NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.

Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?

Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: DI BALIK DENDAM, ADA PERASAAN YANG DIBENCI

...BAB 6...

...DI BALIK DENDAM, ADA PERASAAN...

...YANG DIBENCI...

Mobil hitam Arka perlahan menghilang di tikungan jalan. Namun bayangannya seolah masih tertinggal kuat di halaman rumah. Di tangan Farhan masih tergenggam benda hitam seukuran biji jagung — alat sadap yang kesepuluh. Bukan kecerobohan, itu memang diletakkan dengan sengaja, persis di saat dia pergi. Ingin mereka tahu, bahwa dia selangkah di depan. Ingin keduanya gelisah terus‑menerus, sampai akhirnya lelah dan menyerah.

Bu Kirana masih terus memuji‑muji kebaikan pemuda itu sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Sama sekali tidak sadar, orang yang baru saja dia anggap seperti anak kandungnya sendiri, adalah sosok yang selama ini mengirim teror dingin di setiap hening malam mereka.

“Ibu bilang apa tadi? Sungguh jarang sekali ketemu orang sekaya dia tapi hatinya begitu lembut,” seru Bu Kirana sambil menata kotak buah bawaan Arka di meja makan. “Dia sangat sopan sekali, tutur katanya terjaga benar, pandai menghargai orang tua pula.”

Alina cuma tersenyum tipis sambil membantu membereskan. Hatinya terasa perih sekali. Ingin rasanya dia memegang kedua bahu ibunya, lalu bercerita panjang lebar soal segala firasat aneh, segala kemiripan menakutkan dengan sosok dari masa lalu yang hampir sepuluh tahun menghilang. Namun akal sehatnya selalu menahan pelan‑pelan. Belum waktunya. Belum ada bukti yang mengunci mati. Kalau dia bicara sekarang, dia cuma akan terlihat penuh prasangka buruk. Dan justru itulah yang diinginkan orang itu — memisahkan dia dari orang‑orang yang dia sayangi, membuatnya tampak sendirian dengan ketakutannya sendiri.

Sore harinya mereka berjalan berkeliling kompleks di tempat terbuka yang berangin kencang. Satu‑satunya cara paling aman bicara leluasa, tanpa khawatir suara mereka tertangkap alat apa pun. Farhan berjalan di sisi luar jalan, sorot matanya bergerak lincah mengamati sekeliling, naluri bela dirinya selalu terjaga penuh.

“Kamu sadar tidak, Han?” Alina membuka suara pelan, matanya memandang lurus ke jalan di depan. “Benda kecil di tanganmu tadi… dia sengaja biarkan ketemu. Bukan lupa.”

Farhan mengangguk berat. Jari‑jarinya sesekali meremas benda hitam itu masih terselip di sakunya.

“Sadar sekali. Itu bagian permainannya. Dia ingin kita berdua takut. Ingin kita sadar, bahwa setiap gerak‑gerik kita sedang dia awasi,” jawabnya pelan. “Dan satu hal lagi yang paling mengerikan, Lin. Raka yang dulu kita kenal itu pemarah, kasar, maunya menang sendiri, tidak sabaran. Tapi orang yang datang pagi tadi… semuanya dia hitung sampai sedetik pun. Kapan dia harus tersenyum, kapan harus mengangguk, kapan matanya dibuat berkaca‑kaca seolah tulus. Semuanya dilatih bertahun‑tahun. Dia berubah total menjadi jauh lebih berbahaya.”

Alina berhenti melangkah sebentar. Dadanya terasa sesak.

“Banyak sekali hal yang terlalu mirip, Han. Cara dia memiringkan kepala sedikit kalau mendengarkan orang bicara. Nada suaranya_ saat menekan kata‑kata tertentu. Kadang aku merasa… sedang berhadapan tepat dengan dia. Tapi kupikir lagi, masak mungkin dia bisa berani sedekat ini, masuk sampai ke ruang tamu rumah kita, sendirian? Sudah hampir sepuluh tahun dia hilang tanpa jejak.”

“Firasat kita berdua berteriak hal yang sama, Lin. Tapi sampai detik ini… Itu cuma firasat. Belum ada kepastian yang membuktikannya. Dan itulah yang membuatnya makin sulit kita lawan,” sahut Farhan pelan.

*****

Sementara itu, di sebuah tempat tinggi yang memandangi seluruh penjuru kota, Arka duduk sendirian di dalam kabin mobilnya yang gelap. Pintu tertutup rapat, kaca digelapkan total. Kedua tangannya mengepal kuat di atas setir sampai buku‑buku jarinya memutih. Dadanya terasa panas terbakar, karena dua perasaan berbeda yang saling bertabrakan hebat, menyiksa batinnya sendiri sampai‑sampai dia ingin berteriak.

Satu sisi, bara dendam yang sudah dipupuk bertahun‑tahun masih menyala terang. Pesan terakhir ayahnya sebelum napas terputus di balik jeruji besi selalu berputar di kepala.

Ingat, Raka. Keluarga itulah penyebab segala kehancuran kita. Buat mereka merasakan sakit yang berkali‑kali lipat lebih hebat dari apa yang kita rasakan.

