NovelToon NovelToon
Senja Yang Ku Perjuangkan

Senja Yang Ku Perjuangkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Penyesalan Suami
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.

Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.

Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.

Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.

Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Yang Mengusik Masalalu

Mentari naik keatas, saat itulah Eyang Cintami mengumpulkan karyawannya sebentar. Semua karyawan berdiri di ruang depan untuk menyambut karyawan baru.

  "Anak-anak mulai hari ini kita kedatangan karyawan baru lagi," ucap Eyang Cintami dengan senyum khasnya. "Dan karyawan baru kalian bernama Alya," lanjut Eyang Cintami.

Mereka pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, bahkan sebagian ada yang menyapa, dan sebagian juga ada yang meremehkan saat menatap kaki palsu di kaki kiri Alya.

  "Halo Alya semoga kamu betah ya kerja di sini," tutur salah satu karyawan bernama Dina.

"Iya," sahut Alya dengan senyum yang mengembang.

 Setelah sesi perkenalan singkat tadi, kali ini karyawan tengah disibukkan dengan tugas mereka masing-masing. Di sini Alya kebagian merangkai buket wisuda dari uang yang berbentuk bulan sabit dan bulan purnama. Pola baru tapi paling marak di pesan pada tahun ini.

  Alya begitu fokus dengan pengerjaan buket, tangannya begitu cekatan saat merangkai dan menempelkan uang-uang itu di diatas kerangka bulan, membuat semua mata tertuju padanya. Apalagi saat melihat hasil akhirnya mereka semua terkejut dengan buket rangkaian Alya.

  "Gila itu di karyawan baru, gak nyangka banget akan secepat dan serapi itu," ucap Dina.

 "Iya ya, kita yang bentuk fisiknya sempurna saja kalah dengan dia," sambung Ira.

 "Hus, jangan kencang-kencang nanti dengar," timpal Ara.

  Suara bisik-bisik itu cukup terdengar jelas di telinga Alya, namun wanita itu berusaha untuk fokus, dan hal itu bukan hanya terjadi sekarang saja dalam hidupnya, bahkan sedari dulu ia sering mendapatkan berbagai macam tanggapan orang.

  Selesai merangkai beberapa bulan sabit ia pun mulai merangkak bulan purnama, tapi di tengah-tengah pekerjaannya entah kenapa ia merasa sedikit pusing hingga membuatnya berhenti sejenak. Karena ia teringat ucapan dokter kemarin.

  "Mbak kenapa berhenti?" tanya salah satu karyawan yang duduk di sampingnya.

  "Tidak apa-apa sedikit capek saja," sahut Alya.

Dari kejauhan Eyang Cintami memperhatikan Alya, dia memang sudah tahu dengan kondisi Alya yang saat ini tengah mengandung. Melalui VT yang di kirim kemarin di handphonenya.

Lalu ia pun mulai menghampiri. "Nak kalau capek istirahat, jangan dipaksa."

Seketika para karyawan mulai menatap Alya dengan aneh. Ada yang beranggapan jika karyawan baru itu anak kesayangan bos, ada juga yang beranggapan bos terlalu berlebihan.

Namun praduga itu terbantahkan saat Eyang Cintami mulai menjelaskan. "Jadi anak-anak Alya ini sedang mengandung, dan dari surat dokter kemarin kandungannya sangat lemah," ujar Cintami.

Para karyawan mulai menganggukkan kepalanya, mereka seolah mengerti dengan kondisi Alya yang mengandung sambil bekerja.

  "Suaminya kemana?"

"Hamil-hamil gitu kok kerja ya."

"Apa gak kasihan dengan istrinya?"

Berbagai pertanyaan terdengar dari jauh, tapi lagi-lagi Alya berusaha untuk diam ia pun hanya mengelus perutnya sambil meyakinkan sang anak jika meren mampu melewati semuanya.

  "Nak, Ibu tetap bekerja, meskipun keberadaan ayahmu dipertanyakan," gumamnya lirih.

 Sementara itu Eyang Cintami yang mendengar bisikan itu langsung memberi tanggapan.

 "Suami Alya sudah pergi, gak tahu keberadaannya, dan kebetulan Alya ini karyawan pertama Eyang saat merintis dulu. Jadi dia tahu bagaimana perjuangan Eyang membesarkan Cintami Carf.

"Oh pantesan, dia cepat dan rapi," ujar lainnya.

  "Bukan karena itu," sahut Eyang dengan cepat. "Dia aku perlakukan seperti itu karena sedang mengandung, dan jika nanti kalian sudah berkeluarga baru bisa merasakan posisi yang saat ini Alya rasakan," lanjutnya.

Para karyawan pun terdiam akhirnya mereka kembali pada pekerjaannya masing-masing begitu pula dengan Alya.

  Saat jam istirahat tiba, Alya pun bergegas mengakhiri pekerjaannya, rasa lelah jelas terasa namun saat kehidupan di dalam rahimnya berdenyut. Ia pun seperti disemangati.

 "Kamu senang ya, kerjaan Mama sudah rampung," ujar Alya, lalu melangkah ke dapur makan di mana para karyawan sedang mengantri.

Meskipun ia mempunyai kekurangan tapi Alya tetap mempertahankan jati dirinya. Ia tidak mau menggunakan kekurangannya agar dimengerti atau diperlakukan istimewa. Bagi Alya semua manusia punya hak yang sama siapa yang cepat dialah yang mendapatkan porsi makanan terlebih dahulu.

Alya berdiri dibelakang antrian lain saat ia menatap ke arah samping tanpa sengaja pandangannya melihat Eyang Cintami yang sedang memanggilnya dengan lambaian tangan.

Wanita itu segera keluar dari barisan itu dengan langkah cepat ia menghampiri Eyang Cintami.

  "Ada apa Eyang?" tanya Alya.

"Kita makan ke ruanganku saja ya," ajaknya.

"Tapi Eyang?" tolak Alya cepat.

"Jangan banyak tapi Al, ada yang mau Eyang bicarakan." Dengan begitu Alya tidak bisa menolak lagi ajakan Eyang Cintami.

Sesampainya di ruang kerja. Alya dipersilahkan duduk di sofa warna abu-abu. Sementara Eyang wanita itu tidak langsung duduk dengannya melainkan berjalan ke meja kerjanya.

Wanita paruh baya itu mengecek beberapa file yang ada di dalam laptopnya, dan tidak lama kemudian pintu terketuk, ternyata seorang pelayan yang sedang mengantarkan makanan untuk Alya.

  Setelah makanan terhidang Eyang menyuruh Alya untuk menyantap dulu makanannya.

"Al, makan dulu nanti keburu dingin," ujar Eyang.

 "Maaf Eyang, kenapa Eyang tidak makan?"

"Aku sedang puasa Al," sahut wanita sepuh itu.

  Alya pun mengangguk sejak dulu rupanya kebiasaan Eyang tidak pernah berubah. "Eyang maaf ya aku makan duluan," ujar Alya.

"Ya makan saja," sahutnya mempersilahkan.

Alya memakan hidangan dihadapannya dengan lahap, karena menu itu makanan favoritnya. Udang balado dan tumis kangkung.

  "Gimana Al masakannya?" tanya Eyang.

"Enak Eyang," sahut Alya.

Selesai makan wanita paruh baya itu langsung menghampiri Alya, ia pun mulai menanyakan hal yang menurutnya penting diketahui.

  "Al, sebenarnya aku mau tanya sesuatu?" ucapnya tiba-tiba.

  Alya mengernyit heran. "Mau tanya apa Eyang."

Eyang Cintami menghembuskan napasnya pelan. "Selama ini apa kamu sudah tahu dengan orang yang menabrak mu lima tahun yang lalu?" tanyanya hati-hati.

Alya mengangkat bahunya. "Kurang tahu Eyang, bukannya dulu pelaku sudah ditangkap, dan katanya dia depresi berat," ujar Alya pelan.

Sejenak wanita dihadapannya itu memejamkan matanya, entah mengapa melihat ketulusan perempuan muda dihadapannya nampak sekali tidak ada rasa dendam dari sorot matanya.

 "Al, apa kamu tidak dendam?" tanya Eyang sekali lagi.

  Perempuan itu hanya terdiam lalu tersenyum simpul. "Kalau dendam enggak terlalu sih, aku hanya mencoba berdamai saja pada diri sendiri, untuk tidak selalu menyalahkan keadaan," ujar Alya.

  Eyang cukup menyimak meskipun dalam hatinya ingin menjerit, mendengar kalimat pengakuan itu.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara di kota sana. Hari ini Arlan dan Amara begitu sibuk dengan pemilihan gedung dan juga cincin pernikahan mereka. Padahal belum genap satu Minggu Alya meninggalkan rumah itu. Dan sekarang keduanya sibuk dengan persiapan pernikahan.

