NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

suasana di ruangan Adera terasa lebih hangat. Matahari bersinar terik masuk lewat celah jendela, menemani Adera yang sedang duduk bersandar memandangi pemandangan luar dengan tenang.

Tiba-tiba...

Brak!

Pintu ruangan terbuka dengan kasar, membuat Adera tersentak kaget.

"ADERA!!!"

Terlihat seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda, tas selempang yang digoyang-goyangkan, dan wajah penuh emosi berjalan terburu-buru mendekati ranjang.

 Gadis itu adalah Nindy, sahabat dekat yang paling tahu segala hal tentang Adera, dan juga yang paling cerewet sedunia.

Tanpa basa-basi, Nindy langsung mencubit pelan tapi pasti lengan Adera.

"Aduh! Sakit Nin!" protes Adera sambil mengusap lengannya.

"Sakit?! Masih nanya sakit?! Lo gila ya Der?! Masuk RS gak bilang-bilang?! Tau gak kalo gue panik setengah mati pas denger lo dirawat?! Hah?!" Nindy mengomel tanpa henti, matanya melotot menatap Adera. " Kita ini sahabat apa musuhan sih?!"

Nindy terus mengoceh, berjalan mondar-mandir di depan ranjang sambil memegang kepala frustrasi.

"Dasar egois! Sakit parah gini malah diem aja! Untung gue cepet nyampe, kalau telat dikit lagi mungkin udah..."

"Udah apaan?" potong Adera sambil tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya.

Nindy mendekat, lalu langsung duduk di tepi ranjang dan memeluk Adera erat-erat. "Gue takut banget tau gak... Jangan gitu lagi ya Der. Kalau ada apa-apa cerita sama gue. Lo lupa ya kalo gue ini sahabat lo,."

Adera tersenyum lembut, membalas pelukan Nindy. "Iya-iya. Maaf ya. Makasih udah datang."

"Huft! Iya lah. Mana gue bawain buah dan coklat favorit lo nih," kata Nindy sambil meletakkan tasnya, lalu kembali berubah mode cerewet. "Nah, terus terang jujur sama gue! Kenapa bisa sampe kritis gini? Jangan bilang karena si Ezra itu lagi?! gue yakin banget gara-gara dia! Dasar dokter gendeng..."

Nindy terus berbicara keras, suaranya lantang memenuhi seluruh ruangan, gesturnya bebas dan sangat tomboi, sama sekali tidak peduli dengan penampilan. Dia memang seperti itu, apa adanya dan sangat lantang.

"Pokoknya kalau dia berani nyakitin lo lagi, gue yang bakal..."

Klek.

Suara pintu terbuka pelan.

Masuklah sesosok pria tinggi tegap dengan balutan jas dokter putih yang rapi, membuat penampilannya terlihat sangat profesional, keren, dan jauh lebih dewasa dari biasanya.

Itu Denial.

Mungkin karena dia baru saja selesai rapat atau membantu di bagian administrasi, jadi dia memakai seragam lengkapnya.

"Eh, Nindy udah datang rupanya," sapaan Denial terdengar lembut dan berat, sambil tersenyum tipis ke arah mereka berdua.

Seketika... Waktu seakan berhenti.

Mulut Nindy yang tadinya bergerak tak henti-hentinya mengomel, langsung tertutup rapat. Bahunya yang semula tegak karena emosi, kini langsung menurun dan dia duduk sangat rapi.

Wajah yang tadinya garang, seketika berubah merah padam seperti kepiting rebus. Matanya yang tadi melotot, kini membelalak kaget dan dia menunduk sedikit malu-malu.

Seluruh aura tomboi dan galak itu lenyap dalam hitungan detik. Berganti menjadi aura gadis yang sangat pemalu, sangat anggun, dan super sopan.

"I-i-iya Kak Denial..." jawab Nindy terbata-bata, suaranya berubah jadi sangat halus dan lembut, beda jauh dengan tadi. "S-saya baru sampai sebentar kok, Kak..."

Adera yang melihat perubahan drastis itu hampir saja meledak tertawa. Dia tahu persis rahasia terbesar sahabatnya ini.

Nindy menyukai Denial. Sangat menyukainya. Bahkan bisa dibilang mengagumi kakak sahabatnya itu dari jauh bertahun-tahun.

