Shandra Hasanah, diusianya yang hampir kepala tiga selalu dikatain perawan tua dan dikatain memiliki wajah yang tidak cantik. Hingga suatu ketika ia dimintai menikah dengan mendiang suami adiknya, Athaya Besmana, karena sang adik yang bernama Alika dikabarkan mengalami kecelakaan dan Athaya sangat terpukul dengan kepergian sang istri.
Tak ingin membuat Athaya terus bersedih, orang tua Athaya justru meminta Shandra menjadi istri dari mendiang suami adiknya. Lalu, apa Shandra menerima permintaan orang tua Athaya?sementara Athaya masih sangat mencintai adiknya, Alika.
Ikuti kisah Shandra _Pemilik Hati Suamiku _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan pernikahan
“Hari ini aku yang antar kamu kerja,” ucap Atha sambil menuntun motornya keluar dari teras rumah.
“Gak usah, Mas. Aku gak mau ngerepotin kamu,” balas Shandra pelan.
Atha tersenyum kecil mendengar ucapan istrinya itu.
“Aku gak ngerasa direpotin, kok. Lagian, kamu kan istri aku,” jawabnya santai, tapi berhasil membuat pipi Shandra sedikit memerah.
Shandra akhirnya mengangguk setuju. Ia lalu berjalan menuju lemari penyimpanan helm dan mengambil helm miliknya.
“Sini, biar aku yang pakaikan,” ujar Atha sambil mengambil helm dari tangan Shandra.
Dengan hati-hati, Atha memasangkan helm itu ke kepala istrinya. Jemarinya merapikan tali helm di bawah dagu Shandra agar terasa nyaman.
“Jangan terlalu kencang, Mas,” protes Shandra kecil sambil tertawa pelan.
Atha ikut tersenyum. “Kalau longgar nanti bahaya.”
Setelah memastikan helm itu terpasang dengan benar, Atha menatap kedua bola mata Shandra beberapa detik. Tatapannya hangat dan penuh perhatian.
“Udah cantik,” godanya.
Shandra langsung memalingkan wajah sambil salah tingkah. “Ih, apaan sih.”
Atha terkekeh pelan sebelum akhirnya naik ke atas motor. “Ayo, Bu Guru. Nanti murid-muridnya nungguin.”
Shandra segera naik ke motor dan memeluk pinggang Atha pelan. Senyum kecil tak lepas dari bibirnya. Pagi itu terasa begitu hangat dan menenangkan bagi keduanya.
Sepanjang perjalanan, satu tangan Atha terus mengelus lembut tangan Shandra yang melingkar di pinggangnya. Sentuhan kecil itu membuat sudut bibir Atha tak henti-hentinya tersenyum.
Angin pagi berhembus pelan menerpa wajah mereka. Jalanan masih belum terlalu ramai, membuat perjalanan terasa jauh lebih tenang dan nyaman.
Atha benar-benar menikmati momen sederhana itu. Karena kalau di rumah, Shandra pasti tidak akan mau memeluknya seperti ini. Istrinya itu selalu malu-malu dan menjaga jarak. Namun di atas motor seperti sekarang, Shandra tidak punya pilihan selain berpegangan erat pada tubuhnya. Dan diam-diam, Atha menyukai hal itu.
Sesekali Atha sengaja memperlambat laju motornya hanya untuk menikmati pelukan hangat di pinggangnya lebih lama.
“Mas, jangan pelan-pelan gitu nanti telat,” protes Shandra pelan dari belakang.
Atha terkekeh kecil.
“Biarin. Aku lagi senang.”
Shandra langsung salah tingkah mendengar jawaban itu. Jemarinya bahkan refleks mencubit kecil pinggang Atha.
“Ih, apaan sih…”
Bukannya kesal, Atha malah tertawa semakin lebar. Hatinya terasa hangat melihat tingkah malu-malu istrinya itu.
Akhirnya mereka pun tiba di depan sekolah. Motor Atha berhenti tepat di depan gerbang, sementara suasana pagi itu sudah mulai ramai oleh para siswa yang berdatangan.
Shandra turun perlahan lalu membuka helmnya, lalu merapikan hijabnya yang sedikit berantakan.
“Aku masuk dulu,” ucapnya pelan.
Atha mengangguk kecil. Tatapannya masih tertuju pada sang istri yang terlihat manis walau terhalang cadarnya.
Shandra kemudian mencium tangan Atha dengan lembut.
“Semangat ngajarnya,” ujar Atha sambil tersenyum hangat.
Shandra mengangguk sambil membalas senyum itu. “Makasih.”
Namun, baru beberapa langkah menuju gerbang sekolah, tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
“Shandra...”
