Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Pengakuan Siti
Operasi berlangsung hampir tiga jam. Selama waktu itu, Faris tidak berpindah sedikit pun dari kursi di depan ruang operasi. Tangannya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Sesekali ia berdiri ketika ada perawat yang keluar dari ruangan, berharap mendapat kabar baik, tetapi setiap kali itu pula ia hanya memperoleh jawaban singkat.
"Mohon ditunggu dulu, Mas."
Kalimat itu terus berulang hingga membuat dada Faris semakin sesak.
Di koridor rumah sakit, suasana masih sibuk. Beberapa korban bencana juga berdatangan silih berganti. Suara roda brankar yang bergesekan dengan lantai, langkah kaki para tenaga medis, dan panggilan dari ruang gawat darurat bercampur menjadi satu. Namun bagi Faris, semua suara itu seolah menghilang. Seluruh pikirannya hanya tertuju pada satu pintu yang masih tertutup rapat.
Ia kembali memanggil sistem dalam hati.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Apa kondisi Ibu sekarang?"
[Kondisi target masih berada di dalam ruang operasi.]
"Tidak ada data lain?"
[Operasi masih berlangsung.]
Faris mengembuskan napas panjang. "Kenapa rasanya waktu berjalan sangat lambat..."
Sistem tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian, lampu merah bertuliskan OPERASI BERLANGSUNG akhirnya padam.
Klik.
Pintu ruang operasi terbuka perlahan. Seorang dokter berusia sekitar lima puluh tahun keluar sambil melepas masker. Wajahnya tampak lelah. Di belakangnya, dua orang perawat masih sibuk membereskan peralatan medis.
Faris langsung berdiri. "Dok... bagaimana ibu saya?"
Dokter tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Faris beberapa saat sebelum menghela napas pelan.
"Operasinya berhasil."
Mendengar kalimat itu, Faris mengembuskan napas lega. "Syukurlah..."
Namun dokter belum selesai berbicara.
"Tapi..."
Satu kata itu kembali membuat jantung Faris menegang.
"Kami berhasil menghentikan perdarahannya. Namun penyakit yang diderita ibu Anda sudah berada pada tahap yang sangat berat."
Senyum di wajah Faris perlahan menghilang. "Maksud Dokter?"
Dokter mempersilakannya duduk di bangku koridor. "Ada beberapa kerusakan yang sudah berlangsung cukup lama. Kondisi paru-parunya sangat lemah. Selain itu, tubuh beliau juga sudah mengalami penurunan fungsi akibat penyakit yang tidak tertangani secara optimal."
Faris menundukkan kepala. "Apakah... masih bisa sembuh?"
Dokter kembali terdiam. Sebagai seorang dokter, ia sudah berkali-kali menyampaikan kabar buruk kepada keluarga pasien. Namun setiap kali mengucapkannya, perasaan itu tetap tidak pernah menjadi lebih mudah.
"Akan lebih baik jika saya jujur."
Faris mengangkat wajahnya perlahan.
"Kami bisa membantu. Kami bisa memberikan pengobatan. Kami juga bisa memperlambat perkembangan penyakitnya. Tetapi..."
Dokter kembali menghela napas. "...kami tidak bisa mengembalikan kondisi beliau seperti orang sehat."
Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam dada Faris.
"Kami hanya mampu memperpanjang waktu beliau. Tidak ada dokter yang bisa memastikan berapa lama. Bisa beberapa bulan. Bisa juga lebih lama jika pengobatannya berjalan baik. Namun penyakitnya sendiri tidak dapat disembuhkan sepenuhnya."
Faris menatap lantai tanpa berkata apa-apa. Dadanya terasa sesak. Ia baru saja memperoleh kesempatan kedua dalam hidup. Baru saja mulai bekerja. Baru saja melihat harapan untuk memperbaiki kehidupan mereka. Namun kini ia kembali dihadapkan pada kenyataan yang begitu kejam.
Dokter menepuk pelan bahunya.
"Maaf. Kami sudah melakukan yang terbaik."
Faris mengangguk pelan. "Terima kasih, Dok."
Beberapa saat kemudian, seorang perawat menghampirinya.
"Pasien sudah sadar. Anda boleh masuk."
Langkah Faris terasa berat ketika memasuki ruang rawat intensif. Ruangan itu sunyi. Hanya terdengar bunyi monitor detak jantung yang berbunyi pelan secara teratur.
Siti terbaring di atas ranjang dengan wajah yang jauh lebih pucat dibanding sebelumnya. Selang infus terpasang di tangannya, sementara oksigen masih menutupi hidungnya.
Meski begitu, ketika melihat Faris masuk, wanita itu tetap berusaha tersenyum.
"Ris..."
Faris langsung mendekat.
"Bu..."
Ia menggenggam tangan ibunya dengan hati-hati.
"Maaf ya..."
