NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:28.7k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DuaSembilan—Hukuman Untukmu Bibi Liu

Bibi Liu kini telah diikat kuat kedua tangannya. Ia dipaksa berlutut tak berdaya di atas tanah halaman paviliun pribadi Shen Mufeng. Seluruh pelayan kediaman sengaja dikumpulkan dan diminta datang ke sana malam-malam. Malam kian menggelap pekat, sepekat tatapan sang Jenderal yang berdiri tegak di sebelah istrinya. Di sisinya, Gu Mingyue duduk dengan tenang, dengan bahu berselimutkan mantel bulu yang hangat.

Obor-obor menyala terang dipegang erat oleh para pengawal, menyinari halaman yang mendadak sunyi senyap. Dua orang pengawal bertubuh tegap berdiri siaga tepat di belakang tubuh Bibi Liu, masing-masing memegang tongkat eksekusi yang berat.

"Bibi Liu..." Suara Shen Mufeng terdengar sarat dengan kedinginan yang menusuk tulang, seketika membuat beberapa pelayan yang menyaksikannya bergidik gemetar ketakutan.

Sementara itu, Gu Mingyue tetap duduk dengan anggun di kursinya, menatap datar tanpa emosi ke arah pelayan tua yang kini sudah di ujung tanduk.

"Hamba tidak bersalah," ucap Bibi Liu dengan nada datar. Seluruh harga diri dan kepicikan yang tersisa di dalam dirinya ia gunakan demi mempertahankan topeng kesetiaan palsunya.

"Bukan itu jawaban yang kuinginkan," potong Shen Mufeng, suaranya sedingin es.

Bibi Liu mendongak menantang. "Apakah ada bukti konkrit yang bisa mendakwa hamba?"

He Si berjalan cepat maju ke depan. Dengan satu sentakan kuat, ia melemparkan sebuah kantong kain tebal yang langsung bergemerincing nyaring karena ratusan koin tembaga di dalamnya. Senyum kecut seketika terbit di bibir Bibi Liu saat mengenali kantong miliknya sendiri.

Tak berselang lama, He Si kembali melemparkan sebuah botol racun kecil, dupa pemikat, serta nota pembelian resmi dari sebuah rumah hiburan terkenal di Ibukota. Di atas kertas segel itu, nama Bibi Liu tercatat dengan sangat jelas sebagai pembelinya.

Terakhir, He Si membentangkan segulung kertas di hadapan wajah wanita tua itu. "Ini adalah surat pengakuan tertulis dari para pelayan junior. Mereka bersaksi bahwa atas hasutan dan ancamanmu-lah, mereka berani menaruh pecahan kaca di balik karpet tradisi teratai tempo hari."

Bibi Liu tertunduk lemas. Bahunya berguncang saat ia meloloskan tawa getir yang terdengar menyedihkan. "Aku telah mengabdi di kediaman ini selama bertahun-tahun... tapi sekarang, segalanya hancur sudah."

Wanita tua itu mendongakkan kepalanya, menatap Gu Mingyue dengan sorot mata yang penuh racun kemarahan. "Hanya karena seorang gadis asing seperti dia..."

Tatapannya kemudian beralih ke arah Shen Mufeng, sarat akan penyesalan yang terlambat. "Jenderal... Jenderal seharusnya menikahi keponakanku! Jika saja pernikahan itu terjadi, maka semua urusan di kediaman ini akan menjadi jauh lebih mudah!"

Gu Mingyue memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyum meremehkan yang sangat tipis. "Memang secantik apa keponakanmu itu, Bibi Liu? Sampai-sampai kau terus meracau bahwa dia yang harus bersanding dengan seorang Jenderal Agung? Apakah dia memiliki nama besar atau berdarah bangsawan tinggi?"

Bibi Liu meludah kasar ke samping, sisa-sisa keberaniannya berkumpul menjadi sebuah keputusasaan yang lancang. "Setidaknya, kecantikan keponakanku tiada taranya di ibu kota, jauh melampaui wanita licik dan penuh tipu daya sepertimu!"

Gu Mingyue akhirnya berdiri dari kursinya. Ia menumpukan sebelah tangannya dengan anggun pada lengan kokoh Shen Mufeng sebelum melangkah maju. "Jika memang Bibi Liu begitu merindukan keponakannya dan ingin aku menemuinya, tentu saja aku akan mempermudah urusan itu."

