Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MUlai Berontak
Dokter Chandra tidak menjawab. Mulutnya terbuka. Tapi tidak ada suara yang keluar. 35 tahun dia latihan pidato buat wisuda, buat seminar, buat kuliah umum. Tapi detik ini...ia kehilangan perbendaharaan kata.
Karena lawan bicaranya tidak pakai emosi. Pakai logbook. Lawannya pakai angka. Pakai nyawa manusia yang tidak bisa ia bantah.
Devan keluar dari ruangan itu dengan langkah mantap dan dagu ke atas. Tidak ada gurat rasa bersalah atau menyesal setelah berdebat dengan papanya.
Chandra menoleh Soraya yang sudah mengenakan kacamata hitamnya. "LIHAT!" suaranya meledak. "Bagaimana putramu membangkang! Itu karena kamu terlalu memanjakannya!" amarahnya meluap-luap.
Soraya. Wanita itu masih duduk anggun, meraih hand bag Channel dengan warna senada kacamatanya. Wajahnya tenang, sama sekali tidak terpancing emosi sang suami.
Tidak ada alis naik, tidak ada napas memburu. Nyonya Handaru harus tetap tenang dan elegan, meski dunianya hancur.
Perlahan, ia menoleh suaminya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum kemenangan. "Devan selalu jadi putraku saat dia tidak patuh padamu."
Kalimat itu pendek. Tapi setiap kata seperti jarum infus yang menusuk nadi Chandra. Pelan. Pasti. Sakit.
Lalu ia berdiri. Hand bag di genggaman. Tumit Louboutin 12 cm menghantam lantai marmer. Tak...tak...tak...
Ia melangkah ke arah pintu. Melewati Chandra yang masih berdiri kaku. Bau parfum Channel No.5 lewat. Wangi yang sama Chandra cium waktu pertama kali dia melamar Soraya di Paris. Waktu Soraya masih menjadi 'Raya' yang suka tertawa lepas.
Di depan pintu, Soraya berhenti. Dia tidak menoleh. Tangan kirinya membenarkan kacamata, memastikan benda hitam itu bertengger sempurna di hidung bangirnya.
Lalu ia kembali bicara. "Seberapa sempurna kamu mengubah Devan menjadi mesin. Tapi dia tetap manusia yang memiliki hati dan emosi." pungkasnya, menarik daun pintu dan keluar.
Chandra mengepalkan kedua tangannya. Emosinya naik sampai ubun-ubun. Ia menyambar gelas wine yang ada di dekat tangannya. Gelas Baccarat. Harga satu motor. Isinya wine 1982. Mahal. Mewah. Sama seperti hidupnya.
Lalu.
PYAARRR.....
Serpihan kristal putih itu menyebar ke seluruh ruangan. Ke dinding. Ke karpet merah. Ke jas Tom Ford dia yang harganya 200 juta.
Tranggg...trangg....tring...
Suara pecahan kaca jatuh ke atas lantai marmer. Sama seperti tetesan infus. Tapi ini infus amarah.
Napas Chandra semakin memburu. Ia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Istri dan anaknya menginjak harga dirinya dan mengoyak egonya. Padahal selama ini Chandra memastikan jika hanya suaranya yang di dengar.
"Manusia. Hati. Emosi. Omong kosong!" dengusnya sinis. Suaranya mantul ke dinding.
Ia sudah kehilangan semua itu sejak 35 tahun yang lalu. Cinta. Sambutan hangat. Tawa renyah. Dan sikap manja Soraya. Tidak ada lagi sejak kebohongannya terbongkar.
Sejak 18 jam bedah yang ia katakan Soraya temukan di sebuah apartemen bersama gadis muda. Saat alasan rapat direksi itu Soraya buktikan di kamar hotel bersama mahasiswi koas-nya.
Salah Soraya? Ya, salah Soraya karena mengetahui kebejatan suaminya. Jika saja Soraya tidak mencari tahu. Jika saja Soraya mengabaikannya keresahan hatinya. Mungkin sampai saat ini keharmonisan rumah tangga itu benar-benar nyata. Bukan sekedar topeng.
Ya, museum es itu tercipta karena kesalahan Soraya. Chandra tidak pernah mengakui kesalahannya. Sekalipun bukti nyata terpampang, ia tetap menyalahkan Soraya.
Padahal, dua pengkhianatan itu hanya sebuah kesialan yang di ketahui Soraya. Sisanya, sang istri benar-benar lepas tangan. Tidak ingin tahu menahu tentang apa yang dilakukannya. Tapi mulai hari itu, Soraya hanya istri di atas kertas. Ia tetap mempertahankan gelar nyonya Handaru, dengan harga yang meremukkan hatinya.
.....
Di sisi lain. Soraya mengendarai Audi putihnya tenang. Membelah jalanan Jakarta di tengah panas terik matahari. 35 derajat. Aspal hitam mengeluarkan uap. Klakson bersahutan. Tapi di dalam mobil. Sunyi. AC 18 derajat. Dingin. Seperti hatinya.
