"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13 Hari pertama menjadi istri yang tak di inginkan Tuan Daren
Nadia bangun pagi-pagi sekali di kamar tamu lantai bawah, Meskipun Daren memperlakukannya dengan sangat kejam semalam namun Nadia memilih untuk tidak larut dalam kesedihan, Dia membersihkan rumah dan memasak sarapan sederhana namun sangat harum baunya.
"Kotor sekali lantainya, Mungkin karena tidak di tempati cukup lama dan tidak ada satupun pembantu yang tinggal di sini untuk sekedar membersihkan rumah," gumam Nadia sambil menyapu lantai ruang tamu.
Setelah selesai menyapu, Nadia lanjut membersihkan kursi sofa yang kotor dan berdebu itu.
Setelah di rasa cukup bersih akhirnya Nadia melanjutkan aktivitasnya memasak makanan di dapur, Nadia menjalankan kewajibannya layaknya seorang istri yang harus melayani suaminya.
Nadia berjalan ke arah dapur dan melihat ke sekeliling dan dia mendapati sebuah kulkas dua pintu di pojok ruang dapur itu.
Nadia melangkah ke arah kulkas tersebut dan mulai membukanya, di dalam kulkas terdapat daging sapi segar dan beberapa sayuran dan tak butuh waktu lama Nadia pun mulai memasak daging dan sayuran itu.
Aroma wangi dari bumbu daging itu menyebar keluar dari dapur membuat siapapun yang mencium aromanya pasti akan merasakan lapar.
Setelah selesai memasak daging dan sayur itu kemudian Nadia menatanya di atas meja makan, Nadia meletakkan mangkuk porselin yang berisi rendang daging dan mangkuk yang lain yang berisi tumis wortel dan buncis hasil masakannya tadi.
Dan tak lupa juga Nadia sudah menyiapkan sebuah piring besar lengkap dengan sendok dan garpunya dan juga segelas air putih yang dia letakkan di depan salah satu kursi meja makan itu.
Dan tak lupa juga tadi Nadia sudah membuatkan secangkir kopi untuk Daren, Di saat Nadia masih sibuk menyiapkan makanan diatas meja makan tiba-tiba saja terdengar seseorang membuka pintu depan dengan kasar dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Daren pulang ke rumah pagi-pagi dengan wajah lelah dan ketus setelah menginap di apartemen Elsa. Dia sengaja membanting pintu depan untuk memancing reaksi Nadia atau membuat Nadia takut.
Daren berjalan masuk ke dalam rumah dan terus berjalan melewati ruang makan.
Namun, begitu masuk ke ruang makan, Daren tertegun. Nadia sudah rapi, cantik, dan selesai memasak sarapan yang sangat lezat aroma kopi dan masakan Nadia memenuhi ruangan, Nadia menyapa Daren dengan tenang, "Selamat pagi, Tuan Daren. Sarapan dan kopinya sudah siap di meja."
Daren yang gengsi langsung menolak ketus, "Aku tidak sudi makan masakanmu," lalu pergi ke atas. Sikap tegar Nadia justru membuat Daren kesal karena rencananya membuat Nadia menderita di hari pertama gagal total.
Nadia menatap Daren yang langsung pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun pada masakan yang sudah dia siapkan di atas meja makan.
Daren berjalan menuju ke tangga lantai atas, Sepanjang perjalanan menaiki tangga Daren mengumpat tidak habis-habisnya melihat sikap Nadia yang sangat tenang meskipun dia sudah bersikap ketus padanya tadi.
"Apa yang sedang Nadia rencanakan? kenapa dia tidak terlihat sedih sama sekali tadi saat aku bersikap acuh saat dia menawarkan masakannya tadi," gumam Daren sambil mengerutkan keningnya.
Daren masuk ke dalam kamarnya dan segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Dengan mengenakan setelan jas berwarna biru tua Daren keluar dari kamarnya yang terletak di lantai dua, Dia menuruni tangga dan sekilas melihat ke arah meja makan.
Tadi Nadia menutupi semua makanan yang ada di meja makan itu dengan tudung saji dan sengaja membiarkan makanan itu tetap di atas meja, Kalau-kalau nanti Daren akan memakannya namun tidak seperti yang ada dalam pikiran Nadia justru Daren tambah muak melihat masakan Nadia itu masih ada di atas meja.
"Nadia...!!'panggil Daren sekencang-kencangnya sampai urat di lehernya keluar.
