Dia, lelaki yang kini menjadi ayah tiriku, adalah sosok yang takkan pernah ku lepaskan dari kehidupanku. Meskipun tindakan ini mungkin salah, aku telah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala resikonya. Awalnya, dendamlah yang mendorongku mendekatinya, namun seiring waktu, cinta telah tumbuh di dalam hatiku. Tak ada satu pun pikiran untuk melepaskannya dari pelukanku.
Kini, ayah tiriku telah resmi menjadi kekasihku. Dia terus memanjakanku dengan penuh kasih sayang. Aku mencintainya, dan dia juga mencintaiku. Meskipun posisinya masih terikat sebagai suami ibuku, aku tidak peduli. Yang penting, aku merasa bahagia, dan dia juga merasakannya. Mungkin ini dianggap sebagai dosa, namun tak ada api yang berkobar tanpa adanya asap yang mengiringinya.
"Ayah, aku mencintaimu," apakah kalimat ini pantas untuk aku ucapkan?
AKAN LANJUT DI SEASON 2 YAA, HAPPY READING AND HOPE YOU LIKE:))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32. Mempertahankannya atau Melepaskannya
"Jel, hahaha ... jangan bercanda, please. Ini gak lucu. Bunda hampir aja emosi loh tadi, bahkan udah nggak karuan. Bercandaan kamu kelewatan, sayang." ternyata Widya menganggap semua ucapan Jelita adalah lelucon. Semua hanya sebatas guyonan semata.
Lihatlah, dia tertawa saat ini. Tertawa dengan keras. Namun, Jelita yang mengetahui bundanya tertawa, justru semakin menatap tajam kearahnya. Merasa kesal, karena semua ucapannya hanya dianggap mainan.
"Ada yang lucu dari ucapanku, Bun? aku tidak bercanda ya, aku serius. Aku sudah berhubungan dengan suami bunda dan mencintainya. Kita sudah pacaran dari lama Bun dan ingin segera menikah. Mungkin ini terdengar mengejutkan buat bunda. Terdengar seperti lelucon. Tapi aku nggak bercanda. Aku memang benar-benar menginginkannya ...,"
"Lihatlah, sebentar lagi mungkin aku akan hamil. Di dalam perut ini akan ada cucu bunda, anak Revan ...,"
"Bunda jangan syok gitu dong. Biasa aja. Ehm, oh iya, waktu itu bunda udah sempet mergokin parfum cewek di baju mas Revan kan? itu sebenernya parfum ku Bun. Dan bekas lipstik di kerah bajunya itu adalah bekasku. Hmm, mengejutkan kan? tapi itu adalah kenyataannya Bun? dia dan aku sudah bermain setiap hari di apartemenku." Jelita, dengan sikap yang santai dan tanpa beban, mengungkapkan semua keinginannya dan apa yang terjadi antara dirinya dan Revan.
Ia berbicara seolah-olah semua itu hanya lelucon belaka.
Lalu Widya yang mendengar itu langsung terdiam. Pikirannya serasa blank setelah mendengar ucapan Jelita. Baginya susah mempercayai jika semua ucapan Jelita itu benar adanya. Dia ingin marah, namun ini Jelita, putrinya. Dia tidak bisa marah padanya terlalu lama.
Lantas, Jelita yang menyadari bahwa ibunya, yaitu Widya, tetap terdiam, segera mengambil ponselnya dari dalam tas selempang miliknya. Dengan cepat, ia membukanya dan menunjukkan sebuah rekaman video kepada Widya.
Awalnya, Widya menerima video tersebut dengan tangan yang gemetar. Ia melihat rekaman yang awalnya gelap gulita. Namun, perlahan-lahan, cahaya muncul dan Widya dapat melihat apa yang ada dalam video tersebut.
Widya hampir menjatuhkan ponsel Jelita karena terkejut. Ia tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat dalam video tersebut. Semuanya terasa seperti mimpi, tetapi ini adalah kenyataan yang harus dihadapinya.
"Gimana Bun? percaya kan sekarang kalau aku dan suami bunda itu ada hubungan? video itu bukan rekayasa, itu sungguhan. Ya, sebenarnya aku malu sih mempertontonkan video seperti itu, tapi tidak ada cara lain lagi. Jika bukan karena itu aku yakin bunda takkan percaya. Bagaimana, masih mau mengatakan jika aku hanya bercanda?" tanya Jelita sembari tersenyum miring menatap kearah Widya yang tercengang oleh video yang menampilkan momen intim antara Jelita dan Revan, yang begitu membara.
Ketika Widya melihat video tersebut, ia merasakan kekecewaan yang begitu mendalam. Video ini jauh lebih membara daripada saat Revan bermain-main dengannya.
Kepercayaannya terhadap keduanya terasa terkhianati oleh video ini, memicu gelombang kekecewaan yang melanda dirinya.
"Maksud kamu itu apa sih, Jel?! apa?! kamu marah sama bunda? dendam? kalau dendam, marah, ya marah aja. Jangan berbuat seperti ini. Ini apaan sih, jahat banget. Kamu tega sama bunda. Ini bunda kamu loh, orang yang sudah melahirkan kamu, tega ya kamu ngelakuin ini sama bunda. Salah bunda itu apa sama kamu sampai kamu ngelakuin semua ini?" Air mata berlinang dari mata Widya setelah menyadari kebenaran yang ada. Ucapan Jelita ternyata adalah kenyataan. Namun, sulit baginya untuk sepenuhnya mempercayai semuanya.
