Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Kekecewaan Alice
Pagi itu, langit ibu kota diselimuti oleh lapisan awan kelabu yang tipis.
Di dalam salah satu sedan mewah berpengawal ketat milik Elvano, keheningan terasa begitu nyata.
Alice duduk bersandar di dekat jendela kaca, menatap kosong ke arah jalanan kota yang padat.
Jemari tangannya yang mungil saling bertautan di atas pangkuan, sesekali bergerak gelisah meraba permukaan gaun rajut berwarna moka yang longgar.
Hari ini adalah hari yang luar biasa penting bagi hidupnya.
Berdasarkan kalender medis yang disusun oleh Dokter Hendra, usia kandungannya kini telah menginjak minggu keenam, waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi komprehensif guna mendengarkan detak jantung pertama dari janin di dalam rahimnya.
Sebuah fase di mana sebuah kehidupan kecil akhirnya memperdengarkan eksistensinya ke dunia.
Di sampingnya, Elvano duduk tegak dengan setelan jas formal hitam tanpa cela.
Sejak mobil bertolak dari mansion, pria itu tidak henti-hentinya memeriksa jam tangan mewah di pergelangan tangan kirinya.
Wajah tampannya tertekuk, dipenuhi oleh rasa tegang karena rapat yang belakangan ini kian menyita waktunya.
Namun, demi hari ini, Elvano telah mengosongkan seluruh jadwal bisnisnya.
Ia telah menepati janji manis yang diucapkannya tadi malam untuk hadir secara personal.
"Kau tidak perlu cemas, Alice," ucap Elvano tiba-kira, memecah hawa dingin di dalam kabin mobil.
Ia mengulurkan tangan besarnya, mencoba menangkup jemari Alice yang terasa kaku.
"Hendra adalah dokter terbaik. Semuanya akan berjalan dengan lancar. Aku di sini bersamamu untuk mendengar detak jantung anak kita."
Alice tidak menarik tangannya, namun ia juga tidak membalas remasan tangan Elvano.
Ia hanya menoleh perlahan, memberikan sebuah anggukan tipis yang teramat formal, diiringi seulas senyum hambar.
Rasa percaya yang telah retak selama beberapa hari terakhir membuat setiap untaian kalimat perhatian dari Elvano terasa seperti omong kosong yang tidak lagi bermakna.
Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, sisi lemah seorang wanita yang sedang mengandung, Alice masih menyisakan setitik harapan tipis.
Ia berharap momen penting mendengarkan detak jantung bayi mereka hari ini bisa menjadi titik balik yang mengembalikan Elvano yang dulu, pria yang memujanya tanpa henti.
Mobil berhenti tepat di lobby khusus VVIP rumah sakit swasta Salvatore.
Protokol keamanan super ketat langsung diterapkan oleh barisan pengawal bertubuh tegap yang dipimpin oleh salah satu anak buah kepercayaan Kaiven.
Elvano membimbing Alice turun dari mobil dengan pengawalan yang luar biasa, satu tangannya mendekap protektif pinggang Alice seolah melindunginya dari embusan angin luar yang menusuk.
Mereka melangkah menyusuri koridor khusus lantai atas yang telah dibersihkan dari pasien umum.
Dinding-dinding rumah sakit yang bercat putih gading memantulkan bayangan mereka dengan kaku.
Suara ketukan sepatu hak tinggi milik Alice dan pantulan sol sepatu kulit Elvano bersatu, menciptakan suasana tegang yang kian memuncak seiring langkah mereka yang kian mendekati pintu ruang praktik utama Dokter Hendra.
Tinggal sepuluh langkah lagi sebelum mereka mencapai gagang pintu kayu tersebut.
Suster yang berjaga di meja depan bahkan sudah berdiri dan membungkuk hormat menyambut kedatangan sang penguasa tertinggi.
DRRTT... DRRTT... DRRTT...
Getaran hebat bersuara nyaring dari dalam saku jas Elvano seketika memotong langkah mereka.