Nadia yang sedang berada di kamarnya segara keluar dan berjalan menuju ke arah Daren yang berteriak memanggilnya tadi.
"Iya Tuan, Ada apa?" tanya Nadia tenang tidak menunjukkan sikap panik sedikitpun meski tadi Daren sampai berteriak kencang memanggilnya.
"Buang saja semua makanan ini, Aku tidak mau melihat masakan kamu ada diatas meja ini!" teriak Daren sambil menatap tajam ke arah Nadia yang berdiri di hadapannya.
"Baik Tuan, Tapi sebenarnya membuang makanan itu tidak baik Tuan itu namanya Tuan menolak rejeki dari Tuhan," ucap Nadia sambil membereskan mangkuk-mangkuk yang berisi sayur dan daging itu.
"Persetan dengan semua itu, Aku juga tidak butuh nasehat dari orang kampungan seperti kamu!" Daren menaikkan suaranya sampai menggema di seluruh ruang makan itu tapi Nadia masih tetap tenang sambil membereskan semua makanan yang ada di meja makan itu.
Daren pergi meninggalkan Nadia dengan amarah yang membuncah dan Nadia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Daren itu.
Alih-alih membuang makanan yang sudah di masaknya dengan susah payah itu, Nadia malah menyimpan makanan itu ke dalam lemari makan yang ada di dapur setelah terlebih dahulu dia makan untuk mengisi perutnya yang mulai menjerit karena lapar sedari tadi.
Daren sudah masuk ke dalam mobilnya dan bersiap untuk pergi menuju ke kantornya, mobil yang di kendarai Daren pun melesat membelah jalanan yang mulai ramai dengan aktivitas para pekerja yang menjalankan rutinitas mereka di pagi hari.
Tak butuh waktu lama meskipun jalanan macet akhirnya Daren pun sudah sampai di gedung perkantoran miliknya itu.
Daren masuk ke dalam ruang kerjanya, Dia duduk di atas kursi putarnya sambil termangu menatap lurus ke arah pintu ruang kerjanya.
Daren merasa kesal tidak bisa membuat Nadia menangis, Dan akhirnya Daren menyusun rencana lain bersama Elsa.
"Aku muak dengan sikap tenang yang di tunjukkan Nadia padaku tadi, Dia benar-benar tidak takut pada bentakan aku dan juga sikap aku yang selalu acuh padanya," ucap Daren pada Elsa dengan kesal.
Elsa yang sudah dari tadi berada di dalam raung kantor Daren terlihat tersenyum sambil mengusap punggung Daren " Sayang...kamu jangan khawatir selama ada aku di sini, Aku akan membuat gadis kampung itu bersedih dan menangis sejadinya, Aku akan buat dia sangat terhina dan di lecehkan," Elsa tersenyum menyeringai.
"Apa rencanamu sayang?" tanya Daren tidak sabar.
"Aku akan mengunggah foto-foto mesa kita sebentar lagi di media sosial dan setelah foto-foto itu tersebar akan banyak mata yang melihat kalau kamu hanya milikku seorang," Elsa tersenyum puas sambil memeluk Daren.
"Kamu memang cerdas dan pantas jadi istriku nanti, tidak seperti Nadia yang bodoh itu."
Siang harinya, Elsa sengaja mengunggah foto mesra mereka di Instagram dengan caption yang memamerkan kemesraan seolah-olah Daren masih lajang dan hanya milik Elsa.
Teman-teman sosialita dan beberapa rekan bisnis mulai heboh melihat unggahan Elsa, mengingat Daren baru saja dikabarkan menikah secara tertutup.
Nenek Lusi yang melihat unggahan Elsa langsung menelepon Nadia dengan penuh amarah dan bersiap untuk menghukum Daren. Namun, Nadia justru dengan tenang menenangkan Nenek Lusi. Nadia berkata bahwa dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan Daren di media sosial selama Daren tidak mengganggu ketenangannya.
"Nek, Nenek jangan panik biarkan saja mereka melakukan semau mereka, itu tidak penting buat aku Nek," ucap Nadia tanpa emosi.
Nadia tahu persis bahwa Elsa sedang memancing emosinya. Alih-alih melabrak atau menangis, Nadia sengaja mengabaikan unggahan itu. Ketenangan Nadia ini justru membuat Elsa di tempat lain merasa frustrasi karena umpannya sama sekali tidak ditanggapi oleh Nadia.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang