⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.
Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.
Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.
Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.
Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.
Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.
Aiko dihadapkan pada pilihan.
bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23
Kesadaran Aiko terasa semakin menipis. Cengkeraman jemarinya pada kain kemeja milik Ren perlahan-lahan mulai melonggar, sebelum tubuh gadis itu benar-benar ambruk, lengan Ren mengencang di sekeliling pinggangnya.
Dengan satu gerakan, Ren mengangkat tubuh Aiko ke dalam gendongannya. Ia membawa gadis itu menjauh dari meja belajar, dan melangkah menuju tempat tidur.
Saat merebahkan tubuh Aiko di atas kasur, Ren menyadari sepasang mata Aiko masih menatap kosong dengan Pandangan yang lurus tertuju pada satu titik di sudut ruangan. Ren segera menggeser posisi tubuhnya., berdiri tepat di hadapan Aiko, dengan sengaja menghalangi pandangan gadis itu.
Aiko mengatur napasnya yang tersengal. Bibirnya yang pucat bergerak-gerak samar, mencoba menyuarakan kata-kata yang mendesis di dalam kepalanya.
"Mata-mata..." bisik Aiko parau, "Di rumah ini... Ruang interogasi..."
Mendengar bisikan itu, tubuh Ren seketika menegang. Sepasang matanya menyipit tajam, menatap lurus pada wajah Aiko yang dipenuhi keringat dingin.
Ren membungkuk, menarik selimut hingga menutupi dada Aiko. Jari-jarinya sempat menyentuh kening Aiko yang terasa dingin selama satu detik, sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali.
"Tidur dan istirahat lah," ucap Ren dengan nada rendah. "Aku yang akan membereskan sisanya."
Aiko memejamkan matanya rapat-rapat. Di saat yang sama, ia mendengar langkah kaki Ren yang bergerak menjauh, meninggalkan kamar mereka bersama hawa mencekam yang perlahan mulai menyusut.
**
Begitu pintu geser kamar ditutup rapat, ekspresi wajah Ren berubah dengan aura membunuh yang menguar dari tubuhnya. Pria itu berjalan menyusuri koridor dan merogoh saku celananya, lalu mengambil ponselnya.
Hanya dalam satu nada sambung, panggilan itu langsung diangkat.
"Kumpulkan pasukan inti di lorong bawah tanah sekarang. Jangan ada yang membuat suara," perintah Ren tanpa basa-basi, langsung mematikan sambungan telepon bahkan sebelum Daichi sempat membalas.
Ren melangkah menuju ruang kerjanya yang terletak di lantai bawah. Dari dalam laci meja yang terkunci, ia mengambil sebuah senjata api jenis revolver, lalu menyilapkannya di balik jas. Langkah kakinya membawa Ren menuju bagian belakang kediaman Tachibana, tempat di mana sebuah pintu besi tebal menuju ruang interogasi bawah tanah berada.
Di dalam lorong bawah tanah yang remang dan berbau lembap, Daichi bersama lima orang pasukan inti klan sudah berdiri siaga.
"Ada apa, Bos?" tanya Daichi berbisik.
"Siapa saja penjaga yang bertugas menjaga Harada malam ini?"
Daichi tertegun sejenak, "Ada empat orang dari divisi tiga yang berjaga di depan pintu sel sejak sore tadi, Bos. Tidak ada orang luar yang diizinkan masuk."
"Salah satu dari mereka adalah orang Kaito," ucap Ren tegas. "Mereka berencana membungkam Harada sebelum fajar. Masuk ke dalam sekarang."
Tanpa perlu perintah kedua, Daichi memberi isyarat kepada pasukan inti di belakangnya.
Di dalam ruangan Harada tampak duduk terikat di sebuah kursi besi dalam kondisi babak belur, sementara empat orang penjaga berjas hitam langsung berdiri tegap dan membungkuk hormat saat melihat kedatangan Ren.
Ren tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia melangkah maju, dengan mata yang menatap satu per satu wajah para penjaga itu dengan pandangan menilai yang tajam.
Salah seorang penjaga yang berdiri di sudut paling kanan tampak menggerakkan bola matanya dengan gelisah. Sudut bibirnya sedikit bergetar, dan jemari tangannya yang berada di belakang tubuh merayap perlahan menuju bagian pinggang.
Gerakan kecil itu tidak luput dari pandangan Ren.
