Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
"Sepuluh menit, Alana. Gambar ulang denah keseluruhan lantai ini, atau paspor kalian berdua tidak akan pernah diaktifkan kembali oleh pihak imigrasi."
Suara Devran yang dingin memutus keheningan di ruang pertemuan utama. Ia melemparkan sebuah buku sketsa kosong dan sebuah pensil arsitektur ke atas meja oval kayu jati, tepat di hadapan Alana yang masih berdiri gemetar menahan amarah.
Alana menatap benda-benda itu, lalu beralih menatap mata elang Devran yang tak berkedip.
"Anda gila! Denah lantai 45 ini sangat kompleks dan luas. Desainer mana pun butuh waktu berjam-jam untuk menggambarnya dari ingatan secara presisi, Tuan Devran Adhitama!"
"Aku tidak meminta desainer mana pun, aku meminta Alana Kirana, lulusan terbaik dari Zurich yang tim kuratorku agung-agungkan baru saja," sahut Devran dengan nada meremehkan, menyandarkan tubuh tegapnya di tepi meja sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Waktu berjalan sekarang. Sembilan menit lima puluh detik."
"Ini pemerasan!" desis Alana, napasnya memburu.
"Sebut ini sesukamu. Tapi jika kamu tidak bergerak, malam ini Leo akan tidur di kediaman Adhitama tanpa ibunya," balas Devran, suaranya mendadak rendah namun sangat mengintimidasi.
Mendengar nama Leo disebut, insting seorang ibu di dalam diri Alana langsung mendominasi. Ia menyambar pensil itu dengan jemari yang masih sedikit gemetar.
"Jangan berani-berani menyentuh Leo dengan tangan kotor Anda!"
"Maka buktikan kompetensimu, Alana. Sembilan menit dua puluh detik." Devran mengetuk-ngetuk permukaan jam tangan mewahnya, menciptakan ritme yang menekan mental Alana.
Alana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menarik kursi ke depan, lalu duduk dengan tegak.
Matanya terpejam selama tiga detik untuk memvisualisasikan kembali memori visual yang sempat ia tangkap saat berjalan dari lift menuju ruang pertemuan tadi. Begitu matanya terbuka, kilat kecerdasan murninya terpancar. Pensil di tangannya mulai menari di atas kertas putih bersih dengan kecepatan yang luar biasa.
SRET... SRET... SRET...
Devran memperhatikan setiap gerakan tangan Alana dengan saksama. Ia tertegun di dalam hati. Cara wanita itu menarik garis lurus tanpa penggaris, presisi skala yang ia tentukan hanya dengan perkiraan mata, hingga kecepatan eksekusinya benar-benar menunjukkan bahwa Alana bukan arsitek interior sembarangan.
"Tiga menit berlalu," gumam Devran, sengaja ingin memecah konsentrasi Alana.
"Jalur utilitas siber yang kamu banggakan tadi, di mana posisinya dalam denah ini?"
"Di sini, di balik dinding ganda koridor barat," sahut Alana tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas, tangannya terus bergerak membentuk kotak-kotak ruangan direksi.
"Dan di sebelah sini adalah ruang server sekunder yang terhubung langsung ke lift khusus Anda."
Devran menaikkan satu alisnya, sedikit terkejut karena Alana bisa menyadari keberadaan ruang server sekunder yang disamarkan sebagai dinding dekoratif.
"Analisis visual yang tajam. Sisa lima menit."
"Diamlah, Devran! Suara Anda hanya merusak estetika garis saya!" bentak Alana kesal, melupakan sepenuhnya status pria di depannya sebagai pendiri tertinggi korporasi raksasa.
Bukannya marah, sudut bibir Devran justru berkedut membentuk senyuman tipis yang misterius. "Keras kepala seperti biasa. Teruskan."
Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan gesekan ujung pensil dengan kertas yang beradu cepat. Alana terus menggambar dengan fokus penuh, namun tanpa ia sadari, tekanan mental dan kepanikan bawah sadarnya mulai mengorek memori terdalamnya.
Pikirannya tidak hanya mengingat koridor lantai 45 ini, tetapi juga melayang mundur ke layout bangunan-bangunan milik Adhitama yang pernah ia lihat sekilas lima tahun lalu di Bandung, terutama ruangan tempat segalanya berubah.
"Satu menit terakhir, Alana. Selesaikan atau kamu kalah," ucap Devran, suaranya memberat saat ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang kursi Alana untuk melihat hasil akhir sketsa tersebut.
"Selesai!" Alana menghentakkan pensilnya ke atas meja, napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari maraton.
Ia mendorong buku sketsa itu ke hadapan Devran dengan dagu terangkat. "Lihat sendiri! Semuanya presisi, mulai dari ruang rapat, ruang utilitas, sampai jalur evakuasi darurat!"
Devran mengambil buku sketsa tersebut. Pandangan matanya menyapu seluruh permukaan kertas. Awalnya, ekspresi wajah Devran tampak puas melihat keakuratan denah lantai 45 yang digambar Alana.
Namun, saat matanya mencapai bagian ujung kanan atas kertas, sebuah area yang seharusnya merupakan ruang kerja dan area istirahat privat milik pendiri perusahaan yang terkunci rapat dan tidak dimasuki oleh tim penilai, langkah napas Devran mendadak terhenti.
Mata elang Devran melebar. Cengkeramannya pada pinggiran buku sketsa itu mengencang hingga kertasnya sedikit terlipat.
"Alana..." suara Devran mendadak berubah serak, sarat akan keterkejutan yang teramat sangat.
"Apa... apa yang kamu gambar di bagian sudut ini?"
Alana mengerutkan kening, ikut melihat ke arah area yang ditunjuk oleh telunjuk kekar Devran.
Detik itu juga, wajah Alana yang tadinya mulai memerah kembali memucat seutuhnya. Jantungnya bagai merosot jatuh ke dasar perutnya.
Di sudut kanan atas itu, Alana tidak hanya menggambar ruang kerja utama Devran. Di balik dinding ruang kerja tersebut, ia menggambar sebuah ruangan tersembunyi yang sangat detail, lengkap dengan posisi tempat tidur berukuran king size, letak brankas dinding tersembunyi di balik lukisan abstrak, hingga posisi sebuah laci nakas kecil di sisi kiri tempat tidur yang memiliki kompartemen rahasia untuk menyimpan obat penenang khusus milik Devran.
Detail interior sekecil dan seprivat itu adalah layout yang persis sama dengan kamar tidur utama di penthouse pribadi Devran di Bandung lima tahun lalu. Kamar tempat Alana terjebak di malam terkutuk itu.
"T..tidak... ini salah..." Alana terbata-bata, tangannya bergerak panik hendak merebut kembali buku sketsa itu dari tangan Devran.
"S...saya hanya asal menggambar! Itu hanya perkiraan acak untuk ruang istirahat!"
Devran dengan cepat menarik buku sketsa itu menjauh dari jangkauan Alana, lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan bantingan pelan.
Ia menatap Alana dengan pandangan yang bergetar hebat oleh badai emosi yang meluap-luap.
"Asal menggambar, Alana?!" desis Devran, suaranya meninggi, menggema di ruang pertemuan yang kedap suara itu.
"Layout kamar pribadi ini, posisi brankas di balik lukisan, bahkan kompartemen rahasia di nakas kiri tempat tidurku... Tidak ada satu pun arsitek atau kontraktor di gedung ini yang mengetahui detail itu kecuali tim konstruksi pribadiku lima tahun lalu! Dan satu-satunya orang luar yang pernah masuk dan menghabiskan malam di dalam ruangan itu... adalah wanita malam itu!"
"Bukan! Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan!" Alana berteriak panik, air matanya mulai menggenang kembali karena rahasia yang ia jaga mati-matian selama lima tahun kini hancur berantakan hanya karena kesalahan alam bawah sadarnya saat menggambar.