Langkah Shandra langsung terhenti. Ia menoleh dan sedikit terkejut saat melihat siapa yang berdiri tak jauh darinya.
“Mas Abim...”
Abim segera menghampiri Shandra. Lelaki yang dulu pernah singgah di hatinya itu kini berdiri tepat di hadapannya.
Untuk sesaat suasana terasa canggung. Shandra mulai merasa tak nyaman karena Atha masih berada di sana dan jelas melihat semuanya.
“Ada apa, Mas?” tanya Shandra pelan, terdengar sedikit gugup.
Abim tersenyum tipis, lalu mengulurkan sebuah kartu undangan berwarna putih elegan.
“Ini undangan buat kamu.”
Shandra mengernyit bingung sebelum akhirnya menerima kartu itu. Perlahan ia membuka dan membaca isi undangan tersebut.
Matanya langsung membesar.
“Mas, kamu mau menikah?”
Abim mengangguk cepat sambil tersenyum hambar. Meski tersenyum, sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Iya, minggu depan.”
Shandra masih terlihat terkejut beberapa detik. Namun setelah itu bibirnya ikut tersenyum tulus.
“Kalau gitu selamat ya, Mas,” ucapnya lembut. “Semoga lancar sampai hari pernikahan.”
“Terima kasih, Shandra.”
Hening sesaat tercipta di antara mereka.
Abim sempat melirik ke arah Atha yang masih duduk di atas motornya sambil memperhatikan dari kejauhan. Tatapan keduanya sempat bertemu sebentar sebelum Abim kembali mengalihkan pandangannya.
“Suamimu sekarang sudah baik ya,” ucap Abim tiba-tiba.
Shandra ikut menoleh ke arah Atha. Senyum kecil langsung terbit di bibirnya.
“Iya,” jawabnya pelan penuh ketulusan.
Jawaban itu membuat dada Abim terasa sesak untuk sesaat. Namun lelaki itu segera menutupinya dengan senyum tipis.
“Syukurlah kalau begitu.”
Shandra menggenggam undangan itu pelan.
“Mas juga harus bahagia.”
Abim mengangguk pelan. “Pasti.”
Tak lama kemudian, Shandra berpamitan dan kembali berjalan menuju sekolah. Sementara Abim hanya diam memandang punggung wanita itu sampai akhirnya menghilang di balik pintu.
Atha yang sejak tadi duduk diam di atas motor kini turun dan menghampiri Abim. Raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan.
Sesaat, keduanya saling bertatapan tajam sebelum akhirnya Atha membuka suara.
“Kamu tuh susah dikasih tahu, ya? Aku kan udah bilang jangan nemuin istriku lagi,” ucap Atha dengan tatapan sinis.
Abim mengembuskan napas pelan. “Jangan salah paham dulu. Aku cuma mau ngasih undangan pernikahanku.”
“Oh...” Atha mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Bagus deh kalau kamu mau nikah.”
Setelah mengatakan itu, Atha berbalik dan kembali berjalan menuju motornya. Sementara Abim hanya bisa membuang napas panjang.
Sebentar lagi ia memang akan menikah. Namun, sejujurnya di dalam hatinya masih tersisa rasa cinta untuk Shandra, rasa yang berusaha keras ia kubur sendirian.
Abim pun masuk ke dalam mobil. Namun, saat sedang memasang sabuk pengaman, seseorang tiba-tiba mengetuk kaca mobilnya.
Tok! Tok! Tok!
Abim mengernyit heran saat melihat ternyata Atha yang berdiri di luar. Ia pun menurunkan kaca mobil perlahan.
“Ada apa lagi?”
Atha menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Wajahnya terlihat sedikit canggung.
“Biar silaturahmi nggak putus ... aku boleh pinjam seratus ribu?”
Abim langsung melongo tidak percaya.
“Aku lupa bawa dompet, sedangkan bensin motor mau habis,” ucap Atha santai, meski sebenarnya ia sedikit malu. “Nanti aku balikin pas kamu nikahan.”
Sesaat suasana hening.
Abim menatap Atha dengan ekspresi sulit dijelaskan antara kesal, heran, dan ingin tertawa sekaligus.
“Kamu serius?”
Atha malah mengangguk tanpa rasa bersalah.
“Serius. Masa aku dorong motor sampai rumah?”
Mau tak mau, Abim akhirnya terkekeh pelan. Setelah sekian lama, ketegangan di antara mereka sedikit mencair karena tingkah absurd Atha.
aihhh jangan lah sampai kaya drama Indosiar ya Thor
aiahhh ,,semoga otak nya terbuka si atta bukanya gelap mata ingin memiliki nya kembali terus kamu di tinggal
kan
akhirnya kebongkar juga...
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya
ayo???
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya