Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Meskipun status hukumnya sudah diambang kehancuran setelah insiden memalukan di halaman mansion, Siska Lorenza masih memiliki sisa-sisa koneksi dan kelicikan yang berbahaya.
Melalui jaminan penangguhan penahanan sementara yang diurus oleh tim pengacara ayahnya dengan alasan pemeriksaan kesehatan, Siska berhasil menghirup udara bebas selama beberapa hari sebelum persidangan resmi dimulai.
Namun, bukannya bertobat, otaknya yang sudah diracuni oleh obsesi gila justru merencanakan taktik terakhir yang sangat nekat untuk menghancurkan reputasi Alana dan merebut kembali Devran.
Sore itu, di sebuah taman privat bergaya Eropa yang terletak di area komersial elit Jakarta Selatan, tempat yang diketahui Siska akan dilewati oleh Devran setelah menghadiri rapat eksternal, seorang pria bermata tajam dengan jaket parasut hitam sedang mengutak-atik kamera DSLR lensa telephoto mahal miliknya.
"Kamu sudah paham tugasmu, kan, Joni?" desis Siska dari balik kacamata hitam besarnya, berdiri di balik rimbunnya pohon palem kipas.
Pria bernama Joni itu mengangguk sembari menyesuaikan fokus lensanya. "Paham, Nona Siska."
"Begitu Tuan Devran berjalan melewati jalur ini, Anda akan pura-pura tersandung dan menabrak dadanya. Saya akan mengambil sudut gambar dari arah kanan agar terlihat seolah-olah Anda berdua sedang berpelukan mesra dan berciuman. Di kamera saya, hasilnya pasti akan terlihat sangat natural."
"Bagus. Pastikan jepretanmu tidak blur sedikit pun," kata Siska, senyum liciknya mengembang.
"Begitu foto-foto ini masuk ke media gosip malam ini, jalang bernama Alana itu pasti akan langsung angkat kaki dari mansion karena mengira Devran mengkhianatinya."
"Dan publik akan kembali percaya bahwa akulah satu-satunya wanita di hidup Devran."
"Tenang saja, Nona. Kamera Sony Alpha milik saya ini punya kecepatan shutter tertinggi. Skandal ini akan terlihat sangat nyata," sahut Joni bangga, menepuk bodi kameranya yang mengilap.
Di saat yang sama, sebuah mobil SUV hitam mewah milik Adhitama Group perlahan berhenti di area parkir drop-off taman privat tersebut. Pintu belakang terbuka, dan Devran Adhitama melangkah keluar dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang modis.
Namun, kali ini ia tidak sendiri. Leo, yang bersikeras ikut karena bosan di dalam mansion, turun dari mobil sembari memegang komputer tablet layar lipat berspesifikasi militer miliknya.
"Om seram, kenapa kita harus mampir ke taman ini? Tempat ini membosankan, tidak ada laboratorium robotiknya," keluh Leo, jemari mungilnya bergerak cepat di atas layar tablet, memeriksa enkripsi data satelit seperti biasa.
"Aku hanya perlu menandatangani dokumen fisik dengan investor yang sedang minum teh di paviliun depan, Leo. Hanya butuh lima menit," jawab Devran tenang, menuntun langkah kecil putranya melewati jalan setapak berbatu.
"Setelah ini, kita beli es krim janjiku kemarin."
"Janji ya? Kalau Om seram bohong, aku akan menghapus seluruh data keuangan Adhitama Group dari server pusat," ancam Leo dengan wajah polos tanpa dosa.
Devran terkekeh. "Aku tidak pernah mengingkari janji pada anakku."
Namun, baru beberapa langkah mereka memasuki jalur taman yang dikelilingi semak mawar, sosok wanita dengan gaun merah menyala mendadak muncul dari balik tikungan jalur setapak.
Siska Lorenza. Dengan ekspresi wajah yang dibuat seolah-olah terkejut, ia mempercepat langkahnya menuju arah Devran.
"Oh! Devran! Kebetulan sekali kita bertemu di sini!" seru Siska dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Devran seketika menghentikan langkahnya, wajahnya langsung berubah menjadi sedingin es.
"Siska? Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah kamu seharusnya berada di bawah pengawasan kejaksaan?"
"Aku sedang memeriksa kesehatanku, Devran... dan hatiku sangat sakit karena merindukanmu," ucap Siska dengan nada memelas yang menjijikkan.
Saat jarak mereka tinggal satu meter, Siska sengaja melipat pergelangan kaki kanannya, berpura-pura kehilangan keseimbangan. "Ah! Kakiku...!"
Siska menjatuhkan tubuhnya ke arah dada bidang Devran, kedua tangannya terangkat bersiap untuk mengalungkan diri di leher pria itu, memberikan pose sempurna bagi kamera tersembunyi Joni.
Namun, Devran bukanlah pria bodoh yang mudah dijebak. Dengan refleks seorang pria yang terlatih, Devran langsung melangkah mundur dua tapak besar ke samping, membiarkan tubuh Siska kehilangan tumpuan aslinya.
BRUK!
Siska jatuh tersungkur dengan posisi yang sangat tidak anggun di atas tanah berumput, telapak tangannya kotor terkena tanah basah.
"Aww! Devran! Kenapa kamu malah menghindar?!" jerit Siska kesakitan sekaligus malu.
Di dekat semak-semak, Joni si fotografer panik. "Sial! Sudut gambarnya rusak! Tuan Devran malah mundur!" umpatnya lirih, dengan cepat menggeser posisi kameranya untuk mencari sudut baru, berharap bisa mengambil foto Siska yang sedang memegangi kaki Devran dari bawah.
Sementara itu, Leo yang berdiri di sebelah Devran tidak memperhatikan Siska yang jatuh.
Mata bulatnya yang jeli justru menangkap pantulan cahaya lensa kaca yang mencurigakan di balik rimbunnya pohon palem sejauh dua puluh meter dari posisi mereka.
"Hmm? Ada tikus tanah yang sedang memegang tabung kaca besar," gumam Leo, matanya langsung tertuju pada layar tabletnya.
Jemari mungil Leo bergerak dengan kecepatan yang mengerikan, mengetuk serangkaian kode biner di atas papan ketik virtualnya.
"Mari kita lihat... Oh, kamera digital dengan koneksi Wi-Fi eksternal aktif yang tidak terenkripsi. Sangat amatir."
"Leo, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Devran, melirik ke arah tablet anaknya yang kini memunculkan barisan kode berwarna hijau.
"Aku sedang membersihkan sampah taman, Om seram," sahut Leo dengan senyum manisnya.
"Kamera itu memakai baterai lithium-ion generasi lama yang tidak punya sistem pencegah panas berlebih. Jika aku mengirimkan paket data palsu secara terus-menerus ke modul Wi-Fi kamera itu, sirkuit dayanya akan mengalami korsleting dalam hitungan detik."
Di balik pohon palem, Joni masih mencoba membidikkan lensanya. "Ayo, Nona Siska, pegang celana Tuan Devran! Aku butuh satu foto kontroversial...eh? Kenapa layarnya mendadak macet?" Joni mengerutkan kening saat melihat layar LCD kameranya mendadak berkedip merah.
"Ada apa dengan kamera mahal ini? Kenapa suhunya mendadak panas sekali sampai tanganku perih.." kalimat Joni terputus saat bodi kamera di genggamannya mulai mengeluarkan asap hitam tebal dan suara mendesis yang menakutkan.
"Leo, hentikan sebelum itu membahayakan," tegur Devran pelan, menyadari apa yang sedang dilakukan anaknya setelah melihat asap di balik pohon.
"Sudah terlambat, Om seram. Perintah overclocking baterainya sudah mencapai seratus persen," jawab Leo riang, menekan tombol Enter terakhir di layarnya dengan bunyi klik kecil.
BLAAAM!
Sebuah ledakan kecil namun cukup keras terdengar dari balik pohon palem kipas.
Baterai di dalam kamera DSLR milik Joni meledak, menghancurkan bodi kamera menjadi kepingan plastik hitam dan kaca lensa yang pecah berkeping-keping di atas tanah.
"Aaakh! Tanganku! Mataku!" jerit Joni histeris, melompat mundur sembari menjatuhkan sisa-sisa kameranya yang kini sudah hangus terbakar dan hancur lebur. Tangannya melepuh terkena percikan api baterai.
Siska yang masih terduduk di tanah seketika menoleh ke arah sumber ledakan dengan wajah syok.
"Joni?! Apa yang terjadi dengan kameramu?!"
Devran melirik ke arah semak-semak yang berasap, lalu menunduk menatap Siska dengan pandangan yang penuh penghinaan mutlak.
"Fotografer settingan, Siska? Taktikmu benar-benar semakin murahan dan menjijikkan."
Siska gemetar hebat, menyadari bahwa rencana terakhirnya pun telah gagal total bahkan sebelum sempat dimulai.
"D-Devran... ini bukan seperti yang kamu pikirkan... aku..."
"Reno," panggil Devran melalui perangkat penyuara telinga di kerah jasnya.
"Bawa pria di balik pohon itu ke pos keamanan, sita semua kartu memorinya jika masih ada yang tersisa. Dan untuk Nona Siska... hubungi pihak kejaksaan."
"Katakan bahwa tahanan kota mereka baru saja mencoba melakukan tindakan pelecehan dan pelanggaran privasi terhadap CEO Adhitama Group."
"Baik, Tuan Besar," sahut suara Reno dengan sigap dari kejauhan.
Leo menutup tablet lipatnya dengan puas, lalu menggandeng tangan Devran dengan manja.
"Nah, tikus tanah dan ular tanahnya sudah selesai dibereskan, Om seram. Sekarang, di mana es krim cokelat besarku?"
Devran tersenyum bangga, mengangkat Leo ke dalam gendongan lengannya yang kekar tanpa memedulikan jeritan frustrasi Siska yang mulai diseret oleh para pengawal pribadi dari area taman.
"Ayo pergi, Nak. Kita beli semua stok es krim di toko terbaik hari ini."