NovelToon NovelToon
No Hope - System

No Hope - System

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir / Hari Kiamat / Evolusi dan Mutasi / Sci-Fi
Popularitas:58.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ex_yu

Hidup di Dunia Apokaliptik dengan sebuah sistem di tubuhku? Jujur saja aku tidak menghendakinya. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa memiliki sistem ini?

Aku tidak tahu awal kehancuran dunia ini, tetapi aku akan mencari tahu kebenarannya. Aku akan mencari keberadaan ibu, ayah dan kakakku yang terpisah selama lima tahun ini.

Yang aku ingat, aku diajak oleh ayah untuk memperlihatkan hasil karya ciptanya. Saat berada di dalam perjalanan menuju ke tempat yang tidak kuketahui, ayahku memberikan sebutir pil. Katanya pil itu adalah vitamin.

Setelah aku telan, beberapa menit kemudian aku tidak sadarkan diri. Aku terbangun dengan Infomasi yang membingungkan. Tahu-tahu, sebuah sistem sudah berada di tubuhku.

Aku dibantu oleh seorang wanita yang bernama Veronica, dia adalah sistem itu sendiri. Dia menjelaskan semuanya perubahan di dunia.

Aku masih belum mempercayai apa yang terjadi, sebab kehancuran dunia ini ada kaitannya dengan ayah dan diriku. Tapi, aku pasti mencari tahu kebenaran ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ex_yu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertarung Dengan Nemesis Beast.

Bab 32. Bertarung Dengan Nemesis Beast.

Karena adanya sorotan lampu, lantai dasar gedung laboratorium terlihat jelas. Kami melihat asap hijau yang menempel di dinding. Itu adalah spora jamur beracun. Anak buahku tanpa diperintah sudah memakai tabung masker. Jelas mereka tidak mau menjadi zombie gara-gara menghirup zat beracun itu.

Saat masuk ke lantai dasar gedung laboratorium, sinyal radar System Adam semakin terganggu, membuktikan gelombang elektromagnetik sangat kuat di area dalam ini.

Walaupun sinyal terganggu, radar sistem masih bisa memadu kita, dan Veronica terus memberikan petunjuk arah yang tepat. Kami mengikuti jejak lumpur yang ditinggalkan Belevia dan timnya.

Kami melihat mayat-mayat Tentara Unicorn yang tak bernyawa, dan banyak zombie-zombie beracun yang sudah tidak bergerak. Kami terus mengikuti jejak langkah kaki tim sebelumnya.

Setiap lorong-lorong gedung laboratorium ini, kami sangat tegang karena suasana sangat sepi, kami melihat jejak-jejak darah yang menempel di dinding kanan kiri. Kami samar-samar mendengar suara geraman zombie dari arah depan.

Anak buahku selalu bergerak cepat saat mengamankan setiap ruangan. Tetapi, kami tidak mendapati satupun orang yang masih hidup, dan zombie sudah mati tanpa kepala utuh. Pasti Belevia dan timnya yang telah membunuhnya zombie-zombie ini.

"Boss...."

Salah satu anak buahku menunjuk ke arah pintu besi, dan itu adalah pintu lift yang masih bisa digunakan. Radar sistem mengarahkan ke pintu lift. Aku melihat angka terakhir lift yang baru saja digunakan, berhenti di lantai 34 bawah tanah.

Aku menghela napas secara perlahan, sebab gedung laboratorium ini dibangun ruang bawah tanah yang sangat dalam. Jauh lebih dalam daripada laboratorium milik ayahku.

"Boss...."

Anak buahku yang lain menunjukkan sesuatu di lorong sebelah kiri. Aku melihat ada lubang besar pada dinding, diameter lingkaran mencapai empat meter. Kami memeriksanya, dan ada jejak daging yang bukan milik manusia. Aku menduga jika jejak daging ini milik mahkluk mutan itu.

Kami juga melihat jejak darah manusia yang diseret masuk ke dalam lubang bawah tanah. Anak buahku melemparkan tabung fosfor ke dalam lubang. Saat cahaya fosfor menerangi lubang, kami sempat dikejutkan saat melihat sekelebatan segumpalan daging berukuran besar. Gumpalan daging bergerak itu langsung menghilang di dasar lubang.

Jarak antara lift dan lubang ini terpaut 10 meter. Dan dasar bawah tanah ini pasti mengarah ke sarang mahkluk itu. Aku melihat anak buahku yang usianya terpaut jauh dariku, namanya Olic.

