Chartiana terjebak dalam pusaran perasaan yang menyesakkan. Cintanya pada Jeremy selama ini hanyalah perjalanan satu arah yang tak pernah menemui titik temu. Setiap perhatian yang ia berikan seolah menguap begitu saja, terabaikan oleh dinginnya sikap Jeremy yang tak pernah membalas rasanya.
Di tengah luka itu, hadir Stefan, sahabat karib Jeremy. Berbeda dengan Jeremy, Stefan datang dengan ketulusan yang nyata, menawarkan seluruh hatinya untuk menjadikan Chartiana miliknya. Namun, bagi Chartiana, kehadiran Stefan bukan sekadar pelipur lara, melainkan alat.
Rasa sakit karena diabaikan oleh Jeremy perlahan bermutasi menjadi kebencian yang tajam.
Yuks..~ ikuti kisah cinta segitiga mereka 💗💗💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lukalama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Kemarahan Chartiana
"Hmm...Kak..., Apa kita tidak berkendara terlalu jauh...??" sudah satu jam mereka terus berkendara di jalan toll.
"Santai aja..., Sebentar lagi sampai kok..." seru Stefan dengan santai, sambil menyetir.
Chartiana mengerenyitkan dahi, kata-kata itu terus saja dilontarkan mulut Stefan, membuat mood Chartiana kian memburuk. Sampai saat ini ia masih memikirkan soal kakak tirinya yang makin cuek dan bersikap ketus. Hubungan mereka tidak lagi akrab seperti dulu. "Kak aku gak bodoh ya..., Dari tadi kita berada di jalan tol yang menuju arah bandung, kak Stefan gak sedang nyasar kan...!!, Tadi kakak bilang mau bertemu klien di dekat pabrik, ini sih sudah diluar kota...!!" Charty mulai menggerutu kasar.
"Mau gimana kliennya tiba-tiba membatalkan janji, jadi kita nikmati saja waktu yang tersisa hari ini...." seringai Stefan yang berbohong, soal klien itu hanya akal-akalannya saja, dia memang sengaja ingin mengajak Chartiana berkencan hari ini, karena hari minggu ia ada acara keluarga.
"Aku mau pulang kak...., Aku gak mau berduaan sama kak Stefan..." ujarnya ketus sambil cemberut.
"Tenanglah sayang..., Maaf ya aku memang sengaja berbohong soal klien. Aku cuma mau ajak kamu dinner di bandung, kapan lagi bisa berkencan sampai keluar kota..."
Kejujuran Stefan malah membuat Chartiana makin marah padanya. "Jangan panggil-panggil aku sayang, aku gak suka...!! Ingat kak kita itu hanya kontrak pacaran selama sebulan, jadi jangan libatkan perasaan...!!" umpat Chartiana, dirinya tidak mau lagi terlena dengan sahabat kakaknya ini, semakin ia dekat dengan Stefan, semakin perasaan cintanya pada sang kakak tiri di renggut dari hatinya.
Bentakan Chartiana barusan memang telah mengecewakan Stefan yang sedang berbunga-bunga, namun sudah tanggung kalau rencana kencannya hari ini gagal toh..., tinggal dua minggu lagi kontrak perjanjian dengan Chartiana akan segera berakhir, sebelum hal itu terjadi Stefan harus berusaha semaksimal mungkin meluluhkan hati Chartiana.
Tanpa bersuara lagi, Stefan tetap melanjutkan perjalanan, wajah Chartiana pun semakin merenggut di sepanjang jalan.
.
.
.
Bukan restoran mewah Stefan membawanya, hanya ke sebuah tempat makan yang sedang viral dan hits di daerah Dago, sambil makan bisa melihat pemandangan kota bandung dari atas.
"Cafe yang unik..." celetuk Charty saat melihat replika kastil, banyak sekali pengunjung yang mengantri untuk berfoto disana.
"Masih mau pulang...??" goda Stefan, sepanjang perjalanan Chartiana terus saja mengomel di dalam mobil.
Sambil masih memperlihatkan wajah cemberut. "Sudah tanggung, aku lapar..." ujarnya ketus, lalu berjalan pongah mencari tempat duduk.