Bagi Widya, rasanya mustahil untuk mengakui bahwa putrinya adalah seorang pelakor, yang merusak keharmonisan rumah tangganya.
"Aku jahat Bun? iya aku jahat. Aku anak durhaka, tapi semua ini karena bunda. Kalau saja bunda nggak selingkuh dengan pria ini dan bunuh ayah demi bersatu dengannya, nggak akan aku ngelakuin semua ini. Aku cukup dendam Bun, aku kecewa. Bunda tau nggak kalau di rumah itu selain bunda masih ada aku? aku mendengar semuanya Bun, aku mendengar gimana bunda membunuh ayah. Dasar, nggak punya adab! sebenarnya salah ayah apa sih Bun sama bunda?
"Ayah selalu baik loh, dari dulu sayang sama bunda, manjain bunda tiap hari. Tapi bunda? ah, sialan. Aku mulai emosi. Huufftt ... sabar, Jel. Jangan emosi dulu .... ehm, Bun. Aku kasih pilihan sekarang sama bunda, bunda pilih aku yang pergi atau bunda yang pergi?
"Kalau bunda tetep pertahanin Revan, baiklah. Aku yang akan pergi sejauh mungkin dari kehidupan kalian. Tapi kalau bunda pilih pergi, maka ceraikan Revan dan restuilah aku untuk menikah dengannya ...,"
"Aku takkan seperti ini kalau aku tidak benar-benar mencintainya. Jadi Bun, gimana keputusan bunda? tetap mempertahankannya atau melepaskannya untukku?" sepertinya Jelita menjadi jahat sekarang. Dia tanpa ragu mengatakan keinginannya dan kebenciannya.
Mengungkapkan apa yang membuatnya dendam dan semua unek-uneknya. Kini senyuman yang memikat, Jelita melingkarkan tangannya di pinggang Revan dan memandanginya dengan penuh kesengajaan.
Sejak tadi Revan terdiam, terhanyut dalam keterkejutan yang begitu besar. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Jelita akan dengan mudah mengungkapkan semuanya, terlebih dengan dendamnya.
Lalu apa yang harus di lakukannya sekarang? Ia masih mencintai Widya, namun tidak ingin melepaskan Jelita. Posisinya kini terasa sangat sulit dan penuh dengan dilema.
"Semua karena dendam ya? baiklah. Silakan kalau kamu memang menginginkannya, silakan kalau kamu memang ingin menikahinya. Bunda nggak akan ngelarang. Tapi ingat satu hal ini ya, jangan pernah panggil saya bunda lagi setelah perceraian nanti ...,"
"Saya akan menceraikannya dan melepaskannya untukmu. Tapi kamu bukan anak saya lagi. Saya tidak pernah punya anak seorang pelakor seperti ini. Tampilannya saja baik, tapi kalakuannya seperti pel4cur. Rasanya saya masih tidak menyangka jika wanita sialan yang menggoda suami saya itu dirimu ..,"
"Huufftt, tapi baiklah. Karena saya baik, maka akan saya lepaskan untukmu. Tidak masalah, karena bagi saya pria ini juga tidak ada bedanya denganmu. Mungkin sekarang kamu menyukainya, tapi kamu tidak tau apapun tentangnya ...,"
"Lihat saja, Jel. Tak lama lagi kamu akan menyesal karena sudah mencintainya dan menghianati kepercayaan bunda." Widya langsung pergi setelah mengatakan semua itu. Emosinya memuncak, rasa marah dan kekacauan pikirannya begitu menguasainya.
Sekarang, dengan kesadaran penuh, dia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Jelita. Dengan tegas, dia menyatakan bahwa Jelita bukan lagi anaknya.
Namun, setelah mengungkapkan hal tersebut, Widya yang sebelumnya terlihat tenang dan tidak menangis, kini tampak menangis. Setelah keluar dari house stay itu, Widya menumpahkan tangisannya. Dia menangis tersedu-sedu, memukul dirinya karena tidak mampu menjaga rahasianya dengan baik.
Jika saja waktu itu Widya tidak lengah, mungkin saat ini Jelita tidak akan mengetahui segalanya dan semuanya akan tetap aman.
Namun, Jelita sudah mengetahuinya. Bahkan, merebut Revan, suaminya hanya demi dendam. Sekarang apa yang harus di lakukannya? pikirannya kacau, dia tidak bisa pulang dalam keadaan seperti ini. Lalu dia harus kemana, apakah dia pulang ke rumah orang tuanya saja? tidak. Jika keluarganya tahu apa yang di lakukan Jelita padanya, pasti mereka akan menyalahkannya.
Belum lagi jika mereka tahu semua kejahatannya. Pastilah semua kemarahan itu akan tertuju padanya sepenuhnya. Mereka pasti akan menyalahkan dirinya.
"Ah, sial! kenapa jadi seperti ini sih?! kenapa tuh anak bisa tau, dulu aku ngomongnya nggak keras kan? arghhhhhh ... sialan!! sekarang gimana, gimana aku selanjutnya? aku masih mencintai Revan. Tapi masa iya aku saingan sama putriku sendiri?" Widya terus mengumpat, memukul dinding di sekitarnya karena marah. Karena emosi yang meluap-luap, dia kehilangan akal sehatnya dan sulit untuk berpikir dengan jernih.
Bersambung ...