NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Makanan pesanan mereka, tiba beberapa menit. Itu masih makanan yang direkomendasikan, soalnya Dian juga belum memahami menu restoran baru tersebut. Meskipun sudah seminggu lebih, restoran itu dibuka.

"Kau tahu, aku sangat bahagia kali ini. Jika kau mau makan apapun di sini, pesan saja, aku akan membayarnya."

"Benarkah. Aku ikut senang, jika kau merasa senang. Tapi ada satu hal yang terus mengganggu ku. Apa benar kau dijodohkan?"

"Ia, aku dijodohkan. Sama orang tuaku." Dian mencoba makanan yang ada dihadapannya satu persatu, sambil menjelaskan pada Emil.

"Apa kau setuju dengan perjodohan itu?"

"Iya, aku juga tak bisa menolak. Hmm, ini sangat lezat."

"Kau tahu, dari dulu sampai sekarang, kau masih menjadi misteri. Kenapa kau begitu sulit membagi lukamu pada orang lain?"

"Aku tidak pernah sedih. Aku selalu bahagia. Aku akan memang harus melakukan nya. Bukankah itu tugas anak. Membayar untuk semua yang diberikan."

"Orang tua kandung, tidak akan meminta apapun pada anaknya Dian. Apalagi anak satu-satunya. Kau terlihat seperti bukan anak kandung mereka."

Dian yang sedang menikmati makanannya, tersendak saat Emil berbicara mengenai status sebenarnya Dian di rumah itu.

Emil begitu perhatian, mengambil air untuk Dian, membersihkan makanan di samping bibirnya.

"Minumlah pelan-pelan."

"Kau tahu Emil. Jangan terlalu perhatian pada wanita seperti ini. Terkadang, mereka akan menganggap perlakuan baikmu ini ke arah lain."

"Apa artinya?"

"Mungkin mereka akan suka padamu."

"Lalu, apa artinya kau suka padaku juga."

Dian malas berkomentar. Emil mulai lagi dengan pembicaraan tidak jelasnya.

"Aku selalu tekankan, aku hanya menganggapmu sebagai teman. Hidupku sudah sangat banyak pikiran. Jadi jangan tambah pikiran ku."

"Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda."

Emil menundukkan kepalanya. Ia merasa sedikit kecewa. Sudah berapa kali ia mengatakan hal itu pada Dian, tetapi Dian selalu menganggap nya bercanda.

"Apa kau akan terus seperti ini Dian?"

"Ada apa? Apa maksud perkataan mu?"

Dian menghentikan aktivitas makannya. Bahasa yang diucapkan Emil terdengar serius.

"Kau selalu menganggap perasaan ku ini bercanda?"

"Apa aku salah? Kukira selama ini kamu selalu bercanda. Apa kamu memang benar-benar menyukai ku?"

"Iya. Aku menyukai mu."

"Tapi kukira kita akan berteman selamanya. Kamu, aku dan Nathan."

"Iya, awalnya aku berpikir begitu... Tapi..." Emil menarik tangan Dian dan menggenggamnya.

"Aku merasa perasaan ku ini tulus padamu. Perasaan ini datang sendiri, tanpa keterpaksaan. Makanya aku selalu menyanggupi semua permintaan mu, agar kau sedikit melihat ku. Tapi kau tidak pernah menanggapi nya."

"Kau...." Dian menarik tangannya, lalu mengetuk kepala Emil.

"Aku tidak tahu kenapa kamu menyukai ku. Tapi aku benar-benar melihat mu sudah seperti saudara ku. 5 tahun kita bersama, dan aku tidak ingin hubungan kita berakhir karena masalah seperti ini."

"Apa kau menganggap rasa sukaku ini sebuah masalah? Baiklah..."

"Tidak bukan begitu."

Aku hanya ingin bertemu dengan adikku dulu. Kenapa selalu saja ada hal tak terduga seperti ini. Aku tidak ingin masalah percintaan mengganggu ku. Yang penting hidupku bebas dan tidak terikat rantai apapun, dan identitas asli ku terungkap. Bukan seperti ini. Mungkin mereka akan kecewa, saat tahu sebenarnya aku ini anak pungut, dan aku memakai indentitas orang lain.

"Aku minta maaf,"

Dian menunduk.

"Apa kau menyukai pria yang akan dijodohkan padamu? Katakan saja Dian. Agar aku mengerti."

"Bisa jangan tanyakan ini. Aku hanya ingin mentraktir mu dengan tenang."

Dian yang biasanya selalu jarang menunjukkan emosinya. Kini air matanya jatuh tak terkendali. Untuk pertama kalinya, Emil menyaksikannya. Gadis yang biasanya selalu ceria di depannya dan Nathan. Yang selalu mengatakan dirinya tidak apa-apa, kini menunjukkan emosinya.

Dian cepat-cepat menyeka air matanya.

"Aku sudah kenyang. Kau belum makan, jadi lanjutkan makan. Tenang saja aku tetap akan bayar. Aku duluan." Dian mengambil tasnya, berjalan ke arah kasir, ia melunasi semua makan yang dipesannya, meskipun sebagian besar, ada yang belum disentuh. Emil tidak tinggal diam, dia meminta maaf pada pelayan restoran, lalu mengejar Dian yang berlari ke arah tempat parkiran. Keadaan tempat parkiran lumayan sepi.

"Tunggu Dian. Berhenti!"

"Bukankah aku menyuruh mu untuk makan. Kenapa malah mengikuti ku."

"Apa aku akan enak-enak menikmati makannya, dan kau pergi dalam kondisi seperti ini. Bukankah aku akan dianggap pria yang tidak gentleman."

"Ini semua salahmu juga. Kau merusak mood makanku. Makanya aku pergi. Salahmu membuat ku menangis."

"Aku minta maaf." Emil menarik Dian ke pelukan nya. Wanita itu begitu rapuh saat ini. Dian masih keras kepala, menyembunyikan kehidupan pribadinya dari Emil dan Nathan. Mereka sudah curiga dari dulu, namun tidak pernah menyinggung apapun. Karena kriteria Dian, semua masalah akan dia hadapi sendiri, tanpa melibatkan orang lain.

Dari dalam mobilnya, Joshua memperhatikan adegan di depan matanya. Dirinya berada di dalam mobil, ia memperhatikan dua sejoli yang lagi berpelukan. Joshua diam-diam menyuruh orang untuk mengawasi Dian. Dan yang Joshua dengar, Dian pergi ke luar bersama seolah pria. Dia hanya penasaran. Kata Dian, dirinya sudah punya kekasih. Dan dia sudah melihat bagaimana tampang pria tersebut. Ia ingin tahu, apakah benar mereka masih menjalin hubungan mereka. Namun, yang ia lihat saat ini berbeda, pria itu berbeda dengan yang ditunjukkan Dian di handphonenya.

"Ternyata wanita ini, diam-diam menjalin dua hubungan. Pasangan nya berada di luar negeri begitu fokus pada pendidikan nya, dan di dalam negeri, dia punya pasangan lain. Hah, aku tidak habis pikir. Dia bisa seburuk ini."

Tapi, itu tidak masalah. Lagian, pernikahan itu hanyalah sebuah kontrak, untuk membalas bagaimana orang tuanya dulu membunuh orangtua ku. Aku tidak peduli bagaimana dia menjalani kehidupan nya saat ini.

"Ayo pulang!" Joshua memerintahkan sopir nya untuk pergi dari tempat tersebut. Ia tidak tahan melihat pemandangan kotor itu.

*****

Pak Andi kini berdiri di hadapan Joshua. Ia melaporkan semua yang terjadi di sana. Ia juga menunjukkan video yang sempat ia rekam. Bagaimana Cindy begitu menikmati latihan melukisnya.

"Jadi, mereka ke tempat melukis?"

"Iya Pak. Dan nona muda sangat serius melakukan nya. Tidak ada ancaman apapun di tempat itu tuan. Nona Dian memang hanya datang untuk menemani. Dia malah sibuk dengan laptopnya, disaat kami belajar melukis."

"Laptopnya? Apa yang dia lakukan?"

"Saya tidak tahu tuan. Tapi seperti nya, dia terlihat banyak pikiran kemarin. Saya hanya sibuk memperhatikan nona Cindy. Dan tidak memperhatikan apa yang dia lakukan dengan laptopnya itu."

"Baiklah. Kamu bisa pergi."

Pak Andi keluar dengan napas lega. Setidaknya ia menepati janjinya, untuk tidak membocorkan identitas pak Emil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!