Siti menggeleng pelan. "Kenapa minta maaf? Ibu yang seharusnya minta maaf."
Faris mengusap air matanya. "Jangan bicara begitu."
Siti memandang wajah anak yang telah ia besarkan selama puluhan tahun itu dengan tatapan yang sangat lembut.
"Ada satu hal... yang selama ini Ibu sembunyikan."
Faris mengernyit. "Apa?"
Siti menarik napas panjang. "Ibu sebenarnya sudah lama ingin mengatakannya. Tapi Ibu selalu takut. Takut kehilanganmu."
Faris semakin bingung. "Ibu bicara apa?"
Air mata perlahan mengalir dari sudut mata Siti.
"Ris... kamu bukan anak kandung Ibu."
Kalimat itu membuat tubuh Faris membeku. Seolah seluruh suara di ruangan menghilang.
Monitor jantung masih berbunyi. Perawat masih berjalan di luar. Namun telinga Faris seakan tidak lagi mampu menangkap apa pun.
"Apa... maksud Ibu?"
Siti memejamkan mata sesaat.
"Dulu lebih dari dua puluh tahun yang lalu... Ibu menemukanmu."
Faris menggeleng cepat. "Tidak! Ibu pasti sedang bercanda."
Siti tersenyum pahit. "Ibu tidak mungkin bercanda tentang hal seperti ini."
Faris berdiri perlahan. "Kalau aku bukan anak Ibu... Lalu siapa orang tuaku?"
Siti kembali menangis. "Itulah yang tidak pernah Ibu ketahui."
Faris menatapnya tanpa berkedip.
Siti mulai bercerita dengan suara yang pelan. "Waktu itu... Ibu dan almarhum Ayahmu baru menikah sekitar dua tahun."
"Kami belum memiliki anak. Setiap hari kami berusaha. Berobat ke mana-mana. Tapi hasilnya selalu sama. Dokter mengatakan kemungkinan kami memiliki anak sangat kecil."
Siti berhenti sejenak karena napasnya mulai tersengal. Faris buru-buru membantunya minum sedikit air.
Setelah kondisinya sedikit membaik, wanita itu melanjutkan.
"Suatu malam... Ayahmu pulang kerja sangat larut. Di dekat tempat pembuangan sampah, beliau mendengar suara tangisan bayi. Waktu itu hujan deras.bAwalnya beliau mengira hanya suara anak kucing. Tapi ketika didekati... Ternyata ada sebuah kardus."
Air mata Siti kembali mengalir. "Di dalam kardus itu ada seorang bayi laki-laki. Bayi itu dibungkus kain tipis. Seluruh tubuhnya menggigil karena kedinginan. Semut sudah mulai mengerubungi kainnya. Kalau saja Ayahmu terlambat beberapa menit lagi... mungkin bayi itu sudah tidak tertolong."
Faris merasakan napasnya mulai memburu. "Tidak..."
Siti mengangguk pelan. "Bayi itu... adalah kamu."
Air mata Faris jatuh tanpa bisa ditahan. Ia mundur selangkah sambil memegang kepalanya.
"Mustahil... Aku ditemukan di tempat sampah?"
Siti mengangguk dengan wajah penuh penyesalan.
"Setelah itu kami membawamu ke rumah sakit. Polisi juga datang. Selama berbulan-bulan mereka mencari orang tuamu. Iklan dipasang. Pengumuman dibuat.Tapi... tidak pernah ada seorang pun yang datang menjemputmu. Ibu dan Ayahmu akhirnya mengajukan proses adopsi secara resmi. Sejak hari itu... kami memutuskan membesarkanmu sebagai anak kami sendiri."
Faris menutup wajahnya dengan kedua tangan. Selama hidupnya, ia tidak pernah sekali pun membayangkan kenyataan seperti ini. Ia selalu mengira dirinya hanyalah anak dari keluarga sederhana.
Ternyata, bahkan asal-usulnya sendiri tidak pernah ia ketahui.
Siti menggenggam tangan Faris dengan lemah. "Ris... Ibu tahu kamu mungkin marah. Mungkin kecewa. Mungkin membenci Ibu. Tapi... setiap kasih sayang yang Ibu berikan selama ini tidak pernah bohong. Ibu memang tidak melahirkanmu. Tapi sejak pertama kali menggendongmu... Ibu sudah menganggapmu sebagai anak kandung sendiri."
Tangis Faris pecah. Ia langsung memeluk ibunya dengan hati-hati agar tidak mengganggu luka operasi.
"Jangan bilang begitu, Bu... Bagiku... Ibu tetap Ibu. Aku tidak peduli siapa yang melahirkanku. Yang membesarkanku... Itu tidak akan pernah berubah."
Siti menangis sambil membalas pelukan anaknya.
Insyaa ALLAH berhasil.
Berharap ada yg bantu.