NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — Dua Dunia yang Tidak Mau Menyatu

Pagi itu, Diara tidak langsung membuka laptopnya seperti biasa.

Ia duduk di ruang kerja kecil di rumahnya, sebuah ruangan yang ia desain sendiri dengan konsep minimalis hangat—rak kayu terang, tanaman kecil di sudut meja, dan cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar. Biasanya ruang itu membuatnya tenang. Tapi hari ini tidak.

Di depannya, layar laptop terbuka.

Nama itu masih ada di sana.

Jifan Artha Syahrezan.

Diara tidak tahu kenapa ia melakukan ini. Seharusnya setelah pertemuan kemarin, ia bisa berhenti memikirkan pria itu. Namun justru sebaliknya, semakin ia mencoba mengabaikan, semakin pikirannya tertarik kembali.

Ia mengetik pelan.

“Syahrezan Group”

Enter.

Hasil pencarian memenuhi layar. Perusahaan besar, ekspansi internasional, proyek-proyek bernilai miliaran, dan satu nama yang selalu muncul di bagian atas: Jifan Artha Syahrezan—CEO termuda dalam sejarah grup itu.

Diara membaca pelan satu per satu informasi itu.

Namun yang paling menarik perhatiannya bukan pencapaiannya.

Melainkan tidak adanya informasi personal.

Tidak ada wawancara emosional. Tidak ada cerita pribadi. Tidak ada jejak kehidupan di luar dunia bisnis.

Seolah pria itu hanya hidup di satu dimensi: pekerjaan.

Diara menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kenapa orang seperti ini… mau dijodohkan?” gumamnya pelan.

Pertanyaan itu tidak menemukan jawaban.

🪻🪻🪻🪻

Di sisi lain kota, di lantai atas gedung Syahrezan Group, Jifan Artha Syahrezan sedang menandatangani dokumen tanpa ekspresi.

Ruangan itu luas, kaca di sisi kanan menampilkan pemandangan kota Jakarta yang sibuk. Namun tidak ada satu pun hal di luar sana yang tampak mengganggu fokusnya.

“Data meeting jam 10 sudah siap, Pak,” ujar sekretarisnya.

“Lanjutkan,” jawab Jifan singkat tanpa mengangkat pandangan.

Tidak ada jeda.

Tidak ada perubahan nada.

Semua berjalan seperti biasa.

Namun di antara tumpukan dokumen itu, ada satu folder yang tidak seharusnya terlihat menonjol—berisi nama yang sama dengan yang sedang dipikirkan Diara.

Humaira Diara Aluna.

Jifan membukanya sebentar.

Foto sederhana. Profil singkat. Perusahaan kecil di bidang desain interior. Beberapa proyek residensial dan kafe.

Ia membaca sekilas.

Tidak lama.

Tidak mendalam.

Bukan karena tidak tertarik, tetapi karena ia tidak merasa perlu.

Baginya, informasi itu sudah cukup.

Ia menutup folder itu kembali.

“Cocok,” pikirnya singkat.

Bukan “menarik”.

Bukan “baik”.

Hanya satu kata yang terdengar seperti keputusan bisnis.

🪻🪻🪻🪻

Hari berikutnya, keluarga kembali mengatur pertemuan lanjutan.

Diara duduk di ruang keluarga bersama Kinnas dan Biantara. Suasana rumahnya jauh lebih

hangat dibandingkan dunia yang akan ia masuki.

“Ummi rasa kita perlu bertemu lagi dengan keluarga Syahrezan,” ucap Kinnas lembut.

Diara tidak langsung menjawab.

Tangannya yang memegang cangkir teh sedikit mengencang.

“Untuk apa lagi, Ummi?” akhirnya ia bertanya pelan.

Biantara menjawab lebih dulu, tegas namun tidak menekan.

“Untuk memastikan tidak ada kesalahpahaman.”

Diara tersenyum kecil, tapi bukan senyum yang hangat.

“Kesalahpahaman?” ulangnya. “Abi, dari awal tidak ada yang benar-benar dipahami.”

Kinnas menatapnya dengan lembut. “Nak…”

Diara menghela napas.

“Pria itu bahkan tidak mencoba mengenal. Dia hanya… ada di sana. Seperti orang yang sudah selesai dengan hidupnya sendiri.”

Biantara diam beberapa detik.

“Tidak semua orang mengekspresikan dirinya dengan cara yang sama,” jawabnya akhirnya.

Diara menatap ayahnya.

“Bukan soal cara, Abi. Ini soal kehadiran. Dia seperti tidak melihat aku sebagai manusia.”

Kinnas menunduk pelan.

“Berikan waktu.”

Diara tidak langsung menjawab.

Waktu.

Kata yang sering terdengar bijak, tapi tidak selalu terasa adil.

Malamnya, Diara kembali membuka laptop.

Kali ini bukan untuk mencari data bisnis.

Ia membuka media sosial, berita, artikel, apa pun yang bisa memberinya gambaran tentang Jifan Artha Syahrezan sebagai manusia, bukan CEO.

Namun hasilnya sama.

Foto-foto resmi. Event bisnis. Wawancara singkat yang penuh formalitas. Tidak ada tawa. Tidak ada cerita personal.

Seolah hidup pria itu memang tidak dirancang untuk disentuh orang lain.