Matanya merah, ujung matanya sedikit basah. 35 tahun bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Bukan hal yang mudah. Tidak pernah satu hari ia lewati tanpa sandiwara yang menguras energi dan mentalnya.
Tidak ada tempat berlindung, selain di balik senyum palsunya. Tanpa sadar Soraya mengeratkan tangannya di stir. Urat nadinya terlihat menonjol. Ia menginjak pedal gas dalam.
Wruunnggggg....
Audi putih meraung. Dari 48 km/jam langsung 120 km/jam. Nyalip mobil. Ngebut. Ini pertama kalinya Soraya memacu kecepatan mobil di atas rata-rata. Biasanya ia selalu sopan. Mengikuti batas kecepatan.
Karena nyonya Handaru harus sempurna. Tapi hari ini ia tidak mau sempurna. Hari ini ia melaju kencang. Kabur. Meninggalkan panggung sandiwara yang membelenggu nya selama 35 tahun.
Berbeda dengan Soraya yang berada di puncak emosi. Devan mengemudikan sedan hitamnya dengan tenang. Melintasi aspal yang akan membawanya bertemu seseorang yang ada dalam hatinya.
Savira. Ia tadi tidak mengatakan apapun pada gadis itu. Savira pasti heran tidak melihatnya di ruang OK.
Begitu sampai rumah sakit. Devan memarkirkan mobilnya di slot khusus. Ia langsung berlari seperti dokter yang akan menangani kasus darurat, membuat jas hitamnya berkibar. Ia masih mengenakan stelan hitamnya.
Tujuan nya hanya satu. Yaitu OK 3, ia yakin kalau Savira belum keluar dari ruangan dingin itu. Ruang steril 16 derajat. Tempat mereka bertukar pandang tanpa kata. Tempat ia menjadi manusia. Bukan anak Chandra.
Seseorang yang juga baru keluar dari ruang scrub langsung memanggil. "Dev, mau kemana?" seru Andre saat Devan baru keluar dari lift.
Devan mengedikkan dagunya ke arah balkon. Dahi Andre berkerut, sejurus langkah kakinya mengikuti Devan yang sudah menyandarkan tubuhnya di pagar kaca. Balkon lantai 6. Angin kencana. Bau antiseptik nyampur bau hujan.
Andre mengikuti arah pandang Devan. Di OK 3 sedang melakukan operasi. Lampu sirkular nyala terang. Meja operasi steril. Tubuh pasien ketutup kain ijo.
Dokter Anggara operatornya. Tangannya lincah megang scalpel dengan gerakan yang presisi. Dan Savira, dokter anestesi utamanya. Scrub biru gelap membalut tubuhnya pas, lengkap dengan nurse cap dan masker menutup setengah wajahnya.
"Kenapa?" tanya Andre yang berdiri di sebelahnya.
Devan menggeleng, matanya tak lepas dari sosok yang berdiri di belakang kepala pasien. Punggung Savira. Lengkungan lehernya yang biasanya dia lihat saat 6 jam bersama di OK. Rambut yang di tutup nurse cap. Devan hafal semua.
"Seharusnya aku yang berdiri di sana." kata Devan pelan.
Andre menoleh. Menelisik wajah sahabatnya. Dulu Devan mungkin terpaksa mempelajari buku anatomi, pegang pisau bedah. Tapi sekarang, keterpaksaan itu menjadi dedikasi yang absolut.
Andre berdehem dan kembali melihat OK. "Jadi, bagaimana pertemuan tadi?"
Kini dahi Devan yang berkerut. "Pertemuan? Bagaimana kamu tahu?" tanyanya heran. Pasalnya ia tidak mengatakan pada siapapun tentang pertemuan tadi.
Andre menarik sudut bibirnya. Gestur tubuhnya tenang. Tangannya di saku jas snelli-nya. "Bukan hanya aku. Semua staf rumah sakit juga tahu. Dinding rumah sakit ini punya telinga."
Devan ngelepas sandarannya di pagar kaca. Perlahan. Tubuh 185 cm itu ngeluarin aura di dingin. "Andre Baskoro." suaranya rendah. Tapi penuh penekanan.
Andre melirik sebal saat Devan sudah mode serius seperti ini. "Jangan melihatku seperti itu. Aku bukan penjahat yang ketahuan maling." dengusnya. Tatapan Devan mengulitinya.
Melihat Devan belum berkedip juga, Andre mendesah pasrah. "Tadi pak Ronald bilang sama dokter Anggara. Kalau dia disuruh gantiin kamu, karena kamu makan siang sama keluarga Pratama." jelas Andre. "Bahas pertunangan." Imbuhnya, sukses membuat mata Devan membulat.
Mata hitam itu melebar. Pupilnya mengecil. Seperti baca hasil CT scan yang tidak terduga.
Pak Ronald adalah asisten papanya. Pria 50an. Setiap. Licin. Mulutnya lebih cepat dari email resmi. Kalau pak Ronald sudah ngomong sama dokter Anggara. Itu artinya satu rumah sakit sudah tahu.
*
*
*
*
*
To be continued