NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Bayangan dari Ruang Otopsi

Kehancuran Alexander Group di lantai bursa menjadi topik yang tidak ada habisnya dibahas oleh publik. Gisella Alexander dan ayahnya kini sibuk menghadapi jeratan hukum, tidak lagi memiliki waktu maupun kekuatan untuk mengusik posisi Chelsea. Satu gangguan di ranah personal berhasil dibersihkan dengan efisiensi yang mematikan.

Namun, bagi Nadia yang hidup di dalam tubuh Chelsea, ketenangan sejati tidak pernah benar-benar ada.

Malam itu, hujan gerimis kembali membasahi kaca jendela kamar tidur utama Chelsea di mansion Latief. Ia duduk di depan meja riasnya, menatap pantulan wajah cantiknya di cermin. Di sudut meja, syal sutra biru laut itu masih tergeletak, seolah menjadi pengingat konstan bahwa rahasianya tidak sepenuhnya aman.

Drrrtt... Drrrtt...

Ponsel Chelsea yang berada di atas kasur bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Nadia berjalan mendekat, mengangkat ponsel tersebut dengan kewaspadaan yang sudah menjadi instingnya.

"Halo," ucap Chelsea dingin.

Tidak ada jawaban langsung dari seberang telepon. Hanya terdengar suara helaan napas yang berat, diikuti oleh kekehan pelan yang terdengar sangat sinis dan asing di telinga Chelsea.

"Selamat malam, Nona Chelsea Latief... atau haruskah saya memanggil Anda dengan nama Nona Nadia Kirana?"

Mendengar nama itu disebut, darah Chelsea seketika terasa membeku. Jantungnya memberikan letupan debaran hebat yang membuat napasnya tertahan selama beberapa detik. Seluruh otot tubuhnya menegang tegak.

"Siapa Anda?" desis Chelsea, suaranya merendah, sarat akan ancaman mematikan.

"Siapa saya tidak penting," sahut suara bariton paruh baya di seberang telepon dengan nada santai yang memuakkan. "Yang penting adalah apa yang saya pegang di tangan saya saat ini. Sebuah berkas otopsi asli dari jenazah Nadia Kirana yang dinyatakan tewas bunuh diri akibat depresi setahun lalu."

Pria itu menjeda kalimatnya sejenak, sengaja membiarkan tekanan psikologisnya merayap ke dalam benak Chelsea. "Di dalam berkas ini, tercatat dengan sangat jelas bahwa ada kandungan zat Arsenik-X dalam dosis rendah di lambung mendiang Nadia sebelum ia jatuh dari atap. Dan yang paling menarik... dokter forensik yang menandatangani surat kematian palsu itu adalah saya sendiri."

Chelsea mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya memutih. dr. Yanuar. Nama itu seketika muncul di benak Nadia. Pria itu adalah kepala tim forensik rumah sakit pusat yang dulu menangani kasus kematiannya. Ternyata, dokter itu telah dibayar oleh Baskoro untuk memalsukan penyebab kematiannya agar konspirasi pembunuhan tersebut terlihat seperti bunuh diri murni.

"Saya sangat takjub melihat bagaimana taktik bisnis Kirana-Latief Group belakangan ini sangat mirip dengan gaya Nadia Kirana," lanjut dr. Yanuar dengan nada serakah. "Jiwa yang hidup kembali... atau konspirasi rahasia, saya tidak peduli. Yang saya peduli adalah kelangsungan hidup saya. Saya butuh lima puluh miliar rupiah ditransfer ke rekening luar negeri saya dalam waktu dua puluh empat jam. Jika tidak, berkas asli otopsi ini beserta rekaman medis rahasia Chelsea Latief saat koma akan saya serahkan ke media internasional."

"Anda sedang menggali liang kubur Anda sendiri, Dokter," jawab Chelsea dengan suara yang teramat tenang namun sedingin es kutub.

"Kita lihat siapa yang akan masuk ke dalam kubur duluan, Nona Manis," ucap dr. Yanuar sebelum memutus panggilan secara sepihak.

Lima belas menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam milik Reynald sudah membelah jalanan malam yang basah menuju mansion Latief. Begitu menerima pesan singkat dari Chelsea tentang panggilan tersebut, Reynald langsung meninggalkan rapat internalnya di pusat kota.

Di dalam perpustakaan pribadi mansion, Reynald berdiri dengan rahang mengetat sempurna setelah mendengar penjelasan Chelsea. Aura kemarahan tirani terpancar begitu pekat dari tubuh tegap sang CEO berhati es.

"Barra sudah melacak koordinat panggilan itu," ucap Reynald, suara baritonnya yang berat terdengar sangat berbahaya. "dr. Yanuar saat ini bersembunyi di sebuah klinik swasta terbengkalai di pinggiran kota Bogor. Pria itu sudah terlilit utang judi besar di kasino makau, itulah mengapa dia nekat memerasmu."

Chelsea berdiri di dekat meja kayu, menatap Reynald dengan pandangan yang tegas. "Dia memegang kartu yang berbahaya, Reynald. Jika berkas otopsi asli itu bocor sebelum kita siap, publik akan mulai mempertanyakan status medis tubuh Chelsea Latief. Kita tidak bisa membiarkan dia bergerak bebas."

Reynald melangkah mendekati Chelsea, mencengkeram kedua pundak gadis itu dengan kelembutan yang sarat akan proteksi absolut. "Aku akan mengirimkan seluruh tim elit Reynald Group untuk melumpuhkannya malam ini juga, Chelsea. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu atau rahasiamu selama aku masih bernapas."

Chelsea menatap langsung ke dalam manik mata elang Reynald. Rasa hangat yang asing kembali mengalir di dadanya, mencairkan kebekuan hati dendamnya. Pria ini selalu siap menjadi perisai hidupnya tanpa banyak bertanya tentang keanehan jiwanya.

"Tidak, Reynald. Jangan malam ini," Chelsea menahan tangan Reynald. "dr. Yanuar adalah pria yang sangat licik dan penakut. Dia pasti sudah membuat sistem otomatis untuk menyebarkan berkas itu jika terjadi sesuatu padanya secara mendadak. Kita harus memancingnya keluar dari persembunyiannya."

Chelsea mengulas senyuman miringnya yang penuh intrik. "Dia meminta lima puluh miliar, bukan? Kita berikan dia janji itu. Aku sendiri yang akan menemuinya di klinik tersebut besok malam untuk melakukan transaksi palsu, sementara Barra mengambil alih server datanya dari belakang."

Reynald menatap tunangannya dengan pandangan tidak setuju yang teramat sangat. "Menemuinya secara langsung? Itu terlalu berbahaya, Chelsea! Aku tidak akan mengizinkanmu masuk ke sarang ular sendirian!"

"Aku tidak akan sendirian, Reynald," Chelsea menggenggam tangan tegap pria itu, memberikan remasan lembut yang menenangkan. "Karena aku tahu... perisai terbaikku akan selalu mengawasiku dari balik bayangan."

Reynald terdiam sejenak, menatap lekat-lekat mata bulat Chelsea yang memancarkan keberanian luar biasa, sebelum akhirnya mengembuskan napas berat mengalah pada keras kepalanya sang singa betina kecil.

"Baiklah. Tapi aku sendiri yang akan memimpin tim pengaman di lokasi luar," desis Reynald penuh komitmen. "Jika bajingan itu bergerak satu milimeter saja di luar rencana kita... aku sendiri yang akan memastikan tangannya tidak akan pernah bisa memegang dokumen lagi untuk selamanya."

Malam semakin larut, dan di bawah guyuran hujan yang kian menderas, sebuah strategi taruhan nyawa baru telah resmi dirancang. dr. Yanuar mengira ia sedang memegang kendali atas rahasia besar Chelsea, tanpa menyadari bahwa ia baru saja memicu kemurkaan dua penguasa tertinggi kota yang akan menyeretnya ke dalam neraka keputusasaan yang tidak berdasar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!