"Syukurlah. Makasih ya udah mau jenguk Adera. Dia pasti senang banget ada temen ngobrol," kata Denial sambil berjalan mendekati ranjang, lalu merapikan selimut Adera dengan lembut. "Gimana keadaan kamu hari ini, Der? Masih ada yang sakit?"

"Enggak Kak, Adera udah enakan kok," jawab Adera, matanya menyipit menatap Nindy yang sedang salah tingkah.

Nindy duduk sangat manis, tangannya saling bertaut di pangkuan, kepalanya menunduk tapi matanya mencuri pandang ke arah Denial diam-diam. Jantungnya berdegup kencang bukan main.

" ihh mana Ganteng banget Kak Denial kalau pake baju dokter gini..." batin Nindy menjerit heboh.

"Kalau gitu kalian ngobrol aja ya. Kakak mau ambil minum dulu di pantry," kata Denial ramah.

"I-iya Kak... S-sama-sama..." jawab Nindy cepat, suaranya terdengar sangat manis dan lembut sekali.

" Apaan sih nin! jawaban Lo ngelantur banget" Ujar Adera .

Denial tersenyum simpul lalu berbalik keluar dari ruangan.

Begitu pintu tertutup dan langkah kaki Denial menjauh...

Hap!

Wajah Nindy langsung berubah kembali. Dia menepuk-nepuk pipinya sendiri yang terasa panas, lalu menoleh ke arah Adera dengan mata berbinar-binar sambil berbisik heboh.

"ASTAGA DER!!! KAKAK LO ITU GANTENG BANGET SIH HARI INI?! JAS DOKTERNYA ITU LHO!!! BIKIN GUE MELTIRED SEKETIKA TAU GAK?!"

Adera akhirnya tertawa lepas melihat tingkah sahabatnya. "Saltingnya nyalting banget, kakak gue pasti tau, tapi gue gak jamin sih kalo dia bakal notice Lo huaawkwkwkw" ujar Adera.

"Apasih!" Nindy memukul pelan lengan Adera, wajahnya masih merah. "Gimana gak salah tingkah coba?! Dia senyum gitu lho sama gue! Der, tutor dong cara jadi pacar kak Denial" kata Nindy.

"Kakak gue emang seramah itu lah. Lo mau daftar jadi pacar kakak gue ya? gampang kok" kata Adera.

" Beneran gampang? Lanjutlah kasih tau" kata Nindy.

"Kakak gue itu suka cewek yang anggun, yang jalannya santai gak grusak-grusuk terus gak suka marah-marah". Kata Adera.

"Busett, itu tutor jadi pacar kak Denial apa tutor daftar model sih " heran Nindy.

" Hahaha gue bercanda, lagian kenapa Lo ga nyatain cinta langsung aja di depan kakak gue". Saran Adera.

" Eh busettt dah!! mon maaf nih yee, gue bukan Lo Adera!! wkwkwk, ya kalo diterima nah kalo dicuekin kek Lo, habis harga diri gue tanpa sisa". Kata Nindy.

"Dih, kenapa jadi bawa-bawa gue? Tapi ada benernya juga sih, kalo di inget juga rasanya terlalu memalukan" kata Adera dengan kesadaran diri.

" Lah!! Kok aneh. Tunggu-tunggu? Adera Lo sudah bertobat kan". Kata Nindy.

" Tobat apaan sih?" heran Adera.

" Itu, Lo bilang memalukan nyatain cinta sama dokter Ezra tadi kan". Kata Nindy.

" Ya, Lo bener" kata Adera.

" Astaga! jadi otak Lo sudah sembuh ya, syukurlah. Pokoknya gue mau adakan selamatan buat merayakan kesembuhan sahabat gue". Kata Nindy.

" Dih apaaan sih Lo! Jangan alay deh". Kata Adera.

" Ah tapi gue bahagia banget, akhirnya Lo sadar juga". kata Nindy sambil memeluk Adera.

Adera hanya geleng-geleng kepala tertawa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawa Adera terdengar sangat riang dan tulus, tanpa ada beban sedikitpun di hatinya.

 Keesokan harinya...

Suasana di ruangan rawat inap Adera terasa berbeda. Udara terasa lebih hening dan penuh rasa hormat.

Adera sedang duduk bersandar, ditemani Nindy yang sibuk merapikan bunga-bunga di vas agar terlihat lebih cantik. Denial berdiri di dekat jendela, wajahnya terlihat sedikit tegang.

Tiba-tiba pintu terbuka perlahan.