"Lepaskan saya, Devran! Saya mau pergi!"
Alana bangkit berdiri dan mencoba berlari menuju pintu keluar, namun Devran bergerak jauh lebih cepat.
Pria itu menyambar pinggang Alana dari belakang, membalikkan tubuh wanita itu dengan satu gerakan tegas, dan mengurungnya di antara kedua lengan kekarnya yang bertumpu pada dinding kaca besar di belakang Alana.
"Lepaskan! Jangan sentuh saya!" Alana memukul dada bidang Devran dengan kepalan tangannya, menangis histeris karena merasa terdesak sepenuhnya.
"Tatap mataku, Alana Kirana!" perintah Devran, suaranya bergetar hebat oleh kombinasi rasa frustrasi, kepemilikan, dan kelegaan yang luar biasa. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Alana, menguncinya di atas dada tegapnya sendiri.
"Tatap aku! Mengaku sajalah! Kamu adalah wanita malam itu, kan? Wanita yang masuk ke kamarku dalam kondisi mabuk akibat jebakan Siska, wanita yang menyerahkan kesuciannya kepadaku, dan wanita yang meninggalkanku keesokan paginya dengan sejuta rasa bersalah yang menyiksaku selama lima tahun!"
"Bukan... bukan saya..." Alana menggelengkan kepalanya dengan lemah, tenaganya habis terkuras oleh kepanikan. Ia memalingkan wajahnya, enggan menatap mata elang Devran yang begitu intens menuntut kejujuran.
"Tolong... biarkan saya pergi bersama Leo..."
"Dan Leo..." Devran berbisik di depan wajah Alana, napas hangatnya menerpa kulit pipi Alana yang basah oleh air mata.
"Sekarang semuanya masuk akal, Alana. Usia Leo lima tahun. Wajahnya yang merupakan cetakan sempurna dari masa kecilku. Dan kemampuan gambarmu yang secara tidak sadar merekam detail kamarku. Leo adalah anakku, kan? Dia anak kandungku yang kamu lahirkan dan kamu besarkan sendirian di Swiss?!"
Alana memejamkan matanya rapat-rapat. Tangisnya pecah. Pertahanan dinding es yang ia bangun selama lima tahun di Eropa runtuh total dalam waktu sepuluh menit di tangan pria ini.
"Kalau iya, lalu kenapa, Devran?! Apa yang akan Anda lakukan?!" Alana akhirnya berteriak, membuka matanya dan menatap Devran dengan tatapan penuh luka dan amarah yang meledak-ledak.
Devran tertegun melihat kilat penderitaan di mata Alana. Cengkeramannya pada pergelangan tangan wanita itu perlahan melonggar, namun ia tetap mengurung tubuh Alana di tempatnya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku sejak awal, Alana? Kenapa kamu harus lari?!" tanya Devran, suaranya melembut, ada nada penyesalan yang mendalam di sana.
"Aku mencarimu ke seluruh penjuru negeri setelah malam itu. Aku ingin bertanggung jawab!"
"Bertanggung jawab, Anda bilang?!" Alana tertawa sumbang di antara tangisnya, menatap Devran dengan sinis.
"Anda tahu apa yang terjadi setelah malam itu? Siska dan orang-orangnya mencoba melenyapkan saya karena mengira saya sengaja menggoda Anda! Saya diusir, nama baik saya dihancurkan, dan saya harus berjuang sendirian di negeri orang dalam kondisi hamil muda tanpa sepeser pun uang! Di mana Anda saat itu, Tuan Devran Adhitama?! Di mana kekuasaan dan uang Anda yang agung itu saat saya hampir mati kelaparan di jalanan Zurich?!"
Mendengar penuturan Alana, hati Devran bagai ditusuk oleh ribuan bilah pisau yang sangat tajam. Rasa bersalah yang selama ini menghantuinya kini berlipat ganda menjadi rasa sakit yang tak tertahankan.
