Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Jebakan yang Ditetapkan Sendiri
Zerrin tidak pernah bertindak tergesa-gesa. Bagi dia, menyerang secara langsung hanya akan memicu pertempuran yang tidak perlu dan menimbulkan kerusakan yang bisa dihindari. Cara terbaik untuk menjatuhkan musuh adalah membuat mereka meruntuhkan posisi mereka sendiri — dengan menggunakan kelemahan, keserakahan, dan ambisi mereka sebagai senjata utama.
Di dalam Klan Felix, situasi mulai terlihat semakin jelas. Rico Santoso merasa semakin aman karena selama seminggu terakhir tidak ada tindakan atau teguran dari pemimpinnya. Ia mengira Zerrin hanya sibuk mengurus urusan lain dan tidak menyadari gerak-geriknya. Rasa percaya diri yang berlebihan itu membuatnya semakin berani, bahkan mulai mengurangi kewaspadaannya.
“Jika dia benar-benar waspada, dia pasti sudah menegurku atau membatasi gerakanku,” gumam Rico pada dirinya sendiri sambil membaca laporan dari utusannya. “Dia masih muda, meskipun cerdas, dia pasti tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk mengawasi setiap sudut klan ini. Waktuku semakin dekat.”
Namun yang tidak ia ketahui, setiap langkahnya sudah dipantau dengan cermat. Setiap pesan yang dikirim, setiap pertemuan yang diadakan, bahkan setiap kata yang diucapkannya sudah tercatat rapi oleh mata-mata yang ditempatkan Zerrin.
Suatu sore, Zerrin memanggil Rico untuk datang ke ruang kerjanya di markas utama. Wajahnya terlihat tenang, bahkan terasa lebih ramah dari biasanya , sikap yang justru membuat Rico merasa sedikit curiga, namun ia berusaha menyembunyikannya.
“Anda memanggilku, Queen?” tanya Rico dengan nada sopan, namun matanya tetap mengamati setiap ekspresi di wajah Zerrin.
Zerrin menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. “Aku mendengar bahwa kau memiliki banyak koneksi dan pengalaman di wilayah selatan. Karena itu, aku ingin memberimu tugas khusus. Ada jalur perdagangan baru yang terbuka, dan aku ingin kau yang memimpinnya. Ini akan menjadi kesempatan bagimu untuk membuktikan kesetiaan dan kemampuanmu.”
Mendengar itu, mata Rico berbinar. Jalur perdagangan itu dikenal memiliki keuntungan yang sangat besar, dan menjadi pemimpinnya berarti ia bisa menguasai aliran uang dan barang dalam jumlah yang cukup untuk memperkuat posisinya sendiri. Rasa curiganya perlahan hilang, digantikan oleh rasa senang yang meluap.
“Terima kasih banyak, Queen! Saya tidak akan mengecewakan kepercayaan ini!” jawabnya dengan semangat, tanpa menyadari bahwa ia baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan yang sudah dipersiapkan sempurna.
Zerrin hanya tersenyum tipis. “Bagus. Ingat, aturan tetap berlaku. Setiap transaksi harus tercatat rapi, dan semua laporan harus diserahkan tepat waktu. Jangan sampai ada hal yang tidak jelas.”
“Tentu saja, Queen! Saya akan mengurusnya dengan sangat teliti!”
Setelah Rico pergi dengan perasaan gembira, Tuan Han yang berdiri di sudut ruangan mendekat dengan pandangan bertanya.
“Queen, apakah ini aman? Memberikan akses ke jalur sebesar itu padanya berarti memberinya kekuatan yang lebih besar untuk bergerak bebas,” tanyanya dengan nada khawatir.
Zerrin menggeleng pelan, matanya menyipit tajam. “Justru itulah tujuannya, Tuan Han. Rico adalah orang yang tidak bisa menahan godaan. Semakin besar kekuasaan yang ia pegang, semakin cepat ia akan tergelincir. Ia akan mulai mengambil keuntungan lebih untuk dirinya sendiri, melanggar aturan, dan membuat kesalahan yang tidak bisa ditutupi lagi. Kita hanya perlu menunggu bukti itu terkumpul dengan sendirinya.”
Sementara itu, di sekolah, serangan balasan terhadap Vania juga mulai disusun dengan cara yang tidak terduga. Claudia tahu bahwa Vania bertindak karena rasa iri dan ingin menjatuhkan nama baiknya, sehingga cara terbaik bukanlah membalas dengan kejahatan yang sama, melainkan menampakkan sifat aslinya di hadapan semua orang, sehingga ia kehilangan dukungan yang selama ini ia andalkan.
Claudia mulai mengamati kebiasaan Vania. Ia menemukan bahwa Vania sering meminjam barang milik teman-temannya, namun sering kali mengembalikannya dalam keadaan rusak atau hilang, lalu menyalahkan orang lain atau keadaan agar tidak terlihat bersalah. Ia juga sering mengubah perkataan orang lain untuk membuatnya terlihat buruk di hadapan guru.
Claudia memutuskan untuk membuat bukti yang tak terbantahkan. Ia meminta bantuan diam-diam kepada Arjuna dan teman-temannya yang kini telah menjadi pendukung setianya untuk membantu merekam setiap kejadian secara tidak mencolok.
Suatu hari, saat persiapan pameran karya siswa, Vania sengaja menumpahkan air ke atas lukisan yang dibuat oleh Claudia, lalu berteriak keras agar orang-orang melihat.
“Aduh! Bagaimana ini? Lukisan ini rusak parah! Padahal saya hanya ingin memindahkannya ke tempat yang lebih aman, tapi tiba-tiba gelas air ini tergelincir sendiri…” ujarnya dengan nada sedih dan panik, seolah ia adalah korban dari kecerobohan yang tidak disengaja.
Beberapa siswa yang melihat mulai merasa kasihan, dan ada yang mulai berbisik bahwa mungkin Claudia kurang berhati-hati meletakkan barang-barangnya. Namun sebelum tuduhan itu meluas, Claudia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah sudut ruangan.
“Kita tidak perlu menebak-nebak lagi. Ada kamera pengawas yang dipasang di sini untuk menjaga keamanan barang-barang pameran. Kita bisa memutar rekamannya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Claudia dengan tenang.
Wajah Vania langsung berubah pucat. Ia lupa bahwa ruangan itu baru saja dipasangi kamera minggu sebelumnya. Ia mencoba mencari alasan. “Tidak perlu… ini hanya kesalahan kecil saja, tidak perlu diperbesar…”
Namun Claudia sudah memanggil petugas keamanan sekolah. Dalam waktu singkat, rekaman diputar di hadapan guru dan siswa yang berkumpul. Terlihat jelas di layar: Vania sengaja mendekatkan gelas air ke lukisan itu, lalu menjatuhkannya dengan gerakan yang disengaja, sebelum berpura-pura terkejut dan sedih.
Keheningan melanda ruangan itu. Semua orang menatap Vania dengan pandangan kaget dan kecewa. Sikapnya yang selama ini terlihat rapi, sopan, dan berhati-hati ternyata hanyalah topeng belaka.
“Vania, apa arti semua ini?” tanya guru pembimbing dengan nada kecewa yang mendalam. “Selama ini kau selalu kami percayai sebagai siswa teladan, tapi ternyata kau berbuat hal sekejam ini?”
Vania berdiri kaku, tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, tidak ada alasan yang bisa menutupi kenyataan yang terlihat jelas di depan mata semua orang. Air matanya mengalir bukan karena rasa bersalah, tapi karena rasa malu dan ketakutan akan nasibnya selanjutnya.
Claudia mendekatinya, dan berbicara dengan suara yang cukup didengar oleh mereka berdua saja.
“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya, bukan? Jika kau ingin bersaing, lakukanlah dengan kemampuanmu sendiri. Tapi kau memilih jalan yang salah, dan kini kau harus menanggung akibatnya. Ini bukan kejahatan yang aku lakukan padamu, tapi konsekuensi dari apa yang kau pilih sendiri.”
Hari itu, nama baik Vania hancur seketika. Ia mendapat sanksi keras dari sekolah, kehilangan kepercayaan guru dan teman-temannya, serta posisinya sebagai siswa teladan dicabut. Rasa iri dan keinginan untuk menjatuhkan orang lain justru membuatnya terjatuh lebih dalam daripada yang pernah ia bayangkan.
Sementara itu, di dalam klan, rencana terhadap Rico mulai membuahkan hasil. Seperti yang diduga Zerrin, begitu memegang kendali atas jalur perdagangan yang menguntungkan, Rico tidak bisa menahan godaan. Ia mulai memotong sebagian keuntungan untuk dirinya sendiri, membuat transaksi tanpa catatan resmi, dan bahkan menjual barang dengan harga lebih murah ke pihak luar untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang lebih besar.
