Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
terima kasih
Melihat ada orang asing membawa kuda yang menghalangi jalan, langkah ketiga pria itu mendadak terhenti. Tatapan mereka beralih dari si bocah, lalu tertuju pada pedang Zen yang masih menancap di tanah, dan akhirnya berhenti pada sosok Zen dan Amanda yang mengenakan jubah pengelana.
"Menjauh dari anak itu, para pengelana!" gertak salah satu pria yang membawa kapak pembelah kayu, mencoba menyembunyikan rasa gentar melihat perawakan tegap Zen. "Dia mencuri pasokan kami. Serahkan bocah itu kalau kalian masih ingin keluar dari Thorton hidup-hidup."
Amanda menurunkan pandangannya ke arah anak laki-laki yang masih gemetar di atas tanah. Napas bocah itu memburu hebat, sepasang matanya yang dipenuhi ketakutan menatap kosong ke depan, seolah telah kehilangan harapan untuk diselamatkan.
Entah mengapa, pemandangan itu membuat dada Amanda mendadak terasa sesak. Tatapan putus asa dari sang bocah terlalu tidak asing bagi batinnya yang terluka. Ingatan Amanda mendadak ditarik paksa mundur pada memori lima belas tahun lalu, ketika ia hanyalah seorang anak kecil yang tak berdaya dan terpojok di dalam kegelapan tanpa ada satu pun tangan yang terulur untuk menolongnya.
"Berapa harga barang yang dia ambil?" tanya Amanda sembari menatap ketiga orang itu silih berganti.
Ketiga pria itu saling melirik, cukup terkejut dengan pembawaan wanita di hadapan mereka yang tidak menunjukkan rasa takut. Pria yang membawa kapak pembelah kayu maju satu langkah, mendengus kasar.
"Bocah sialan ini mencuri sepotong roti kering dan sebotol susu domba dari lapak kami!" bentak pria itu sembari mengacungkan kapaknya ke arah anak tersebut. "Itu pasokan berharga di Distrik ini! Harganya lima keping perak, dan kami tidak menerima alasan apa pun!"
Beberapa warga yang duduk di pinggir jalan hanya menunduk diam mendengar harga itu, seolah pemerasan seperti itu sudah menjadi hal biasa di kota ini.
Amanda menaikkan sebelah alisnya, cukup terkejut dengan harga yang dipatok oleh pria itu. Lima keping perak adalah harga yang sangat tidak masuk akal untuk sepotong roti dan sebotol susu. Ia mengembuskan napas pendek, menyadari bahwa ini adalah tindakan pemerasan secara terang-terangan yang memanfaatkan situasi kota yang sekarat.
Namun Amanda tidak ingin mendebat lebih jauh.
Alih-alih mengeluarkan uang perak yang diminta, Amanda menarik keluar satu keping emas, logam mulia yang nilainya jauh lebih tinggi dari apa yang mereka tuntut. Ia mengulurkan tangan dan memberikan benda berkilau tersebut kepada ketiga pria di hadapannya.
"Ambil ini," ucap Amanda dengan tenang. "Anggap saja ini sebagai ganti rugi atas barang yang dia ambil. Sekaligus bayaran agar kalian melepaskan anak ini."
Mata ketiga berandalan itu seketika membelalak lebar melihat kepingan emas di tangan Amanda. Pria berkapak itu dengan cepat menyambar koin tersebut dari telapak tangan Amanda, lalu menggigit pinggirannya untuk memastikan keaslian logam tersebut. Begitu menyadari bahwa itu adalah emas murni, bibirnya langsung menyunggingkan senyum miring.
"I-Ini sangat sempurna..." gumam pria itu dengan mata berbinar. Ia buru-buru memasukkan emas itu ke dalam sakunya, lalu menatap kedua temannya sembari memberi isyarat untuk mundur. "Urusan kita selesai di sini. Ayo pergi."
Ketiga pria dengan lambang Elang Perak itu segera berbalik, lalu melangkahkan kaki mereka setengah berlari untuk kembali menghilang ke dalam kegelapan gang.
Setelah suasana di sekitar mereka kembali hening, Amanda membalikkan tubuhnya. Ia perlahan berlutut di atas tanah yang kotor, menyamakan tingginya dengan anak laki-laki yang masih syok tersebut. Dengan gerakan lembut, ia menyibak tudung jubahnya, memperlihatkan rambut pirangnya yang berkilau di tengah suasana kota yang kusam. Seulas senyum kecil yang menenangkan terukir dari bibir wanita itu.
"Kau sudah aman sekarang," bisik Amanda lembut.
Bocah itu tidak langsung menjawab. Tubuh kecilnya masih gemetar, seolah tidak percaya bahwa uluran tangan benar-benar ditujukan kepadanya.
"Halo... apakah orang-orang itu sempat memukulmu?"
Amanda mengibas-ngibaskan tangan kanannya pelan-pelan di depan wajah anak itu, berusaha menarik kembali kesadarannya yang sempat tenggelam dalam ketakutan.
