Avelin, seorang gadis muda yang menikah dengan pria matang bernama Zayn, kini harus menelan pil pahit ketika ia mendapati sang suami telah berselingkuh dengan cinta pertamanya.
Bukannya melabrak, Avelin justru menyusun rencana untuk membalas perbuatan mereka dengan cara yang lebih kejam.
Setelah ia mendapati wanita itu memiliki anak seusianya, ia menjadikan putra satu satunya wanita itu sebagai alat balas dendamnya.
" Velin, aku tahu kamu mendekati aku hanya sebagai alat balas dendammu kepada ibuku. Aku terima semua itu asalkan aku bisa tetap bersamamu. Aku mencintaimu Velin, maukah kau tetap bersamaku meskipun hanya sebagai pionmu?"
Apakah kedekatan mereka selama ini mampu menumbuhkan perasaan cinta di dalam hati Avelin, atau justru hanya kebencian yang mendarah daging dalam dirinya?
Yuk dukung kisah mereka hanya di sini!
Di sarankan membaca dari awal sampai akhir agar tidak mempengaruhi performa karya ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon swetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGADU DOMBA ANAK & IBU
Bruk...
Velin jatuh terduduk di taman kota. Setelah pulang dari rumah ibu mertuanya, ia mampir ke taman kota tempat ia bertemu dengan Bram kemarin. Ia ingin menjauh dari orang orang yang telah mengecewakannya.
" Arrgghhh!!!!!" Teriak Velin. Dadanya terasa sesak bahkan rasanya ia tidak bisa bernafas lagi. Ia tidak peduli dengan tatapan orang orang yang berada di sekitarnya.
" Hiks...."
" Kamu jahat mas!!!!! Kamu laki laki brengsek yang pernah aku temui." Velin berteriak lagi.
" Kenapa kamu lakuin ini padaku? Hiks... Apa salahku padamu mas, hiks.." Velin memukul dadanya sendiri. Sebenarnya ia tidak ingin rapuh. Yang ia inginkan, ia bisa tegar. Hatinya bisa sekuat baja, namun apalah daya Velin yang hanya manusia biasa.
" Hiks.... Hatiku sakit mas"
Tanpa Velin sadari, Bram ada di tempat yang sama. Ia yang melihat Velin begitu terpuruk segera menghampirinya.
" Velin."
Velin mendongak, " Bram.. Hiks... "
Velin mengulurkan kedua tangannya, Bram tahu apa yang di inginkan Velin. Ia segera berjongkok di depan Velin lalu menarik Velin ke dalam pelukannya.
" Hiks... " Isak Velin.
" Tenanglah! Ada aku di sini!" Ucap Bram mengelus punggung Velin. Velin masih terisak di dalam pelukannya.
" Kalau kamu tidak keberatan, berbagi ceritalah padaku." Ujar Bram.
Velin melepas pelukannya, ia menatap Bram dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
" Jangan menangisi pria sebrengsek dirinya. Air matamu terlalu berharga Velin." Ucap Bram mengusap air mata Velin.
" Di.. Dia hamil Bram." Lirih Velin.
" Apa??? Dia hamil anak suami kamu?" Pekik Bram membuat orang di dekatnya menoleh ke arahnya.
" Maaf maaf." Ucap Bram pada mereka.
Bram menatap Velin, " Itu anak suami kamu?"
Velin menggelengkan kepalanya. " Bukan." Sahutnya.
" Lalu? Kenapa kamu menangis kalau itu bukan anak suami kamu?" Tanya Bram tidak mengerti.
" Suamiku mandul, tapi hal ini hanya aku yang tahu." Sahut Velin.
" Kenapa kamu tidak memberitahunya?" Ujar Bram.
" Aku akan memberi tahu semuanya saat ulang tahun suamiku nanti." Sahut Velin.
" Wanita itu hamil dengan orang lain, tapi dia menjebak suamimu untuk bertanggung jawab?" Selidik Bram.
" Iya, dia sengaja memfitnahku mandul. Dengan alasan itu dia bisa menghasut suamiku untuk menjadikan dia wanita simpanannya. Suamiku yang mendapat desakan dari ibunya, dia menerima wanita itu. Dia ingin wanita itu memberikan anak padanya, dan sebagai balasannya suamiku membantu keuangannya." Jelas Velin.
