Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Yang Membawa Cinta
Beberapa hari setelah itu, studio bunga kecil milik Alya semakin sibuk. Pagi hingga sore, pintu studio nyaris tak pernah berhenti terbuka menyambut para pelanggan. Erin dan Salsa sudah sibuk sejak pagi menata bunga-bunga segar yang baru datang. Sementara Alya duduk di meja kerjanya, merangkai satu demi satu buket dengan penuh ketelitian.
"Ka, ini pesanan lima buket untuk acara wisuda," ujar Erin sambil menyerahkan secarik kertas.
"Taruh di sini dulu ya."
"Siap."
Belum sempat Alya menyelesaikan rangkaian pertama, Salsa kembali datang. "Ini ada pesanan dadakan lagi, Kak."
Alya tersenyum geli. "Alhamdulillah... rezeki Senja."
Tanpa sadar tangannya mengusap perutnya yang kini semakin membesar. Senja kembali bergerak pelan. Alya terkekeh kecil. Bayi itu seolah mengerti bahwa sang ibu sedang berjuang demi masa depannya.
"Kayaknya kamu juga senang ya?"
Erin dan Salsa saling pandang lalu ikut tertawa. "Senja pasti nanti lahir jadi bos florist."
"Iya, Kak."
"Kalau gitu kami nanti minta naik gaji sama Senja," pungkas Erin.
Seketika Gelak tawa memenuhi studio kecil itu dan tanpa mereka sadari di tengah suasana hangat tersebut, Dewa datang membawa beberapa kotak makan siang.
"Sudah jam makan."
Erin langsung berseru pelan. "Wah... Om Dewa datang."
Salsa ikut tersenyum jahil. "Kalau Om Dewa datang, Kak Alya pasti langsung disuruh istirahat."
Dewa meletakkan kotak-kotak makanan di atas meja. "Memang harus istirahat."
Nada suara Dewa tetap tenang, tetapi sorot matanya tak pernah berhasil menyembunyikan kekhawatirannya setiap melihat Alya terlalu memaksakan diri.
"Kamu sudah duduk dari pagi," lanjut Dewa lagi.
"Aku masih kuat," sahut Alya.
"Bukan soal kuat."
Dewa menarik pelan kursi di samping Alya. "Duduk yang benar."
Alya mengembuskan napas kecil. "Iya..."
Melihat Alya menurut tanpa membantah, Erin dan Salsa kembali saling menyenggol pelan sambil menahan tawa, keduanya merasa senang melihat kedekatan keduanya, ya meskipun di antaranya adalah masih belum ada ikatan yang mengesahkan.
"Kalau Om Dewa yang ngomong, Kak Alya langsung nurut."
"Iya ya."
Alya langsung melotot malu. "Kalian ini..."
Semua orang yang mendengarnya ikut tertawa suasana sederhana itu terasa begitu menggemaskan apalagi dengan rona merah yang tidak bisa disembunyikan oleh Alya.
"Cie ... cie ....," ledek Erin.
"Kapan ya kami dengar Om Dewa manggil 'Sayang' ke Kak Alya?" goda Salsa.
Seketika Alya dan Dewa tertegun mendengar ucapan karyawan Alya itu. "Kekasih" kata-kata itu terasa menampar dirinya sendiri sebagai seorang pria. Bahkan sampai saat ini ia masih belum pernah mengucapkan sesuatu pada Alya.
"Apa mungkin sudah saatnya," ucap Dewa dalam hati. Ia pun mulai menatap kembali wajah Alya. Dari sorot mata dan sikap Alya selama ini, Dewa mulai merasa... mungkin perasaannya tidak lagi bertepuk sebelah tangan.
"Om, kenapa melihat Kak Alya seperti itu," celetuk Erin tiba-tiba.
Dewa sedikit terkejut, lalu perlahan cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Gak ada apa-apa."
"Oh, gak ada apa-apa tapi tatapannya dalam," ujarnya kembali.
Tiba-tiba saja Alya mencubit pelan lengan Erin, seketika saja suasana kembali riuh teriakan gadis itu lagi-lagi membuat semua ikut ketawa.
"Mbak Alya nakal," sahutnya dengan manja.
"Makanya punya mulut di rem," sahut Alya.
Dan tak lama kemudian seorang pelanggan perempuan masuk ke dalam studio sambil membawa sebuah buket bunga yang mulai mengering.
"Permisi."
Alya langsung berdiri, dari duduknya. "Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?"
Perempuan itu mendekat sambil tersenyum haru seolah ingin mengucapkan sesuatu terhadap Alya.
"Saya cuma ingin mengucapkan terima kasih," ucapnya lembut.
Alya tampak bingung. "Terima kasih?"
"Iya."
"Waktu ibu saya dirawat di rumah sakit, saya membeli buket dari sini."
Perempuan itu memandang bunga di tangannya, seolah mempunyai arti yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
"Beliau bilang... itu bunga tercantik yang pernah diterimanya," ucapnya dengan tatapan teduh. "Mama saya memang akhirnya meninggal."
Studio kecil itu mendadak hening. Erin, Salsa, Dewa, bahkan Alya sendiri hanya mampu menatap perempuan itu tanpa berkata apa-apa.
"Tapi sebelum menutup mata... beliau terus memeluk buket ini."
Air mata perempuan itu mulai mengalir begitu saja, ia teringat betul bagaimana ibunya begitu suka dengan buket yang dirangkai Alya.
"Terima kasih... karena sudah membuat hari terakhir ibu saya terasa begitu indah."
Alya membeku seketika. Tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa rangkaian bunga yang ia buat dengan kedua tangannya mampu menjadi kenangan terakhir seseorang.
Perempuan itu pamit setelah memesan buket baru untuk diletakkan di makam ibunya.
Begitu pintu studio kembali tertutup, Alya masih berdiri di tempatnya. Matanya mulai berkaca-kaca, Dewa yang menyadari akan hal itu ia langsung menepuk pelan punggung Alya.
"Mas..."
Dewa menoleh lalu mengangguk seolah mengerti dengan perasaan Alya.
"Ternyata... bunga bukan cuma bunga ya," ucap Alya.
"Dari dulu memang begitu," sahut Dewa. "Bunga sering menjadi bahasa saat manusia tidak lagi mampu menemukan kata."
Alya tersenyum sambil mengusap air matanya. Hari itu, ia merasa pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah. Ia sedang membantu orang lain menyampaikan cinta, doa, permintaan maaf, bahkan perpisahan.
Perlahan ia kembali mengusap perutnya.
"Senja..."
"Kalau nanti kamu sudah besar..."
"Mama ingin kamu bangga."
"Bukan karena Mama punya studio bunga."
"Tapi karena Mama tidak pernah berhenti berusaha."
Janin kecil itu kembali bergerak pelan, seolah merespon ucapan ibunya. Alya tertawa kecil sambil menahan air mata.
"Baiklah..."
"Berarti kita lanjut bekerja lagi."
Di sudut ruangan, Dewa memandang perempuan itu dalam diam.
Senyumnya ikut mengembang.
Melihat Alya menemukan kembali tujuan hidupnya, terasa jauh lebih membahagiakan daripada keberhasilan apa pun yang pernah ia raih dalam hidup.
Namun tak seorang pun di studio kecil itu menyadari... ribuan kilometer dari sana, seseorang masih terus memburu jejak perempuan bernama Alya. Dan kali ini... arah pencariannya perlahan mulai mengarah ke Negeri Singa.
Bersambung
Maaf ya Kak handphone-nya ngebleng jadinya agak telatan dikit...