Elvano menghentikan gerakannya tepat di tengah koridor, dahinya berkerut dalam saat merogoh ponselnya.
Begitu matanya menangkap nama yang berkedip di layar, Alice bisa merasakan otot-otot di lengan Elvano yang sedang mendekap pinggangnya mendadak menegang sempurna.
Itu panggilan dari Viona.
Elvano menggeser tombol hijau, berniat untuk mematikan panggilan tersebut demi menjaga komitmen janjinya pada Alice.
Namun, belum sempat ia menempelkan ponsel itu ke telinganya, sebuah suara jeritan histeris yang melengking tinggi berbalut tangisan hebat langsung lolos dari pengeras suara ponsel, memecah keheningan koridor steril tersebut.
"Elvano! Demi Tuhan, Elvano! Tolong aku!" Viona menjerit di seberang sana, suaranya terdengar begitu panik, megap-megap seperti orang yang kehabisan napas akibat serangan panik.
"Kenzo... Kenzo hilang, Elvano! Aku membawanya keluar sebentar ke pusat perbelanjaan Grand Indonesia untuk membelikannya pakaian baru, tapi saat aku lengah memotong struk pembayaran di kasir... dia sudah tidak ada di sampingku! Asmanya bisa kambuh kapan saja jika dia ketakutan di tengah keramaian! Seseorang mungkin telah menculiknya, Elvano! Musuh-musuh mafiamu pasti telah menemukan keberadaan kami! Tolong datang ke sini... aku memohon padamu..."
Mendengar kata 'Kenzo hilang' dan 'musuh mafia', seluruh pikiran buruk di dalam kepala Elvano runtuh dalam hitungan detik.
Ketakutan seorang Elvano yang paranoid terhadap keselamatan darah dagingnya seketika mengambil alih seluruh kendali tubuhnya.
Wajah Elvano berubah menjadi pucat pasi, dipenuhi kilat kepanikan yang teramat liar yang belum pernah Alice saksikan sebelumnya.
"Viona, tenang! Tetap di tempatmu berada!" bentak Elvano ke ponselnya, suaranya menggelegar, membuat suster di meja depan tersentak ketakutan.
"Jangan matikan ponselmu! Aku akan mengirimkan seluruh tim keamanan Kaiven untuk menutup semua pintu keluar mal sekarang juga!"
Elvano mematikan sambungan telepon dengan tergesa-gesa.
Ia langsung berbalik arah menghadapi Alice. Kedua tangan besarnya mencengkeram bahu Alice dengan kuat, bukan lagi cengkeraman penuh kelembutan, melainkan sebuah cengkeraman panik dari seorang pria yang sedang kalut.
"Alice, dengarkan aku," ucap Elvano, napasnya memburu kasar, matanya menatap Alice namun sorot matanya tidak lagi benar-benar melihat wanita itu.
Pikirannya telah melesat jauh ke pusat perbelanjaan di tengah kota.
"Aku harus pergi sekarang. Kenzo hilang di tempat umum. Ada kemungkinan besar pergerakan klan Moreli atau musuh bawah tanahku telah mencium keberadaannya. Ini adalah situasi darurat."
Alice menatap langsung ke dalam manik mata cokelat gelap Elvano.
Di dalam dadanya, ada sesuatu yang terasa patah dengan suara yang begitu nyaring, menyisakan rasa sesak yang hampa dan dingin.
"Tuan Elvano... ini tinggal satu langkah lagi menuju ruang dokter. Lima menit. Aku hanya butuh Anda berada di sampingku selama lima menit untuk mendengar detak jantung bayi kita. Hanya lima menit."
Suara Alice terdengar begitu lirih, begitu datar, tanpa ada lagi tangisan.
Itu adalah suara dari sebuah keputusasaan yang telah menyentuh batas.
"Aku tidak bisa, Alice! Ini urusan nyawa!" bantah Elvano dengan nada suara yang meninggi, rasa emosional membuatnya kehilangan seluruh akal sehatnya.
"Anak kita di dalam rahimmu aman di sini, di dalam rumah sakit ini dengan barisan pengawal terbaik! Tapi Kenzo... dia berada di luar sana, sendirian, terancam bahaya kematian! Cobalah untuk mengerti posisiku sebagai seorang ayah!"
Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari Alice, dan tanpa menyadari bagaimana kalimat 'cobalah untuk mengerti posisiku sebagai seorang ayah' telah menguliti habis sisa-sisa harga diri Alice sebagai ibu dari anak kandungnya, Elvano melepaskan cengkeramannya di bahu Alice.
Pria itu berbalik arah.
Dengan langkah lebar yang tergesa-gesa dan setengah berlari, ia melangkah menjauh, membelah koridor rumah sakit sembari berteriak memanggil barisan pengawalnya untuk menyiapkan kendaraan darurat.
Elvano buta.
Ia pergi membelah kota demi menyelamatkan anak masa lalunya, tanpa pernah tahu bahwa drama kehilangan itu hanyalah sebuah skenario busuk yang dirancang dengan sangat rapi oleh Viona di dalam butik mewah, sebuah rencana murahan agar Elvano membatalkan janji kontrol kehamilannya dan beralih menemaninya menghabiskan ribuan dolar untuk berbelanja pakaian bermerek.
Alice tetap berdiri tegak di posisi semula. Ia tidak terjatuh, ia tidak merosot ke lantai, dan tidak ada lagi sebutir pun air mata yang lolos dari kelopak matanya yang sembab.
Air matanya telah mengering sejak semalam, berubah menjadi sebuah rasa asing.
Ia memandangi punggung tegap Elvano yang kian mengecil di ujung lorong sebelum akhirnya menghilang di balik pintu lift VVIP.
Punggung yang beberapa hari lalu ia yakini akan menjadi pelindung terkuatnya dari kejamnya dunia bawah, kini justru menjadi simbol pengkhianatan paling nyata yang memutus sisa-sisa harapan di dalam jiwanya.
Insiden fatal hari ini menjadi titik balik yang sempurna. Rasa sakit yang menusuk hingga ke relung hatinya yang paling dalam tidak lagi memicu kesedihan, melainkan memicu seutas kesadaran yang teramat dingin dan pasti.
Di mata Elvano, ia dan bayinya akan selalu menjadi nomor dua.
Rahim suburnya hanyalah sebuah kebanggaan sesaat sebelum akhirnya dikalahkan oleh sejarah masa lalu dan menipu emosionalnya dari wanita yang memiliki status legal.
"Nona Alice..." Suster di meja depan memanggil dengan nada suara yang dipenuhi rasa bersalah dan simpati yang mendalam.
"Dokter Hendra sudah siap di dalam. Apakah... apakah pemeriksaan ingin tetap dilanjutkan?"
Alice memutar tubuhnya perlahan. Ia menurunkan pandangannya, menatap jari manisnya di mana cincin berlian itu masih melingkar.
Dengan gerakan yang sangat tenang, Alice menarik cincin itu dari jarinya, lalu meremasnya di dalam kepalan tangan yang dingin.
"Ya," jawab Alice, suaranya terdengar begitu mantap, datar, dan sedingin es kutub utara.
"Lanjutkan pemeriksaannya. Aku akan mendengarkan detak jantung anakku... sendirian."
Alice melangkah masuk ke dalam ruang praktik Dokter Hendra dengan kepala tegak.
Di dalam ruangan itu, untuk pertama kalinya, suara detak jantung yang cepat terdengar dari pengeras suara mesin USG, sebuah suara kehidupan baru yang indah.
Namun, di saat yang bersamaan, di dalam dada Alice, getaran cinta dan rasa percaya yang pernah ia miliki untuk Elvano telah mati sepenuhnya, tidak akan pernah berdetak lagi untuk seumur hidupnya
hey elvano kmana insting mafia mu🤣🤣🤣
sebel elvano gak peka banget sm taktik licik ulat bulu viona😔🤔
ibu nya aja gak setia, pasti ada rencana jahat nih🤔🤔🤔