Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan Kael
Udara malam di sektor industri utara terasa jauh lebih dingin dan berbau logam yang tajam. Naura dan Keisha berhasil menyelinap keluar dari kompleks kampus menggunakan mobil operasional milik pengurus BEM yang diparkir di area tersembunyi. Sepanjang perjalanan, mereka tidak berani menyalakan radio atau membuka jendela, hanya fokus pada navigasi dari ponsel cadangan yang diberikan Ibu Citra.
"Sinyal Kaelith ada di dalam gudang penyimpan kontainer milik PT Adiwangsa Logistik," bisik Naura sambil mematikan mesin mobil beberapa ratus meter sebelum mencapai lokasi. Ia menatap gedung gudang yang menjulang tinggi, dikelilingi oleh pagar kawat berduri yang dialiri listrik.
Keisha memegang erat stir mobil, tangannya berkeringat. "Itu bukan sekadar gudang, Nau. Itu adalah salah satu fasilitas penyimpanan dokumen fisik dan aset pribadi Hartono. Penjaganya pasti profesional."
Naura memeriksa tasnya. Selain *device* peretas, ia hanya membawa lampu senter kecil dan sebuah pisau lipat yang ia ambil dari dapur gudang milik Ibu Citra. Ia tahu mereka tidak bisa melawan penjaga bersenjata dengan tangan kosong. Satu-satunya jalan adalah menyusup dengan senyap.
"Kita akan masuk lewat pipa pembuangan air di sisi barat," Naura menunjuk ke sebuah celah kecil di dekat fondasi gudang yang terlihat dalam peta digital. "Keisha, lo tetap di mobil. Kalau dalam waktu 30 menit gue nggak balik, hubungi Ibu Citra dan kirim koordinat ini ke media massa. Jangan tunggu gue."
"Nau, nggak bisa gitu," protes Keisha. "Kita datang bareng, kita harus balik bareng."
"Keisha, dengerin gue," Naura menatap sahabatnya itu dengan intens. "Ini bukan misi penyelamatan biasa. Ini pertaruhan nyawa. Kalau gue tertangkap, lo adalah satu-satunya orang yang bisa memastikan data itu tersebar luas. Itu adalah misi utama kita."
Setelah meyakinkan Keisha, Naura merayap keluar dari mobil. Ia bergerak seperti bayangan, memanfaatkan bayang-bayang tumpukan kontainer yang berserakan. Pipa pembuangan itu terasa licin dan bau limbah menusuk hidung, namun ia terus merayap hingga mencapai sebuah lubang ventilasi yang langsung terhubung ke bagian dalam gudang.
Di dalam, suasananya sangat berbeda. Gudang itu dipenuhi oleh deretan rak logam tinggi yang berisi berkas-berkas penting. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ruang kaca tertutup yang berfungsi sebagai kantor pengawas. Naura melihat Kaelith di sana, terduduk di kursi dengan kondisi yang mengenaskan. Wajahnya lebam, tangannya terikat, dan ia tampak sangat lemah.
Naura menarik napas dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia harus membuat pengalih perhatian. Ia merayap menuju panel listrik utama yang berada di dekat pintu masuk gudang. Jika ia bisa mematikan listriknya, kamera pengawas akan mati selama beberapa detik, dan itu adalah kesempatan satu-satunya.
Klik.
Seluruh area gudang mendadak gelap gulita. Lampu cadangan darurat berwarna merah menyala redup, menciptakan suasana yang mencekam. Naura langsung melompat keluar dari persembunyiannya dan berlari menuju kantor kaca.
Di dalam, penjaga yang tadi berdiri di depan pintu kaget dan menoleh ke arah kegelapan. Naura menerjang penjaga itu dengan seluruh kekuatannya, menggunakan teknik yang pernah diajarkan Kaelith saat mereka latihan bela diri di awal perjalanan ini. Ia berhasil menjatuhkan penjaga itu dan segera membukakan pintu untuk Kaelith.
"Kael! Bangun!" bisik Naura, memotong ikatan tali di pergelangan tangan Kaelith.
Kaelith membuka matanya perlahan, melihat Naura di depannya dengan tatapan tidak percaya. "Naura? Lo... lo ngapain di sini? Ini terlalu berbahaya!"
"Nggak ada waktu buat debat," Naura membantu Kaelith berdiri. Kaelith terlihat sangat pincang, kakinya terluka parah. "Kita harus keluar sekarang. Keisha nunggu di depan."
