NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

BAB 29: Bisik-Bisik di Selasar dan Rencana yang Tersusun Rapi

Pagi hari di SMA Pelita selalu dimulai dengan ritme yang sama. Deretan mobil mewah berbaris rapi di area penjemputan, sementara para murid berjalan beriringan memenuhi selasar gedung utama, saling melempar sapaan kasual tentang tugas sekolah atau rencana akhir pekan.

 Namun, bagi Christian Narendra, hari biasa seperti ini adalah momen paling strategis untuk melancarkan taktiknya.

Sebagai anak seorang diplomat senior, Christian dibekali kemampuan luar biasa dalam hal bernegosiasi, membaca gerak-gerik orang, dan yang paling utama: mengumpulkan informasi.

 Sejak melihat tanda kepemilikan yang dicetak kasar oleh Zayn Dominic di leher Elva kemarin, ego Christian justru semakin tertantang. Dia tidak percaya pada sebuah kepemilikan mutlak yang dipaksakan lewat intimidasi fisik. Di mata cerdasnya, Elva Ileana menyimpan sebuah luka masa lalu yang sangat dalam—sebuah rahasia kelam yang membuat gadis secantik dan seanggun itu sempat menjadi sasaran perundungan Clarissa sebelum akhirnya diambil alih oleh Zayn.

Christian melangkah santai menyusuri koridor lantai satu dengan kedua tangan terbenam di saku celana abu-abunya. Alih-alih langsung menuju kelas IPS-1, langkah tegapnya berbelok ke arah area kantin luar yang masih sepi. Di sana, tampak beberapa murid perempuan dari kelas dua sedang duduk berkumpul sambil menikmati susu kotak pagi mereka. Salah satu di antara mereka adalah Dinda, murid yang terkenal paling tahu segala gosip dan seluk-beluk internal keluarga para murid elit di SMA Pelita.

Christian menghentikan langkahnya di dekat meja mereka, lalu memasang senyuman ramahnya yang paling menawan, lengkap dengan aksen British-nya yang sangat halus dan lesung pipit samar di pipi kirinya.

"Hai, sori mengganggu waktu pagi kalian," sapa Christian dengan suara baritonnya yang jernih.

"Gue Christian, anak baru di kelas IPS-1. Kebetulan gue lagi cari beberapa referensi materi buat tugas sejarah, tapi gue agak penasaran sama satu hal tentang teman sekelas kita."

Para siswi itu seketika menahan napas, terpesona oleh ketampanan dan pembawaan elegan ala aristokrat Eropa yang memancar dari tubuh Christian. Dinda buru-buru membetulkan letak kuncir rambutnya dan tersenyum lebar.

"Eh, hai Christian! Mau tanya tentang siapa? Kalau soal anak-anak di angkatan kita, gue tahu hampir semuanya kok."

Christian mendudukkan diri di kursi kosong yang berjarak aman namun cukup intim untuk memulai obrolan rahasia.

"Gue penasaran sama Elva Ileana. Di kelas, dia kelihatan sangat diam dan dijaga ketat banget sama Zayn Dominic. Tapi beberapa anak di kelas sebelah sempat berbisik kalau dulu... status Elva di sekolah ini nggak kayak sekarang. Ada apa sebenarnya dengan latar belakang keluarganya?"

Mendengar nama Elva disebut, senyuman di wajah Dinda sedikit memudar, berganti dengan kilat mata yang penuh antusiasme untuk membagikan rahasia besar. Dinda memajukan tubuhnya, merendahkan volume suaranya agar tidak terdengar oleh murid lain yang mulai berlalu-lalang.

"Oh, soal Elva... lo beneran belum tahu, Chris? Itu skandal paling heboh sebulan lalu," bisik Dinda penuh penekanan.

"Dulu, Elva itu target rundungan utamanya Clarissa dan gengnya. Dia selalu pakai seragam yang lecek, rambutnya berantakan, dan penakut banget. Kenapa? Karena keluarganya sendiri—keluarga Ileana—memperlakukan dia kayak pembantu di rumah mereka sendiri! Kakaknya, Nadine, dan adiknya, Dion, selalu dapet fasilitas mewah, sedangkan Elva diasingkan di kamar belakang yang mirip gudang."

Christian menyipitkan mata hazel-nya, mendengarkan dengan konsentrasi tingkat tinggi. "Keluarganya sendiri?"

"Iya! Parah banget, kan?" timpal siswi lain di sebelah Dinda.

 "Dua minggu lalu, bokap nya Elva bahkan tega mengurung Elva di gudang bawah tanah yang gelap tanpa makan dan minum selama berhari-hari karena Elva menolak dimanfaatkan untuk urusan saham perusahaan bisnis mereka. Beruntung malam itu Zayn datang mendobrak rumah mereka. Zayn menghajar adik Elva, dan besoknya... booom! Perusahaan keluarga Ileana langsung dinyatakan pailit total karena diblokir oleh Dominic Group. Sekarang denger-denger mereka tinggal di kontrakan sempit di pinggiran kota."