"Dasar itik...." dengus Stefan, berjalan di belakang Charty.
Keduanya memilih duduk di indoor karena ada AC dan sofa yang empuk, diluar memang bagus tapi terlalu ramai dan bau rokok.
"Pesan saja yang kamu mau, anggap sebagai permintaan maafku yang sudah bohong sama kamu..."
Charty yang masih kesal tidak menjawab hanya mengangguk saja. Setelah itu kedua makan malam bersama sambil menikmati pemandangan kota bandung, hingga akhirnya tidak terasa langit pun sudah menjadi gelap.
Sebelum pulang Stefan mengajaknya berjalan-jalan disekitaran taman yang diterangi lampu-lampu hias. Mereka berdua duduk di kursi taman sambil menikmati angin segar udara perbukitan.
"Aku menyukaimu Chartiana...., Aku sungguh tidak ingin kontrak konyol itu berakhir, ayo kita menjalin hubungan yang sesungguhnya tidak berdasarkan kontrak lagi..." tiba-tiba Stefan mengungkap isi hatinya.
Tentu saja Charty langsung terkaget-kaget mendengarnya, ia sendiri tidak bisa menepis rasa ketertarikannya pada sahabat kakaknya ini. Tapi kalau ia menerima begitu saja, untuk apa dia begitu lama menyimpan rasa cinta pada kakak tirinya.
"Hmm...., Maaf kak...Aku tidak ingin pacaran dengan kak Stefan..." tolaknya, entah kenapa tiba-tiba ia merasa gugup.
"Tidak ingin pacaran...?? Tapi dia juga yang memulai semua ini..." monolog Stefan.
"Apa karena kak Jeremy...?? Kamu jadi merasa tidak enak padanya kalau menjalin hubungan asmara denganku..." seru Stefan.
Charty mengigit bibirnya sebelum menjawab pertanyaan itu ia memikirkan. "Selama ini kak Stefan pasti sudah salah paham soal perasaanku, tapi aku gak mau kak Stefan tahu soal rasa sukaku pada kak Jimmy, tidak mungkin juga aku menceritakan alasanku yang sebenarnya kenapa malam itu masuk ke kamar kak Jimmy dan menyerangnya, aaaggh pusing...!! Kenapa jadi begini sih....!!"
Sebelum menjawab Charty menghela nafas panjang. "Bukan karena itu kak....., Aku sebenarnya...." Charty hendak menjawab.
"Jeremy menyetujui hubungan kita..." lanjut Stefan memotong kata-kata Chartiana.
Deg...!!
Chartiana menatap Stefan dengan wajah kaget.
"Tenang saja Jeremy tidak tahu menahu soal hubungan kita sebagai pacar kontrak, waktu di villa kemarin, aku hanya meminta ijin pada kakakmu dan dia setuju. Jadi tidak ada salahnya bukan, toh....Sejak kecil aku sudah mengenal kamu, yah...walaupun kita sering bertengkar kalau bertemu. Tapi sekarang kita tidak seperti itu lagi, apa yang telah terjadi diantara kita sudah membuat aku jatuh cinta padamu Chartiana...." Stefan menatap lekat wajah cantik Chartiana sambil menggenggam tangannya erat. Tidak disangka kata-kata cinta meluncur juga dari mulutnya, Charty merupakan wanita pertama baginya, belum pernah ia merasakan rasa ketertarikan sekuat ini pada seorang wanita.
Namun perasaan itu belum terbalaskan, saat ini hati Chartiana terasa amat sakit, saat tahu kalau kakak tirinya telah merestui Stefan menjalin hubungan dengannya. "Jadi selama ini kak Jimmy tidak pernah melihatku sebagai seorang wanita, selama ini perasaan cintaku hanya bertepuk sebelah tangan..."
Mau menangis rasanya mengetahui kenyataan ini, tapi tidak bisa......, Chartiana ingin tetap menjaga rahasia terbesar dalam hidupnya. Segera ia menepis genggaman tangan Stefan, lalu berdiri dari kursi taman.
"Ini sudah larut kak, aku mau pulang, takut ayah dan bunda khawatir...." ujar Charty dengan tatapan kosong.
