Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman malam hari dan air mata
Mansion batu hitam itu tampak lebih pekat di bawah langit malam Sampit yang tanpa bintang. Ketika Bentley berhenti sempurna, pintu mobil tidak dibukakan oleh Pak Bara seperti biasa, melainkan oleh seorang pengawal bertubuh raksasa yang langsung menunduk kaku.
Axel turun lebih dulu tanpa memandangku. Langkah kakinya yang panjang dan konstan segera membelah keheningan teras. Aku bergerak terseok-seok di belakangnya, berusaha menyamakan ritme dengan sepatu hak tinggi sembilan sentimeter yang sekarang rasanya seperti menancapkan paku ke tumitku. Gaun merah marun yang membungkus tubuhku terasa seperti kain kafan yang berjalan.
Blam.
Pintu aula utama tertutup di belakang kami. Pak Bara sudah berdiri di dekat pilar marmer, kepalanya menunduk dalam, menyerahkan sepasang sarung tangan kulit berwarna hitam milik Axel di atas nampan perak.
Axel mengambilnya, memakainya perlahan, membiarkan bunyi gesekan kulit sarung tangan itu mengisi kesunyian ruangan yang mencekam.
"Bara, kosongkan lantai dua. Jangan ada yang berani mendekat sampai besok pagi," perintah Axel, suaranya sedatar es, namun getarannya membuat lampu gantung kristal di atas kami seolah ikut bergetar.
"Baik, Tuan Muda," jawab Pak Bara, lalu mundur perlahan dan menghilang di balik kegelapan lorong lantai satu bersama beberapa pengawal lainnya.
Kini, di aula raksasa ini, hanya ada aku dan Axel.
Axel berbalik badan perlahan di bawah sorot lampu kuning temaram, wajahnya yang tampan terlihat luar biasa dingin sarung tangan kulit berwarna hitam di kedua tangannya menegaskan statusnya sebagai algojo malam ini. Dia berjalan mendekat, ketukan sepatu kulitnya bergaung di langit-langit yang tinggi.
"Naik ke kamarmu, Aira," bisiknya. Nada suaranya tidak tinggi, namun mengandung perintah yang terdengar kejam yang membuat seluruh persendianku gemetar.
Aku tidak berani membantah. Dengan air mata yang terus mengalir dalam diam membasahi riasan wajahku, aku melangkah menaiki tangga melingkar. Setiap anak tangga yang kupijak rasanya membawa jiwaku semakin dekat ke tepi jurang. Axel berjalan tepat di belakangku, aroma campuran alkohol, tembakau mahal, dan bahaya terus mengepung pasokan oksigen di paruku.
Begitu kami memasuki kamar berAC yang dingin di ujung koridor Barat, Axel menutup pintu kayu tebal itu dengan bunyi klik yang mengunci sisa harapan kebebasanku.
"Berdiri di sana. Jangan bergerak," titahnya.
Aku berdiri membeku di tengah ruangan, tepat di atas lantai kayu gelap, beberapa meter dari tempat tidur king-size. Aku menundukkan kepala, memandangi ujung sepatu merah marunku yang kotor oleh debu pelabuhan semalam.
Tubuhku bergetar hebat, gigiku berantukan karena kombinasi rasa dingin dan ketakutan yang luar biasa.
Axel berjalan menuju meja kecil, melepaskan jam tangan mewahnya, lalu berbalik menatapku. Dia melangkah perlahan mengitariku, seperti seekor ular piton yang sedang menilai bagian mana dari mangsanya yang akan dihancurkan terlebih dahulu.
"Kau tahu apa kesalahanmu malam ini, Nona Pramesti?" Tanyanya, berhenti tepat di depanku.
"Sa_saya menyentuh Anda, Tuan Axel..." jawabku, suara nyaris hilang tersendat isak tangis. "Sumpah... saya tidak sengaja. Tangan saya gemetar saat mengambil sendok..."
"Aku tidak peduli sengaja atau tidak," potongnya kejam. Tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam terangkat, melesat maju, dan mencengkeram rahangku dengan kekuatan yang membuatku merintih kesakitan. Dia memaksa kepalaku mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang mata hitamnya yang kosong tanpa empati.
"Aturan adalah aturan. Di duniaku, pelanggaran sekecil apa pun berarti nyawa. Kau beruntung aku masih menghargai enam bulan kontrakmu."
"Ma_maaf... Tolong, jangan bunuh aku..." aku memohon di sela cengkeramannya yang menyiksa rahangku.
"Bunuh?" Axel tertawa pelan, sebuah suara bariton yang terdengar sangat mengerikan di dalam kamar yang kedap suara ini. "Mati terlalu mudah untukmu. Aku sudah bilang, aku ingin melihat seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghancurkanmu."
Axel melepaskan cengkeramannya di rahangku dengan sentakan kasar, membuatku limbung ke belakang. Sebelum aku sempat menyeimbangkan tubuh, dia merenggut pergelangan tangan kananku tangan yang tadi tidak sengaja menyentuhnya di restoran.
"Tangan ini yang tidak bisa diatur, kan?" Desisnya.
Dia menarik tubuhku menuju kamar mandi yang luas di dalam kamar. Kamar mandi itu berdinding marmer putih dengan sebuah bathtub raksasa di tengahnya. Axel menyalakan keran wastafel marmer, namun bukan air hangat yang keluar, melainkan air dingin yang suhunya nyaris membekukan tulang di malam yang larut ini.
"Tuan Axel! Apa yang mau Anda lakukan? Tolong!" Aku menjerit panik, mencoba memberontak, menarik tanganku sekuat tenaga. Namun tenagaku sebagai seorang gadis kuliahan tidak ada apa-apanya dibanding cengkeraman tangannya yang seperti borgol besi.
Tanpa memedulikan jeritanku, Axel memaksa tangan kananku masuk ke dalam wastafel yang mulai tergenang air es tersebut.
Byurr!
Rasa dingin yang ekstrem langsung menyerang kulit pergelangan tangan hingga ujung jariku, disusul oleh rasa linu yang menusuk hingga ke saraf terkecil. Aku memekik histeris, mencoba menarik tanganku keluar, namun tangan kiri Axel yang terbungkus kulit hitam menekan punggung tanganku dengan kuat di dasar wastafel, menguncinya di bawah guyuran air es.
"Rasakan ini, Aira. Biarkan rasa dingin ini mengingatkan otakmu yang bebal itu tentang hukum pertamaku," suara Axel berbisik tepat di samping telingaku, napas hangatnya menerpa kulit leherku yang terekspos oleh gaun malam yang basah karena cipratan air. "Setiap kali kau berpikir untuk menyentuhku lagi, atau setiap kali kau membiarkan pria lain berada di dekatmu, ingat rasa sakit ini."
"Sakit, Tuan Axel! Dingin! Tolong lepas... hiks... saya mohon..." tangisku pecah sejadi-jadinya. Lututku lemas, membuat tubuhku merosot di atas lantai marmer kamar mandi yang dingin. Gaun merah marunku yang indah kini basah kuyup di bagian lengan dan dadanya, menempel ketat memperlihatkan betapa rapuhnya tubuhku di bawah kuasanya.
Axel tetap berdiri tegak di atas tubuhku yang bersimpuh di lantai, tangannya masih menekan tanganku di dalam air es tanpa belas kasihan selama dua menit penuh yang terasa seperti siksaan abadi. Wajahnya tidak menunjukkan amarah yang meledak-ledak dia melakukannya dengan ketenangan seorang profesional yang sedang menjinakkan barang pajangannya. Tato ular di lehernya tampak berkilau kejam di bawah lampu putih kamar mandi.
Setelah kulit jariku mulai memucat dan mati rasa akibat dingin yang ekstrem, Axel akhirnya mematikan keran dan menyentak tanganku keluar dari wastafel. Dia melempar tanganku begitu saja, membuat tubuhku jatuh terduduk di lantai marmer yang basah.
Aku memeluk tangan kananku yang kaku, gemetar hebat, dan mati rasa. Air mata bercampur maskara hitam mengalir deras di pipiku, menetes ke atas marmer putih. Aku menangis, meringkuk seperti binatang kecil yang terluka di sudut kamar mandi mewah ini.
Axel merunduk sedikit, Dia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya satu per satu, melemparkannya ke atas wastafel yang basah.
"Ganti pakaianmu. Aku tidak ingin melihat ada noda air di tempat tidurku," ucapnya dingin, memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari kamar mandi, meninggalkan pintu yang terbuka.
Aku menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu kamar dengan rasa benci yang perlahan-lahan mulai tumbuh di sela-sela rasa takutku. Di atas lantai marmer yang dingin ini, sambil mendekap tanganku yang hampir membeku, aku bersumpah dalam hati.
"Enam bulan. Aku akan mengingat setiap detik siksaan ini, Axel Reynard. Kau memelihara barang yang salah, karena suatu saat... tangan yang kau siksa malam ini yang akan menarik pelatuk pistol ke arah jantungmu."
kalo berkenan mmpir juga thor😉