NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Setelah selesai memandikan Felia dan menyerahkan balita itu kembali kepada suster untuk dipakaikan baju, Amira masuk ke kamar mandinya sendiri.

Guyuran air hangat sedikit meringankan kepenatan di tubuhnya, namun tidak dengan pikirannya.

Kini, Amira berdiri di depan lemari pakaian di kamarnya, termangu dalam kebingungan yang mendalam.

Ia bingung memilih pakaian yang pantas untuk makan malam di luar bersama seorang CEO malam ini.

Rasa mindernya terhadap Anita yang tampil begitu berkelas dan elegan tadi siang masih membekas kuat, merenggut seluruh rasa percaya dirinya.

Terlebih lagi, ia menyadari sebuah kenyataan pahit: ia tidak membawa pakaian apa pun dari Yogyakarta, dan Daniel memang masih belum membelikan ia pakaian baru sama sekali setelah pernikahan mendadak mereka.

Satu-satunya pakaian yang ia miliki hanyalah beberapa helai baju sederhana yang ia kenakan saat pertama kali dipindahkan ke rumah ini.

Tok Tok Tok.

Ketukan lembut di pintu memecah lamunan Amira.

Saat ia membuka pintu, Daniel sudah berdiri di sana. Di kedua tangannya, pria itu membawa sebuah kotak besar berpita satin.

"Amira, ini untukmu," ucap Daniel lembut, menyerahkan kotak itu.

Amira menerimanya dengan ragu. Ketika tutup kotak itu dibuka, napas Amira sempat tertahan.

Di dalamnya terbaring sebuah gaun malam yang sangat indah dan elegan, terbuat dari bahan premium dengan potongan yang luar biasa anggun.

Amira benar-benar terpukau melihat keindahan gaun tersebut, namun ada rasa ragu dan asing yang mengganjal di hatinya.

Daniel yang melihat keraguan itu tersenyum lembut.

"Pakailah pakaian ini. Aku akan menunggumu di luar," ujarnya hangat sebelum menutup pintu kembali, memberikan Amira waktu untuk bersiap-siap.

Dua puluh menit berlalu. Pintu kamar tamu itu kembali terbuka, dan Amira melangkah keluar dengan perlahan.

Gaun itu melekat dengan sangat pas di tubuhnya, mempertegas siluet tubuhnya yang anggun terlepas dari langkah kakinya yang masih sedikit pincang.

Penampilan Amira malam itu begitu memukau, hingga membuat Daniel yang sedang menunggu di selasar sempat terpaku mematung, menatap kecantikan istrinya tanpa berkedip. Untuk beberapa saat, pesona Amira benar-benar mengunci pandangan pria itu.

"Mamaaaa!"

Suara cicitan nyaring memecah keheningan. Felia, yang sudah rapi dan wangi, berlari kecil mendekati Amira.

Namun, begitu mata bulat Felia menangkap gaun yang dikenakan oleh ibunya, binar di matanya berubah menjadi binar pengenalan yang sangat akrab.

Dengan kepolosan khas anak-anak, Felia berteriak riang, "Wah, Mama cantik sekali! Dari dulu, mama suka memakai gaun ini kan, Pa?"

Deg!

Kata-kata polos yang keluar dari bibir kecil Felia bagaikan hantaman gada yang luar biasa keras tepat di ulu hati Amira.

Senyum tipis yang baru saja terukir di wajah Amira seketika membeku.

Detik itu juga, rasa sakit hati, sesak, dan kehinaan yang jauh lebih besar dari siang tadi kembali menyerang dadanya hingga ia hampir sulit bernapas.

Air mata Amira langsung menggenang di pelupuk mata.

Ia merasa bodoh. Rasa hangat yang sempat merayap di hatinya kini berubah menjadi dingin seketika.

Amira merasa gaun indah ini diberikan bukan karena Daniel menghargai atau menghormatinya sebagai istri, melainkan karena Daniel ingin melihat sosok almarhum istrinya—Selena—di dalam diri Amira.

Ia merasa ditipu oleh perhatian manis Daniel, dan kenyataan bahwa dirinya hanyalah sebatas bayang-bayang pengganti kini menamparnya dengan begitu kejam.

Menyadari perubahan drastis pada ekspresi wajah Amira dan atmosfer ruangan yang mendadak mendingin, Daniel langsung merutuki kecerobohan dan ketidakpekaannya. Jantungnya berdegup kencang karena panik.

Ia bersumpah di dalam hati tidak ada maksud sedikit pun untuk menyakiti Amira atau mengenang masa lalu; ia hanya ingin Amira tampil percaya diri di hadapan Anita nanti, dan mengira bahwa mengambil gaun terbaik yang ada di lemari penyimpanan rumah ini adalah jalan pintas terbaik karena ia belum sempat mengajak Amira berbelanja.

Amira menunduk dalam-dalam, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca dan bersiap menumpahkan air mata.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membalikkan badannya, berniat kembali masuk ke dalam kamar untuk mengganti gaun terkutuk itu dengan pakaian biasanya.

"Amira, tunggu!"

Daniel dengan cepat melangkah maju dan menahan pergelangan tangan Amira.

Di depan Felia yang kini mematung kebingungan melihat perubahan drastis kedua orang tuanya, Daniel menatap Amira dengan pandangan yang dipenuhi rasa penyesalan yang teramat mendalam.

Daniel menarik napas berat, lalu berbisik dengan suara yang bergetar jujur di dekat Amira, "Amira... maafkan aku. Aku bersumpah demi apa pun, tidak ada maksud sedikit pun di hatiku untuk membandingkanmu, atau menjadikanmu sebagai pengganti Selena. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu malam ini, tapi aku bodoh. Maafkan ketidakpekaanku..."

Amira menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang tersisa di dalam dadanya.

Dengan gerakan perlahan namun tegas, Amira melepaskan cengkeraman tangan suaminya.

Ia menatap Daniel dengan pandangan mata yang terluka, namun menyiratkan keteguhan yang tidak bisa diganggu gugat.

"Saya punya pakaian saya sendiri, Daniel," ucap Amira lirih namun dingin.

Amira kemudian melangkah masuk kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan Daniel yang berdiri dilingkupi rasa bersalah yang amat besar di luar.

Di dalam kamar, Amira membuka lemari kecilnya. Ia meraih satu-satunya pakaian beludru bermotif kebaya tradisional sederhana yang sempat ia kenakan saat melakukan perjalanan dari Yogyakarta kemarin—pakaian yang jauh dari kata mewah, namun sepenuhnya adalah miliknya, bukan milik mendiang wanita lain.

Amira bersumpah, ia lebih memilih tampil sederhana dengan jati dirinya sendiri daripada harus bersinar di bawah bayang-bayang orang mati.

Setelah beberapa menit yang menegangkan di dalam kamar, pintu kembali terbuka.

Amira melangkah keluar dengan dagu terangkat, mencoba mengabaikan rasa perih di otot kakinya. Ia kini mengenakan kebaya tradisional sederhana miliknya.

Meskipun jauh dari kesan glamor seperti gaun malam tadi, kebaya itu melekat pas dan memancarkan keanggunan alami yang bersahaja, menegaskan jati dirinya yang utuh tanpa bayang-bayang siapapun.

Felia yang sejak tadi menunggu bersama Daniel langsung mendongak.

Mata bulatnya mengerjap heran melihat perubahan pakaian ibunya.

"Mama, kenapa pakai kebaya? Kita kan mau makan di luar?" tanya Felia polos sambil mengamati pakaian Amira yang terlihat berbeda dari pakaian orang-orang di sekitarnya.

Amira memaksakan senyum tipis, lalu mengelus rambut Felia dengan lembut tanpa berniat menjawab pertanyaan itu.

Tatapannya sama sekali tidak beralih pada Daniel yang sejak tadi memperhatikannya dengan rasa bersalah yang menggunung.

"Ayo, Felia, kita berangkat sekarang," ucap Amira ketat, mengalihkan pembicaraan sambil menuntun tangan kecil putrinya untuk berjalan keluar menuju garasi.

Daniel hanya bisa menghela napas panjang, membiarkan dadanya sesak oleh penyesalan yang tak berkesudahan atas kecerobohannya sendiri.

Ia mengikuti langkah istri dan anaknya dari belakang tanpa berani mendebat.

Sesampainya di depan mobil mewah yang sudah disiapkan, Daniel membukakan pintu.

Namun, alih-alih menuju kursi penumpang di depan, Amira dengan langkah pincangnya langsung

bergerak membuka pintu baris kedua.

Ia berniat duduk di belakang bersama Felia, menciptakan jarak sejauh mungkin dari pria yang telah melukai harga dirinya itu.

Melihat tindakan Amira, Daniel menahan pintu mobil dengan tangannya.

Sorot matanya tampak terluka, namun suaranya tetap terdengar tegas di tengah malam yang kian pekat.

"Amira, tolong duduk di depan," ucap Daniel, menatap istrinya lurus-lurus.

"Aku bukan sopirmu."

Amira balas menatap Daniel dengan pandangan dingin dan menantang.

Suasana di antara mereka mendadak membeku, dipenuhi ego yang sama-sama menolak untuk surut.

Felia yang merasakan ketegangan di antara kedua orang tuanya segera menarik-narik ujung kebaya Amira.

Dengan wajah memohon yang polos, balita itu menimpali, "Mama, ayo duduk di depan... Biar Felia bisa lihat Papa dan Mama dari belakang."

Mendengar permintaan tulus dari putri kecilnya, pertahanan Amira seketika mengendur.

Ia mengembuskan napas pendek, lalu dengan berat hati beralih melangkah menuju pintu depan, meninggalkan Daniel yang diam-diam merasa lega meskipun tahu perjalanan malam ini akan terasa sangat panjang dan dingin.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!