Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 menang taruhan
“Bohong...”
Itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Rini. Matanya terus terpaku ke arah televisi yang masih menampilkan berbagai kegiatan Nadia. Kepalanya dipenuhi pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Jika Nadia memang dekat dengan kepolisian, kenapa selama ini dia tidak pernah menceritakannya kepada keluarga? Jika Nadia sudah melakukan banyak hal, kenapa tidak pernah mengunggahnya ke media sosial? Dan yang paling membuatnya bingung, kenapa semua fakta itu baru muncul sekarang?
“Bohong atau enggak, taruhan kita adalah besok ada demo atau enggak.”
Nadia menjawab santai sambil mengambil gelas yang ada di atas meja lalu meminumnya tanpa izin. Padahal gelas itu milik Yulia. Rahang Yulia langsung mengeras melihat tingkah Nadia, tetapi wajahnya tetap terlihat lembut seperti malaikat yang tidak pernah marah.
“Ini pasti bohong. Dan enggak ada pengaruhnya sama demo. Mereka pasti akan demo. Apalagi mereka sudah menerima uang banyak. Mana mungkin mereka berkhianat.”
Rini masih berusaha menyangkal kenyataan yang ada di depan matanya.
Sementara itu, Rangga hanya diam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada rasa bangga yang muncul di dalam hatinya. Ternyata ada juga darah dagingnya yang tidak hanya dipenuhi iri hati dan dengki seperti yang selama ini dia lihat di rumah itu.
“Ya kita lihat saja besok. Ingat, jangan pernah ingkar janji. Lihat tuh aliansi STM, mereka sepenuhnya mendukungku. Hanya dengan satu perintah, mereka bisa mengepung rumah ini.”
Nadia bangkit dari sofa, mengambil beberapa bungkus camilan, lalu mulai memakannya sambil berjalan menuju tangga. Sikap santainya membuat Rini semakin kesal.
Di saat yang sama, jagat maya benar-benar gempar.
Akun @pejantantangguh langsung membuat unggahan baru.
“Jangan percaya pada video itu. Besok kita tetap aksi.”
Namun baru beberapa menit unggahan itu naik, kolom komentarnya langsung diserbu ribuan orang.
“Berani demo, gue pastikan lu enggak akan punya jalan pulang.”
“Demo konyol. Mending demo koruptor daripada demo anak yang sudah berbuat banyak mengurangi tawuran.”
“Yang demo otaknya jongkok.”
“Nyesel kemarin gue ngasih donasi, tapi ya sudahlah.”
Gelombang kemarahan publik datang begitu cepat. Banyak orang mulai meminta uang donasi mereka dikembalikan. Namun akun Pejantan Tangguh sama sekali tidak menggubris tuntutan tersebut.
Lagipula, setiap orang yang berdonasi sebelumnya sudah menyetujui surat pernyataan digital yang berbunyi:
"Memberikan donasi dengan sukarela tanpa paksaan siapa pun."
Karena itulah secara teknis mereka tidak bisa menuntut uang tersebut kembali.
Keesokan harinya, waktu terus berjalan.
Pagi berlalu.
Siang berlalu.
Bahkan sore mulai datang.
Namun tidak ada satu pun demonstrasi besar yang terjadi.
Tidak ada massa yang mengepung rumah keluarga Wijaya.
Tidak ada mahasiswa yang mengepung dinas pendidikan.
Tidak ada ribuan siswa STM yang turun ke jalan.
Semuanya hilang begitu saja.
Nadia turun dari lantai atas dengan langkah malas. Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur siang.
Di ruang keluarga sudah berkumpul Rini, Rina, dan Yulia dengan wajah yang terlihat muram.
“Mau ke mana kamu, Nad?”
tanya Rina dengan wajah ketus.
“Tentu saja aku mau nagih hutang.”
jawab Nadia enteng.
“Ih, aku enggak mau bayar.”
Rini langsung manyun. Jangankan memberikan dua ratus juta, memberikan seratus rupiah saja dia tidak rela.
“Oh, baiklah kalau begitu. Jangan salahkan aku. Aku akan memviralkan surat perjanjian ini.”
Nadia mengibas-ngibaskan surat kesepakatan yang ada di tangannya.
“Itu tidak sah, Nadia. Silakan saja viralkan dan kamu juga enggak akan dapat apa-apa.”
ucap Rini sengit.
“Ka Nadia, tolong maklumi kesalahan Ka Rini. Lagian salah kakak juga kenapa punya hal baik enggak dipublikasikan.”
Seperti biasa, Yulia kembali tampil seolah sedang membela Nadia.
“Aku enggak peduli. Aku cuma mau uang.”
Nadia langsung mengulurkan tangannya.
“Nadia, sudahi masalah ini. Anggap saja ini angin lalu demi nama baik keluarga.”
Rangga mencoba menengahi. Dia benar-benar tidak tega melihat anak-anaknya terus bertengkar.
“Angin lalu?”
Nadia bergumam pelan sambil menatap ayahnya.
“Papah selalu punya standar ganda. Kalau sama Yulia dan Ka Rini selalu mati-matian membela mereka. Sedangkan sama aku, aku harus menganggap semuanya angin lalu.”
Nadia menarik napas panjang. Tatapannya menjadi semakin dingin.
“Dan jangan bicara soal kehormatan keluarga. Aku enggak peduli. Yang aku pedulikan adalah uang. Aku tidak meminta persetujuan. Transfer uangnya atau aku viralkan hal ini. Kebetulan namaku sedang bagus-bagusnya.”
Suasana langsung menegang.
Bagi Rina, Rini, dan Yulia, Nadia benar-benar terlihat sangat menyebalkan saat itu.
“Kamu memang kurang ajar, Nadia. Baiklah, aku transfer uangnya. Semoga dengan uang itu kamu jadi sial.”
Sumpah serapah Rini langsung keluar tanpa ditahan.
“Aku memang anak sial. Jadi jangan mengutukku lagi jadi anak sial.”
Nadia mengangkat bahu santai.
“Cepatlah. Dua ratus juta itu sedikit untuk harga diri Ka Rini yang terhormat.”
Setelah berkata begitu, Nadia melempar secarik kertas berisi nomor rekening ke atas meja.
Rini menggertakkan giginya keras-keras. Dengan perasaan sangat terpaksa, dia membuka aplikasi perbankan dan mentransfer uang dua ratus juta rupiah ke rekening Nadia.
Ting!
Suara notifikasi transfer langsung terdengar.
Nadia melihat layar ponselnya lalu menyeringai puas.
“Terima kasih. Semoga rezekinya selalu barokah. Amin.”
Setelah mengucapkan itu, dia langsung berbalik dan naik ke lantai atas tanpa sedikit pun merasa bersalah.
Malam datang perlahan.
Rumah yang biasanya hangat kini terasa dingin, tegang, dan dipenuhi rasa kesal yang menggantung di udara.
Di kamarnya, Yulia mengerang frustrasi.
Tangannya meremas seprai erat-erat hingga kusut. Dadanya naik turun menahan amarah yang terus menumpuk. Setelah beberapa saat, dia mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
“Kenapa bisa gagal terus, ha?”
bentak Yulia penuh kekesalan.
“Tenang saja. Nadia enggak akan jadi juara. Besok aku sudah siapkan tim pengganggu, dan tim IT olimpiade juga sudah aku kondisikan. Tenang saja, kamu yang akan jadi bintangnya.”
Suara dari seberang telepon terdengar santai.
Yulia langsung menggertakkan giginya.
“Aku enggak mau tahu. Pokoknya Nadia harus hancur.”
Sambungan telepon pun terputus.
Yulia menatap layar ponselnya beberapa saat. Matanya dipenuhi kebencian yang begitu dalam. Namun perlahan ekspresinya kembali berubah. Senyum lembut yang selama ini selalu dia tunjukkan kepada semua orang kembali muncul di wajahnya.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah penuh kasih sayang itu, Yulia sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya untuk Nadia.
Pagi datang dengan tenang. Nadia sama sekali tidak terlihat terburu-buru. Seperti biasanya, dia masih menyempatkan diri untuk berolahraga sebelum berangkat. Baginya, olimpiade bukan alasan untuk meninggalkan rutinitas pagi yang sudah biasa dia lakukan.
Sementara itu, Yulia dibantu Rina dan Rini mempersiapkan diri. Mereka memastikan Yulia dalam kondisi terbaik, sehat, terlihat cantik, dan tentu saja mempesona. Setelah semuanya siap, Yulia, Rina, dan Rini masuk ke dalam mobil lalu berangkat menuju lokasi olimpiade.
Di saat yang sama, di berbagai titik kota, beberapa orang juga mulai bergerak. Mereka sudah bersiap menjalankan rencana untuk mengganggu Nadia sebelum olimpiade dimulai.
libas saja mereka si pecundang