Sinta percaya pernikahan 10 tahun cukup buat bikin dia kenal Mas Arga luar-dalam. Sampai hari itu dia nemu kunci kuning polos di laci meja. Gantungan kulitnya lecet. Bukan kunci rumah mereka.
"Sayang, ini kunci apa?"
"Oh itu... kunci kantor lama. Lupa kebuang."
Sinta ngangguk. Tapi malamnya dia nggak bisa tidur. Wangi parfum asing di jaket suaminya, chat yang dihapus, dan "lembur" yang makin sering. Rasa curiga itu tumbuh kayak jamur.
Dia mulai nguntit. Dia ngitung lampu apartemen Lantai 7 Unit 704 nyala jam berapa. Dia ketemu "R" - cewek berdress hitam dengan senyum yang bikin darah Sinta dingin.
Semakin Sinta gali, semakin hancur dunianya. Ada kebohongan, ada anak yang mulai bertanya "Ibu kenapa nangis?", ada mertua yang bela anaknya, dan ada pilihan paling berat: memaafkan yang nyakitin, atau balas dengan cara yang lebih sakit?
karena kadang, yang paling dekat..... paling pandai menyimpan kunci cadangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Yang Nemu Plaster
BEKASI.
Rumah tua udah jadi museum. Namanya "Museum Plaster Keluarga". Tiket gratis.
Penjaganya: Rayya umur 69. Udah ubanan. Jalan pake tongkat. Tapi suaranya masih kenceng.
Ara umur 64. Udah pensiun. Anaknya 3 udah gede semua.
Luna umur 60. Jadi dosen psikologi.
Naya umur 62. "Sekolah Plaster" nya udah ada di 20 kota. Punya 4 cucu.
Dimas suami Naya udah wafat 2 tahun lalu.
Fokus kita: ARGA KECIL.
Nama lengkap: Arga Rayya Permana II.Umur 10 tahun.
Cucu dari Naya. Anak dari murid pertama Naya di "Sekolah Plaster" dulu.
Ibuknya: Rani. Cerai umur 25. Bapaknya kabur.
Arga kecil tinggal sama Naya + 3 adiknya di rumah Bekasi.
Ciri Arga Kecil: Pendiem. Suka nyendiri. Kantongnya selalu ada 1 plester Hello Kitty. Pemberian Naya waktu umur 7 tahun.
Hari 1: Bully di Sekolah
SD Plaster. Kelas 4.
Arga duduk paling belakang.
Jam istirahat. Anak-anak pada main.
Tiba-tiba ada 3 anak dateng. "Eh anak panti asuhan!"
Arga diem.
"Katanya Sekolah Plaster. Sekolah anak orang tua cerai ya?" Sambil ngeledek + dorong.
Plester di kantong Arga jatuh. Diinjek.
Arga nggak nangis. Dia pungut plesternya. Dilurusin. Dimasukin lagi. Terus masuk kelas.
Pulang sekolah dia nggak cerita ke Naya.
Hari 3-7: Diam
Naya ngerasa ada yang aneh. "Arg, kamu kenapa?"
"Ngga apa-apa Tante."
Tapi Arga nggak mau makan. Nggak mau main. Tidur jam 9.
Malam hari ke-7. Naya masuk kamar Arga. Lampu mati.
Denger suara isakan pelan.
Naya nyalain lampu teplok. "Arg... sini."
Arga peluk Naya. Baru nangis. Kejer. "Tante... aku capek... dibilang anak cerai..."
Naya elus kepala. "Sakit ya Nak?"
" Sakit. Sakitnya kayak... kayak di dalem. Nggak keliatan."
Naya ngeluarin plester dari kantongnya. Tempel di dada Arga. "Ini buat lukanya. Yang nggak keliatan."
Keputusan Naya: "PROYEK PLASTER KELILING"*
Naya umur 62. Tapi dia gas. "Arg, mau ikut Tante nggak? Kita keliling. Cerita ke anak-anak lain."
Arga angguk.
Jakarta
Mereka ke 10 SD. Naya cerita. Arga yang maju.
Arga pegang mic. Gemeter. "Halo... nama aku Arga. Umur 10. Ibuku cerai. Bapakku nggak ada."
Anak-anak diem.
"Aku dulu malu. Aku sembunyi. Terus Tante Naya kasih aku ini." Dia angkat plester.
"Plester ini nggak nyembuhin. Tapi ngingetin aku... aku boleh sakit. Dan aku boleh sembuh."
Abis itu 20 anak ngantri peluk Arga.
Surabaya. Rumah Singgah Plaster punya Om Rayya
Rayya peluk Arga kenceng. "Cucu! Mirip Kakek kamu!"
Arga malu.
Malamnya "Lingkar Cerita". Arga duduk paling kecil.
Ada Mas umur 20. "Aku benci bapakku. Karena selingkuh."
Ada Mbak umur 18. "Aku benci ibuku. Karena milih selingkuhan."