Awalnya semuanya memang murni kebencian. Dia nekad mengubah wajah, nama, seluruh jati diri, semata‑mata supaya bisa mendekat, membuat mereka percaya bulat‑bulat, lalu menjatuhkan semuanya serendah‑rendahnya tepat di hari paling bahagia dalam hidup Alina. Dia ingin melihat dunia gadis itu runtuh persis seperti yang dulu dia rasakan saat melihat ayahnya dibawa pergi petugas hukum.

Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang kini makin menjalar kuat ke seluruh ruang hatinya. Sesuatu yang sangat dia benci keberadaannya, yang dia tekan sedalam‑dalamnya, tapi makin ditekan malah makin tumbuh subur.

Semakin dekat dia mengamati Alina, semakin sering dia mendengar suara lembut tapi tegas gadis itu, semakin jelas dia melihat bagaimana wanita itu menangkupkan kedua tangannya di dada menolak bersalaman dengan sopan, menyebutkan batas‑batas yang dia pelajari selama sekolah di Al‑Azhar, semakin dia melihat ketenangan yang memancar lembut dari balik kerudung yang menutup sempurna… perlahan rasa benci itu bercampur hal lain yang sama sekali tidak dia rencanakan. Kekaguman. Lalu tanpa sadar berubah menjadi rasa yang salah tempat.

Dia ingat betul detik pertama mereka bertemu kembali di lantai paling atas gedungnya. Saat Alina menolak uluran tangannya dengan tenang, tanpa gentar sedikit pun, hanya penuh keyakinan pada aturan Tuhan. Saat itulah ada getaran aneh di dadanya, yang sama sekali bukan amarah. Gadis kecil yang dulu dia kenal keras kepala, angkuh, pemarah, manja, sering menangis, tapi gampang diatur, kini sudah berubah menjadi wanita utuh, berilmu, berakhlak, berwibawa, memancarkan cahaya yang sama sekali tidak pernah dia miliki selama ini. Cahaya yang sebenarnya selalu dia cari‑cari seumur hidup, tapi tidak pernah dia temukan di tengah kemewahan dan kelicikan dunia yang dia jalani.

Dan yang paling menyiksa, yang membuatnya ingin menghancurkan apa saja yang ada di depannya, adalah setiap kali dia melihat Farhan selalu berdiri tegap di sisi Alina.

Cara pemuda itu memandang calon istrinya, penuh hormat sekaligus lembut. Cara mereka berjalan beriringan, selalu menjaga jarak suci tapi ikatan batinnya terasa begitu kuat sampai orang luar pun bisa merasakannya. Cara Farhan selalu sigap melangkah duluan kalau ada bahaya yang mengancam.

Saat melihat semua itu, dada Raka terasa diremas‑remas hebat sampai nyeri sekali. Bukan cuma marah karena rencana bisa terhalang. Itu cemburu. Cemburu buta, menyakitkan, perlahan memakan akal sehatnya sedikit demi sedikit.

Dia membanting kepalan tangannya pelan ke setir sampai kulitnya memerah. Suaranya keluar parau berbicara pada dirinya sendiri di tengah keheningan.

“Gila. Kau sudah Raka. Apa yang sedang terjadi denganmu?” desisnya pelan, penuh kebencian pada dirinya sendiri. “Dia musuhmu! Dialah alasan mengapa ayahmu mati di penjara yang lembap itu. Dialah sebabnya nama Haris runtuh seketika, dan kamu harus mengubur jati dirimu sendiri bertahun‑tahun lamanya. Kamu ke sini untuk menghancurkannya, bukan mengingat‑ingat senyumnya, bukan memikirkan caranya berbicara, apalagi sampai iri pada lelaki lain!”

Namun semakin dia membentak hatinya sendiri, semakin jelas dia sadar satu kenyataan pahit yang mengerikan. Dia tidak cuma ingin menghancurkan Alina karena dendam semata. Ada keinginan lain yang jauh lebih gelap dan rumit. Kalau dia tidak bisa memilikinya, kalau gadis itu tidak akan pernah memandangnya selain sebagai musuh, maka dia lebih baik memastikan tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh memilikinya. Terutama lelaki bernama Farhan Adhitama itu.

“Kau milikku dalam satu atau cara lain, Alina,” bisiknya lagi sendirian, suaranya bercampur amarah, rasa sakit, dan hasrat yang kacau balau. “Kalau bukan sebagai orang yang kau cintai, maka akan sebagai orang yang paling kau benci seumur hidup. Dan aku pastikan satu hal… nama Farhan tidak akan pernah sempat tertulis abadi di samping namamu sampai kapan pun.”

Dia sudah merencanakan langkah selanjutnya. Akan makin dekat lagi, makin terlihat sempurna di mata Bu Kirana dan Pak Aditya, menanam keraguan sedikit demi sedikit, membuat Alina makin bingung dan lelah. Sampai suatu saat nanti, gadis itu pun akan menangkap sendiri sinyal aneh itu — bahwa di balik setiap ancaman dan setiap rencana jahatnya, terselip seberkas perasaan yang bahkan Raka sendiri berusaha mati‑matian untuk mengingkarinya.