Ia mendekat ke arah Bibi Liu, menekuk punggungnya hingga sejajar dengan wanita tua yang tengah berlutut itu. Gu Mingyue berbisik dengan nada yang teramat ringan namun sarat akan ancaman mematikan di telinga sang pelayan, "Aku jadi penasaran... ingin melihat sendiri kelihaian keponakanmu itu dalam merayu pria-pria di rumah hiburan. Apakah trik kotornya itu sanggup merayu seorang Jenderal Agung?"

Bibi Liu meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia melirik kaku ke arah Gu Mingyue yang wajahnya masih berada sangat dekat dengan telinganya. "Sialan kau...!" desisnya dengan rahang mengeras.

Gu Mingyue kembali menegakkan tubuhnya hingga berdiri tegap. Dari atas, sepasang matanya menatap tajam dan dingin sang pelayan tua yang telah berulang kali mencoba mencelakainya tanpa penyesalan.

Derap langkah kaki terdengar bergegas dan cepat, memburu bersama suara napas yang terengah-engah. Bibi Wang berlarian masuk ke pekarangan paviliun ke arah Shen Mufeng, lalu seketika menghentikan langkahnya. Ia menatap Bibi Liu lama.

Wajah Bibi Wang tampak pias sebelum akhirnya mengernyit kesal. Namun, di depan keponakannya—Shen Mufeng—Bibi Wang dengan cepat mengubah ekspresinya, memasang wajah sedih dan prihatin yang dibuat-buat.

"Mufeng, ada apa ini sebenarnya? Kenapa ada keributan besar malam-malam begini?" tanya Bibi Wang dengan suara bergetar.

Shen Mufeng tidak langsung menjawab dengan ramah. Pandangannya tetap menatap lurus ke arah Bibi Liu yang berlutut, sebelum akhirnya berujar dengan nada datar yang menusuk, "Dia telah mencoba mencelakai istriku. Dua kali, semenjak hari pertama kedatangannya."

Bibi Wang menoleh cepat ke arah Bibi Liu. Tatapannya kian menajam; ada perpaduan antara rasa amarah, kekecewaan, serta kepanikan yang terlihat jelas di bola matanya. Gu Mingyue yang berdiri tenang di antara kedua wanita paruh baya itu dengan jeli memperhatikan bagaimana sepasang tatapan itu bertemu.

Satu tatapan sarat akan keputusasaan yang dingin, sementara yang satunya lagi penuh dengan kepanikan yang menyengat.

Tak ingin posisinya ikut terancam, Bibi Wang melangkah maju mendekat. Dan—Plak! Ia melayangkan tamparan keras tepat di pipi Bibi Liu yang sebelah lagi.

"Kurang ajar kau!" teriak Bibi Wang dengan napas naik-turun, sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh semua orang di halaman tersebut.

Pelayan tua itu terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun, sesaat setelah Bibi Wang mendekatkan wajah ke telinganya dan membisikkan sesuatu, gurat wajah Bibi Liu berubah menjadi kian pias dan pucat pasi.

​Bibi Wang kembali menegakkan tubuhnya, lalu berseru dengan nada penuh drama, "Aku memercayaimu dengan sangat baik selama ini, tapi ternyata kau tega mengkhianatiku dan berbuat nista di kediaman ini!"

​Gu Mingyue berjalan anggun kembali ke sisi suaminya. Ia berdiri di dekat Shen Mufeng, menonton dengan saksama drama murahan yang sedang dimainkan oleh dua wanita paruh baya yang picik itu.

​Sebelah sudut bibir Mingyue terangkat, lalu ia berujar dengan nada menyindir yang halus, "Bibi Wang, tidak perlu bersikap sekejam itu. Bagaimanapun juga, ingatlah bahwa dia adalah pelayan setiamu yang paling tepercaya selama bertahun-tahun."

"Mingyue, maafkan aku... Maafkan kelalaianku karena tadi sempat memercayai omongan kosong pelayan ini," ucap Bibi Wang dengan raut wajah penuh penyesalan yang dipaksakan, berusaha sekuat tenaga mengambil hati sang Nyonya Besar.

Gu Mingyue mengangkat satu sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sarat akan makna tersembunyi. Tangannya bergerak halus memberi isyarat agar Bibi Wang tidak perlu cemas.

"Tidak apa-apa, Bibi. Anggap saja ini semua berkat kontribusi dari kedatanganmu," ujar Mingyue dengan nada suara yang teramat tenang, namun setiap katanya terdengar seperti duri. "Berkat keributan yang dibawa Keluarga Wang malam ini, fokusnya teralih dengan sempurna, sehingga kami dapat menjebak dan menangkap tikus tua ini dengan sangat mudah."