"We can't all fit into the elevator. Uncle Olic, secure the entire floor, and put dynamite in every room in this building. Explode when I command! (Kita tidak bisa masuk semua ke dalam lift. Paman Olic, amankan seluruh lantai, dan pasang dinamit pada setiap ruangan di gedung ini. Ledakan ketika saya perintahkan!)"

Perintahku kepada Olic yang seharusnya kuanggap sebagai bapak ini. Aku tidak perlu banyak bicara karena anak buahku sudah tahu apa yang harus dikerjakan.

"Leave it to us, Boss! (Serahkan kepada kami, Boss!)" Jawab Olic dan memimpin 14 orang.

Sebelum berjalan ke lift, aku sekali lagi melihat ke dalam lubang itu. Di dasarnya masih ada pencahayaan fosfor. Aku segera memimpin sepuluh anak buahku masuk ke dalam lift. Lalu menekan tombol lantai 34.

Boom...

Setelah beberapa waktu di dalam lift, tiba-tiba kami mendengar suara ledakan keras dari bawah tanah, membuat lift terguncang hebat. Akibat ledakan itu, lift macet, dan jelas tidak bisa bergerak turun, berhenti di lantai 15 menuju ke lantai bawah tanah.

Bang... Bang... Bang...

Dengan sekuat tenaga, aku memukul pintu lift berkali-kali agar terbuka. Anak buahku sangat terkejut karena daun besi lift terpental menjauh. Mereka menatapku seperti melihat monster.

Aku segera keluar dari lift, dan berbelok ke lorong kanan. Setelah jarak antara lubang tepat, aku memukul dinding gedung. Anak buahku menembaki zombie-zombie yang ada di lantai 15 bawah tanah. Mereka melindungiku yang sedang menghancurkan dinding.

Bruk...

Dinding roboh setelah beberapa kali aku pukul, dan mengarahkan pada lubang yang dibuat oleh monster mutan. Aku melihat fosfor di dasar bawah tanah yang mulai meredup.

"Kalian gunakan tali, aku akan langsung melompat ke bawah," kataku kepada anak buahku yang masih mengamankan area lantai 15 bawah tanah.

"Go, Boss, we'll catch up! (Pergilah Bos, kami akan menyusul!)"

Aku mengacungkan jempol, lalu melihat kembali ke dalam lubang. Di dalam lubang ini terdapat besi-besi beton yang mencuat, bisa digunakan sebagai pegangan tangan dan tumpuan kaki, dan beberapa kabel listrik yang mengeluarkan arusnya. Kabel listrik lecet itu yang harus diperhatikan.

Aku segera melompat ke bawah, dan bertumpu pada besi, lalu melompat turun ke depan. Aku melakukan lompatan zig-zag pada dinding lubang saat turun; melompat ke kanan dan ke kiri. Karena lompatan, kerikil kecil di dinding lubang berjatuhan.

Robot Raptor yang difasilitasi dengan pengelihatan malam, aku bisa melihat jelas dinding lubang yang tidak rata ini terdapat jejak darah manusia, dan spora jamur beracun semakin tebal di dekat dasar bawah tanah.

Di saat berada di lantai 32 bawah tanah, aku dikejutkan dengan kepala wanita yang tertancap besi. Aku tidak sanggup melihat tatapan mata melotot wanita itu yang merekam kengerian sebelum tewas.

Ketika melihat ke bawah, ada beberapa jenis zombie yang sudah menungguku, berusaha naik ke dinding lubang dengan meriah besi mencuat. Mereka adalah Zombie Runner, Bursect Zombie, dan Zombie Reptil.

Aku mengeluarkan granat serpihan, dan melemparkan ke tengah-tengah mereka. Granat itu meledak dan menumbangkan beberapa zombie. Tetapi yang masih hidup tidak kenal takut, dan terus berusaha untuk memanjat dinding lubang.

Sekali lagi aku melemparkan granat agar zombie-zombie itu tidak menghambat pijakan kakiku ketika turun nanti. Granat meledak. Aku segera melompat ke bawah. Ketika kakiku berpijak pada dasar bawah tanah, aku langsung melompat dan menendang kepala Zombie Runner yang merangkak cepat mendekatiku.

Aku keluarkan dua pistol dan menembak kepala zombie-zombie ini. Dengan pistol tak henti-hentinya memuntahkan peluru, aku perlahan bergerak maju mengikuti petunjuk denah gedung laboratorium ini.

