NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

***

Bunyi decitan besi tiang infus yang menggeser ubin terdengar bagai ledakan kecil di tengah keheningan ruang utama ndalem. Di ruang tengah, atmosfer ketegangan seketika beralih arah. Sepasang mata elang milik Gus Zayyan menatap lurus ke arah pintu jati kamar perawatan yang sedikit renggang.

Mengetahui ada suara dari dalam kamar, Gus Zayyan tidak membuang waktu. lIa langsung melangkah lebar, memutus jarak dengan cepat, lalu mendorong pintu jati tersebut hingga terbuka sepenuhnya.

Di ambang pintu, Nayanika berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Wajahnya yang semula pucat pasrah kini dihiasi rona merah padam akibat terkejut, sekaligus malu karena tertangkap basah sedang menguping deklarasi maut pria itu.

"Naya? Kenapa kamu bangun?" tanya Zayyan, suaranya yang semula menggelegar dingin di depan para pengurus kini mendadak melunak, berganti menjadi kepanikan yang samar.

Naya yang panik setengah mati berusaha melangkah mundur untuk kembali ke atas ranjang. Namun, kombinasi antara rasa pening yang kembali menghantam kepalanya dan rasa lemas di kedua lututnya membuat keseimbangan tubuh gadis itu hilang. Kakinya tersandung ujung gamisnya sendiri.

"Eh—eh! Lonjong!" seru Naya latah, mencoba meraih tiang infusnya.

Tiang besi itu justru ikut miring dan hampir ambruk bersamanya. Tepat sebelum tubuh ringkih itu membentur lantai, sepasang lengan kokoh Gus Zayyan meluncur secepat kilat. Dengan satu gerakan tangkas, Zayyan menangkap pinggang Naya, sementara tangan kirinya menahan tiang infus agar jarum di vena Naya tidak tercabut paksa.

Naya terengah-engah, kedua tangannya secara refleks mencengkeram bahu baju koko milik Zayyan. Jarak mereka begitu dekat hingga Naya bisa mencium aroma samar kayu gaharu dan parfum maskulin khas suaminya.

Di depan Mbah Yai Usman, Bu Nyai Halimah, dan segenap jajaran pengurus yang melongok mengintip dengan mata terbelalak dari ruang tengah, Zayyan sama sekali tidak menunjukkan keraguan. lIa menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Naya, lalu tanpa memedulikan protokoler pesantren, ia menggendong Naya kembali ke atas ranjang dengan gerakan yang teramat protektif.

"Zayyan, taruh saja di meja luar. Selesaikan urusanmu dengan menantuku," suara Mbah Yai Usman terdengar dari balik tirai ruang tengah, memberikan dispensasi penuh sebelum beliau kembali melanjutkan eksekusi pemecatan Ustadzah Maryam di luar. Bu Nyai Halimah pun ikut menarik pintu jati itu hingga tertutup rapat, memberikan ruang privasi penuh untuk sepasang pasutri baru tersebut.

Begitu tubuhnya menyentuh kasur kembali, Naya langsung menarik tangannya dengan canggung. lIa menyembunyikan wajahnya yang sudah sewarna kepiting rebus ke balik bantal, mencoba mengontrol detak jantungnya yang berdegup maraton.

Zayyan membetulkan letak kacamatanya, berdiri di sisi ranjang sambil menatap Naya dengan ekspresi kaku yang kembali terpasang rapi di wajahnya. Namun, jika Naya jeli melihatnya, sepasang daun telinga Gus Kaku itu saat ini ikut memerah padam.

"Lu..." Naya membuka suara, suaranya serak namun tetap terselip nada ketus khas Jakarta. "Lu ngapain ngomong kayak gitu di luar tadi? Sengaja ya lu biar gue jantungan?!"

Zayyan mendeham pelan, merapikan lipatan lengan baju kokonya yang sedikit berantakan. "Ngomong apa maksudmu? Saya hanya meluruskan situasi."

"Enggak usah belaga amnesia deh, Gus Kaku!" Naya mendelik tajam, menunjuk ke arah pintu luar dengan jari kirinya yang bebas. "Gue denger ya! Lu teriak-teriak bilang gue ini istri lu dunia akhirat! Maksud lu apa, hah?! Pakai bawa-bawa dunia akhirat segala, lebay banget tahu enggak!"