Arga angkat tangan. "Aku... aku nggak benci bapakku. Aku cuma... kangen."
Semua diem. Terus Rayya nangis. "Pinter kamu Nak."
Balik Bekasi. Masalah Baru
Surat dateng. Dari Bapaknya Arga.
Isinya: "Aku mau ketemu Arga. Aku udah nikah lagi. Punya anak baru. Tapi aku kangen."
Rani ibunya Arga panik. "Nggak boleh! Dia ninggalin kita!"
Naya diem. Nanya ke Arga: "Kamu mau Nak?"
Arga 3 hari nggak tidur. Mikir.
Hari ke-4. Dia jawab: "Aku mau ketemu Tante. Tapi di Museum. Sama semua orang."
Museum Plaster.
Dateng: Bapaknya. Umur 40. Gendong bayi. Sama istri baru.
Rayya, Ara, Luna, Naya, Rani semua ada. 30 orang.
Bapaknya nunduk. "Arga... maaf ya Nak... Bapak jahat..."
Arga diem. 1 menit. Terus maju.
Dia ngeluarin 2 plester.
1 ditempel di tangan Bapaknya. "Ini buat Bapak. Biar Bapak inget... salah itu sakit."
1 ditempel di tangan bayinya. "Ini buat adik. Biar adik nggak ngerasain kayak aku."
Terus Arga peluk Bapaknya. 5 detik. Lepas.
"Aku maafin Bapak. Tapi aku nggak mau tinggal sama Bapak. Aku mau tinggal sama Tante Naya. Sama keluarga."
Bapaknya nangis. "Iya Nak."
3 Bulan Kemudian: "GERAKAN 1 JUTA PLASTER ANAK"
Arga yang inisiasi. Umur 10 tahun.
Idenya: Tiap anak di Indonesia pegang 1 plester. Dan tulis di belakangnya: "Aku berhak bahagia walau ortu retak."
1 bulan: 100 ribu anak ikut.
3 bulan: 1 juta anak. Foto mereka pegang plester diupload. Tagar #AkuAnakPlaster
Presiden dateng ke Museum. Salim sama Arga. "Kamu hebat Nak."
Arga jawab: "Saya nggak hebat Pak. Saya cuma... di ajarin sama Tante saya. Kalo retak itu nggak apa-apa. Yang nggak apa-apa itu... diem aja."
Malam Tahun Baru di Rumah Bekasi
Semua kumpul. 4 generasi. 50 orang.
Rayya umur 70. Pidato pake tongkat. "Dulu Kakek kita bikin plester buat orang dewasa. Sekarang cucu kita bikin plester buat anak-anak."
Dia nengok ke Arga. "Nak, naik sini."
Arga naik kursi. Gemeter.
"Nak, kamu tau nggak kenapa plester kita Hello Kitty?"
"Karena... karena lucu Kek?"
"Bukan." Rayya ketawa. "Karena Kakek kamu dulu bilang: 'Biar lukanya nggak serem. Biar orang berani nempelin'."
Rayya ngeluarin plester emas terakhir peninggalan Nenek Sinta.
Ditempel di kening Arga. "Ini plester terakhir dari Nenek. Sekarang giliran kamu yang nyebarin."
Arga pegang plester itu. Air mata jatuh. "Siap Kek."
5 Tahun Kemudian. Arga Umur 15.
Arga udah SMP. Tingginya udah 170.
Dia jadi duta "Sekolah Plaster". Tiap minggu keliling.
Suatu hari dia ke Papua lagi. Tempat Naya pernah ngajar.
Ada anak kecil umur 7. Namanya juga *Arga.*
Anak itu kasih dia gambar. Gambar 2 orang pegang tangan. Di tengahnya ada plester.
"Buat Kakak." Kata anak itu.
Arga nangis.
Dia foto. Kirim ke grup keluarga. Caption: "Lingkaran udah muter Kek. Dari Kakek. Ke Tante. Ke Aku. Ke dia."
Arga Umur 20.
Arga kuliah psikologi. Skripsinya: "Efek Plaster Hello Kitty terhadap Trauma Anak Korban Perceraian."
Nilai: A+.
Dia wisuda. Yang ngalungin: Naya umur 67. Rayya umur 74.
Rayya bisik: "Kek kamu bangga Nak."
Abis wisuda Arga ke makam. 3 makam: Arga, Sinta, Yaya.
Dia duduk. Taruh 3 plester.
"Kek... Nek... Ma... Aku lanjutin ya..."
Angin tiup. Pohon melati rontok 3 helai. Jatuh pas di atas plester.
Di langit, 4 bintang. *Arga. Sinta. Yaya. Dimas.*
Di tembok Museum, ada tulisan baru. Tulisan Arga umur 10:
"AKU ANAK CERAI. DAN AKU BANGGA. KARENA AKU ANAK PLASTER. 2145"
Di bawahnya, tulisan Rayya umur 74:
"DAN KAMI BANGGA SAMA KAMU NAK."