Bocah laki-laki itu tersentak kecil. Tatapannya yang semula kosong perlahan mulai fokus. Manik matanya bergerak gemetar sebelum akhirnya berhenti pada wajah Amanda yang sedang memperhatikannya dengan lembut.
"Y-ya...?" cicitnya serak. Sepasang mata bocah itu sempat melirik takut ke arah pedang Zen yang masih tertancap di tanah, sebelum kembali terpusat pada Amanda.
"A-Aku ucapkan terima kasih... Nona Pengelana," lirihnya pelan. Tubuh kecil yang masih gemetar itu berusaha menegakkan diri. Ia berdiri perlahan sambil tetap mendekap roti kering dan botol susu di dadanya erat-erat. "Untuk... satu keping emas itu juga." Bocah itu menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan Amanda.
"Terakhir kali ada orang yang menolongku..." suaranya mengecil, tercekat di tenggorokan. "Itu sudah sangat lama."
Selengkung senyum kecil terbit di bibir Amanda. Ia kemudian mengangguk kecil, lalu ikut berdiri perlahan. Sorot matanya tetap lembut saat menatap bocah di hadapannya.
"Nyawamu jauh lebih berharga daripada satu keping emas," ucap Amanda pelan. "Lagipula, emas bisa dicari lagi. Tapi nyawa seseorang tidak."
Anak laki-laki itu terdiam, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar perkataan Amanda yang menyejukkan hatinya. Ia sempat melirik ragu ke arah Zen, namun begitu pandangan mereka bertemu, wajahnya langsung pucat pasi. Sang bocah buru-buru membuang muka dan memeluk roti serta botol susu di dadanya jauh lebih erat. Menjatuhkan kembali sorotnya pada wanita yang ada di hadapannya.
"A-Aku harus segera pulang..." bisiknya gugup. "Kakekku sedang sakit. Dia pasti sedang menungguku."
Setelah mengatakan itu, bocah tersebut buru-buru membalikkan badan, bersiap pergi dari tempat itu secepat mungkin. Namun baru saja kaki kecilnya hendak melangkah, suara dingin langsung mengurungkan niatnya.
"Tunggu," cegah Zen tiba-tiba. Pria itu memajukan tubuhnya, mengikis jarak dengan bocah itu.
Tubuh kecil anak itu langsung menegang. Jemarinya mencengkeram botol susu sampai bergetar, sementara wajah pucatnya perlahan menoleh ke arah ksatria bermata biru itu dengan napas tertahan.
"Siapa namamu?" tanya Zen datar. Sorot matanya yang tajam semakin membuat anak itu menegang kaku.
"G-Garbi..." cicitnya, berbisik cukup pelan namun masih bisa didengar oleh kedua ksatria itu.
"Zen, kau menakutinya," tegur Amanda spontan. Dua alisnya bertaut tajam seolah memberi peringatan. "Biar aku saja yang bertanya."
Dahi Zen mendadak berkerut. Matanya menelisik setiap jengkal wajah Garbi. Hembusan napas panjang akhirnya keluar dari mulut Zen ketika menyadari kebenaran dari ucapan Amanda. Pria bermuka batu itu mengangguk kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke sisi jalan sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada, membiarkan Amanda kembali mengambil alih situasi.
Amanda menatap Garbi dengan senyuman hangat, berusaha mencairkan ketegangan yang membekukan tubuh anak itu.
"Kami adalah pengelana dari tempat yang jauh," Amanda menjeda kalimatnya sejenak. "Kami datang ke sini untuk mencari seseorang yang bernama Eledrin Mitrovic."
Hening. Garbi langsung membeku begitu mendengar nama itu keluar dari mulut Amanda. "K-Kalian mengenal Tuan Eledrin?"
Amanda menggeleng pelan. "Kami tidak mengenalnya. Kami hanya memiliki sedikit urusan penting dengannya."
Garbi tidak langsung menjawab. Bocah itu menunduk gelisah sambil meremas botol susu di pelukannya, menggoyangkan sebelah kakinya di atas tanah, tampak sedang ragu. "Tuan Eledrin adalah orang yang sangat penting..." suaranya mengecil. Kembali melihat Amanda. "Rumahnya dijaga oleh puluhan prajurit terkuat. Kurasa kalian tidak akan bisa menemuinya jika tidak memiliki hubungan dengan orang-orang istana."
Amanda perlahan kembali berjongkok di depan Garbi hingga tinggi mereka sejajar. Ia melayangkan kedua tangannya hingga berhenti tepat di pundak kecil anak itu.
"Begitu ya?" wanita itu mengangguk mengerti. "Apakah kau tahu di mana rumahnya?"
Garbi bungkam beberapa saat. Bocah itu melirik sekilas ke kanan dan kiri jalanan. Orang-orang di sepanjang tempat itu masih memperhatikan dirinya dan dua ksatria itu. Ia tampak sangat ragu, lalu menelan ludah sebelum akhirnya mengangguk waswas.
"Ya... aku tahu."