Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Mansion keluarga Jiang.
Delvin dan Moly duduk di ruang tamu dengan wajah serius.
“Delvin, apa rencanamu selanjutnya? Atau kita cari saja pendonor lain daripada terus berharap pada Viona?” tanya Moly.
“Aku sudah meminta Dokter Xu membantu mencari pendonor yang sesuai,” jawab Delvin. “Namun, aku tetap menginginkan Viona.”
“Mengapa harus dia?” tanya Moly.
“Karena kita sudah memiliki seluruh riwayat pemeriksaan kesehatannya. Selain itu, mencari pendonor yang cocok bukan perkara mudah.”
“Kalaupun ada, kita harus membayar dengan harga yang sangat besar. Belum tentu juga langsung ditemukan.”
Moly menghela napas.
“Tapi sekarang Viona berada di sisi Dylan. Dulu kita bisa membawanya ke rumah sakit kapan saja. Sekarang kita sudah tidak bisa mengendalikannya lagi.”
Tatapan Delvin berubah dingin.
“Viona dibesarkan oleh keluarga Jiang selama enam belas tahun. Kalau tidak ada alasan, untuk apa aku membesarkan anak yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah denganku?”
Moly terdiam.
“Apa kau yakin bisa bertemu dengannya?” tanyanya.
“Kalau ingin menemuinya secara langsung, tentu harus melalui Dylan. Sedangkan Viona tinggal di mansion miliknya. Mustahil kita bisa masuk begitu saja.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Moly.
Sudut bibir Delvin terangkat membentuk senyum tipis. “Aku sudah mendapat informasi.”
“Informasi apa?”
“Dylan sedang menangani proyek besar. Beberapa waktu ke depan dia akan sangat sibuk dan sering berada di luar perusahaan maupun luar kota.”
Moly mulai memahami maksud suaminya.
“Jadi kau ingin memanfaatkan kesempatan itu?”
Delvin mengangguk pelan.
“Begitu Dylan lengah... kita bawa Viona kembali.”
“Kalau Dylan pulang dan tidak menemukan Viona?” tanya Moly.
“Pada saat itu, semuanya sudah terlambat. Kalau memang suatu hari Sanny harus menjalani transplantasi, aku akan memastikan Viona tidak punya kesempatan untuk menolak.”
Moly menatap suaminya beberapa saat.
“Bagaimana kalau Dylan mengejar kita?”
Tatapan Delvin berubah semakin dingin.
“Selama operasi sudah selesai... sekalipun Dylan membalikkan seluruh Kota, dia tidak akan bisa mengubah apa pun. Yang terpenting bagiku hanya satu. Sanny harus tetap hidup.”
***
Mansion Dylan.
Viona sedang merapikan meja ruang tamu dan menyusun bantal sofa.
Ding dong...
Bel pintu berbunyi.
Bibi Ma berjalan menghampiri pintu, lalu membukanya.
Klik.
Matanya langsung membulat melihat Delvin dan Moly berdiri di depan pintu.
“Tuan... Nyonya...”
Delvin tersenyum ramah.
“Bibi Ma, kami datang menemui Dylan. Sekalian membawakan makanan kesukaannya.”
Tanpa menunggu dipersilakan, Delvin dan Moly langsung melangkah masuk.
Viona yang sedang merapikan ruang tamu segera berdiri.
“Tuan, Nyonya.”
“Viona, sudah lama tidak bertemu. Apa kabarmu?” tanya Moly dengan senyum pura-pura hangat. “Di mana Dylan? Aku sengaja memasakkan makanan kesukaannya.”
Viona teringat pesan Jay sebelum berangkat.
"Kalau ada tamu mencari Tuan Muda, cukup katakan beliau sedang sibuk. Jangan jelaskan keberadaannya."
“Tuan Muda sedang sibuk,” jawab Viona.
Delvin mengangguk pelan.
"Berarti informasinya benar. Dylan memang tidak ada di mansion," batinnya.
Senyum tipis hampir muncul di wajahnya, tetapi segera ia sembunyikan.