Dor!
Suara tembakan yang memekakkan telinga bergaung keras di dalam ruangan bawah tanah. Belum sempat penjaga itu menarik senjatanya, sebutir timah panas dari pistol Ren sudah bersarang tepat di lutut kanannya.
Pria itu berteriak histeris, langsung tersungkur ke atas lantai semen sembari mencengkeram kakinya yang bersimbah darah. Tiga penjaga lainnya langsung berlutut dengan cepat, menundukkan kepala mereka dalam-dalam ke lantai.
Ren melangkah mendekat, berdiri tepat di atas pria yang sedang mengerang kesakitan itu. Ia menodongkan moncong pistolnya yang masih berasap ke pelipis pria tersebut.
"Siapa yang mengutusmu? Kaito?" tanya Ren datar, tanpa emosi sedikit pun.
"Am-ampun, Kumicho... Saya... Saya terpaksa..." pria itu terbata-bata, wajahnya memucat dan ketakutan yang luar biasa melihat sorot mata Ren. "Tuan Kaito... mereka menyandera adik perempuan saya di Osaka... Saya tidak punya pilihan..."
Ren tidak menunjukkan ketertarikan pada alasan pria itu. "Apa saja yang sudah kau laporkan pada mereka?"
"Be-belum ada, Bos! Demi Tuhan, saya baru saja akan mengirimkan pesan tentang kondisi Harada malam ini, tapi Anda sudah datang... Saya bersumpah!"
Ren menatap pria itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya menurunkan senjatanya. Ia berbalik memunggungi sang pengkhianat, lalu memberikan isyarat kepada Daichi melalui sebuah anggukan kecil.
"Urus dia. Pastikan adiknya di Osaka dijemput oleh orang-orang kita agar Kaito tidak bisa menggunakannya lagi. Setelah itu, singkirkan pria ini dari Kyoto," ucap Ren dingin.
"Baik, Bos. Serahkan padaku," jawab Daichi dengan seringai tipis yang menakutkan.
**
Keesokan pagi, cahaya matahari musim gugur perlahan mulai menerobos masuk melalui celah tirai kamar utama.
Aiko mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya masih terasa sedikit pening, sisa dari hantaman energi gaib yang ia rasakan semalam. Ia mengubah posisinya menjadi duduk, mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang kini sudah kembali bersih dari hawa dingin dan kabut hitam.
Srak.
Pintu geser kamar mandi terbuka. Ren melangkah keluar dengan pakaian yang sudah rapi, dengan kemeja abu-abu yang lengannya digulung hingga ke siku. Rambut hitamnya tampak basah, menguarkan aroma sabun yang segar. Namun, indra penciuman Aiko yang tajam masih bisa menangkap sesuatu yang lain. Ada aroma anyir darah yang tertinggal di udara saat pria itu berjalan mendekatinya.
Aiko menatap Ren yang kini berhenti di ujung tempat tidur, memperhatikannya dengan ekspresi datar seperti biasanya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ren memecah keheningan.
Aiko menarik selimutnya sedikit. "Sudah lebih baik. Kepalaku hanya sedikit pusing."
Aiko terdiam sesaat, matanya melirik sekilas pada jemari tangan Ren yang bersih. "Apakah... masalah semalam sudah selesai?"
Ren tidak langsung menjawab. Pria itu berjalan menuju meja kerjanya, mengambil jam tangan miliknya lalu memasangnya di pergelangan tangan dengan gerakan tenang.
"Sudah bersih," jawab Ren pendek "Informasimu semalam sangat akurat. Pengkhianat itu sudah diselesaikan sebelum sempat mengirim pesan pada Kaito."
Ren membalikkan badannya, menatap Aiko dengan pandangan dalam dan penuh perhitungan. "Mulai sekarang, jika kau melihat hal seperti itu lagi di rumah ini, langsung katakan padaku. Jangan mencoba menahannya sendiri sampai kau pingsan seperti semalam. Itu hanya akan merepotkanku."
"Aku mengerti, Ren," sahut Aiko pelan.
"Bersiaplah. Daichi sudah menunggumu di depan pekarangan. Jangan terlambat masuk kuliah."
ada tegang dari dunia yakuza plus horor sekaligus
bedanya karakternya lebih manusiawi 🤣🤣 ga kaya ren kaya 😈