Lorong tempatku saat ini selebar tiga meter, di atas kepalaku terdapat pipa besi, dan aku melihat lendir yang menempel pada pipa dan dinding. Awan spora jamur semakin pekat di dalam lorong ini, dan gelombang elektromagnetik bisa kurasakan. Hal ini membuktikan bahwa sarang mahkluk itu tidak jauh lagi. Tetapi, aku harus melewati beberapa belokan dan lorong panjang.

Aku segera mempercepat langkah kakiku karena khawatir dengan keselamatan tim sebelumnya. Satu amunisi pistol habis, dan meletakkannya pada saku di paha agar terisi secara otomatis.

Dengan satu pistol, aku menembaki para zombie yang berdatangan. Dan menggunakan kaki untuk menendang kepala mereka. Lambat laun jumlah zombie-zombie berkurang, dan aku terus bergerak semakin jauh kedalam lorong pipa ini.

Di depan aku melihat belokan ke kanan, dan itu jalan yang harus kulewati berikutnya. Zombie-zombie di dalam lorong yang kulewati akhirnya mati semua, dan aku dekat dengan belokan ke kanan.

Aku merapatkan punggung ke dinding sebelum berbelok, memastikan bahwa di lorong berikutnya tidak ada bahaya yang menunggu. Aku melakukan ini karena radar sistem semakin terganggu sehingga tidak bisa memperlihatkan situasinya.

Dengan sudut mata kananku, aku mengintip. Dan aku terkejut karena melihat Nemesis Beast sudah menungguku; diam mematung dengan membawa palunya di tengah-tengah lorong ini. Aku menenangkan pikiran, dan mulai berpikir.

Nemesis Beast ini bertubuh besar dan tinggi, gerakannya akan terbatas jika bertarung di lorong dengan lebar tiga meter. Ini adalah keuntungan. Tetapi, tubuhnya kebal terhadap benturan peluru, dan aku tidak mungkin membuang peluru untuk mengalahkannya, dan belum tentu dia juga tumbang.

Keuntungan lainnya, tubuhnya terluka terkena roket, dan jelas membuat gerakannya semakin melambat. Jadi, aku putuskan untuk menggunakan pisau komando. Aku simpan pistol di saku celana pada paha, lalu mengambil pisau komando.

Aku memperlihatkan diri kepada Nemesis Beast. Seketika Nemesis Beast berjalan ke arahku dengan menyeret palunya yang besar itu. Jantungku jelas berdetak kencang karena mahkluk yang ini sangat kuat.

Ketika jarak kami terpaut tiga meter, Nemesis Beast mengayunkan palunya. Aku segera merapatkan tubuh ke dinding untuk menghindari terkena hantaman palu itu.

Bang...

Palu menghantam ubin, dan aku merasakan hembusan anginnya. Jika aku terkena, sudah pasti akan terluka parah. Aku segera berlari ke arahnya, lalu menggunakan lutut untuk meluncur ke bawah di antara kedua kakinya.

Ketika dekat dengan celah kedua kakinya, aku menyayat persendian otot kakinya agar tidak bisa berdiri. Aku tercengang karena kulitnya hanya tergores saja, dan sedikit mengeluarkan darah.

Padahal pisau komando ini sangat tajam, mampu memotong kawat, dan membelah seng. Tetapi tidak mampu memotong urat nadi pergelangan kaki Nemesis Beast, butuh beberapa kali sayatan.

Aku segera berdiri setelah melewati kedua kaki Nemesis Beast, dan segera membalikkan badan. Nemesis Beast terlebih dahulu membalikkan badannya, dan mengayunkan palunya dengan sangat cepat. Aku segera menyilangkan kedua tanganku untuk menahan benturan keras dari palu. Tapi...

Bang...

Aku terpental ke belakang, menabrak pipa gas hingga putus. Saking kerasnya hantaman palu, aku terguling-guling sejauh 20 meter, dan baru terhenti saat membentur daun pintu. Aku merasakan sakit pada tulang lenganku, dan tanganku gemetaran.

Jika aku tidak terlindungi oleh Robot Raptor, sudah dipastikan seluruh tulang lengan patah. Aku melihat stamina Robot Raptor berkurang 15% dari 95%. Nemesis Beast berlari ke arahku dengan menyeret palunya.

