NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

...~Nasi Hangat, Pindang dan Sambal~...

Tidak seperti biasanya, pagi itu cukup sunyi untuk Naira. Setelah bakda Subuh, tak lagi ada suara ompreng peralatan dapur atau ibunya yang terus mendesak untuk merapikan kamar atau sekadar menyapu dalam rumah.

Ia mengintip ke dapur yang masih kosong. Beberapa piring sisa makan malam kemarin menumpuk di tempat cucian.

"Tumben," gumam Naira pelan.

Ia melirik ke arah jam dinding dapur. Jam setengah lima pagi; biasanya ibu Naira sudah duduk sambil memasak atau sekadar memanaskan air untuk teh maupun kopi. Tapi kali ini berbeda.

Suara pintu kamar kedua orang tuanya terbuka, memperlihatkan ayah Naira yang berdiri dengan sarung melilit di pinggangnya.

"Yah, Ibu ke mana?"

"Ibu lagi sakit, kamu masak sendiri dulu ya," ujar ayahnya.

Naira menengok ke arah pintu kamar yang terbuka. Ibunya masih tidur dengan gelungan selimut yang rapat.

"Sakit apa?"

"Meriang. Beliin Ibu bubur dulu ya? Ayah mau kasih pakan sapi terus ke sawah."

Naira menganggukkan kepala. "Ayah juga mau?"

Ayah menggeleng pelan. "Enggak usah. Beliin buat Ibu saja."

Naira mengangguk patuh dan segera pergi ke dapur. Ia menggeledah lemari penyimpanan, barang kali menemukan sesuatu yang bisa dipakai untuk sarapan. Seperti harta karun, sisa pindang kemarin malam masih berada di dalam wadah enamel.

Dengan segera ia menggoreng ulangnya, menanak nasi hangat di atas tungku kayu, serta mengulek sambal sebagai pendamping.

Setelah dirasa dapur cukup aman untuk sarapan ala kadarnya, Naira bergegas mengambil jaket rajutnya. Di tangannya, ia membawa satu piring untuk wadah bubur yang akan dibeli di dekat gang dusun, sementara tangan satunya memegang dompet kecil.

Baru saja Naira menyeret kakinya beberapa langkah dari rumah, sosok tinggi menjulang dengan kaos dan celana pendek muncul. Sepatu lari yang besar terlihat di kakinya.

"Nai!" Suara pria itu cukup khas untuk Naira kenali. Arka sedang lari pagi di cuaca desa yang dingin.

"Eh, Mas Arka," sapa Naira balik, tapi ia tidak menghentikan langkahnya menuju tempat penjual bubur.

Arka memutar rute larinya. "Mau ke mana?"

"Beli bubur."

"Enggak masak?"

"Buat Ibu, lagi sakit."

Arka mulai berjalan mengikuti langkah Naira yang pendek. "Aku temani."

Naira menoleh ke arah Arka. Alarm berbahaya berbunyi di kepalanya, bukan karena Arka, tapi karena ia membayangkan warga yang melihat mereka jalan pagi berdua saja.

"Enggak usah, Mas. Lagian Mas Arka sedang lari pagi."

"Lari pagi bisa nanti setelah antar kamu."

Naira mengatupkan bibir. Sedikit gugup menjalar di dadanya. Beberapa kali ia melihat kanan kiri ke rumah warga yang tampak sepi. Ia berharap pria itu tidak ikut campur kali ini, atau mereka akan menjadi bahan omongan yang lebih hangat dari biasanya.

Namun, Arka tetap berjalan di sampingnya hingga sampai di tempat penjual bubur yang terlihat agak ramai.

"Eh, Nai," sapa seorang wanita sebelum matanya melihat ke arah Arka. "Mas Arka," sapanya lagi.

Arka hanya tersenyum.

"Bu, bubur satu," ucap Naira sambil menyodorkan piringnya. Penjual itu tersenyum dan mengambil beberapa sendok sayur bubur yang mengeluarkan aroma santan gurih, lalu menuangkan sambal goreng krecek dengan kacang merah.

"Kok cuma beli satu? Mas Arka mau beli?" tanya wanita itu lagi.

"Enggak, Bu. Cuma antar Naira."

Senyum muncul di wajah wanita paruh baya itu. "Oalah."

"Naira, kok cuma beli satu?"

"Iya, cuma buat Ibu," jawab Naira setelah memberikan uang pembayaran.

"Mari, Bu," gadis itu segera berpamitan. Namun, Arka tetap berjalan di belakangnya.

"Mas Arka lari dulu saja."

"Enggak, ini masih pagi banget. Aku jagain kamu dari belakang."

Naira terkekeh pelan. "Emang ada apa di pagi begini?"

"Ya, enggak tahu."

Setelahnya, hanya ada obrolan ringan tentang beberapa tetangga yang kini kenal baik dengan Arka—ada yang meminta bantuan sepele seperti menurunkan kucing dari pohon, membenahi genteng, hingga memperbaiki kran air.

Suara burung dan langkah keduanya terdengar beriringan. Embun pagi menetes pelan, membasahi kaki mereka yang terkena dedaunan di pinggir jalan.

Dingin yang dirasa membuat helaan napas Naira seperti menguap, apalagi ketika tawanya yang lembut terdengar.

"Mas Arka jadi banyak yang kenal ya."

"Lebih populer kamu."

Langkah keduanya berhenti di depan rumah Naira. "Sudah sampai. Mas Arka mau masuk dulu?"

Arka menggeleng pelan. "Aku mau pulang mandi. Nanti aku jemput buat antar ke sekolah."

Pria itu segera berpamitan dan menjauh. Naira melihat punggung tegap Arka yang kian berjarak.

...----------------...

Arka baru saja datang ketika Naira selesai merapikan diri dalam kamar.

"Mas Arka."

Naira menyapa saat melihat pria itu berdiri di depan pintu dengan pakaian santai; celana pendek selutut dan kaos yang ditutupi jaket denim. Sandal jepit karet hitam.

"Eh, Nai. Aku tunggu di luar ya. Kamu sudah sarapan?" tanya pria itu.

"Ini mau sarapan. Mas Arka sudah makan?"

"Kupikir kamu enggak masak."

Naira mengernyit. "Loh, emang kenapa?"

"Mau ku ajak beli sarapan bubur ayam dekat sekolahmu."

Pria itu menatapnya sesaat. "Tadi kamu cuma beli satu bubur aja."

Naira menggeleng cepat. "Kalau Mas Arka belum sarapan, ayo sini. Aku punya nasi pindang sama sambal." Ia melangkah lebih dekat ke Arka. "Ayo, Mas."

Pria itu akhirnya patuh dan mengikuti langkah Naira ke dapur.

Sebakul nasi hangat dengan kepulan uap tipis tersaji. Di sebelahnya, ada beberapa potong pindang di wadah enamel dan sambal cobek buatan Naira yang aromanya cukup pedas.

"Maaf cuma ada ini," ucap Naira lebih dulu.

"Malah kelihatan enak."

Naira terkekeh pelan. "Ini aja sisa kemarin."

"Aku sudah biasa makan seadanya," pria itu tersenyum lebar.

Suara denting sendok beradu dengan piring kaleng terdengar. Satu centong nasi hangat ditambah pindang serta sambal. Naira menuangkan air putih untuk Arka. "Jaga-jaga kalau kamu kepedasan lagi," kekehnya pelan.

Ketika memakan satu suapan, Arka terdiam sejenak. Nasi yang masih hangat, aroma amis segar pindang, dan pedasnya sambal memberikan efek luar biasa di mulutnya.

"Ini malah nikmat banget."

Arka mencuri pandangannya ke arah Naira. Gadis itu tengah menyuap makanannya dengan tenang. Berbeda dengan sarapan mereka kemarin, hari ini tidak ada kecanggungan yang meliputi keduanya. Seolah pelukan di atas sepeda motor ketika hujan kemarin sore masih terasa nyata—meninggalkan sisa kehangatan di antara keduanya.

Desir tak nyaman mulai dirasa oleh Arka. Jantungnya sudah terbiasa lari dengan pacuan yang mantap di tengah latihan yang ketat. Tapi hari ini, ketenangan di dapur rumah Naira memberi efek sesak yang berbeda.

Naira terkekeh mendengarnya. "Bisa saja, Mas Arka."

"Beneran."

Keduanya sarapan dengan tenang di ruang makan dekat dapur. Jendela terbuka agak lebar. Pintu kayu belah hanya terbuka bagian atasnya, sementara seekor anak kucing terus mengeong dari luar pintu.

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!