Namun, sebelum mereka sampai ke pintu keluar, lampu gudang menyala kembali secara penuh. Terdengar suara langkah kaki yang berat dari berbagai arah. Penjaga-penjaga itu ternyata tidak terkecoh oleh pemadaman listrik sebentar. Mereka sudah mengepung gudang tersebut.
Hartono Adiwangsa muncul dari balik kerumunan penjaga, diikuti oleh dua pria berjas hitam yang terlihat jauh lebih tangguh daripada penjaga biasa. Ia bertepuk tangan pelan, suaranya menggema di gudang yang luas itu.
"Naura Adisty. Kamu selalu tahu cara membuat pesta menjadi menarik," ujar Hartono dengan senyum dingin. "Kalian pikir kalian adalah pahlawan yang bisa menyelamatkan dunia. Tapi kenyataannya, kalian hanyalah tikus yang terjebak dalam perangkap."
Kaelith, meski masih lemah, berdiri tegak di depan Naura, mencoba melindunginya. "Perangkap lo nggak akan cukup, Hartono. Seluruh negeri sekarang sudah tahu siapa lo sebenarnya."
"Oh, benarkah?" Hartono tertawa remeh. "Kamu pikir rakyat peduli dengan data-data itu? Mereka punya masalah mereka sendiri. Besok, saya akan merilis berita bahwa kalian berdua adalah komplotan peretas yang mencoba memeras yayasan. Dan bukti-bukti kalian? Saya akan buat itu semua tampak seperti hasil manipulasi AI."
"Itu nggak akan berhasil," potong Naura. "Ibu Citra sudah punya salinan data itu di tempat yang nggak bisa lo jangkau."
"Ibu Citra? Jurnalis tua yang sudah tidak punya kredibilitas?" Hartono melangkah maju. "Saya sudah memerintahkan orang saya untuk mengunjungi gudangnya malam ini. Dia pasti sudah tidak ada di sana."
Naura merasakan jantungnya berhenti. *Gudang Citra!* Jika mereka menyerang Citra, berarti semua data itu terancam hilang.
"Kael, kita harus lari," bisik Naura.
"Tidak ada yang akan lari malam ini," Hartono memberi isyarat kepada penjaganya. "Ambil mereka. Dan pastikan tidak ada yang tersisa untuk bercerita."
Di tengah ancaman itu, sebuah suara sirine polisi terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin dekat. Hartono tampak sedikit terkejut. Ia tidak memanggil polisi. Siapa yang datang?
Ternyata, itu bukan polisi biasa. Itu adalah tim investigasi khusus dari komisi pemberantasan korupsi yang selama ini diam-diam bekerja sama dengan Ibu Citra. Ibu Citra ternyata sudah mengantisipasi serangan ini dan sudah lama menjalin hubungan dengan aparat yang bersih.
Pintu gudang didobrak oleh tim gabungan. Kekacauan pecah seketika. Penjaga-penjaga Hartono terlibat baku tembak dan perkelahian fisik dengan aparat.
"Pergi sekarang!" teriak salah satu petugas kepada Naura dan Kaelith.
Naura segera memapah Kaelith keluar dari gudang melalui pintu darurat. Di luar, Keisha sudah menunggu di dalam mobil, mesinnya menyala. Mereka segera masuk dan tancap gas meninggalkan lokasi itu, sementara di belakang mereka, gudang itu kini dikelilingi oleh lampu sirine biru dan merah yang menerangi malam.
Di dalam mobil, suasana sangat hening. Kaelith terengah-engah di kursi belakang, tangannya masih berdarah. Naura memegang tangannya erat-erat, tidak ingin melepaskannya.
"Kita menang, Kael," bisik Naura dengan air mata haru.
Kaelith menatap Naura, lalu tersenyum lemah. "Bukan kita yang menang, Nau. Kebenaran yang menang."
Fajar mulai menyingsing di cakrawala. Cahaya keemasan mulai memecah kegelapan malam, menyinari kota yang perlahan terbangun. Bagi Naura dan Kaelith, fajar ini bukan sekadar pergantian hari. Ini adalah awal dari kehidupan baru, di mana mereka tidak lagi harus bersembunyi dalam bayang-bayang. Mereka telah melalui badai yang paling dahsyat, dan kini, mereka siap untuk menyambut hari baru yang penuh dengan keadilan.
Namun, di balik semua itu, mereka tahu bahwa perjalanan ini belum berakhir. Masih banyak hal yang harus diperbaiki, banyak luka yang harus disembuhkan, dan banyak pekerjaan yang menanti untuk memastikan bahwa keadilan yang mereka perjuangkan akan terus tegak.