Sementara itu, Bibi Ma memperhatikan ekspresi Delvin.
"Mereka tidak mungkin datang hanya untuk mengantar makanan. Pasti ada tujuan lain," batinnya.
Diam-diam ia melangkah menuju lantai dua.
“Silakan duduk, Tuan, Nyonya,” ucap Viona dengan sopan.
Moly meletakkan kotak makanan di atas meja.
“Viona, aku juga membawakan kue untukmu.”
“Terima kasih, Nyonya. Saya ambilkan minuman dulu.”
Baru saja Viona hendak melangkah, Delvin menghentikannya.
“Tidak usah terburu-buru. Aku dan Moly sebenarnya ingin mengajakmu keluar sebentar.”
Viona menghentikan langkahnya.
“Moly ingin membelikanmu beberapa pakaian sebagai permintaan maaf.”
"Orang yang menyiksaku selama enam belas tahun tidak mungkin berubah begitu saja. Mereka pasti mempunyai tujuan lain," batin Viona.
“Tuan, Nyonya, terima kasih. Tapi saya tidak bisa keluar tanpa izin Tuan Muda.”
“Hanya satu jam,” bujuk Moly. “Setelah selesai, kami langsung mengantarmu kembali.”
Viona menggeleng pelan.
“Maaf, Nyonya. Tuan Muda sudah menyiapkan semua kebutuhan saya.”
Senyum Delvin perlahan menghilang.
“Viona, baru beberapa hari tinggal di sini, kau sudah berani membantah kami?.Jangan lupa. Selama enam belas tahun kau makan, tidur, dan dibesarkan oleh keluarga Jiang.”
Viona tetap berdiri tenang.
“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa pergi.”
Tatapan Delvin langsung berubah dingin.
Ia menoleh ke arah pintu.
“Kalian masuk.”
Empat pria bertubuh kekar yang sejak tadi menunggu di luar segera melangkah masuk ke dalam mansion. Mereka adalah anak buah Delvin yang dulu mengawal Viona ke rumah sakit saat operasi donor ginjal.
“Bawa dia pergi!” perintah Delvin.
Empat anak buahnya langsung melangkah mendekati Viona.
Viona mundur beberapa langkah hingga tiba di dekat dapur.
Dengan cepat, ia meraih sebilah pisau buah yang berada di atas meja.
Sret!
Pisau itu langsung diarahkan ke depan.
“Jangan mendekat!” bentak Viona. “Aku tidak akan pergi dari sini!”
Moly mencibir.
“Viona, Dylan tidak ada di rumah. Walau kau melawan, itu tidak akan mengubah apa pun. Turunkan pisaunya. Kau tidak mungkin berani melukai kami.”
Tatapan Viona berubah tegas.
Ia perlahan membalik arah pisau itu, lalu mengarahkannya ke dadanya sendiri.
“Kalau begitu... bagaimana kalau aku menikam diriku sendiri?”
Wajah Delvin dan Moly langsung berubah.
“Viona! Jangan!”
Delvin tanpa sadar melangkah maju.
"Sial! Kalau dia benar-benar menusuk bagian dadanya dan mengenai hati... semua rencanaku akan hancur!" batinnya.
Viona menatap mereka dengan mata yang dipenuhi tekad.
“Kalian ingin membawaku pergi secara paksa. Kalau begitu, lebih baik aku mati di sini.”
“Tidak!” bentak Delvin. “Turunkan pisaunya!”
“Tindakan kalian sama saja ingin membunuhku,” jawab Viona. “Kalau begitu, untuk apa aku ikut dengan kalian?”
Suasana ruang tamu berubah mencekam.
Tak seorang pun dari anak buah Delvin berani bergerak.
Pada saat yang sama...
Terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.
Tap...
Tap...
Tap...
Semua orang spontan menoleh.
Dylan berjalan menuruni anak tangga dengan tatapan sedingin es.
Pandangannya langsung tertuju pada pisau yang berada di tangan Viona, kemudian beralih kepada Delvin dan anak buahnya.