Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. SBR.
...~•Happy Reading•~...
Gevaro jadi ingat amarah di mata Janet saat pertama kali bertemu dengannya di koridor depan aula pertemuan dan menumpahkan air kotor. Bahkan sekarang lebih dari pada itu, hingga membuatnya ngeri.
"Bawa Janet keluar." Gevaro berkata sambil menggerakan tangan kepada Jensen, agar Janet tidak mengambil pecahan cangkir di lantai untuk menggores wajah Devan.
Jensen dengan sigap memegang lengan Janet. "Aku selalu berdoa, semoga apa yang kau lakukan padaku akan kau terima dengan bunganya." Janet menunjuk wajah Devan sambil dibawa keluar oleh Jensen dari ruangan. Tidak ada air mata kesedihan, tapi bara kebencian mulai menyala lewat matanya.
Gevaro jadi speechless melihat Janet berubah seperti hewan liar yang terluka. Sikap beringasnya baru pernah dilihat dan dia sangat terkejut mendengar luka hati yang terucap kasar dari bibir Janet sambil menatap tajam Devan.
Semua itu terjadi hanya karena Devan mengatakan; tidak mengenalnya. Sehingga amarah yang terpendam dalam hati Janet seperti dipompa keluar lewat seluruh tubuhnya.
Setelah Janet keluar, Gevaro diam sejenak mencerna yang terjadi. Dia mulai mengurai satu persatu sambil menata hati dan pikirannya.
"Jawab pertanyaannya tadi." Ucap Gevaro tegas.
"Pertanyaan apa?" Tanya Devan santai, seakan tidak terjadi sesuatu.
"Apa aku perlu ulang?" Bentak Gevaro.
"Tidak usah ditanggapi omongannya. Dia cuma sakit hati. Ada yang lebih penting untuk dibahas. Makanya aku ke sini." Devan mengelak untuk membahas tentang Janet.
Tetapi tidak bagi Gevaro. Dia mulai merangkai sikap Janet dan Devan. Dia yakin terjadi sesuatu dengan mereka. "Jawab pertanyaan Janet, atau aku minta Jensen membawamu keluar dari sini."
"Devin, aku kakakmu." Devan jadi emosi melihat sikap keras Gevaro yang tetap mau membahas Janet.
"Kakak yang cuma berjarak satu tarikan nafas. Jawab yang ditanyakan Janet. Karena itu juga pertanyaanku." Gevaro tetap teguh.
"Kau bilang tidak kenal, tapi kau sudah membuka kedokmu saat bertanya dia bikin apa di sini." Ucap Gevaro serius.
Devan merasa terjebak dengan pertanyaannya yang terkejut melihat Janet. "Dia cuma wanita sambil lalu, di masa lalu." Devan terpaksa mengakui. Karena dia perlu bicara dengan Gevaro, setelah lama berusaha bertemu dengannya.
"Wanita sambil lalu seperti apa?" Gevaro tidak melepaskan Devan, karena dia ingat anak Janet yang memiliki garis rahang keturunan keluarga mereka.
"Mengapa kau sangat ingin tahu?" Devan jadi kesal dan emosi.
"Kau ingin aku panggil Janet untuk menjelaskan hubungan wanita sambil lalumu?" Ancam Gevaro, karena wajah anak Janet sangat mengganggunya.
Oleh sebab itu, dia ingin tahu dari Devan sebelum bicara dengan Janet. Dia sudah lihat benang merah anak Janet dengan keluarga mereka lewat ungkapan singkat masa lalu Devan.
"Mami memberinya sebagai hadiah ulang tahunku." Devan terpaksa menjawab.
"Lalu kau tidur dengannya?" Gevaro terus mencecar untuk memastikan.
"Apa yang begitu perlu aku jelaskan juga?" Devan jadi gusar melihat Gevaro.
Praaaang... "Devin, kau bisa melukaiku?" Teriak Devan yang terkejut saat Gevaro melemparnya dengan papan nama CEO di atas meja.
"Mungkin dengan keluar sedikit darah dari kepala bisa memberimu pelajaran." Gevaro sangat emosi mendengar jawaban Devan. "Kau seperti idiot. Menerima hadiah seperti itu, lalu membawanya ke tempat tidur." Bentak Gevaro.
"Mengapa kau yang marah? Dia dan orang tuanya saja membiarkan." Devan tidak tahan dimarahi dan dibentak oleh Gevaro.
"Lebih baik kau berhenti membenarkan dirimu dengan alasan to'lol. Kalau tidak mau aku ke situ dan mematahkan batang lehermu."