Jauh di bawah bukit, langit mulai berubah warna ungu kemerahan menandakan senja tiba. Alina dan Farhan berjalan beriringan pulang dengan langkah pelan. Tiba‑tiba Alina menghentikan langkahnya lagi. Dadanya terasa aneh, bukan cuma waspada atau takut. Ada getaran lain yang samar sekali.

“Han… ada satu hal lagi yang mengganjal sejak pagi,” ucapnya pelan sambil memeluk lengannya sendiri karena udara mulai terasa dingin. “Saat dia berpamitan tadi, sekilas, aku melihat tatapan matanya bukan sekadar penuh kebencian atau dendam lama. Tapi ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang gelap, menyakitkan, dan jauh lebih rumit dari sekadar ingin membalas dendam.”

Farhan berhenti berjalan, menoleh menatap wajah calon istrinya lekat‑lekat.

“Maksudmu?”

“Aku sih, belum mengerti persis apa itu. Tapi yang ku tahu satu hal pastinya.” jawab Alina pelan, matanya memandang ke arah bukit tinggi tempat tadi mobil hitam itu terparkir. “Musuh yang hanya membenci saja, langkahnya masih bisa kita duga. Tapi kalau hatinya sudah kacau balau, bercampur antara benci, dendam, dan perasaan lain yang mungkin bahkan dia tolak untuk akui… itu bisa jadi bom waktu. Bisa meledak kapan saja, tanpa pola, dan tanpa peringatan sama sekali.”

Farhan menghela napas panjang, lalu mengangguk berat. Angin sore berhembus kencang menerpa dedaunan di sekitar mereka, seolah setuju dengan setiap kata yang baru saja terucap. Permainan ini, baru saja berubah menjadi jauh lebih berbahaya dari apa pun yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Bersambung…

1
Kam1la
tega ya. .. menantu sudah sebaik Alina, masih saja kurang
Kam1la
akhirnya sama-sama minta maaf...😍
Kam1la
bercadar sepertinya agak sulit bagi Alina
Kam1la
mungkin gantian Alina yg cemburu sama Laila🤭
penulismisterius
baru baca beberapa bab, novel ini punya narasi alur yang jelas😀 semangat berkarya author😀😀
penulismisterius
eh ini sambungannya novel sebelumnya kah ,kak?
penulismisterius: siaap, kak🐬🐬
total 2 replies
penulismisterius
baru bab pertama saja, sudah sebagus ini🤗
penulismisterius: kembali kasih kak, 🐬🤗🤗
total 4 replies
Kam1la
semoga lekas punya momongan
Kam1la
tidak terasa sudah 2 bulan
Kam1la
so Sweet...😍
Kayla Rane: 😍😍😍🤭 MalPer
total 1 replies
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Kayla Rane: Maa Syaa Allah jazaakillah Khair KK, sudah mampir. tenang KA kalau ceritanya rada membosankan bisa di skip kalau ga suka, ini konflik beratnya cuma dari bab 1-29 saja. kesana nya hidup pernikahan Alina dengan bumbu2 cinta, ujian-ujian kecil di pernikahan mereka... selamat membaca 🙏😇
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Wiiih, tulisan-nya rapi gilak! Tspi, Kok Masih sepi pembaca ya? 😁😁😁 Aku tau Novel ini dari Grup NT di FB. 😁😁😁

Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad: Bagi aku, nggk baik rasanya, kalau membaca Karya penulis, itu langsung dari Bab 30 Kak, retensinya bisa turun nantinya Kak 😁😁😁 Itu sama saja aku lompat Bab Kak 🙏🙏🙏😁 Itu Nggk Baik untuk Novel Kakak Nanti 🙏🙏🙏😁

Waaah Bagus dong Kak 😁😁😁 Aku termasuk Pembaca yang Kritis loh Kak 😁😁😁 Biasanya, kalau ada Typo aku langsung Kasih Koreksi Ke Penulisnya Kak... 😁😁😁🙏
total 5 replies
Umi Zein
aku mampir kak, di awal cerita keren, semoga gak ada Konflik yg berat, soalnya aku kurang suka cerita dengan konflik yg berat😄 semangat kak Kayla ✊😍😍
Kayla Rane: pantengin KK sampai 29 episode konflik beratnya.. bab 30 nya pernikahan dan bumbu rumah tangga...
total 2 replies
Kam1la
senjata yang paling kuat adalah do'a
Kam1la
ye, jadi menikah. 😍
Kam1la: iya, aku ikut bahagia nih...
total 2 replies
Kam1la
kejujuran Raka sudah terlambat
Wulandari Ayuningtyas
suka deh sama ceritanya.....semangat terus y 💪🤗
Wulandari Ayuningtyas: sama2 kak 🤗
total 2 replies
Kam1la
Raka kena juga
Kam1la
aku bangga👍, bu Siti jujur
Kam1la
bu Siti ini juga, akhirnya terlibat kan...makanya hati-hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!