" Wanita itu benar benar berhati busuk." Kecam Bram. Velin merasa senang, setidaknya ada bibit kebencian yang tertanam di hati Bram.
" Tapi meskipun begitu, hatiku sakit Bram. Suami dan ibu mertuaku begitu membela dan menyayangi wanita itu. Padahal mereka telah di bohongi oleh wanita itu." Imbuh Velin.
" Sungguh mereka manusia manusia keji." Ucap Bram.
" Hiks.. Aku mau cerai Bram. Aku tidak mau terlibat hubungan menyakitkan seperti ini." Ujar Velin.
" Tenang saja, aku pasti akan membantumu menceraikan suami brengsekmu itu." Ucap Bram.
" Apa kamu mau bantu aku?"
" Kamu butuh bantuan apa?" Tanya Bram.
" Aku akan menerimamu sebagai kekasihku tapi dengan syarat."
" Benarkah kamu mau menerimaku?" Sorak Bram.
" Iya." Sahut Velin.
" Lalu apa syaratnya? Aku pasti akan memenuhinya." Ujar Bram.
"Aku ingin kamu berjanji padaku, kamu akan selalu mendukungku. Kamu akan membenci wanita itu sebesar aku membencinya." Ucap Velin.
" Aku berjanji padamu. Aku akan mendukungmu. Kalau perlu aku akan membantumu menghukum mereka berdua." Ujar Bram.
" Terima kasih." Velin kembali memeluk Bram.
" Aku mencintaimu Velin." Ungkap Bram mengecup pucuk kepala Velin.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat kedekatan mereka berdua.
...****************...
Di sebuah cafe xx, Velin berjalan menghampiri seseorang yang mengajaknya bertemu.
" Siang tante." Sapa Velin duduk di depannya.
" Nggak perlu basa basi." Sahut wanita yang rupanya Siska.
" Ada perlu apa kamu mencariku?" Tanya Velin menatapnya.
" Ada hubungan apa kamu dengan putraku?"
Deg...
Jantung Velin berdetak kencang. Darimana Siska tahu? Padahal selama ini Velin selalu melakukan pendekatan secara diam diam.
" Pu.. Putramu? Kamu sudah punya anak?" Tanya Velin pura pura tidak tahu.
" Tidak perlu pura pura begitu. Laki laki yang bersamamu di taman semalam, itu putraku." Rupanya seseorang yang melihat mereka berdua adalah Siska. Siska yang niatnya mau pulang malah melihat putranya bersama dengan rivalnya.
" Owh Bram itu putramu. Aku baru tahu." Sahut Velin mengangguk anggukkan kepalanya. Diam diam ia mengirim pesan pada Bram.
" Tidak perlu pura pura di depanku. Aku yakin kamu pasti sudah menyelidiki keluargaku sebelumnya. Kalau tidak, bagaimana kamu tahu kalau aku wanita simpanan suamimu." Ucap Siska.
" Oh sadar juga kalau jadi wanita simpanan rupanya." Sinis Velin.
" Meskipun aku hanya jadi wanita simpanan, tapi aku bangga. Zayn lebih mencintaiku daripada wanita mandul sepertimu." Sindir Siska.
" Kamu yakin aku yang mandul?"
Siska mengerutkan keningnya.
" Bagaimana kalau ternyata mas Zayn yang mandul?" Imbuh Velin.
" Tidak mungkin." Sahut Siska. " Zayn subur, buktinya aku bisa hamil anaknya." Imbuh Siska.
" Itu anak mas Zayn atau bukan, kamu yang paling tahu." Ujar Velin.
" Jangan kurang ajar kamu ya Velin. Asal kamu tahu saja, Zayn sangat mencintaiku. Aku cinta pertamanya yang tidak bisa dia lupakan." Ucap Siska dengan bangga. " Apa kamu tahu?" Siska menatap Velin begitu pun sebaliknya.
" Selama ini Zayn tidak bisa melupakan aku. Dia selalu membantuku setiap aku membutuhkan pertolongan. Bukan hanya di sini, tapi selama aku masih di luar negeri, dia selalu diam diam membantuku. Itu karena apa? Karena dia masih mencintaiku. Yang dia cintai hanya aku, bukan kamu atau wanita lainnya."