Bibi Wang membeku di tempatnya selama sesaat, mencoba mencerna maksud tersembunyi dari kalimat Mingyue yang kini mulai diiringi oleh bisikan-bisikan berani dari para pelayan di sekitar mereka. Rasa malu dan panik bercampur aduk menjadi satu.

"Dasar kau orang Wang tidak tahu balas budi!" maki Bibi Liu kesal, menumpahkan seluruh kemarahannya. Wajahnya memerah padam dengan tubuh yang kian meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari tekanan dua pengawal yang menahannya dengan tongkat eksekusi.

"Kau mencuci tanganmu begitu saja setelah aku melakukan semua hal gila ini demi—" Ucapan lantang Bibi Liu seketika terpotong ketika Bibi Wang melangkah maju dengan terburu-buru.

Plak!

Bibi Wang menamparnya kembali untuk membungkam mulut itu. "Sumbat mulutnya! Jangan biarkan dia meracau lagi!" perintahnya dengan nada luar biasa kesal dan panik.

Shen Mufeng bergerak maju satu langkah, auranya yang mengintimidasi langsung mengambil alih otoritas halaman. "Sumbat mulutnya," perintah sang Jenderal kepada pengawalnya, mengulang instruksi itu dengan nada dingin yang jauh lebih absolut.

Ia menatap lurus ke arah Bibi Liu yang kini mulutnya mulai disumpal kain kasar, sebelum akhirnya memindahkan tatapan tajamnya ke arah Bibi Wang. "Karena dia sudah lama bekerja di Kediaman Shen dan merupakan bagian dari Wangsa Wang, aku akan meringankan hukumannya demi menghormati Bibi."

Bibi Wang mendadak merasakan firasat buruk. Tatapan dan nada bicara Shen Mufeng sama sekali bukanlah pertanda baik. Alih-alih meringankan dalam arti sebenarnya, sang Jenderal justru sedang mendiktekan kehancuran pelayan itu di depan mukanya.

"Pukul tiga puluh kali dengan tongkat! Patahkan tangan yang digunakannya untuk berbuat kriminal! Setelah itu, usir dia dari kediaman ini secara tidak hormat!" ucap Shen Mufeng lantang, menjatuhkan vonis mutlak yang membuat seluruh halaman seketika hening mencekam.

...----------------...

1
Arix Zhufa
semangat thor...cerita nya bagus 👍
Ana Dww: Terimakasih udah mampir kak ❣️ Kelanjutannya bakal makin seru deh !
total 1 replies
Markuyappang
kalo aku minta up banyak banyak wajar tidak sih heheheh kepo kelanjutannya gimanaa kek wow ini mah bener bener menumpas habis penghianat dari bawah sampe atas ke akar akarnya kalo bisa
Ana Dww: 😭😭😭 Makasih banyak loh, buat kalian hari ini aku update dua bab sekaligus. Ditunggu yang menyusul yaa
total 3 replies
𝖛𝖎𝖛𝖎𝖆𝖓 𝖓𝖆𝖙𝖆𝖘𝖆🌻
thor semangat nulisnya💪 aku tunggu yaa😍
Ana Dww: Thank you kak ❣️
total 3 replies
Mydar Diamond
up up lanjuutt 💪ya
Ana Dww: Hai kak, makasih udah mampir. Siap deh, ini aku editin bab selanjutnya buat kalian semua ❣️❣️❣️
total 1 replies
Sofian Ramli
mampir Thor....semoga ga lama upny...🙏🙏
Ana Dww: kuusahakan setiap hari update 🦭 Kalau lagi gak sibuk ku up-in dua bab sekaligus buat kalian 🦭
total 1 replies
Arix Zhufa
ipar yg tidak tau diri...kenapa tdk minta ke istrimu?
Ana Dww: 🦭Soalnya lebih kaya raya mingyue kak
total 1 replies
gendhis jawi
aahh zhao iki cen ra mutu tenan...
Ana Dww: @Ide bagus iniii
total 3 replies
Arix Zhufa
semangat up nya 😍
Arix Zhufa
saya maraton baca bab 1 - 33 cerita nya seru..semangat ya author 👍
Ana Dww: Tungguin kelanjutan kisah Mufeng—Mingyue ya ❣️
total 2 replies
Ana Dww
Sengaja Up Dua Bab Sekaligus biar kalian senang ❣️
Arix Zhufa
mampir thor
Ana Dww: Terimakasih udah mampir ❣️ Semoga menghiburmu
total 1 replies
Anna Setyo
semangat up thor yg banyqk
Ana Dww: Siap! Segera Cuss Ku Editin bab selanjutnya
total 1 replies
**Maulina**
lanjut semangat thor 💪
Ana Dww: Siap Kak 🦭 Terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!