Aku melihat pisau komando milikku tergelatak di depanku sejauh dua meter. Aku segera berlari untuk mengambil pisau, dan menggunakan lutut agar bisa meluncur. Nemesis Beast berhenti untuk mengayunkan palunya ketika aku berhasil meraih pisau.

Aku meluncur di antara kedua kakinya yang terbuka, kembali menggunakan pisau dan menyayat pergelangan kakinya dengan penekanan kuat. Aku melewati antara kedua kakinya, dan segera berdiri, lalu membalikkan badan.

Aku melihat otot pergelangan kakinya mengucurkan darah, tetapi otot itu tidak sepenuhnya putus. Nemesis Beast membalikkan badan. Ketika berjalan ke arahku, baru satu langkah kaki dia langsung berlutut, dengan lutut membentur ubin dengan sangat keras. Membuktikan bahwa kekuatan telapak kaki yang tersayat membuatnya melemah.

Aku segera berlari kencang ke arahnya, melompat ke dinding kiri sebagai tumpuan kaki, dan itu bertujuan untuk memberikan hentakan kuat saat menyayat lehernya. Tetapi, Nemesis Beast belum menyerah, dia mengayunkan palunya dengan posisi berlutut. Aku pun tidak bisa menghindari dalam posisi seperti ini yang terpaut kurang dari dua meter.

Bang...

Dadaku terkena telak hantaman palunya sehingga terpental jauh dan berguling-guling. Aku baru berhenti ketika membentur dinding pada lorong tempat aku bersandar sebelumnya. Aku memuntahkan darah segar dari mulutku, merasakan seluruh tulang dada dan rusuk patah.

Hantaman palu itu mengurangi daya tahan Robot Raptor hingga berkurang 50%, tersisa 30%. Aku melihat baju besi bagian dadaku robek karena hantamannya. Nemesis Beast tetapi berlutut dengan satu kaki, menunggu seranganku.

Aku lihat radar sistem yang masih terganggu, dan tidak ada jalan lain selain lorong yang dijaga oleh Nemesis Beast ini. Mau tidak mau, dengan stamina 30%, aku harus mengalahkannya agar bisa menyelamatkan istri dan anak buahku.

Aku salah perhitungan. Dengan posisi Nemesis Beast bertahan seperti ini, aku sulit untuk mengalahkannya. Tetapi sebagai manusia, aku masih memiliki akal pikiran.

"Veronica, apakah ada cara lain untuk mengalahkannya?" Aku berkonsultasi.

[Besi pelindung kepala adalah kelemahannya. Jika Anda berhasil melepaskan pelindung kepalanya, maka peluru bisa menembus otaknya dengan mudah.]

Aku jelas senang mendengarnya. Namun, untuk berhasil melepaskan helm besi itu butuh upaya keras. Untuk mendekatinya saja tidak mudah. Aku melihat kanan kiriku, berharap ada benda yang bisa dimanfaatkan untuk bertarung, sebab pisau komando jatuh dekat dengan Nemesis Beast. Sayangnya tidak ada, dan tidak mungkin menggunakan pipa gas berukuran besar untuk bertarung.

1
black swan
...
Mikazuki
ngilang ni authornya
Cahyadiputra Ajahh
mana lanjutnya thor
Indra zoker
halu Thor, gw mampir lagi .. moga Lo masih inget sma gw Thor /Sleep/
Ardi Muhammad
langsung aja ya
Ardi Muhammad
langsung aja jangan tanggung biar semakin seru lagi
Bima Sakti
makin paten alur cerita nya Thor, dua kopi dah meluncur buat nambah semangat menulis author ✌️💪✊🔥🔥🤲
ri
kukira lebih banyak dewasa
Ardi Muhammad
langsung aja jangan tanggung biar semakin seru lagi tetap sehat dan semangat Thor
Ardi Muhammad
mulai tegang
Harwi
Yakin IKN selesai ?
Ardi Muhammad
okelah
Bima Sakti
kopi lah Tibo Thor.. Jan lambek na update nyo Yo Thor.
kok dapek gak labiahan bab nyo senek✌️🤭👍👍✊🔥🤲
ri
punya Instragram nggak kak
Bima Sakti
mantap kali ko mah Thor.. taruih an ✊✊👍👍✌️✌️😁
Ardi Muhammad
lanjut
Ardi Muhammad
langsung aja jangan tanggung
I'm Nao
asal berapa tu?
I'm Nao
Anjay gitu juga?
I'm Nao
waduh apa ini berlima?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!