti dari belakang dengan kepala mendongak congkak, merasa di atas angin karena mengira telah berhasil menekan sang Nyonya Besar. Tepat di belakang ekor gaun mewah mereka, Bibi Liu berjalan mengekor seraya menyunggingkan senyuman picik yang penuh kemenangan. Pelayan tua itu merasa pelindung besarnya telah tiba untuk mencabik-cabik otoritas Mingyue.
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya