Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Fatih yang masih berada di tenda utama bersama Hasna memanfaatkan momen itu untuk menunjukkan foto yang ia bawa.
"Hasna... maaf jika aku mengganggu waktumu. Tapi, apakah kamu atau salah satu anggota komunitasmu pernah melihat gadis di foto ini?" tanya Fatih dengan nada penuh harap, menyodorkan sekeping foto ijab kabul Bella.
Hasna menerima foto itu, mengamatinya di bawah terik matahari. Sorot mata di foto itu... ada kemiripan yang sangat kuat dengan Wulan, gadis yang mereka selamatkan di pinggir jalan seminggu lalu. Namun, Hasna mengingat ada beberapa detail yang berbeda; wajah di foto ini tampak lebih berisi, sedangkan Wulan yang ada di komunitasnya memiliki wajah yang sangat tirus akibat depresi dan kurang makan.
Hasna ingin memastikan. "Ini... istri kamu, Ustadz?"
Fatih mengangguk perlahan, ada rasa ragu dan tidak enak hati yang terselip di dadanya. Ia tahu bahwa di masa lalu, Umi pernah mencoba menjodohkan Hasna dengannya sebelum peristiwa KDRT tragis yang menimpa wanita itu terjadi. Fatih takut pertanyaan ini melukai perasaan Hasna.
"Iya... dia istriku," jawab Fatih lirih.
"Namanya siapa, Ustadz?" tanya Hasna lagi.
"Bella... namanya Bella."
Oh, bukan... ternyata salah, batin Hasna dalam hati. Ia menghela napas lega sekaligus kecewa. Gadis yang dirawat di komunitasnya bernama Wulan, bukan Bella. Hasna tidak tahu bahwa Bella telah membuang namanya demi mengubur masa lalu.
Hasna mengembalikan foto itu sambil tersenyum menenangkan. "Oh, bukan ternyata, Ustadz. Di komunitas kami tidak ada yang bernama Bella. Tapi nanti kalau dalam perjalanan baksos ini aku melihat atau bertemu dengan gadis yang mirip di foto ini, aku pasti akan langsung memberitahu Ustadz."
"Terima kasih banyak, Hasna. Aku sangat menghargainya," ucap Fatih dengan hati yang kembali terasa hampa.
Fatih dan Hasna mendengar ada insiden di meja lima segera keluar, Fatih melihat AKBP Ridean membopong gadis salah satu anggota Muslimah Till Jannah. Namun aneh ada rasa ngilu dibdada Fatih ketika melihatnya.Fatih dan Hasna pun segera menuju ke ruang medis.
Di dalam tenda ruang kesehatan yang sunyi, AKBP Ridwan meletakkan tubuh Wulan di atas ranjang lipat medis. Beberapa tim kesehatan akhwat dari komunitas segera datang membawa minyak kayu putih dan tabung oksigen kecil.
"Tolong, jaga dia dengan baik ya," kata Ridwan kepada para petugas medis dengan nada khawatir yang tulus.
Namun, baru saja Ridwan hendak memutar tubuhnya untuk kembali ke lapangan, sebuah tangan yang dingin dan gemetar tiba-tiba bergerak cepat, meraih dan mencengkeram kuat ujung lengan baju seragam Ridwan.
"Kang... tolong aku, Kang... Jangan biarkan mereka membawaku..." gumam Wulan dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Rupanya, dalam pingsannya, Wulan sedang terjebak dalam mimpi buruk yang amat mengerikan. Bayangan saat Iptu Deni menodongkan pistol dan menyeretnya ke dalam mobil hitam kembali terulang di alam bawah sadarnya. Dalam ketakutan yang mencekam itu, jiwanya berteriak meminta pertolongan kepada "Abbas"—satu-satunya pria yang dulu selalu ia harapkan menjadi penyelamatnya. Namun, karena genggaman itu mendarat pada baju seragam polisi milik Ridwan, situasi itu menciptakan arti yang sama sekali berbeda.
Ridwan tertegun. Ia menatap tangan kurus yang mencengkeram kain seragamnya dengan begitu erat, seolah-olah tangan itu sedang memegang satu-satunya tali penyelamat di atas jurang kematian.
“Ya Allah... betapa sangat pedih hidup gadis ini. Trauma apa yang sedang menghantui jiwanya hingga dalam pingsan pun dia ketakutan seperti ini?” batin Ridwan, hatinya mendadak diselimuti rasa iba dan kehangatan yang mendalam, mengingatkannya pada mendiang istrinya yang juga rapuh sebelum tiada.
Beberapa detik kemudian, kelopak mata Wulan bergerak lambat. Kesadarannya perlahan kembali. Saat matanya terbuka sepenuhnya, hal pertama yang ia lihat adalah sosok polisi tegap yang berdiri di sampingnya. Menyadari tangannya sendiri sedang mencengkeram seragam pria itu, Wulan terkejut dan segera menarik tangannya kembali dengan canggung.
"Maaf... maafkan saya, Pak..." kata Wulan canggung dengan suara yang lemah di balik cadarnya yang sedikit bergeser rupanya dia bermimpi buruk dan melihat Abbas serta meminta tolong padanya.
Ridwan tersenyum sangat lembut, mencoba mencairkan ketegangan. "Tidak apa-apa... tidak perlu minta maaf. Nama kamu siapa?"
Wulan terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara yang agak parau dan berbisik, "Wulan... nama saya Wulan. Pak"
"Oh, Dek Wulan..." Ridwan tersenyum manud mengangguk paham, nadanya terdengar seperti seorang kakak yang mengayomi adiknya. "Kamu istirahat saja dulu di sini ya. Jangan dipaksakan untuk kembali kerja ke lapangan. Di sini ada rekan-rekanmu yang akan menjaga dan mengawasimu. Saya masih ada banyak tugas pengamanan di luar." Saya pamit dulu, ya..!"
"Ya... terima kasih banyak, Pak Polisi atas bantuannya," ucap Wulan tulus, merasakan sedikit rasa aman yang tak pernah ia dapatkan dari Fatih belakangan ini.
Ridwan mengangguk sekali lagi, lalu melangkah keluar dari tenda medis. Di luar sana, angin pinggiran kota bertiup semakin kencang, menerbangkan debu-debu lapangan dan membawa selembar foto ijab kabul yang terjatuh di dekat meja nomor lima—sebuah foto yang tadi terinjak-injak oleh kerumunan, sama seperti takdir Fatih dan Wulan yang kini semakin kabur dan tersamarkan oleh kesalahpahaman nama yang mereka bawa masing-masing.
"Ini ukhti, punya kamu..?" Nina salah satu anggota Muslimah Till Jannah menyerahkan photo itu.
Bella, semakin teriris dilema besar mengantui jiwanya. "Apakah Fatih benar-benar mencarinya untuk mengajaknya pulang atau dia belum puas menghina dirinya" batinnya.
"Ukhti wulan, kenapa kepalanya pusing?" Tanya Nina
"Ya, Ukhti..!" mungkin melihat saking banyak orang-orang bergerombol, belum lagi ada keributan. Jawab Wulan.
"Mungkin, Ukhti kecapean atau belum pulih dari trauma..?" Lanjut Nina
"Mungkin..!" Balas Wulan tidak pasti.
Mendengar kata "trauma" membuat Wulan merasa dirinya sepertinya benar apa yang dikatakan nina.
"Aku, sepertinya memang trauma..!" Batinnya.
Lalu lamunannya beralih pada Ridwan, "siapa polisi itu, sepertinya dia polisi yang baik" gumam Wulan. Ada rasa aman saat bersama Ridwan. Mungkin Ridwan memberikan perlindungan yang sangat dibutuhkan Wulan saat ini. Tatkala orang-orang yang diharapkan melindunginya justru menjerembabkannya ke dalam kenestapaan. Dahlan ayah tirinya yang dulu menyayanginya malah menjualnya, Abbas (Fatih) yang dulu diharapkan menjadi penjaga dan pelindungnya malah mengusir bahkan menghinanya. Wulan menatap photo itu dalam , lalu dia sembunyikan di saku baju gamis putihnya. Dia membenci Fatih sekaligus masih mencintai abbas, "aku masih tidak percaya kalau kang abbas akan melakukan itu kepada ku, jika dia tahu bahwa aku adalah wulan!" Batinnya dilema perih.
Langit hari itu mulai mendung saat awan hitam berjalan menutupi sinar matahari yang menerangi, Seperti merasakan apa yang tertera di dalam batin Wulan.