Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Atas Dek
Suara letusan senjata api terakhir bergaung membelah sunyinya kabut pagi di atas dek utama kapal kargo ketika pintu ruang kemudi berhasil dijebol oleh tendangan keras Aleyna.
Brak!
Komandan operasi penculikan itu berlutut dengan tubuh gemetar di atas lantai kayu dek yang basah oleh sisa air laut. Kedua tangannya terangkat tinggi ke atas udara, menatap dengan pandangan tidak percaya dan penuh ketakutan ke arah enam gadis remaja berseragam sekolah yang kini berdiri mengelilinginya di bawah siraman cahaya fajar yang mulai menyembul di ufuk timur.
Di sekelilingnya, belasan anak buahnya telah tumbang berceceran di atas dek, sebagian besar lumpuh akibat taktik berdarah dingin yang dilakukan oleh siswi-siswi kelas X-A ini selama pertempuran di koridor tadi.
Eriza Tryanaz berdiri paling depan. Ujung belati karambit-nya yang tajam menempel tepat di bawah dagu sang komandan, membuat setitik darah segar meleleh di atas kerah jaket taktis pria itu. Kulit putih porselen Eriza tampak sedingin es pagi tanpa ekspresi emosi sedikit pun.
"Siapa yang menyuruh lo?" tanya Eriza, suaranya terdengar datar namun sarat akan ancaman kematian yang pekat.
"Kar-kartel utara... mereka mau pakai lo buat hancurin reputasi orang tua lo..." jawab pria itu dengan suara parau ketakutan. "Mereka gak tahu... mereka gak tahu kalau data murid di kelas itu semuanya dikunci... Kami bingung yang mana wajah Ratu Kematian... jadi kami bawa kalian semua..."
"Salah sasaran yang sangat mahal, bukan?" Miya Fynezayn menimpali sembari menyeka noda darah samar di pipi putih bersihnya dengan ujung lengan seragam sekolahnya yang kini kotor. Logat asingnya yang kental terdengar sangat berwibawa di bawah sinaran matahari pagi yang mulai mengusir kegelapan samudra.
Tiba-tiba, dari arah cakrawala timur, suara deru baling-baling helikopter besar terdengar mendekat dengan kecepatan tinggi, membelah kabut laut yang tebal. Tiga buah helikopter taktis berwarna hitam pekat dengan lambang jaringan mafia Breynerlanz muncul di udara, bersiap melakukan pendaratan darurat di atas dek utama kapal kargo yang luas. Pasukan inti Dion Breynerlanz akhirnya berhasil melacak lokasi setelah Camellia sengaja membuka kembali kunci enkripsi GPS mereka beberapa menit yang lalu atas persetujuan bersama.
"Bokap gue datang," ucap Azrint dengan napas lega. Tubuh modelnya yang setinggi seratus tujuh puluh duasentimeter tampak rileks saat melihat helikopter ayahnya. Kulit perinya yang pucat kini merona kembali diterpa cahaya matahari pagi, mempertegas kecantikannya yang anggun di tengah kekacauan ini.
"Amel, hapus semua rekaman CCTV kapal ini sekarang. Jangan tinggalkan satu pun jejak digital tentang apa yang kita lakukan di koridor dan ruang palka tadi," perintah Fyrline Zyornaland cepat. Dia kembali membetulkan letak kacamata baca berbingkai tipisnya yang sempat ia temukan di meja kapten. Wajah manipulatornya kembali memasang topeng sebagai siswi kutu buku yang manis dan penakut dalam sekejap mata.
"Udah beres dari lima menit yang lalu, Kutu Buku. Semua sistem peladen kapal ini udah gue bersihkan total," jawab Camellia dengan senyuman imut yang kembali terpasang sempurna di wajah baby face-nya, menyembunyikan sisi liciknya jauh ke dalam lubuk hati.
Aleyna mengambil jaket kulitnya yang sempat disita di ruang palka, menyampirkannya ke bahu tegapnya sembari melirik lima gadis di sekelilingnya dengan pandangan serius. "Jadi... mulai besok hari Selasa di kelas, kita balik bersikap kayak orang asing lagi?"
Eriza menarik belatinya dari dagu sang komandan, menyisipkannya kembali ke balik pinggang rok seragam spannya dengan gerakan yang sangat efisien dan senyap. "Ya. Itu aturan pertamanya. Kita gak saling mengenal, kita gak saling mengusik. Apa yang terjadi di kapal ini... tetap tinggal di kapal ini. Fokus pada diri masing-masing."
Miya tersenyum misterius, merapikan beberapa helai rambut pirang ikalnya yang keluar dari tataan sanggul modernnya. "Agreement yang bagus. Gue gak punya waktu buat terlibat dalam drama pertemanan geng remaja lokal."
Saat helikopter pertama mendarat dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga dan puluhan pasukan bersenjata lengkap milik Dion Breynerlanz melompat turun untuk menyelamatkan Azrint, keenam gadis itu secara serentak mengubah gestur tubuh dan ekspresi wajah mereka dalam hitungan detik.
Azrint kembali bersikap manja dan menangis ketakutan seolah dia adalah korban yang paling menderita Fyrline menunduk gemetar di balik kacamatanya sembari memegangi buku sastranya Camellia berpura-pura menangis histeris di pelukan Aleyna yang memasang wajah garang anak jalanan yang kesal sementara Eriza dan Miya berdiri diam dengan wajah pucat layaknya siswi baru yang syok akibat insiden penculikan tersebut.
Dion Breynerlanz melompat turun dari pintu helikopter dengan pistol revolver emas di tangannya, langsung berlari memeluk putri tunggalnya dengan raut wajah penuh kepanikan yang luar biasa. "Azrint! kamu gak apa-apa, Sayang?! Siapa yang berani menyentuh kamu?!" Raungnya penuh amarah sembari menatap tajam ke arah sisa penculik yang sudah tidak berdaya di atas dek.
"Aku takut, Papa... Mereka bawa kami semua dari gerbang sekolah," ucap Azrint dengan suara bergetar manja yang sangat meyakinkan, menunjuk ke arah lima teman sekelasnya yang sedang memasang wajah trauma buatan mereka.