Ia tidak pernah tahu bahwa pelarian Alana dipenuhi oleh penderitaan yang begitu kejam akibat ulah Siska.
"Maaf..." kata itu meluncur begitu saja dari bibir tegas Devran, seumur hidupnya ia tidak pernah meminta maaf kepada siapa pun dengan suara sebergetar ini.
"Aku benar-benar tidak tahu kalau Siska melakukan hal sebejat itu di belakangku, Alana. Aku bersumpah... aku tidak tahu."
"Maaf Anda tidak bisa mengembalikan lima tahun penderitaan saya, Devran," ucap Alana dingin, mengusap air matanya sendiri dengan kasar setelah berhasil membebaskan tangannya.
"Dan maaf Anda tidak akan pernah bisa memiliki Leo. Dia adalah hidup saya. Saya lebih baik mati daripada membiarkan Anda merebutnya dari saya."
Devran menatap Alana yang kini berdiri tegak di depannya dengan sisa-sisa keberanian dan harga diri yang tinggi.
Pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan kembali emosinya yang sempat berantakan. Sifat posesif dan dominannya perlahan kembali menguasai dirinya, namun kali ini dilapisi oleh tekad perlindungan yang mutlak.
"Aku tidak akan merebut Leo darimu, Alana," ujar Devran dengan suara rendah yang sangat tegas, membuat Alana mengernyitkan dahi dengan bingung.
"Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu membawanya pergi lagi dariku. Kalian berdua adalah milikku sekarang. Mulai detik ini, tidak akan ada satu pun orang, termasuk Siska atau siapa pun di dunia ini, yang bisa menyentuh atau menyakiti seujung rambutmu dan Leo lagi."
"Saya tidak butuh perlindungan Anda! Kontrak proyek ini batal! Saya akan pergi!" Alana menyambar tas jinjingnya dan laptopnya dengan tergesa-gesa dari atas meja, berniat melangkah menuju pintu.
"Kontrak ini tidak batal, Alana. Justru kontrak ini baru saja diperbarui dengan klausul yang jauh lebih ketat," sahut Devran dingin sembari mengambil kembali hpnya di atas meja.
"Kamu tetap akan merestorasi gedung ini di bawah pengawasanku. Dan seperti yang kukatakan tadi... malam ini, aku sendiri yang akan datang ke hotelmu untuk menjemput putraku dan ibunya untuk pindah ke tempat yang jauh lebih aman."
"Devran! Jangan lancang!" Alana membalikkan tubuhnya, menatap Devran dengan kemarahan yang meluap-luap dari ambang pintu ruangan.
"Sampaikan salamku pada Leo Kirana, Alana. Katakan padanya bahwa Om yang bermata seram di bandara semalam akan segera datang untuk memberikan susu cokelat terbaik untuknya," ucap Devran dengan senyuman tipis yang penuh kemenangan misterius, mengabaikan sepenuhnya makian Alana yang langsung berbalik dan melangkah pergi keluar ruangan dengan menghentakkan kakinya keras-kesal.
Devran berdiri diam di tengah ruangan yang kini kembali sunyi, menatap pintu besar yang baru saja tertutup rapat. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan pin dasi perak lambang elang yang dijatuhkan Leo semalam, lalu menggenggamnya erat-erat bersama buku sketsa hasil gambaran Alana.
Jantung Devran berdegup kencang dengan ritme yang penuh dengan gairah dan kepastian baru yang tak terpatahkan.
"Lima tahun aku kehilangan jejakmu, Alana. Sekarang, setelah kamu masuk sendiri ke dalam sarangku, jangan harap kamu bisa melarikan diri lagi dariku seumur hidupmu," gumam Devran lirih, tatapan matanya mengarah lurus ke arah jalanan kota Jakarta di bawah sana, siap memulai perburuan terbesarnya demi mengklaim kembali seluruh takdir dan keluarganya yang sempat hilang.