Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan Belas
Matahari siang menyinari kota dengan hangat. Jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang, sementara orang-orang sibuk menjalani aktivitas mereka masing-masing.
Di sebuah restoran ternama yang berada di pusat kota, El sudah duduk lebih dulu di dekat jendela. Restoran itu terkenal dengan suasananya yang elegan. Alunan musik piano mengisi ruangan, aroma makanan yang baru dimasak memenuhi udara, dan para pelayan berlalu-lalang dengan senyum ramah.
Namun semua kemewahan itu sama sekali tidak berhasil mengalihkan pikiran El. Tatapannya kosong menembus kaca besar di depannya. Cangkir kopi yang sudah diantarkan sejak beberapa menit lalu bahkan belum disentuh.
Tak lama kemudian, Zoya datang. Gadis itu mengenakan blouse putih sederhana dipadukan dengan rok cokelat muda. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, membuat penampilannya terlihat anggun.
Begitu melihat El, ia langsung tersenyum kecil. "Maaf ya, aku terlambat."
El mengangkat wajahnya. "Nggak apa-apa."
Zoya duduk di hadapan El. Sesaat ia memperhatikan wajah pria itu. Terlihat sangat kelelahan. Lingkaran hitam mulai terlihat di bawah matanya.
"Kamu nggak tidur semalaman?" tanya Zoya pelan.
El menggeleng kecil. "Nggak bisa tidur."
Zoya menghela napas. "Aku sudah menduganya."
Seorang pelayan datang memberikan buku menu. Mereka memesan beberapa makanan, tetapi suasana tetap terasa canggung.
Baru setelah pelayan pergi, El membuka pembicaraan. "Semalam Daddy marah besar."
Zoya mengangguk pelan. "Kamu sudah mengatakan kemarin."
"Bukan sekadar marah." El tertawa hambar. "Beliau menamparku."
Zoya membelalak. "Apa?"
El tersenyum pahit. "Selama hidupku, Daddy nggak pernah sekalipun mengangkat tangan. Tapi semalam ...."
El mengusap wajahnya perlahan. "Beliau benar-benar menamparku."
Zoya terdiam. Meski ia sudah menduga akan terjadi pertengkaran, ia sama sekali tidak menyangka akan sejauh itu.
El kembali berbicara. "Katanya aku sudah keterlaluan."
"Karena kamu membahas Chelsea?"
El mengangguk. "Aku mengatakan semua yang aku ketahui darimu. Daddy bilang aku sudah menjelek-jelekkan Chelsea."
Pria itu tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar sangat menyakitkan. "Padahal ...."
Ia menatap Zoya sebelum meneruskan ucapannya. "Itu memang kenyataannya."
Zoya tidak langsung menjawab. El melanjutkan dengan suara pelan. "Aku cuma mengatakan kalau Daddy terlalu menyayangi Chelsea sampai lupa kalau aku juga anaknya. Dan aku bilang Chelsea memang penyebab semua masalah ini. Apakah itu salah?"
Zoya menggigit bibirnya. Ia tahu jawaban yang ingin didengar El. Namun ia memilih mengatakan hal lain.
"El ...."
"Hm, ya?"
"Aku rasa seharusnya kamu jangan keluar rumah."
El mengernyit. "Maksud kamu?"
"Kamu seharusnya tetap di sana."
"Meskipun Daddy marah?"
"Iya."
El menggeleng. "Aku nggak sanggup."
"Tapi sekarang kamu malah pergi."
Zoya menatapnya serius. "Kamu tahu nggak akibatnya bisa seperti apa?"
El menghela napas. "Aku sudah memikirkannya."
"Belum." Zoya menggeleng. "Kamu belum benar-benar memikirkannya."
El mulai merasa heran. "Maksud kamu?"
"Bagaimana kalau Daddy kamu benar-benar marah?"
El diam.
"Bagaimana kalau beliau mencoret nama kamu dari keluarga?"
Kalimat itu membuat El terdiam beberapa detik.
Zoya melanjutkan. "Bagaimana kalau semua harta keluarga nantinya bukan buat kamu?"
El tetap diam.
"Bagaimana kalau beliau benar-benar nggak memberikan kamu sepeser pun?"
Suasana meja itu tiba-tiba berubah menjadi sangat sunyi. Pelayan datang mengantarkan makanan, tetapi keduanya sama-sama tidak menyentuhnya.
El akhirnya tersenyum tipis. "Kalau memang begitu ...." Ia mengangkat bahu pelan. Aku akan cari kerja."
Zoya berkedip. "Cari kerja?"
"Iya. Aku masih sehat. Aku lulusan universitas terbaik. Aku juga punya kemampuan.Aku bisa hidup dari hasil usahaku sendiri."
Nada bicara El terdengar mantap. "Aku nggak akan mati cuma karena nggak dapat harta keluarga."
Zoya menatapnya cukup lama. Lalu ia tersenyum kecil. "El ... kamu terlalu sederhana memikirkan semuanya."
El mengernyit. "Maksudnya?"
"Mencari pekerjaan memang bisa. Tapi menjalani hidup itu nggak semudah ucapan kamu."
El terdiam. Zoya meneruskan ucapannya.
"Kamu dari kecil hidup berkecukupan. Kamu terbiasa tinggal di rumah besar dengan semua fasilitasnya."