Diara menutup laptopnya perlahan.

Ada rasa asing yang sulit dijelaskan.

Bukan takut.

Bukan kagum.

Lebih seperti… jarak yang tidak bisa dijembatani.

“Ini orang nyata atau bukan sih…” gumamnya pelan.

🪻🪻🪻🪻

Di saat yang sama, di mansion Syahrezan, Jifan berdiri di balkon kamarnya.

Angin malam menerpa wajahnya yang tenang.

Di belakangnya, lampu kamar masih menyala redup. Namun ia tidak masuk.

Ia justru memikirkan pertemuan berikutnya yang dijadwalkan keluarga.

Diara.

Nama itu muncul di pikirannya tanpa emosi.

Bagi Jifan, pernikahan bukanlah sesuatu yang romantis atau emosional.

Itu adalah struktur.

Kesepakatan.

Stabilitas.

Dan Diara adalah bagian dari struktur itu.

Bukan individu yang harus dipahami.

Hanya elemen yang harus ditempatkan dengan benar.

Ia tidak merasa perlu mendekat.

Tidak merasa perlu mengenal lebih dalam.

Karena dalam logikanya, semua akan berjalan sebagaimana mestinya jika peran masing-masing jelas.

🪻🪻🪻🪻

Pertemuan berikutnya berlangsung di rumah keluarga Syahrezan.

Ruang tamu besar dengan nuansa elegan, sofa krem, dan aroma kopi yang lembut memenuhi udara.

Diara datang bersama Kinnas dan Biantara.

Jifan sudah ada di sana.

Seperti biasa.

Tenang.

Dingin.

Tidak berubah.

Diara duduk berhadapan dengannya, menjaga sikapnya tetap sopan. Abaya hitamnya hari ini sedikit berbeda, lebih ringan, tetapi tetap syar’i. Wajahnya tenang, namun matanya tidak bisa menyembunyikan kewaspadaan.

Percakapan dimulai oleh orang tua mereka.

Aishani berbicara lembut tentang rencana ke depan. Idrissa menanggapi dengan bijak. Kinnas tersenyum sesekali, mencoba menjaga suasana tetap ringan.

Namun Diara tidak benar-benar mendengarkan.

Perhatiannya tertuju pada satu orang.

Jifan.

Pria itu duduk seperti biasa.

Tidak ada gestur berlebihan.

Tidak ada usaha untuk membuka percakapan dengannya.

Bahkan ketika pandangan mereka sesekali bertemu, Jifan tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Seolah ia hanya melihat sesuatu yang sudah dipastikan keberadaannya, bukan sesuatu yang perlu diperhatikan.

Diara menggeser pandangannya pelan.

Dadanya terasa sedikit sesak.

“Jadi,” suara Aishani terdengar lembut, “kita berharap pertemuan ini bisa membuat kalian lebih nyaman.”

Diara tersenyum sopan.

“InsyaAllah.”

Jifan hanya mengangguk kecil.

Itu saja.

Tidak ada tambahan kata.

Tidak ada usaha.

Diara akhirnya tidak bisa menahan diri.

“Apakah semua ini memang dianggap sudah selesai?” tanyanya tiba-tiba.

Semua orang menoleh padanya.

Jifan juga.

Tatapannya tetap sama.

Dingin.

Stabil.

“Sudah jelas sejak awal,” jawabnya tenang. “Tidak ada yang perlu diperdebatkan.”

Diara menahan napas.

“Bagi Anda mungkin jelas,” balasnya pelan, tapi tegas. “Tapi bagi saya, ini bukan sesuatu yang bisa dibiarkan tanpa proses.”

Jifan menatapnya lebih lama kali ini.

Namun ekspresinya tetap tidak berubah.

“Proses tidak mengubah hasil.”

Kalimat itu jatuh seperti garis lurus tanpa emosi.

Diara terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa bahwa pria di depannya tidak sedang berbicara dengannya sebagai seorang manusia.

Melainkan sebagai bagian dari sistem yang sudah ia susun di kepalanya sendiri.

Sepanjang sisa pertemuan, Diara tidak banyak bicara.

Bukan karena tidak ingin, tetapi karena ia mulai sadar:

Setiap kata yang ia ucapkan tidak akan mengubah cara Jifan melihat situasi ini.

Bagi Jifan Artha Syahrezan, perjodohan ini sudah selesai bahkan sebelum dimulai.

Dan dirinya…

Hanya bagian kecil dari rencana besar itu.

Saat Diara meninggalkan rumah itu, ia berhenti sejenak di depan pintu.

Angin sore menyentuh wajahnya.

Ia menoleh sekilas ke belakang.

Melalui kaca, ia masih bisa melihat Jifan berdiri di dalam, berbicara dengan seseorang dengan ekspresi yang sama seperti biasa.

Datar.

Tidak terganggu.

Tidak berubah.

Diara memalingkan wajahnya.

Langkahnya melanjut.

Namun dalam hatinya, satu kesimpulan perlahan terbentuk:

Pria itu tidak membencinya.

Tidak mengabaikannya secara personal.

Ia hanya… tidak pernah benar-benar memasukkannya ke dalam dunia yang ia anggap penting.

Dan itu jauh lebih sulit untuk diterima daripada penolakan biasa.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!