NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7.

Asisten pribadinya Dylan datang menghampirinya, "Tuan ini beberapa video cctv yang ada dirumah yang menunjukkan beberapa interaksi tuan Luis dan nona Laura."

Wilson menerima ponsel yang diberikan oleh Dylan, tiba-tiba tangannya gemetar.

Ada banyak sekali video di koridor ruangan rumah, yang menunjukkan saat Luis menindas Laura.

Bahkan ada beberapa video saat Luis mencium leher Laura dengan paksa, ingatan Wilson kembali ke saat dimana sarapan bersama, ia menemukan leher Laura yang memerah.

Seketika ia ingin limbung, rasa bersalah membuncah dadanya.

Akhirnya ia menyadari, jika keputusannya untuk menyembunyikan identitas Laura, adalah hal yang sangat buruk.

Ia kira, jika Luis tahu, kalau Laura adik satu ayah. Luis akan menyayangi Laura layaknya adik kandung, ia tidak menyangka.

Kalau Luis salah paham sampai sejauh ini.

Napas Wilson tersengal, ia merasa dadanya sesak bahkan tatapannya sontak menatap langit.

Ia sangat merasa bersalah pada mendiang kedua sahabatnya Steven dan juga Grace.

Dylan yang melihat keadaan atasannya memburuk, ia pun dengan cekatan mengambil obat yang ada disaku celananya. Lalu memberikan obat itu pada Wilson.

Tak berselang lama keadaan Wilson berlangsung membaik.

Ia menatap ke arah Dylan, "sekarang kamu cari keberadaan Luis, ada hal yang ingin aku bicarakan padanya."

Dylan mengangguk setuju.

***

Arina menikah dengan Johan Faela tiga tahun. Namun, akhir-akhir ini ia merasa sikap suaminya berubah.

Pintu kamar terbuka perlahan, Johan melangkah masuk dengan langkah berat, wajahnya tampak lelah namun ada dingin yang tak biasa terpancar dari matanya.

Arina segera berdiri dan melangkah menghampiri suaminya, harapannya seperti biasa mendapat pelukan hangat yang menenangkan setelah hari yang panjang.

Namun kali ini, tangan Johan dengan cepat menghindar, bahkan tubuhnya seperti ingin menjauh.

Arina menatap Johan dengan mata berkaca-kaca, hatinya tercekat oleh sikap dingin yang tiba-tiba menyelimuti pria yang dulu penuh kasih itu. "Johan, kamu kenapa sih?" suaranya bergetar, penuh sedih dan bingung.

Ia mengingat kembali keputusan besar yang pernah dibuatnya empat tahun lalu, meninggalkan keluarga lama demi cinta pertamanya—Johan. Namun kini, kata-kata kasar itu datang tanpa ampun.

Johan menatap Arina dengan mata yang menyimpan kebencian, bibirnya menyunggingkan senyum dingin. "Kamu semakin tua, lihatlah keriput di wajahmu," ucapnya dingin, seolah itu adalah sebuah vonis yang menghancurkan.

Arina terdiam, tubuhnya seolah membeku, rasa sakit merayap ke setiap sudut hatinya.

Air mata perlahan mengalir, tapi ia menahan diri agar tak jatuh terisak di depan lelaki yang dulu ia cintai sepenuh jiwa.

Suasana di kamar itu berubah menjadi sunyi, hanya suara napas mereka yang terdengar, menyisakan luka yang dalam dan keheningan yang membakar.

Setelah melepaskan dasinya, Johan berjalan ke arah kamar mandi. Tanpa memperdulikan istrinya yang menangis.

"Kalau bukan demi rahasia perusahaan milik Wilson, aku nggak mungkin mau kembali padamu. Empat tahun lalu, kamu masih cantik, tapi sekarang kamu malah seperti tanteku." Gumam Johan dalam hatinya.

Dia memang tidak pernah mencintai wanita manapun, termasuk istrinya sendiri. Baginya hidup ini hanya untuk bersenang-senang, kecuali darah dagingnya.

Apalagi melihat Wilson yang waktu SMA selalu berada diatasnya, ia sangat senang setelah mendengar berita Wilson sakit keras karena ditinggal oleh istrinya.

Arina masih berdiri, ntah kenapa kebahagiaan dengan Johan hanya bertahan beberapa tahun saja.

Tiba-tiba lamunan Arina buyar saat Johan memanggil namanya dengan marah.

"Kenapa dipanggil dari tadi nggak jawab?!" Tegur Wilson marah, ia terpaksa keluar dari dalam kamar mandi tanpa sehelai benangpun.

Arina buru-buru mengambil handuk bersih untuk suaminya, tapi saat menyerahkan handuk itu.

Arina tertegun melihat bekas cupang yang sangat banyak didada suaminya.

"Sayang, kamu ... " Ujar arina seraya menunjuk ke arah bekas-bekas merah itu.

Johan dengan kasar menerima handuk itu, "kenapa?"

"Kamu selingkuh," celetuk Arina.

"Memangnya kenapa?" Sahut Johan ketus, "Bagi kami seorang pria pebisnis, wanita hanya mainan." Imbuhnya.