Setiap langkah itu tercatat dengan rapi. Dalam waktu dua minggu, bukti-bukti yang cukup untuk menjatuhkannya sudah lengkap dan tak terbantahkan.
Puncaknya terjadi saat Rico mencoba mengirimkan kiriman barang besar ke kelompok saingan tanpa sepengetahuan pusat. Saat barang itu sampai di titik pertemuan, pasukan yang dipimpin Karim sudah menunggu di sana, menangkapnya beserta bukti dokumen dan surat perjanjian kerjasama yang ia buat secara diam-diam.
Malam itu, Rico dibawa ke ruang pertemuan utama, berdiri di hadapan Zerrin dan seluruh kepala kelompok lainnya. Wajahnya sudah tidak lagi memiliki kebanggaan dan kepercayaan diri, hanya rasa takut yang nyata.
“Rico Santoso, selama ini kau telah melanggar aturan klan, menyalahgunakan kepercayaan, mengambil keuntungan secara tidak sah, dan berusaha menjalin kerjasama dengan pihak luar untuk merugikan kepentingan kita,” ujar Zerrin dengan suara lantang dan tegas, sambil menampakkan semua bukti di hadapan semua orang. “Apa jawabanmu?”
Rico mencoba mencari alasan, namun melihat bukti yang lengkap dan tatapan marah dari rekan-rekannya, ia akhirnya menyadari bahwa tidak ada jalan keluar lagi. Ia jatuh berlutut, memohon ampun dengan suara terisak.
“Saya salah… saya tergoda oleh keuntungan dan ambisi saya sendiri… tolong berikan saya kesempatan terakhir, Tuanku!”
Namun Zerrin menggeleng pelan. “Kesempatan sudah diberikan saat aku memercayaimu memegang tugas itu. Kau yang memilih untuk mengkhianatinya. Sama seperti Marco, kau tidak mengerti bahwa kekuasaan dan kepercayaan bukanlah hak yang bisa diambil sesuka hati, tapi tanggung jawab yang harus dijaga dengan segenap hati.”
Keputusan diambil: seluruh hak dan posisinya dicabut, kekayaannya yang didapat secara tidak sah disita, dan ia diasingkan ke tempat yang sama dengan Marco, sehingga ia bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya hidup dalam penyesalan dan keputusasaan.
Setelah urusan ini selesai, suasana di dalam klan menjadi lebih tenang dan tertib. Semua anggota menyadari bahwa pemimpin baru ini tidak hanya cerdas, tapi juga tegas dan adil , ia memberikan kesempatan, namun juga memberikan hukuman yang setimpal bagi siapa pun yang berbuat salah.
Di sekolah, nama baik Claudia justru semakin terangkat. Semua orang melihatnya sebagai sosok yang tenang, jujur, dan mampu membuktikan kebenaran tanpa harus menggunakan kekerasan atau fitnah. Bahkan Adrian dan Brian semakin bangga melihat bagaimana adiknya mampu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Namun Zerrin tahu, meskipun dua musuh ini sudah disingkirkan, dunia yang ia jalani tidak akan pernah benar-benar bebas dari tantangan. Selama ada kekuasaan, ada yang ingin merebutnya; selama ada keunggulan, ada yang merasa iri.
Namun kini ia memiliki keyakinan yang lebih kuat. Ia telah membuktikan kemampuannya di kedua dunianya, mendapatkan dukungan yang solid, dan menunjukkan kepada siapa pun bahwa ia tidak akan mudah digoyahkan.
Malam itu, saat ia berdiri di balkon rumahnya memandang bintang-bintang di langit, ia tersenyum tenang.
“Setiap tantangan yang datang hanyalah batu loncatan untuk menjadi lebih kuat. Siapa pun yang berani melangkah ke jalur yang salah, akan selalu mendapatkan apa yang pantas mereka terima , tidak perlu aku yang menjatuhkan mereka, karena mereka sendiri yang akan menggali lubang tempat mereka terjatuh.”
Babak baru yang lebih tenang dan teratur pun dimulai, namun Zerrin tetap siap siaga, mengetahui bahwa di balik ketenangan itu, bisa saja ada ancaman baru yang menunggu untuk muncul.
**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**