Masuklah Papa dan Mama Adera, diikuti oleh dua orang yang penampilannya sangat berwibawa dan elegan. Pria itu mengenakan setelan jas yang sangat rapi, dan wanita di sampingnya memakai kebaya mewah yang memancarkan aura kekayaan dan kehormatan.

"Nak, ini Om Rendra dan Tante Sinta," kenalkan Papa Adera dengan senyum bangga. "Mereka adalah pemilik sekaligus orang tua dari pemimpin Rumah Sakit ini."

Adera dan Nindy langsung terbelalak kaget.

WHAT?! Pemilik RS?!

Mereka berdua spontan duduk lebih rapi, Nindy bahkan langsung menutup mulutnya yang tadi sedikit terbuka karena kaget. Wajar saja, ini kan bos besarnya semua dokter dan perawat di sini!

"Silakan duduk, Om, Tante," kata Denial sopan, maju sedikit menyambut mereka.

Om Rendra dan Tante Sinta duduk di sofa tamu dengan anggun. Tatapan mereka tak lepas dari wajah Adera, menatapnya dengan senyum yang sangat hangat dan penuh arti.

"Jadi ini Adera ya..." ujar Tante Sinta lembut, matanya meneliti wajah gadis itu dari atas ke bawah. "Cantik sekali. Persis seperti yang diceritakan orang tuamu."

"Terima kasih, Tante," jawab Adera sopan, sedikit gugup. "Maaf ya Adera belum bisa berdiri untuk menyapa."

"Ah tidak apa-apa sayang. Kamu kan pasien, istirahat saja," sahut Om Rendra ramah. "Kami mendengar kamu sempat kritis dan dirawat di ICU. Kami sangat prihatin dan bersyukur sekali sekarang kamu sudah membaik."

Suasana menjadi hening sejenak. Nindy di samping Adera mulai gelisah, dia menyenggol pelan lengan sahabatnya.

''Der, ini serius banget nih. Kita ngapain sih sampe didatangi bos besar?'' bisiknya dalam hati.

Tante Sinta mengambil alih pembicaraan, suaranya lembut namun tegas.

"Sebenarnya... keluarga kami dan keluarga kamu sudah memiliki ikatan persaudaraan yang sangat erat sejak lama. Orang tuamu pernah menolong keluarga kami di masa sulit, dan sampai sekarang kami tidak pernah melupakan jasa itu." kata Tante Sinta.

Adera mengerutkan kening.

 "Ikatan?" kaget Adera .

"Iya," sambung Om Rendra. "Karena rasa hormat dan terima kasih kami yang begitu besar... dulu pernah ada sebuah pembicaraan serius. Bahwa kelak, putri dari keluarga kalian, yaitu kamu Adera..."

Om Rendra berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum mengucapkan kalimat yang mengejutkan semua orang.

"...akan menjadi calon menantu bagi keluarga kami." lanjutnya .

BRUK!

Piring buah di tangan Nindy hampir terlepas.

Adera terpaku diam. Matanya membelalak tak percaya.

"C-calon menantu?!" seru Denial kaget, langsung melangkah maju. "Maksud Om... Adera dijodohkan dengan anak Om?!"

"Betul," jawab Tante Sinta dengan senyum lebar, penuh harap. "Anak kami satu-satunya. Dia juga bekerja di sini sebagai dokter, tapi dia tipe yang sangat tertutup dan jarang sekali muncul di depan umum. Hanya orang-orang tertentu saja yang benar-benar mengenalnya."

Adera menelan ludah. "Siapa namanya, Tante?" spontan bertanya.

"Namanya Damar," ucap Om Rendra dengan nada bangga.

Damar...

Nama itu terdengar asing namun gagah di telinga Adera.

Sementara itu, di sudut luar ruangan...

Ezra yang kebetulan lewat mendengar semua percakapan itu. Tangannya mengepal kuat sampai buku catatan itu terhimpit. Wajahnya pucat pasi.

Damar? Dokter Damar?!

Ezra tahu nama itu, bahkan sangat tahu.

Damar adalah dokter spesialis jenius yang kedudukannya bahkan jauh di atas dia dan Denial. Orang yang sangat dingin, misterius, dan kalau sudah bertindak sangat tegas. Dan sekarang... pria itu adalah calon suami Adera?!

Ezra merasa dadanya sesak. Rasa cemburu dan rasa kecil diri bercampur menjadi satu.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!