NovelToon NovelToon
The Last Golden Rose: Kebangkitan Putri Terbuang

The Last Golden Rose: Kebangkitan Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: SweetMoon2025

​"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"

​Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.

​Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.

​Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Jantung Imperium: Solmara

​"Nona Anna, makanlah sedikit lagi. Perjalanan kita hampir sampai," bujuk Bibi Marry lembut seraya menyodorkan sepotong roti gandum dan daging asap.

​"Bibi, dari mana semua makanan ini berasal? Rasanya pasokan kita tidak habis-habis sejak beberapa hari lalu."

​Bibi Marry terkekeh kecil, tangannya sibuk menata kembali buntalan kain berisi makanan itu. "Sore hari sebelum Nona diminta meninggalkan rumah, saya sudah menguras isi dapur. Firasat mendiang Nyonya Rosa tidak pernah salah, beliau meminta saya untuk menyiapkan banyak hal saat beliau wafat. Ia seolah sudah memperhitungkan segalanya dengan matang."

​Mendengar nama neneknya disebut, tenggorokan Annaline mendadak tercekat kaku. Ia hanya bisa mengunyah rotinya perlahan, menatap keluar celah kain pedati yang bergoyang, perasaannya masih campur aduk di tambah kini tubuhnya yang remuk redam setelah berhari-hari terombang-ambing di atas bantalan kayu, menembus rute terjal dan dingin demi menuju negeri seberang.

​GUDUK! GUDUK!

​Hentakan keras tiba-tiba membuat pedati miring ke kanan. Di sudut depan kabin, tali pengikat peti-peti besar mulai kendor akibat gesekan batu jalanan yang terjal. Dua buah peti kayu berukir kuno yang selama ini tersembunyi di bawah tumpukan jerami mendadak merosot dan penutupnya sedikit terbuka.

​"Ah, talinya kendor!" seru Paman Paul dari kursi kusir, menahan tali kekang kuda agar pedati berhenti di jalanan yang datar. "Marry, tolong ikat kembali peti di sudut itu sebelum isinya tercecer!"

​Annaline bergeser mendekati peti tersebut. "Biar aku saja, Paman."

​Namun, saat jemarinya menyentuh tutup peti yang renggang, napas Annaline mendadak tertahan. Di dalam peti itu, tidak ada perkakas tua atau barang loak. Melainkan tumpukan kain-kain sutra, beludru, dan brokat dengan warna-warna yang sangat cantik dan langka. Pola tenunannya begitu rumit dan indah, memantulkan kilau yang mewah bahkan di bawah remang kabin.

​"Ini ... ini kain-kain dari lemari kamar Mama?" bisik Annaline dengan mata berkaca-kaca. "Bibi Marry ... Paman Paul, kalian membawa semuanya?"

​"Bukan hanya kain, Nona," sahut Bibi Marry, jemarinya membuka bungkusan kain lain di samping peti. Di dalamnya, tersusun tiga stel gaun yang sederhana namun memiliki potongan yang sangat anggun dan jahitan yang rapi. "Nyonya Rosa yang meminta kami menyimpannya. Ini karya beliau sendiri yang ia jahit beberapa bulan lalu. Baju-baju ini sangat layak untuk Anda pakai nantinya di negeri baru. Gaunnya sederhana, tidak mencolok, tapi tidak akan membuat Anda terlihat seperti pengungsi di negeri orang."

​Annaline mengusap permukaan kain sutra di dalam peti dan juga tumpukan gaun secara bergantian dengan sayang. Di balik kekejaman ayah dan ibunya, mendiang neneknya ternyata telah mempersiapkan masa depannya sejauh ini.

"Terima kasih, Mama ...." lirihnya, buru-buru menghapus air mata yang hendak jatuh dan menutup semuanya dengan cepat.

Pedati kembali jalan, hari ini cuaca cukup bersahabat. Hangat.

"Bibi aku ingin tidur sebentar," bisiknya lirih.

"Tidurlah, Nona," Marry menepuk pahanya untuk menjadi bantalan Anneline. Entah sudah berapa lama dia tertidur, di luar langit sudah menggelap. Dan suara-suara manusia cukup berisik terdengar tegas penuh wibawa.

"Jalan!" suara pria seperti seorang pengawal terdengar lantang.

"Maju, Pak Tua!" sentak seseorang.

​"Nona Anna, bangunlah. Kita sudah memasuki wilayah Solmara," bisik Bibi Marry lembut sambil menggoyang pelan bahu Annaline.

​Ia mengerjapkan matanya yang terasa berat. Saat ia menyibak sedikit kain penutup pedati, rasa syok langsung menggantikan rasa lelahnya.

'Tempat apa ini?' batinnya. Ia melihat banyak sekali prajurit, Annaline takut kalau mereka gagal dan akan masuk penjara.

​"Nona Anna, cepat pakai jubah penutupnya. Kita sudah memasuki area luar Solmara," instruksi Paman Paul, suaranya serius dan penuh penekanan.

Tanpa banyak tanya, ​Annaline segera mengenakan gaun sederhana pilihan Marry dan merapatkan tudung jubah wolnya.

Solmara, pusat kota kekaisaran, militer, dan pendidikan itu terlihat sangat cantik di malam hari. Udara malam yang sejuk menyambut mereka dan juga bangunan-bangunan batu yang kokoh namun elegan berdiri megah di kejauhan sana.

​Namun, kedamaian itu mendadak sirna begitu pedati mereka tiba di barisan antrean gerbang pemeriksaan utama. Penjagaan militer di sini berkali-kali lipat lebih ketat dan tegas.

​KLANG!

​Dua bilah tombak perak disilangkan dengan sentakan keras tepat di depan dada kuda mereka.

​"Berhenti! Identitas dan surat izin masuk Solmara?!" bentak seorang kapten penjaga berzirah perak lengkap. Di belakangnya, belasan prajurit bersenjata siaga memeriksa setiap pendatang.

​Paul menarik tali kekang, lalu membungkuk sedalam mungkin di kursi kusir. "Kami hanya pengungsi miskin dari perbatasan, Tuan. Rumah kami hancur akibat badai kemarin. Kami ... kami tidak memiliki surat izin."

​Kapten penjaga itu mendengus sinis, alasan klasik yang sering sekali dia dengar, matanya menyapu pedati usang itu dengan pandangan merendahkan. "Tanpa dokumen resmi kekaisaran, tidak ada yang boleh menginjakkan kaki di Solmara. Putar balik pedatimu pak tua sebelum kujebloskan ke penjara!"

​Annaline menahan napas di dalam kabin, merapatkan tubuhnya ke sisi Marry.

​Di luar, Paman Paul tidak kehilangan akal dengan cepat yang tak terlihat oleh prajurit lain, ia merogoh selembar kain sutra murni bersulam benang perak dari balik bajunya yang terlapisi kain biasa, lalu menyodorkannya ke balik telapak tangan sang kapten penjaga di tambah dua koin emas didalamnya.

​"Mohon kebijaksanaannya, Tuan. Kami hanya ingin mencari penghidupan yang layak di kota yang indah ini," bisik Paman Paul dengan nada rendah yang sarat akan negosiasi.

​Kapten penjaga itu mengernyit gusar dengan apa yang dia rasakan di telapak tangannya. Namun, begitu jemarinya membuka sedikit bungkusan dan merasakan tekstur kain sutra langka yang ia perkirakan luar biasa mahal, matanya langsung berkilat serakah, di tambah dia merasakan ada koin emas disana. Ia segera menyembunyikan bungkusan itu ke dalam zirahnya secepat kilat.

​"Ehem ... jadi kalian korban badai, ya?" nada suara sang kapten mendadak melunak. Ia pura-pura batuk, lalu mengambil selembar perkamen kosong.

"Aku bisa membuatkan dokumen sementara, tapi aku harus memastikan siapa saja yang ada di dalam kabin."

​Kapten itu melangkah ke belakang pedati, lalu menyibak kain penutupnya dengan ujung sarung pedangnya.

​Annaline tersentak mundur ke sudut yang paling gelap, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga tudung jubahnya hampir menyentuh dada. Ia berusaha menyembunyikan seluruh keberadaannya dengan jantung yang berdetak cepat.

Kapten penjaga itu mengerutkan kening, memeriksa dokumen di tangannya sejenak sebelum pandangannya menembus kegelapan kabin, menatap tepat pada sepasang mata abu-abu Annaline yang mengintip ketakutan dari balik tudung, lalu berbisik dengan nada tergesa-gesa yang tertahan, "Masuklah ... cepat bawa pedati ini melewati gerbang sebelum orang lain sempat melihat kalian. Ini dokumennya!"

1
Anne Soraya
lanjut
Razi Maulidi
awal bab yang indah kk.... ceritanya bikin sedih di awalnya.... semangat....
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Terimakasih kak 🫶🤗
total 1 replies
WidBy
Lanjut kak 🤭
Mutiara
Kok belum up lagi?
Mutiara
5 bab Thor? keren bnget. besok 5 bab LG kan? 🤭
WidBy
lanjut thor
한스 HANSEN (HiAtus SEmeNtara)
aku hadir mom!
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Yes, dear. Thankyouuu 🫶🫶🫶
total 1 replies
Vhin Ananta
Sweet yang nggak Sweet karena bikkn mewek 🫣..
lanjut yaaaaa
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Terimakasih Kak Vhin 😘😘😘
total 1 replies
Mutiara
makin seru ni. keren la pokknya. jadi cermin itu apa y?
WidBy
Aetan mulai tertarik ke Ana ya? 🤭
Cutiepie18
Di bab awal udah sedih banget ya, di tambah di akhir makin kena fitnah, pasti ini cewek kuat banget ngadepin semua itu, dan pas waktu perkataan itu, gue penasaran, siapasih tunangan yang di rebut itu. emgnya dia pantas direbutkan?... lanjuuut...😍
Cutiepie18: sama2 kakak, 😍😍😍... keren bgt novel novel kakk👍
total 2 replies
Mutiara
Aku mau saputangana 😍
Mutiara
wih paman Paul keren banget Weh. ternyata ya ternyata 👍🤭
WidBy
rumah siapa y? ayo bangkit An, tunjukkan k keluarga Virelle
Asley Naynay
makin penasarn rumah siapa yg di tempati? semoga aja mary sm paul g jahat
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Rumah siapa ya hmmm ikuti terus ya, Kak 😆🫶
total 1 replies
Asley Naynay
Nyonya Rosa 😭🫶🏼 bikn trharu
Asley Naynay
siapa yang sangka ternyata Paman Paul 😱👍💪
Mutiara
sialan. apes banget jadi Analin. lawan ayo lawan
Mutiara
anjg di usir. pdhl anak kandung. woilah
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Sabar, Kak sabar 😆🫶
total 1 replies
Mutiara
bab satunya seru. kasian banget analin y. jahat keluarganya
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Iya ya, Kak 🥲 baca terus bab seru lainnya ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!