Mendengar tuntutan penjelasan dari Naya, benteng gengsi seorang Gus sekaligus CEO di dalam diri Zayyan seketika bangkit. lIa melipat kedua tangannya di dada, memasang wajah sedingin es demi menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa.

"Itu... itu hanya gertakan taktis, Nona Nayanika," kilih Zayyan dengan nada sekaku kanebo kering. "Ustadzah Maryam terus membawa-bawa nama pamannya yang merupakan kiai senior demi menghindari sanksi. Jika saya tidak menggunakan otoritas tertinggi dan menyatakan hubungan hukum yang mutlak di depan pengurus, mereka akan terus mencari celah untuk berkompromi. Jadi, kalimat tadi hanya gertakan demi membungkam pengurus lama. Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati."

Naya tertegun mendengar jawaban itu. Ada perasaan lega, namun anehnya, ada sekelumit rasa kecewa yang menusuk ulu hatinya tanpa sebab. lIa mendengkus hambar, memalingkan wajahnya ke arah jendela luar yang mulai berawan kelabu.

"Oh. Gertakan," gumam Naya, suaranya mendadak melemah, kehilangan energi bar-bar-nya yang semula berapi-api. "Bagus deh kalau cuma gertakan. Gue juga ogah beneran dianggap istri dunia akhirat sama om-om sekaku lu."

Melihat perubahan raut wajah Naya yang mendadak redup, Zayyan terdiam. Kamar perawatan itu kembali diselimuti kesunyian yang mendalam. Tidak ada lagi adu mulut yang kasar, tidak ada lagi sindiran tajam yang biasanya mereka lemparkan satu sama lain selama satu minggu ini.

Zayyan menatap luka-luka merah dan kapalan di jemari tangan Naya yang tergeletak di atas selimut. Perlahan, pria itu menurunkan egonya. lIa menarik kembali kursi kayu jati, lalu duduk tepat di hadapan Naya. lIa menatap mata Naya yang tampak berkaca-kaca menahan luapan emosi dan syok yang belum mereda.

"Nayanika," panggil Zayyan, suaranya kini melunak seutuhnya, terdengar sangat tulus dan dalam.

Naya tidak menoleh, ia tetap menatap keluar jendela. "Apalagi?"

"Saya ingin meminta maaf," tutur Zayyan pelan. "Saya meminta maaf secara tulus atas ketidaktahuan saya selama satu minggu ini. Saya terlalu kaku memikirkan kontrak ponsel dan aturan-aturan formal pondok, sampai saya melewatkan fakta bahwa ada orang-orang yang memanfaatkan situasi untuk menzalimi kamu di balik punggung saya. Sebagai orang yang diamanahi oleh papamu... saya gagal melindungi kamu hari ini."

Mendengar kata-kata tulus yang keluar dari mulut Gus Zayyan, pertahanan Naya runtuh. lIa menoleh perlahan, menatap mata elang di balik kacamata itu. lIa melihat pantulan dirinya yang rapuh di sana.

"Gus..." Naya menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat. "Gue mau tanya satu hal. Dan gue minta lu jawab jujur, jangan pakai bahasa filsafat atau gertakan taktis lu lagi."

"Silakan," sahut Zayyan tenang.

"Pernikahan siri sebulan lalu... perjodohan gantung belasan tahun lalu... semua ini terjadi cuma karena aset, kan?" Naya menatap berkas dokumen tanah di atas kasur dengan pandangan terluka. "Papa gue nikahin gue sama lu secara diam-diam cuma karena mau mengamankan tanah pesantren Al-Falah ini kan? Lu juga mau nerima ijab kabul itu sehari setelah gue datang ke sini, pasti cuma karena lu mau menyelamatkan pondok ini agar enggak disita atau ditutup sama keluarga gue? Jawab jujur, Gus. Pernikahan ini cuma soal bisnis dan aset, kan?"

Air mata yang sejak tadi ditahan Naya akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang tirus. lIa merasa dunianya hancur karena merasa dimanfaatkan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya.