Zoya mencondongkan tubuhnya sedikit. "Coba sekarang bayangkan kalau semua itu benar-benar hilang."
El tidak menjawab.
"Kamu harus bayar apartemen. Bayar listrik. Biaya kebutuhan sehari-hari. Belum lagi kalau suatu saat kamu menikah dan punya anak."
"Kalau orang tua kamu benar-benar menutup semua akses." Zoya menggeleng pelan. "Itu pasti berat banget."
Senyum El perlahan memudar. Bukan karena ia takut. Tetapi karena ia sadar, apa yang dikatakan Zoya memang mungkin terjadi.
"Aku tetap akan berusaha," jawab El akhirnya.
Zoya menghela napas. "Aku tahu. Tapi menurutku ...." Ia menatap mata El. "Lebih baik kamu mengalah."
El terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Pulang."
"Minta maaf sama Daddy. Minta maaf juga sama Mommy."
El langsung menggeleng. "Aku nggak merasa salah."
"Bukan soal salah atau benar."
"Lalu?"
"Soal keluarga."
Zoya berbicara pelan. "Kadang dalam keluarga kita harus menurunkan ego."
El menatap gadis itu. "Aku sudah terlalu sakit, Zoya."
"Aku tahu. Tapi Daddy kamu juga sedang marah. Kalau nanti beliau benar-benar berubah pikiran bagaimana?"
El tidak menjawab.
"Aku cuma nggak mau kamu menyesal."
Beberapa detik mereka kembali diam. El menusukkan garpunya ke makanan, tetapi sama sekali tidak berselera.
"Aku nggak tahu harus bagaimana."
Zoya tersenyum lembut.
"Pulanglah."
"Setidaknya minta maaf dulu."
"Nanti urusan benar atau salah bisa dibicarakan lagi."
El mengusap wajahnya. "Aku butuh waktu."
"Aku mengerti."
"Tapi jangan terlalu lama."
El mengangguk pelan. "Oke."
Zoya tersenyum lega. Setidaknya di depan El, ia berhasil terlihat seperti orang yang paling peduli.
Namun, senyuman itu perlahan menghilang ketika El sedang menundukkan kepala memandangi makanannya. Tatapan Zoya berubah. Tidak lagi penuh simpati.
Di balik wajah tenangnya, ada pikiran lain yang selama ini tidak pernah diketahui El.
Jangan bodoh, El...
Kalau sampai Daddy kamu benar-benar mengusirmu dari keluarga...
Lalu apa gunanya aku selama ini mendekatimu? Zoya tetap memasang wajah tenang. Tangannya mengambil gelas jus perlahan.
Dalam hati, ia kembali berbicara. Aku nggak mungkin bertahan sama laki-laki yang hidup pas-pasan. Dari awal aku mendekati kamu karena kamu pewaris keluarga Arsaka..
Ia masih ingat pertama kali mengenal El Semua orang mengenalnya sebagai anak sulung keluarga terpandang.
Pendidikan terbaik. Mobil mewah. Perusahaan besar..Masa depan yang sudah terjamin.
Pria itu bahkan tidak sadar sedang diperhatikan..Ia terlihat begitu kacau. Rambutnya sedikit berantakan dengan mata yang merah.
Zoya merasa sedikit khawatir. Bukan karena melihat El terluka. Melainkan karena takut semua rencananya ikut hancur.
Jangan sampai Daddy kamu benar-benar mencoret nama kamu. Kalau itu terjadi, semua usahaku sia-sia.
Beberapa detik kemudian, ekspresi wajahnya kembali berubah lembut ketika El mengangkat kepala.
"Kamu kenapa?" tanya El.
Zoya langsung tersenyum manis. "Nggak kenapa-kenapa. Aku cuma kepikiran kamu."
El tersenyum tipis. "Terima kasih."
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Zoya sedikit terusik. Ada rasa bersalah yang muncul sesaat. Karena pria di depannya benar-benar mempercayainya.
Namun rasa bersalah itu segera ia singkirkan. Perasaan nggak akan bikin hidup nyaman. Uang yang akan melakukannya.
"Apa pun keputusan kamu nanti," ucap Zoya lembut sambil menatap El, "Aku akan selalu mendukung kamu."
El tersenyum lebih tulus. "Senang rasanya masih ada orang yang mau mendengarkan aku."
Zoya mengangguk pelan. "Tentu."
Dalam hati, ia kembali berkata, Selama kamu masih menjadi pewaris keluarga Arsaka ... tentu saja aku akan tetap berada di sisimu.
Sementara itu, El sama sekali tidak menyadari topeng yang dikenakan gadis di . Di matanya, Zoya adalah satu-satunya orang yang masih memahami keadaannya di saat dunia seolah berbalik memusuhinya.
Tanpa disadari El, permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di satu sisi, ia harus menghadapi keluarganya yang retak. Di sisi lain, orang yang ia anggap sebagai tempat bersandar ternyata menyimpan niat yang sama sekali berbeda.
**
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini. Terima kasih. Lope-lope sekebon jeruk 🍊 🍊
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka
coba kl biar kn saja pasti topeng Zoya akn terbuka.
kl bgini Zoya pasti lbih hati hati demi warisan el.