"Apa dia bisa memberontak pada manusia sebesarmu?" Tanya Gevaro dengan nada suara lebih keras, penuh emosi.
"Aku berharap, doa Janet dikabulkan Tuhan. Supaya kau bisa membayar perbuatanmu dengan bunganya." Gevaro tidak bisa kendalikan amarahnya.
"Devin, apa kau bukan saudaraku?" Devan coba meredam amarah Gevaro.
"Saudara dengan membenarkan perbuatan tidak manusiawi? Pergi dari sini. Aku tidak ikut campur dengan dosa kalian." Gevaro menautkan kedua telapak sebagai tanda dia mencuci tangan dari apa yang dilakukan Devan.
"Aku yang tanggung dosanya. Sekarang kau yang harus berikan jawaban atas permintaan Mami." Devan tidak mau menyerah dan tidak mau pertemuannya dengan Gevaro tidak berhasil.
"Apa gunanya kau sebagai pewaris? Pergi ngurusin segala warisanmu. Aku tidak berminat kerja bersama orang seperti kalian." Gevaro mengibaskan tangan untuk mengusir Devan.
"Apa Mami perlu ke sini menyeretmu untuk ngurusin perusahaan keluarga?" Ancam Devan dengan menyebut nama Mami mereka.
"Apa kau kira bisa bertemu denganku di sini? Ini terakhir kali kau menyamar sepertiku dan mengelabui security untuk bertemu denganku."
"Kalau kalian berkeliaran di kantor ini, aku akan membuatmu atau Mami menyesal." Ancam Gevaro.
"Apa kau tidak malu bekerja dan sukseskan perusahaan musuh?" Devan masih coba merayu Gevaro.
"Mengapa aku harus malu, kalau bekerja mencari nafkah halal dengan kemampuanku? Kau tidak lihat aku menggunakan nama Gevaro saat bekerja?" Gevaro menunjuk papan namanya yang pecah di lantai dekat kaki Devan, dimana tertulis Gevaro D sebagai CEO.
"Aku mau menunjukan kepada kalian, ini seorang Gevaro bisa mensukseskan bisnis orang yang kalian anggap musuh." Gevaro menunjuk dadanya.
"Kau pengkhianat keluarga. Kau akan berhadapan dengan Opa. Tunggu saja setelah aku bicara dengan Mami."
"Kau masih saja hidup dalam bayang-bayang kesuksesan keluarga yang semu. Pergi bawa ancamanmu yang seperti kerbau tidak bertanduk." Gevaro mengusir Devan dengan menggerakan tangan.
Dia segera menelpon Jensen untuk masuk ke dalam ruangan, agar membawa Devan keluar. "Kau benar-benar tidak tahu berterima kasih. Mami akan hancurkan perusahaan ini karenamu." Ancam Devan sambil berdiri.
"Kau kira aku tidak tahu, kalian yang ada di belakang layar di perusahaan sebelumnya?" Gevaro balik menantang. "Aku tidak lakukan sesuatu, karena masih menahan diri dan membiarkan kalian."
"Tapi kau sudah datang menunjuk mukamu di perusahaan ini, tunggu saja balasanku. Kalau terjadi sesuatu dengan perusahaan ini, aku akan membiarkanmu mewarisi warisan ompong."
Jansen yang menahan diri berjaga di depan pintu segera masuk setelah di telpon. "Iya, Pak."
"Bawa orang itu keluar dari gedung ini dan bawa kepala keamanan ke sini." Perintah Gevaro dengan wajah kaku.
"Siap, Pak." Jensen mengerti maksud bossnya.
"Mari, Pak. Silahkan..." Jensen mempersilahkan Devan keluar dengan membuka pintu.
"Aku dan Mami tidak akan tinggal diam." Ancam Devan sebelum keluar. Dia sangat kesal, karena usahanya untuk membujuk Gevaro tidak berhasil.
Janet yang baru menenangkan hati dan pikiran di toilet, jadi terkejut melihat Devan berjalan ke arahnya dengan Jensen. 'Sekarang aku bisa mengetahui perbedaannya, walau dia berjalan dengan Pak Jensen.' Bisik hati Janet.
"Awas, kau berani menghasut Devin. Aku tidak akan membiarkanmu." Ancam Devan saat berpapasan dengan Janet.
"Ciiiih... Bisanya mengancam wanita. Kau kira aku empat tahun lalu yang membiarkanmu? Sekali aku upload perbuatanmu di soaial media, kau akan berjalan di jalan sambil menutup mukamu dengan karung goni." Janet jadi berani dan balik mengancam.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...