Zayyan tidak langsung menjawab. lIa menatap lekat-lekat manik mata Naya, melihat luka batin yang tersembunyi di balik topeng gadis pemberontak itu. Zayyan mengulurkan tangannya, kali ini ia tidak menggenggam tangan Naya, melainkan menggunakan ujung jarinya untuk menyeka air mata yang mengalir di pipi istrinya dengan sangat lembut.

"Kamu salah, Nayanika," jawab Zayyan, suaranya berat namun sarat akan kepastian yang menggetarkan sanubari. "Aset tanah dan legalitas itu hanyalah urusan dokumen di atas kertas. Pesantren ini bisa dibangun kembali di tempat lain jika memang harus ditutup. Tapi pernikahan ini... saya menerimanya bukan karena tanah ini."

Naya mengerjap, membiarkan jemari Zayyan menyentuh kulit pipinya. "Terus karena apa?"

Zayyan menatap lurus ke dalam mata Naya, memberikan jawaban tidak terduga yang sanggup membuat debaran di dada Naya kembali bergolak gila-gilaan.

"Saya menerimanya karena sejak pertama kali papa kamu menunjukkan foto masa kecilmu dan menceritakan bagaimana rapuhnya kamu di balik semua kenakalanmu di Jakarta, saya sudah mengikat janji pada diri saya sendiri di hadapan Allah. Saya bersedia menjadi tempat pulangmu, menjadi pelindungmu, dan menjadi orang yang akan memegang tanganmu saat dunia di luarmu terasa terlalu bising. Saya benar-benar berniat menjaga kamu seumur hidup saya, Nayanika. Bukan karena selembar sertifikat tanah."

Naya tertegun. Kalimat Zayyan terasa seperti sengatan listrik yang langsung merambat ke seluruh pembuluh darahnya. Jiwanya yang keras kepala terguncang hebat oleh ketulusan yang teramat besar dari pria yang baru dikenalnya seminggu ini.

Namun, rasa syok, kelelahan fisik, dan rasa tidak terima karena hidupnya diatur tanpa persetujuannya mendadak bergejolak kembali menjadi dinding pertahanan baru. Naya menarik kepalanya mundur, memutus sentuhan jari Zayyan di pipinya.

"Enggak... enggak, Gus. Gue... gue belum bisa terima semua ini," ujar Naya, suaranya bergetar hebat saat ia menggelengkan kepalanya berulang kali. "Ini terlalu gila buat gue. Sebulan lalu gue masih balapan di Jakarta, dan sekarang tiba-tiba gue dikasih tahu kalau gue udah punya suami? Menikah sama orang yang bahkan enggak pernah ada di rencana masa depan gue?!"

Naya mencengkeram selimutnya erat-erat, matanya menatap Zayyan dengan pandangan campur aduk antara bingung dan takut. "Lu baik, Gus. Tindakan lu di luar tadi keren banget, gue akuin itu. Tapi untuk status pernikahan ini... gue belum bisa. Gue masih syok. Gue belum menerima keadaan ini, apalagi harus hidup berdampingan sama lu sebagai seorang istri."

Naya memalingkan wajahnya kembali ke arah dinding, menyembunyikan isak tangisnya yang kembali pecah. "Tolong... gue minta waktu. Gue mau sendiri dulu di ruangan ini. Tolong keluar, Gus."

Zayyan menatap punggung ringkih Naya yang bergetar karena tangis. Pria itu menghela napas panjang, menyadari bahwa memaksakan Naya untuk menerima segalanya dalam kondisi fisik yang kritis seperti ini adalah sebuah kesalahan. lIa berdiri perlahan dari kursinya, merapikan kembali pakaiannya.

"Baik," ucap Zayyan dengan nada suara yang kembali tenang dan penuh pengertian. "Saya akan keluar. Selesaikan infusmu, dan istirahatlah. Tidak ada yang akan mengganggumu di sini."

Zayyan melangkah mundur menuju pintu jati. Namun, sebelum ia memutar knop pintu, ia sempat menoleh ke belakang sekilas, menatap siluet Naya yang meringkuk di atas kasur. Waktu akan menjawabnya, Nayanika, batin Zayyan sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu dengan perlahan, menyisakan keheningan malam yang mulai membayang di luar jendela ndalem.

BERSAMBUNG

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!