Cessss...
Hati Velin terasa perih seperti di iris iris sebilah pedang. Ia ingin menangis namun ia harus bersikap tegar di depan wanita simpanan tidak tahu malu itu.
" Heh cinta." Kekeh Velin. " Bukan kah hubungan kalian hanya sebuah transaksi saja? Mas Zayn membantumu, kamu membantu mas Zayn mengandung anaknya. Kamu tidak akan punya status apa apa. Dan ingat, kamu sudah menandatangani surat perjanjian itu, nyonya Siska." Tekan Velin.
Siska mengepalkan erat tangannya. Ia tidak menyangka jika lawan bicaranya setangguh ini.
" Terserah apa mau kamu katakan. Yang jelas aku akan membuat Zayn lebih memilihku suatu hari nanti." Ucap Siska. " Aku hanya ingin menekankan padamu, jauhi putraku! Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti putraku." Lanjut Siska.
" Kenapa aku tidak boleh menyakiti putramu sedangkan kamu boleh menyakitiku? Bukan kah ini karma yang sudah seharusnya kamu terima?"
Deg...
Siska menatap Velin, " Kalau kamu berani menyakiti putraku sedikit saja, kamu akan tanggung akibatnya." Ancam Siska.
" Sungguh sangat menakutkan ancamanmu nyonya Siska. Tapi sayangnya aku tidak takut. Aku akan melakukan apapun untuk menghancurkanmu dan suamiku." Sahut Velin remeh.
Tidak mau terpancing emosi, Siska segera beranjak dari tempat duduknya. Begitu pun dengan Velin.
" Ingat! Jauhi putraku." Ucap Siska menunjuk wajah Velin.
Velin hendak menjawab, namun ekor matanya melihat sosok Bram yang baru masuk. Ini kesempatan untuk mengadu domba mereka berdua.
Velin mendekat, ia menarik tangan Siska lalu...
" Argh!!!!"
Bruk...
Velin menjatuhkan dirinya ke lantai. Teriakan Velin berhasil menarik perhatian Bram.
" Velin." Teriak Bram berlari menghampiri Velin.
" Kamu tidak apa apa?" Tanya Bram membantu Velin berdiri lalu mendudukkan Velin ke kursi.
" A.. Aku tidak apa apa. Jangan salahkan tante Siska yang mendorongku."
Bram baru sadar ada orang lain di sana. Ia membalikkan badan, ia cukup terkejut melihat ibunya di sana.
" Zayn." Gumam Siska.
" Mama." Gumam Bram. " Kenapa mama menemui Velin? Dan apa kesalahan Velin sampai mama mendorongnya?" Ujar Bram dengan nada tinggi.
" Sa.. Sayang, mama tidak mendorongnya." Ujar Siska.
" Aku melihatnya sendiri ma. Mama mendorong Velin sampai Velin jatuh seperti tadi." Sahut Bram membuat hati Siska terluka.
" Dia yang menarik tangan mama, dia sengaja menjatuhkan diri buat jebak mama." Ujar Siska.
" Kenapa dia jebak mama? Memangnya dendam apa yang dia miliki hah?"
Deg...
Velin tersenyum melihat Siska bungkam. Ia ingin tahu apakah Siska mau mengakui tentang hubungannya dengan suaminya atau tidak.
" Ti.. Tidak ada." Sahut Siska.
Velin menggenggam tangan Bram. " Tante Siska menyuruhku ke sini, dia memintaku untuk menjauhimu. Mama kamu tidak setuju dengan hubungan kita Bram. Aku rasa lebih baik kamu menjauh dariku."
" Apa???" Tanya Bram terkejut. Ia menatap nyalang ke arah mamanya. " Aku mencintai Velin ma, mama tidak perlu ikut campur masalah ini karena aku juga tidak pernah ikut campur masalah mama dengan om Zayn." Ucap Bram.
" Tidak Zayn, mama tidak setuju. Kamu tidak tahu siapa dia nak. Dia.."
" Dia siapa ma? Apa mama mengenalnya?" Tanya Bram memotong ucapan Siska.
" Di... Dia... Dia... "
TBC...