  "Sayang gimana? Kamu suka?" tanya Arlan dengan senyum terbaiknya.

Sementara Amara menahan rasa bahagianya saat meninjau lokasi gedung yang akan menjadi saksi cinta mereka.

"Aku gak nyangka jika pernikahan impianku akan terwujudkan," sahut Amara.

"Kau perempuan hebat dan pintar. Sudah saatnya kamu mendapatkan apa yang menjadi hakmu," ujar Arlan sambil mendekap hangat kekasihnya itu.

"Makasih banyak sudah menepati janji itu," sahut Amara.

"Aku pasti selalu tepati," kata Arlan meyakinkan.

Di sini Arlan dan Amara terlihat begitu bahagia, dengan rancangan yang mereka atur sendiri, dan disepanjang lorong gedung Arlan tidak melepaskan tangan perempuan di sampingnya itu.

Selesai meninjau gedung mereka pun mengunjungi restoran favorit keduanya, keduanya begitu asyik bercengkrama hingga perkataan mereka pun menuju hal yang menyangkut masa depan.

"Sayang, nanti kalau sudah nikah aku mau punya anak banyak ya," kata Arlan dengan semangat.

Amara yang sedari tadi tersenyum, entah kenapa senyum di bibirnya perlahan memudar. "Banyak anak?" ulangnya ragu.

Arlan mendekatkan tatapannya. "Iya memangnya kenapa? Kamu gak suka punya anak dariku?"

Amara menggeleng cepat. "Bukan begitu aku hanya takut saja badanku gak sebagus sebelum melahirkan," sahutnya gugup seperti ada yang disembunyikan.

"Sekarang jaman sudah canggih yang penting habis lahiran sering-sering perawatan saja," ucap Arlan.

Sementara Amara hanya tersenyum kecil seolah mengaiyakan apa yang diminta oleh calon suaminya itu.

Bersambung .....

Selamat Pagi Kakak ...

Terima kasih untuk yang sudah membaca memberi like komen juga gift untuk karyaku ini semoga kalian selalu disehatkan dan dimudahkan rejekinya. 🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰

1
Oma Gavin
jgn sampai diketemukan arlan dulu kak biarkan alya pergi jauh menenangkan diri dan biarkan arlan menikah dgn amanda dan menikmati penyesalan nya
Nar Sih
kmu egois arlan ,semoga pencariaan gk berhasil🤣🤣
Rahayu Ayu
Bagus
tia
mimpi u ketinggian e ,,,qmu akan menyesal
Lisa
Arlan tdk akan dpt menemukan Alya
Sam sam
pagi juga Thor🙂
Lisa
Met malam Kak Ayu..makasih y utk updatenya
Anonim
BUNUH ALYA.. MASALAH SELESAI
Bundanya Pandu Pharamadina
Arlan pada saatnya pasti kamu akan menyesal telah melepaskan Alya
Bundanya Pandu Pharamadina
ijin lanjut di mari kak Author.
Ayumarhumah: iya kak Monggo
total 1 replies
Nar Sih
sebnr nya klau gk pergi jauh pun gk apa,,kan udah sah cerai ini tpi..demi keamanan dan ngk perlu repot ngsdepi arlan
Nar Sih
sore kak ayu..🥰
Ayumarhumah: selamat membaca ya kak ♥️♥️♥️
total 1 replies
Nar Sih
sebaik nya sblm pergi bersama alangkah baik nya bila dewa dan alya ada menikah dulu biar ada ikatan yg jls
Nar Sih: olah iya ya kak gk boleh yaa sblm ank nya lahir☺️
total 2 replies
Lisa
Makin seru nih..bagus Alya kamu harus ikut Dewa pindah ke tempat yg jauh.biarkan Arlan menyesal selamanya
Rohmi Yatun
lanjut Thor.. semakin seru ni🙏
Ayumarhumah
pokoknya tunggu besok ya♥️♥️♥️♥️♥️
Mul Yanto
kak author itu si Arlan jangan sampai ketemu Alya, biar tau rasa
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Nar Sih
selamat malam juga kak ,satu bab lgi mau dong kam🙏☺️
Ayumarhumah: besok ya Kak. ♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Nar Sih
👍👍emil,biarkan arkan pusing nyari alya 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!