Dinda mengangguk setuju. "Makanya Zayn posesif banget sekarang. Elva itu diambil alih hak asuhnya secara hukum oleh keluarga Dominic."

Christian bersandar pada sandaran kursi, mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja marmer dengan ritme yang teratur. Informasi yang dia dapatkan pagi ini jauh lebih berharga daripada kemenangan tanding basket kemarin siang. Otak cerdas Christian mulai memetakan strategi baru. Elva bukan menyukai Zayn karena sifat kasarnya, melainkan karena Zayn adalah satu-satunya orang yang memberikan tempat perlindungan dan rasa aman dari trauma masa lalunya.

“Kalau rasa aman dan pemulihan trauma yang dia butuhkan, maka tembok posesif Zayn yang terlalu mengekang justru bisa menjadi kelemahannya sendiri,” batin Christian dengan senyuman misterius yang terukir di sudut bibirnya. Dia berdiri dari kursi, lalu mengangguk hormat kepada para siswi tersebut.

 "Terima kasih banyak atas informasinya, ya. Sangat membantu. Gue permisi ke kelas dulu."

...----------------...

Sementara itu, di lantai dua dekat area loker utama, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat tegang ketika pintu kaca otomatis terbuka. Zayn Dominic berjalan dengan langkah lebar yang anggun, dengan tangan kirinya menggenggam erat jemari Elva Ileana tanpa memberi celah udara sedikit pun. Jaket kulit hitam andalan Zayn tersampir gagah di bahu tegapnya, dan kaos oblong hitam polos di dalamnya membungkus dada bidangnya dengan kokoh.

Di sebelah Elva, kerah seragam sekolahnya sengaja dinaikkan sedikit untuk menyembunyikan sisa tanda merah pekat yang dibuat Zayn di ruang OSIS kemarin siang.

Zayn menghentikan langkahnya tepat di depan kelas IPS-1. Sepasang mata elangnya langsung menyapu seisi ruangan, memastikan situasi aman sebelum mengizinkan gadisnya masuk.

"Inget kata-kata gue tadi di mobil," ucap Zayn rendah, suara baritonnya yang berat terdengar begitu menuntut dan dalam tepat di depan wajah Elva.

"Duduk di bangku paling depan. Kalau anak London itu berani ngajak lo ngomong lagi soal tugas kelompok, lo langsung chat gue. Paham?"

Elva mendongak, menatap mata tajam Zayn dengan pancaran mata bulatnya yang jernih dan dihiasi senyuman murni yang sangat manis. Sifat cemburu posesif Zayn yang ekstrem ini tidak lagi membuatnya takut, melainkan memberikan rasa hangat yang luar biasa besar di hatinya.

 "Iya, Tuan Muda Posesif. Aku paham kok. Aku nggak akan mengabaikan perintah kamu," goda Elva manis sambil mencubit pelan ujung jaket kulit Zayn.

Zayn mendengus pelan, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Tangan kekarnya bergerak mengelus lembut puncak kepala Elva sebelum akhirnya membiarkan gadis itu melangkah masuk ke dalam kelas.

Saat Elva mendudukkan diri di kursi barisan terdepan dekat meja guru, Christian Narendra tampak baru saja melangkah masuk melalui pintu belakang. Pandangan mata hazel milik Christian langsung terkunci pada Elva. Alih-alih berjalan mendekat atau bersikap agresif seperti kemarin, Christian memilih untuk berjalan dengan sangat tenang menuju kursinya sendiri di barisan ketiga.

Saat melewati meja Elva, Christian tidak mengucapkan satu kata pun. Dia hanya mengangguk kecil dengan sebuah senyuman ramah yang sangat tulus, tanpa ada sorot mata menantang atau nakal seperti yang ditakutkan oleh Zayn. Christian sengaja memasang mode seorang gentleman yang menghormati privasi dan batasan kenyamanan Elva.

 Taktik halusnya telah dimulai; dia akan membiarkan Zayn terus menunjukkan sifat posesifnya yang mengekang, sementara dirinya akan memposisikan diri sebagai sosok yang menenangkan, ramah, dan tidak memberikan tekanan bagi masa pemulihan trauma Elva.

Zayn yang memantau dari ambang pintu luar kelas dengan kedua tangan terbenam di saku jaket kulitnya langsung menyipitkan mata elangnya tajam. Saraf pelindungnya mendadak bergetar mendeteksi perubahan taktik dari murid pindahan London tersebut.

 Gemuruh persaingan di antara dua cowok dominan ini tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat, melainkan bergeser menjadi sebuah perang dingin yang jauh lebih berbahaya demi memperebutkan hati dan masa depan sang mentari kecil.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!