NovelToon NovelToon
Gairah Sang Duda Mandul

Gairah Sang Duda Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Mafia
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insting Kaiven Berbicara

Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca besar di kantor utama Salvatore Holding tidak mampu mengusir suasana berat yang menyelimuti ruangan.

Di balik meja kerjanya yang megah, Elvano tidak lagi memeriksa laporan pengiriman logistik pelabuhan atau manifes senjata.

Di hadapannya kini berserakan brosur-brosur tebal dari tiga sekolah internasional paling elite dan terisolasi di ibu kota, lengkap dengan formulir pendaftaran serta berkas persyaratan transfer siswa dari Swiss.

Pintu kayu ruangan itu tiba-tiba terbuka tanpa ketukan formal.

Kaiven melangkah masuk dengan gaya urakannya yang khas, jaket kulit hitam yang dibiarkan terbuka, kemeja abu-abunya yang sedikit kusut, dan sekotak permen karet yang sengaja ia mainkan di jemarinya.

Di belakangnya, dua pengawal pribadi Elvano hanya bisa menunduk pasrah, tahu betul bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menghentikan Kaiven jika pria itu sudah berniat mengganggu bos mereka.

"Wah, wah. Lihat siapa yang sedang sibuk di pagi hari," cemooh Kaiven, suaranya yang serak bergema di dalam ruangan yang sunyi.

Ia melangkah maju, lalu tanpa permisi menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kulit di hadapan meja Elvano, menumpukan satu kakinya di atas lutut yang lain.

"Aku mengira akan mendapati sang Bos sedang merencanakan eksekusi untuk klan penyelundup di perbatasan. Tapi ternyata... kau sedang sibuk mengurus pendaftaran sekolah dasar?"

Elvano tidak mendongak. Jemarinya yang panjang bergerak lincah di atas tablet digital, menandatangani dokumen rekomendasi pemindahan dokumen imigrasi untuk Kenzo.

"Jika kau ke sini hanya untuk meracau tidak jelas, Kaiven, pintu keluar masih terbuka lebar. Aku sedang tidak memiliki waktu untuk bercanda."

Kaiven mendengus pelan, meraih salah satu brosur sekolah internasional di atas meja, lalu membolak-baliknya dengan ekspresi masam.

"Kurikulum Cambridge, pengamanan tingkat tinggi dengan barisan mantan agen intelijen, fasilitas jemputan helikopter pribadi jika terjadi situasi darurat... Luar biasa. Kau benar-benar bergerak cepat, El. Hanya dalam waktu dua hari, kau berubah dari seorang penguasa dunia bawah yang kejam menjadi sesosok hot daddy yang sangat perhatian."

Kaiven sengaja menjeda kalimatnya, lalu melemparkan brosur itu kembali ke meja dengan senyum mengejek.

"Atau lebih tepatnya... hot daddy yang bodoh."

Detik itu juga, gerakan jemari Elvano terhenti. Ia meletakkan tabletnya ke atas meja dengan dentuman pelan namun penuh akan ancaman.

Pandangan matanya yang cokelat gelap menghunus tajam, menembus langsung ke arah Kaiven dengan aura membunuh.

"Jaga bicaramu, Kaiven," desis Elvano, suaranya rendah dan sedingin es.

"Dia adalah anak laki-laki berumur tujuh tahun yang asma dan syoknya baru saja mereda di rumah sakit kemarin. Aku hanya memastikan dia mendapatkan fasilitas yang layak selama proses tes DNA ini berjalan."

"Oh, tentu saja. Fasilitas layak yang mencakup pemindahan seluruh dokumen legalitasnya ke bawah nama keluarga Salvatore secara sepihak, bukan?" Kaiven mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja marmer.

Gaya urakannya mendadak menguap, digantikan oleh sorot mata elang yang sangat serius.

"Dengar, El. Kau sedang dibutakan oleh egomu tentang garis keturunan. Kau begitu terobsesi dengan fakta bahwa benihmu mungkin tidak mati, hingga kau menelan mentah-mentah seluruh drama air mata yang disuguhkan oleh Viona."

Elvano rahangnya mengeras.

"Viona membawa anak yang memiliki cetakan wajahku, Kaiven! Dokter Hendra bahkan mengakui kemiripan struktur tulang dan genetik visualnya tidak bisa direkayasa dengan mudah!"

"Dan sejak kapan seorang Bos Salvatore mengambil keputusan sepihak di dunia bawah hanya berdasarkan 'kemiripan visual'?" skak Kaiven tanpa ragu.

"Viona itu wanita ular, El. Kau melupakan fakta bahwa dia adalah putri dari klan Milan yang paling matre dan licik di masanya. Dia menceraikanmu, membawa lari sepertiga aset operasional kita di Italia utara saat kau kolaps, dan menghilang tanpa jejak. Sekarang, tepat ketika kau mengumumkan pada para tetua bahwa kau memiliki penerus dari Alice, dia mendadak muncul dari Swiss dengan seorang anak yang 'kebetulan' sangat mirip denganmu dan mengklaim kehabisan uang? Apakah bau konspirasi busuk ini tidak menyengat hidungmu yang tajam itu?!"

"Aku tidak bodoh, Kaiven! Aku sudah memerintahkan tes DNA. Hasilnya akan keluar dalam lima hari!" bentak Elvano, suaranya menggelegar memukul dinding kantor.

"Lima hari adalah waktu yang lama di dunia bawah, El. Dalam lima hari, wanita itu bisa menanamkan pengaruhnya, merusak mental Alice yang sedang hamil muda, dan membuat posisimu di mata para tetua klan menjadi tak penting," balas Kaiven, suaranya tetap tenang namun menusuk tepat di sasaran.