"Apa?!!" Arina terkejut. Tubuhnya seakan membeku, ia mengingat sebelumnya Wilson tidak pernah mengkhianati dirinya.

"Cepat kamu buat makan malam dulu sana! Aku lapar," ujar Johan.

Arina menjawab, "Johan ... Aku nggak bisa masak. Kita beli makan dari luar lagi, tapi uang belanja yang kamu berikan sudah habis."

"Apa kamu bilang!!" Johan yang marah mencekik leher istrinya.

"Kamu boros sekali, mulai sekarang sudah tidak ada pembantu rumah. Kamu harus membersihkan rumah dan belajar memasak!" Kata Johan dengan nada memerintah.

"Aku nggak mau," sahut Arina.

Johan mengancam, "oke kalau kamu nggak mau. Aku akan memberikan pernyataan pada media, kalau kamu adalah dalang yang mencuri beberapa progam kerjasama mantan suamimu. Bahkan kamu selingkuh denganku."

Kedua bola mata Arina membelalak sempurna, ia menatap suaminya tidak percaya.

Johan menambahkan, "video saat kamu memohon kembali kepadaku, masih tersimpan rapi. Ntah apa kata anak kandungmu, yang terpenting nantinya bagaimana reputasimu dan juga keluarga besarmu."

Arina hanya bisa menitihkan air mata, ia pun memohon pada suaminya, agar tidak melakukan semua ancamannya.

"Baiklah, kali ini aku memafkanmu. Tapi kamu harus bersandiwara seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada putriku Emma. Karena dia adalah batasanku." Tambah Johan lalu ia pergi ke ruang ganti pakaian.

Arina melangkah pelan keluar dari kamar dengan hati yang berat, napasnya terasa sesak menahan luka yang baru saja diterimanya.

Bekas-bekas cupang merah membengkak di leher Johan masih membayang jelas di pikirannya, begitu pula kata-kata kasar yang terucap dari mulut suaminya—semua terasa seperti pisau yang terus mengiris jantungnya.

Matanya sembab, namun ia berusaha menepis bayangan itu dengan gumaman lirih, "Nggak mungkin Johan seperti itu..." Ia mengingat tiga tahun pernikahan mereka yang dulu penuh harap, sebelum saham yang diwariskan mantan suaminya jatuh ke tangan Johan dan mengubah segalanya menjadi dingin dan penuh kebencian.

Dengan langkah gontai, Arina menuju dapur—tempat yang asing baginya karena ia tumbuh dalam keluarga kaya yang tak pernah mengajarkan hal sederhana seperti memasak.

Ia mencoba mengikuti perintah Johan, namun tangan gemetar dan tak terlatih membuat masakannya cepat gosong.

Aroma hangus memenuhi udara, membuatnya semakin frustasi dan hampir putus asa.

Tangan kirinya pun tak sengaja tergores pisau saat ia berusaha memotong sayuran.

Tiba-tiba, sosok Emma, putri kandung Johan, muncul dengan tenang.

Wajahnya lembut saat ia mendekati Arina, mengambil kain bersih dan perlahan mengobati luka di tangan Arina.

"Hati-hati, Bu Arin," ucap Emma dengan suara yang jauh dari kesan dingin atau sinis.

Arina menatap Emma sejenak, merasa ada secercah kehangatan di tengah dinginnya hubungan keluarganya saat ini.

"Emma maaf, ibu nggak bisa masak."

Arina mengangguk, "biasanya kan ibu nggak pernah masak, kita beli aja seperti biasanya."

Wajah Arina ragu.

Emma bertanya, "Ibu Arin, ada apa?"

Arina menjawab dengan suara pelan, "Uang belanja sudah habis."

Setiap bulan, Johan hanya memberikan uang bulanan sebesar 30 juta, karena pembantu sudah dipecat, terpaksa ia membeli makanan di restoran dan untuk membeli makanan di restoran bintang lima.

Uang itu hanya cukup untuk bertahan sepuluh hari.

Jauh berbeda dengan saat ia masih menjadi istri Wilson, ketika uang belanjanya bisa mencapai satu miliar per bulan.

Emma tersenyum tipis. "Aku mengerti. Pakai saja uangku. Ayah baru saja mendapatkan proyek besar pembangunan jembatan senilai 10 triliun dari pemerintah. Sebagai bonus, ayah memberiku 10 miliar. Aku akan mentransfer satu miliar padamu, Ibu."

Arina terdiam, teringat bahwa proyek besar itu adalah hasil kerja mantan suaminya, Wilson, yang pernah ia curi.

"Wilson, Luis, putraku... Maafkan aku," gumam Arina dengan sedih.

Lamunan Arina buyar, saat tiba-tiba Emma memegang tangannya. "Ibu, besok pacarku akan datang kesini."

"Apakah boleh?" Tanya Emma.

Arina memaksakan senyumannya, "tentu saja boleh."

"Tapi apakah ibu boleh tahu, siapa namanya?"

Emma mengangguk, lalu menjawab ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!