Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 – Penjaga Astralis
Angin dingin berhembus melintasi Arena Celestia, membawa debu dan serpihan batu yang masih melayang akibat kemunculan puluhan Shadow Wraith beberapa saat sebelumnya. Suasana yang tadinya dipenuhi semangat seleksi, kini berubah menjadi pertempuran sungguhan.
Para murid yang semula berdiri tegak dengan seragam latihan mulai berkumpul di belakang para professor. Sebagian wajah mereka dipenuhi oleh ketakutan, sebagian lagi masih sulit mempercayai bahwa musuh yang mereka hadapi bukan lagi bagian dari ujian.
Di tengah arena, Orion berdiri tegak di depan Aurelia. Jubah hitam panjangnya masih berkibar pelan diterpa angin. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian dahinya, sementara sepasang mata abu-abunya masih menatap dingin ke arah puluhan Shadow Wraith yang mengepung mereka dari segala sisi.
Tak ada sedikit pun rasa gentar pada wajah Orion dalam menghadapi makhluk bayangan dihadapannya, seolah makhluk-makhluk itu hanyalah bayangan kecil yang sama sekali tidak berarti.
“Siapa dia?” Bisik Aeron pelan dan Selene langsung menggeleng.
“Aku belum pernah melihatnya.”
Lyra mengerutkan kening, ia merasa pernah melihat pria itu beberapa kali berada di sekitar akademi, tetapi tidak pernah mengetahui siapa sebenarnya sosok tersebut. Sementara itu, Aurelia masih menatap Orion dengan bingung.
“Orion…” Aurelia mengucapkan nama itu hampir tanpa suara. Orion tidak menoleh, tatapannya tetap tertuju kepada para Shadow Wraith.
“Relia.” Suara pria itu terdengar tenang. “Apa kau terluka?” Tanyanya lagi yang masih tidak mengalihkan pandangannya pada makhluk-makhluk bayangan tersebut.
"Tidak." Aurelia menjawabnya.
“Bagus.” Hanya satu kata itu. Namun entah kenapa, mendengar nada bicara Orion membuat Aurelia merasa jauh lebih tenang.
Di sisi lain arena, Kael akhirnya berhasil mencapai mereka bersama Rowan dan Lucien. Saat mereka tiba, Kael langsung berdiri di sisi kanan Aurelia. “Kau baik-baik saja?” Tanya Kael seraya memandang khawatir ke arah adiknya.
“Aku baik-baik saja, kak.” Kael mengangguk singkat sebelum akhirnya mengarahkan tatapannya kepada Orion.
Untuk sepersekian detik, kedua pria itu saling menatap, tidak ada kata-kata, namun udara di sekitar mereka terasa begitu tegang dan Rowan yang berdiri dibelakang Kael berusaha mencairkan suasana.
“Kurasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk saling menatap seperti itu.” Lucien justru sedang mengamati Orion dengan penuh perhatian.
“Aneh,” gumam Lucien. “Aku tidak bisa merasakan aliran mana darinya. Seolah-olah, dia sengaja menyembunyikannya.” Lanjut Lucien. Orion yang mendengar hal itu pun akhirnya menoleh sekilas ke arah Lucien, tatapan abu-abunya terlihat tenang.
“Hal ini merupakan keputusan yang sangat bijaksana,” ucap Orion pelan. “Karena musuh kita bukan hanya yang terlihat.” Terang Orion lagi yang kembali menatap Shadow Wraith yang masih beterbangan di Arena Celestia.
Tepat saat Orion mengakhiri kalimatnya, puluhan Shadow Wraith pun kembali bergerak secara bersamaan. Mereka melesat seperti anak panah hitam, meninggalkan jejak asap pekat di belakang tubuh mereka.
“Mereka datang.” Teriak Selene.
“Formasi.” Aeron menyeru, dan tanpa perlu diperintah dua kali, kelompok Aurelia langsung bergerak. Aeron melompat ke depan sambil melepaskan rentetan anak panah berbalut angin.
“Wind Pierce.” Tiga Shadow Wraith hancur seketika. Di sisi lain, Lyra pun beraksi dengan menjentikkan jarinya.
“Phantom Veil.” Puluhan bayangan Aurelia muncul memenuhi udara. Shadow Wraith yang semula menyerbu ke arah Aurelia mendadak kehilangan sasaran, dan Selene pun segera membuka buku mantranya.
“Terra Shield.” Empat pilar batu muncul dari tanah membentuk perlindungan bagi murid-murid yang belum sempat di evakuasi.
Professor Cedric yang melihat kerja sama mereka pun tersenyum tipis. “Mereka berkembang jauh lebih cepat dari perkiraanku.” Ucapnya yang disetujui oleh Profesor Elowen.
Meski begitu, jumlah Shadow Wraith jauh lebih banyak dari pada yang mereka bayangkan. Setiap kali satu makhluk dihancurkan, dua lainnya seolah muncul dari balik retakan langit. Professor Lyren pun mengangkat tongkatnya.
“Penghalangnya semakin melemah.” Teriaknya yang membuat Aldric mengepalkan tangan.
“Kalau begini terus, retakan itu akan terbuka sepenuhnya.” Sahut Cedric menimpali.
Di balik hutan yang mengelilingi akademi, pria bertopeng putih masih memperhatikan semuanya melalui kristal hitam ditangannya. Bayangan senyum muncul di balik topengnya, seakan ia merasa puas dengan apa yang tengah terjadi saat ini.
“Bagus. Sangat bagus. Pewaris Astralis ternyata dikelilingi oleh orang-orang yang menarik.” Ia pun memutar kristal hitamnya perlahan. “Kalau begitu, mari kita lihat. Siapa yang lebih dulu akan putus asa.” Begitu kalimat itu selesai, retakan dilangit kembali bergetar dan kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya.
Cahaya ungu pekat memancar dari balik celah tersebut, seluruh professor langsung mendongak dan membuat ekspresi Aldric berubah drastis.
“Itu…” professor Cedric membelalakkan kedua matanya. “… tidak mungkin.” Serunya lagi.
Sementara Orion, yang sejak tadi terlihat begitu tenang, akhirnya mengangkat wajahnya ke arah retakan dan untuk pertama kalinya ekspresi wajahnya berubah. Bukannya ia merasa takut, tetapi ia merasa khawatir, hingga ia mengepalkan tangannya perlahan.
“Lima tahun…” gumamnya lirih. “… ternyata mereka tidak menunggu selama itu.” Aurelia yang berdiri dibelakangnya dapat mendengar gumaman yang diucapkan oleh pria bermata abu-abu tersebut.
“Orion?” Panggilnya. Pria itu tidak menjawab, tatapannya terus tertuju pada retakan yang kini semakin membesar. Lalu, dari balik cahaya ungu itu perlahan muncul sebuah tangan raksasa berlapis sisik hitam yang mencengkram tepi retakan, seolah ada sesuatu yang sedang berusaha memaksa masuk ke dunia mereka.
Seluruh Arena Celestia mendadak sunyi, tak ada lagi yang berani berbicara, karena semua orang menyadari satu hal, ancaman yang mereka hadapi sejak tadi baru saja dimulai.