Stefan nampak kecewa karena Charty tidak membalas kata-kata cinta darinya, tapi ia sendiri tidak mau memaksa, mungkin Chartiana sedang butuh waktu, apa karena mereka sudah lama saling kenal sejak kecil, jadi ada banyak hal yang mau Charty pertimbangkan dahulu, pikir Stefan.
.
.
Stefan mengantarkan Charty pulang ke rumahnya, mereka sampai di jakarta saat tengah malam.
"TAK..." Charty melepaskan seat belt-nya.
"Kak Stefan..." serunya tiba-tiba.
"Iya..." Stefan langsung menatapnya dengan wajah berseri-seri, berharap ada balasan kata-kata cinta dari mulut Charty.
Namun....
"Setelah kontrak kita berakhir, aku tidak ingin lagi berhubungan dengan kak Stefan..., segala yang sudah terjadi diantara kita, lebih baik kakak lupakan saja, aku tidak bisa menjadi pacar sungguhan mu kak" ujarnya lirih dengan wajah datar.
Hati Stefan sakit mendengar perkataan itu, serasa ada batu kali yang sedang menghantam jiwanya, sikap Charty yang suka berubah-ubah benar-benar membuat Stefan bingung, lidah Stefan jadi terasa kelu, hatinya merasa sangat kecewa sampai tidak sanggup berucap apapun.
"Blam..." pintu mobil ditutup begitu saja, tanpa menoleh ke belakang Chartiana masuk ke dalam rumahnya.
.
.
Ia berjalan terhuyung-huyung menuju lantai atas.
"Kenapa kamu baru pulang jam segini...." tiba-tiba muncul suara berat menghentikan langkah kaki Charty saat hendak menaiki tangga.
"Kak Jimmy..." ujarnya dengan tatapan datar saat melihat kakak tirinya itu.
"Bunda sangat khawatir karena kamu belum pulang dan tidak memberikan kabar. Makanya kakak sengaja menunggumu, menggantikan bunda yang sejak semalam juga menanti kamu pulang..." ujar Jeremy dengan ketus.
"Kakak gak perlu repot menungguku, kak Stefan sudah pasti akan mengantarkan aku sampai di rumah dengan selamat..." Chartiana tidak kalah ketus.
"Iya kakak tau, makanya tadi kakak sempat mengirim pesan pada Stefan."
"Kalau sudah tahu aku akan pulang larut, kenapa kakak tetap menunggu aku pulang...!!" pekik Charty dengan tatapan marah.
"Yah..., Gak ada salahnya aku nungguin kamu, aku hanya mau memastikan kamu memang betul-betul pulang ke rumah malam ini...."
Mendengar itu Chartiana tersenyum culas. "Aku sudah dewasa kak, aku gak butuh lagi perhatian dari kakak, mulai sekarang jangan pernah peduli sama aku...!!, Pedulikan saja teman-teman wanita kakak...!!" umpatnya.
"Hei... Charty...!!" panggil Jeremy, namun Chartiana buru-buru berlari memasuki kamarnya.
Dia sudah tidak peduli lagi, sudah tidak ingin menyimpan perasaan cinta terpendam, lelah rasanya saat tahu kalau selama ini perasaan cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, tidak akan terbalaskan sampai kapanpun.
Di dalam kamarnya Charty terus menangis meraung-raung, membasahi seluruh bantal tidurnya. "Aku muak....,Aku gak mau lagi berhubungan sama mereka berdua...!!" Charty berteriak kesal, sambil memukul bantal.
Sembari terus menangis ia meraih ponselnya, dan mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang.
"Vivi tolong bantu aku...." chat Charty.
.
.
"Tumben larut malam gini lu chat gua..., Ada apa beb...??" balasan pesan dari Vivian.
"Bantuin gua cari cowok ganteng dong..., Gua mau secepatnya move on dari kak Jimmy..." chat Charty.
Baik Stefan maupun Jeremy, keduanya sudah membuat Chartiana menjadi muak sekaligus marah.
Bersambung~
...****************...
#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️
Jangan lupa meninggalkan jejak kebaikan dengan Like, Subscribe, dan Vote ya...~ biar Author makin semangat menulis cerita ini, bentuk dukungan kalian adalah penyemangat ku...😘😘😘