Elvano terdiam, napasnya memburu kasar.

Kata-kata Kaiven sebenarnya menyentuh bagian dari logikanya yang paling dalam, namun ego mafianya yang menolak untuk terlihat lemah atau melakukan kesalahan membuatnya tetap bersikap keras kepala.

"Urus saja bagian keamanan pelabuhan, Kaiven. Masalah keluarga ini adalah urusanku. Aku tahu apa yang harus kulakukan," ucap Elvano datar, kembali meraih tablet digitalnya, mengisyaratkan bahwa perdebatan mereka telah selesai.

Kaiven menatap bos sekaligus sahabatnya itu selama beberapa saat dengan tatapan penuh kekecewaan yang samar.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu bangkit berdiri dari kursi kulit.

Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebutir permen karet, lalu melemparkannya ke dalam mulutnya sendiri dengan gaya santai yang menyebalkan.

"Baiklah, lakukan sesukamu, Tuan Salvatore yang Terhormat. Nikmati peran barumu sebagai ayah pelindung untuk anak yang muncul entah dari mana," ejek Kaiven sembari berbalik arah menuju pintu keluar.

"Tapi jangan datang menangis padaku jika pada akhirnya terbukti bahwa kau hanya dijadikan mesin ATM berjalan oleh mantan istrimu."

Begitu pintu kantor Elvano tertutup rapat di belakangnya, senyum mengejek di wajah Kaiven langsung lenyap tanpa sisa.

Ekspresinya berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh dengan perhitungan.

Instingnya sebagai kepala intelijen dan tangan kanan klan Salvatore tidak pernah salah, ada sesuatu yang terlalu rapi, dan terlalu pas dari semua kedatangan Viona yang mendadak ini.

Kaiven berjalan menyusuri lorong koridor gedung menuju area lift khusus.

Diam-diam, tanpa persetujuan dari Elvano dan bahkan melanggar perintah bosnya untuk tidak mencampuri urusan ini, Kaiven merogoh ponselnya sendiri dari balik saku dalam jaket kulitnya.

Ia menekan sebuah nomor internasional.

"Gideon," ucap Kaiven begitu panggilan tersambung, suaranya sangat rendah hingga nyaris tidak terdengar oleh para staf yang berpapasan dengannya.

"Aku butuh kau menggerakkan seluruh jaringan bayangan kita di Eropa. Khususnya di Zurich dan Jenewa, Swiss."

Di seberang telepon, terdengar suara ketukan papan ketik komputer yang cepat.

"Apa yang kau cari, Kaiven? Urusan pengiriman logistik?"

"Bukan," jawab Kaiven, matanya menyipit tajam saat pintu lift terbuka di hadapannya.

"Aku ingin kau menguliti habis seluruh latar belakang Viona selama tujuh tahun terakhir di luar negeri. Cari tahu semua akun bank rahasianya, siapa saja pria yang tidur dengannya, rekam medis asli anak bernama Kenzo itu di rumah sakit Swiss, dan yang paling penting... cari tahu siapa yang mendanai pelariannya selama ini. Aku bertaruh nyawaku sendiri bahwa wanita ular itu tidak bertindak sendirian."

"Mengerti Kaiven. Berapa lama waktu yang kau berikan?"

"Dua hari," tegas Kaiven, melangkah masuk ke dalam lift dan membiarkan pintu baja itu tertutup di hadapannya.

"Sebelum Elvano melakukan kebodohan yang lebih besar dan menghancurkan wanita suci yang sedang mengandung anak kandung yang sesungguhnya di mansion.

1
Mia Camelia
ayo elvano berusaha dong buat hati alice hidup lagi🤣🤣🤣masa nyerah sih😂
Mia Camelia
hahahaa nyesel kan elvano udh menduakan alice dengan anak si ulat bulu🤣🤣🤣🤣
Heny Shae
semoga Alice sdh pergi. biar Vano merasakan kehilangan
Mia Camelia
rasakan kau ulat bulu, elvano udh tau kebusukan yg di rencanakan kau🤣
Mia Camelia
tuh kan baru ketauan🤣🤣🤣🤣
Mia Camelia
semangat kaiven😄
Mia Camelia
pingin bangeet jitak elvano deh😔🤣😂
Nursakimah Awang
kaizen.... tolong bantu sembunyikan alice....
Mia Camelia
elvano kau menyakiti alice dengan sangat sangat tau😔😔😔
Khajidah Khadijah
mafia oon gampang d kibulin.
Mia Camelia
pingin banget ngliat viona ketauan kedok nya😂😂😂
Mia Camelia
semangat kaiven , cari teroooos jejak si ulat bulu viona🤔🤔🤔
Mia Camelia
ayi kaiven bongkar semua siasat busuk viona 🤔🤔🤔
hey elvano kmana insting mafia mu🤣🤣🤣
Mia Camelia
mendingan kabur aja yuk alice🤣🤣🤣
sebel elvano gak peka banget sm taktik licik ulat bulu viona😔🤔
Mia Camelia
makin kasian sama alice, duh elvano belom tentu kenzie anak mu😂😂😂
Mia Camelia
sabar ya alice jangan nanggis mulu😔
Mia Camelia
ehhm kaya nya gak yakin deh klo kenzo anak nya elvano ???
ibu nya aja gak setia, pasti ada rencana jahat nih🤔🤔🤔
Mia Camelia
ehmmm beneran anak nya elvano kah ?? mencurigakan🤔🤔🤔
Mia Camelia
sah🥰🥰🥰
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!