NovelToon NovelToon
Warisan Kulivator Abadi

Warisan Kulivator Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.

Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Berlatih

Setelah berhasil menstabilkan aliran energinya dan menetap dengan mantap di Tingkat Tiga Pemula, Riu Han merasakan perubahan yang sangat besar dalam dirinya. Tubuhnya terasa jauh lebih kuat, napasnya lebih panjang, dan setiap gerakan yang ia buat terasa lebih ringan serta penuh tenaga. Tanpa membuang waktu, ia segera keluar dari ruang latihannya dan berjalan menuju tempat di mana Long Siu serta Kake Qin sedang menunggunya.

Begitu melihat kedatangan Riu Han, Long Siu langsung menatapnya dengan pandangan yang tajam namun penuh rasa kagum. Hanya dalam waktu singkat, bocah itu telah berhasil memulihkan tubuhnya dan melonjak naik tiga tingkat—sesuatu yang sangat jarang terjadi bahkan pada orang berbakat sekalipun.

“Bagus sekali, kemajuanmu jauh melampaui perkiraanku,” ujar Long Siu sambil mengangguk puas. “Saluran energimu kini sudah sempurna, dantianmu kokoh dan luas, serta aliran Qi-mu mengalir lancar tanpa hambatan. Kini saatnya kau tidak hanya mengandalkan kekuatan mentah, tapi juga mempelajari cara menggunakannya dengan tepat.”

Dengan gerakan tangan yang ringan, Long Siu mengeluarkan sebuah lempengan giok berwarna hijau pucat yang memancarkan cahaya lembut dan mengandung getaran energi yang halus. Ia menyerahkannya ke hadapan Riu Han.

“Ini adalah Slip Giok Teknik Kelas Atas. Di dalamnya tersimpan sebuah teknik bertarung yang sangat cocok untuk tahap awal perjalananmu. Namanya adalah Pukulan Seribu Bayangan.”

Riu Han menerima lempengan giok itu dengan hati-hati, jari-jarinya merasakan dinginnya permukaan batu yang halus. “Pukulan Seribu Bayangan? Apa keistimewaan teknik ini, Saudara Long Siu?” tanyanya dengan rasa ingin tahu yang meluap.

Long Siu tersenyum tipis, lalu menjelaskan dengan nada yang serius:

“Teknik ini dikembangkan berdasarkan hukum kecepatan dan kepadatan energi. Saat kau menguasainya, satu pukulan yang kau keluarkan akan terpecah menjadi ratusan bahkan ribuan bayangan serangan yang terlihat nyata di mata lawan. Lawan akan kesulitan membedakan mana yang asli dan mana yang palsu, sehingga pertahanannya akan terpecah dan mudah ditembus. Meskipun ini teknik tingkat awal, dasarnya sangat kokoh dan bisa terus dikembangkan seiring dengan peningkatan kekuatanmu nanti.”

Begitu penjelasan selesai, Riu Han menempelkan dahinya sebentar pada permukaan giok itu sesuai petunjuk yang dijelaskan. Seketika itu juga, aliran informasi mengalir deras masuk ke dalam benaknya—urutan gerakan, cara mengatur napas, jalur penyaluran energi, hingga inti dari prinsip teknik tersebut tergambar jelas di dalam pikirannya seolah telah menghafalnya selama bertahun-tahun.

“Rasakanlah baik-baik. Jangan terburu-buru ingin menguasai semuanya dalam sehari. Mulailah dari dasar gerakan, perbaiki posisi tubuh, dan pastikan Qi-mu mengalir dengan lancar di setiap titik yang ditentukan,” pesan Long Siu lagi. “Teknik ini akan menjadi dasar pertarunganmu sebelum kau mempelajari hal-hal yang lebih tinggi lagi.”

Tanpa menunggu perintah kedua, Riu Han segera mengangguk tanda mengerti. Ia berjalan menuju lapangan terbuka yang luas di dalam dimensi itu, tempat energi alam terasa paling pekat. Ia berdiri tegak, menutup matanya sejenak untuk menenangkan pikiran, lalu mulai mencoba mengikuti gerakan pertama yang tersimpan di dalam ingatannya.

Di awal-awal latihan, gerakannya masih terasa kaku, aliran Qi sering terhenti atau meleset dari jalur yang seharusnya. Setiap kali ia mengayunkan tangannya, hanya terbentuk dua atau tiga bayangan samar yang segera lenyap dalam sekejap. Namun Riu Han tidak merasa kecewa. Ia terus mengulangi gerakan itu berulang kali, memperbaiki kesalahan demi kesalahan, hingga keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya.

Hari berganti hari di dalam dimensi itu, meski di dunia luar hanya berjalan beberapa jam saja. Semakin sering ia berlatih, semakin lancar gerakannya. Bayangan yang terbentuk semakin banyak, semakin jelas, dan semakin lama bertahan di udara. Suara hembusan angin yang ditimbulkan setiap pukulannya pun terdengar semakin tajam dan bergetar dengan kekuatan yang nyata.

Long Siu dan Kake Qin hanya mengamati dari kejauhan dengan pandangan puas. Mereka tahu, dengan ketekunan seperti ini, Riu Han tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menguasai teknik itu sepenuhnya dan siap menghadapi tantangan apa pun yang menantinya di masa depan.

Setelah selesai berlatih dan mulai menguasai dasar-dasar Pukulan Seribu Bayangan, Long Siu memanggil Riu Han sambil melambaikan tangan.

“Riu Han, sekarang ikutlah denganku. Ada tempat yang ingin aku tunjukkan padamu,” ujarnya singkat.

Tanpa berpikir panjang atau mengajukan banyak pertanyaan, Riu Han segera mengikuti langkah Long Siu. Mereka melintasi padang rumput yang luas dan menuruni jalan setapak yang sedikit menurun, hingga tiba di sebuah lereng bukit yang tertutup semak belukar lebat.

Setelah berjalan beberapa saat, Long Siu berhenti dan menunjuk ke arah celah di antara bebatuan besar yang tersembunyi rapat.

“Kau lihat tempat itu?” serunya. “Di baliknya terdapat ruangan khusus yang memiliki kepadatan energi jauh melebihi tempat latihan biasa. Masuklah ke sana.”

“Baik, aku mengerti,” jawab Riu Han dengan sigap.

Begitu ia mendekati mulut gua yang tersembunyi itu, matanya menangkap sebuah tonjolan batu bulat yang terukir rapi, persis seperti tombol penggerak.

“Tekanlah batu itu,” perintah Long Siu dari belakang.

Riu Han mengulurkan tangannya dan menekan tombol batu tersebut sekuat tenaga. Seketika terdengar suara gemeretak dan berdenging yang merambat di seluruh dinding bebatuan, lalu perlahan-lahan pintu gua yang tersembunyi itu terbuka, memancarkan cahaya putih lembut yang menyelimuti area sekitarnya.

Riu Han melangkah masuk dengan hati-hati. Begitu melewati ambang pintu, matanya terbelalak takjub. Di tengah ruangan yang luas dan bersih itu terdapat sebuah kolam berukuran cukup besar, terbuat dari batu halus yang mengkilap. Di dalamnya terisi cairan berwarna putih bersih, agak pekat dan berkilau lembut, persis seperti susu murni yang memancarkan uap hangat.

“Kolam apa ini, Saudara Long?” tanya Riu Han dengan suara penuh kekaguman.

“Ini adalah Sumber Air Inti Bumi,” jawab Long Siu dengan nada tegas. “Air ini terbentuk dari inti energi murni bumi yang terkumpul selama ribuan tahun. Sekarang berendamlah di dalamnya—ia akan menempa tulang, daging, dan seluruh saluran energimu hingga menjadi jauh lebih kuat dan kokoh dari sebelumnya.”

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Riu Han segera membuka pakaiannya dan melangkah turun masuk ke dalam kolam itu. Begitu tubuhnya terendam hingga ke leher, ia langsung mengaktifkan teknik kultivasi yang baru dipelajarinya, bersiap menyerap energi yang terkandung di dalam air itu.

Namun, baru beberapa saat ia menenangkan napasnya, tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menjalar dari ujung rambut hingga ke telapak kakinya, seolah ribuan jarum halus menusuk dan mengikis setiap bagian tubuhnya. Ia tidak dapat menahan rasa itu dan langsung berteriak keras.

“Ahhh… Sakit sekali! Saudara Long, kenapa kau tidak memberitahu kalau rasanya akan sesakit ini?” keluhnya sambil menggertakkan gigi, keringat dingin segera membasahi seluruh dahinya meski air di sekitarnya terasa hangat.

Long Siu hanya tertawa kecil mendengar teriakan itu, lalu menjawab dengan nada sedikit mengejek namun tegas. “Dasar bocah bodoh! Jika kau bahkan tidak sanggup menahan rasa sakit seperti ini, lebih baik lupakan saja impianmu menjadi seorang kultivator!”

“Bukan maksudku begitu… Maksudku, kalau kau bilang lebih dulu, setidaknya aku bisa melakukan persiapan mental atau mengatur napas lebih awal,” keluh Riu Han lagi sambil terus berusaha menahan rasa perih itu.

“Hee… maaf, aku lupa menyebutkannya,” jawab Long Siu santai seolah hal itu tidak penting. “Sudahlah, jangan banyak bicara. Fokuskan seluruh perhatianmu untuk menyerap energi itu. Aku akan kembali menemui Kake Qin sebentar, kau sendiri yang harus melewatinya.”

Setelah berkata begitu, Long Siu berbalik dan pergi meninggalkan Riu Han sendirian di dalam kolam itu.

Riu Han menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Ia memaksa dirinya untuk tetap tenang, mengatur irama napas, dan membiarkan rasa sakit itu bekerja sebagaimana mestinya. Hari berganti hari, waktu terasa berjalan lambat baginya. Cairan putih itu terus menembus pori-pori kulitnya, mengikis kotoran dan sisa racun yang masih tersembunyi, sekaligus membentuk kembali struktur tulang dan dagingnya menjadi lebih padat dan kuat.

Energi yang diserapnya mengalir deras bagaikan sungai yang meluap, terus berputar di dalam dantian dan menyebar ke seluruh tubuh. Proses penempaan ini berlangsung tanpa henti, mendorong aliran energinya melonjak naik terus tanpa terputus.

Ketika akhirnya rasa sakit itu perlahan menghilang dan digantikan oleh rasa ringan serta kekuatan yang meluap, Riu Han merasakan perubahan yang sangat besar. Tingkat kekuatannya yang tadinya hanya berada di Tingkat Tiga Pemula, kini telah melonjak naik secara bertahap hingga melewati tingkat empat, lima, enam, tujuh, delapan, dan akhirnya berhenti dengan sangat kokoh di Tingkat Sembilan Pemula—puncak dari tingkatan awal tersebut.

Ia membuka matanya, dan pandangannya terasa lebih tajam, pendengarannya lebih peka, serta setiap gerakan tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan kuat dibandingkan sebelumnya. Saat ia melangkah keluar dari kolam, lapisan kotoran hitam pekat yang keluar dari dalam tubuhnya ikut luruh, meninggalkan kulitnya yang kini terasa halus dan memancarkan cahaya sehat.

Riu Han tersenyum lebar. Ia tahu, setelah melalui proses ini, fondasi tubuhnya sudah jauh lebih kokoh, siap melangkah ke tingkatan yang lebih tinggi lagi.

1
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
Lanjut Up Thor 💪💪
Deevy Tresiyana
kuatkan💪mu riu han...ceritanya luar biasa thor👍😄
Deevy Tresiyana
👍💪hebat hebat
Blue Manusia Biasa
awal yang bagus
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 1 gift ☕ Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift. Semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya menarik untuk dibaca 👍👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjutkan Thor 💪💪
sutrisno akbar
ayo lanjut thor l
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tingkatan Pemula saja Tingkat 1-9, kok nggak Awal, Tengah dan Puncak 🤔
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Kisah menjadi Kultivator / Pendekar dimulai 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Semoga Novel ini sukses dan sampai Tamat.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Alur ceritanya mulai menarik untuk dibaca 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Awal cerita sudah bagus 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!