Menjadi seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya karena kecelakaan, kini Ayuna Kinanti Pradipta diasuh dan dibesarkan oleh om nya, Davian Robert adik dari Ibu Ayuna.
Biasa tinggal bersama Davian, membuat perasaan Ayuna perlahan berubah, jantung Ayuna bahkan berdebar kencang saat berada di dekat Davian.
Tak bisa lagi menahan perasaannya, Ayuna pun akhirnya mengungkapkannya kepada Davian.
Lantas bagaimana tanggapan Davian saat keponakannya sendiri mengungkapkan cinta padanya?
Akankah Davian menolak perasaan Ayuna atau justru menerimanya?
Ikuti ceritanya yuk di novel berjudul You Are My Sunshine, hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Ayuna meremas baju yang dipakainya. Sungguh detak jantungnya kini berpacu cukup kencang menunggu kata yang keluar dari mulut Ello.
Ana menoleh saat putranya bilang ingin mengatakan sesuatu, tapi sudah menunggu beberapa menit Ello tidak juga mengatakan apa yang ingin dia lakukan.
"Kenapa sayang?" Tanya Ana pada putranya yang tidak kunjung berbicara.
"Ello! Apa kamu mau melihat buku-buku ku?" Ucap Yuna mencegah Ello agar tidak mengatakan apa yang tadi dilihatnya.
"Ello, ayo ikut Om, kamu ingin ponsel yang mana, Om pasti akan membelikanmu untuk mengganti ponselmu yang rusak tadi," tidak hanya Yuna, kini Davian juga sedang berusaha untuk mencegah agar Ello tidak berbicara soal kejadian tadi di dapur.
"Mommy sebenarnya…"
"Ello!" dengan cepat Davian dan Ayuna seolah kompak memotong ucapan Ello.
Ana menatap Ayuna dan Davian bergantian, hingga kini berakhir menatap putranya dengan dahi mengerut.
"Kenapa?" Tanya Ana yang jadi penasaran, karena dia merasa ada yang disembunyikan ketiga orang itu.
"Jadi Ello…"
"Ello!" Yuna menatap Ello dengan pandangan memelas.
Ello hanya menatap Yuna sekilas, kemudian kembali menatap ke arah mommynya.
"Sebenarnya Ello ingin jalan-jalan sebelum kembali," ucap Ello.
Dan tubuh Yuna yang tadi sempat menegang, kini langsung tenang, dia kira Ello akan mengatakan tentang kejadian tadi.
"Oh itu, baiklah, bagaimana jika besok kita pergi jalan-jalan, Yuna juga akan ikut kan?" Tanya Ana.
"Oh iya, kamu sudah janjian ya sama teman kamu, atau lebih baik bareng-bareng saja ya," kata Ana.
"Tidak aunty, tadi Winda bilang jika tidak jadi pergi besok, jadi kita nanti bisa pergi bertiga saja," jawab Yuna.
"Bertiga? Kamu tidak ikut Davian?" Tanya Ana pada pria yang duduk di single sofa.
"Hmm tidak, besok aku harus pergi ke kantor, ada urusan penting, dan lagi aku juga akan pulang cepat, untuk mengantarkan Kak Ana ke bandara," jawab Davian yang memang ada pekerjaan kantor yang belum diselesaikannya.
"Ya sudah aunty, kalau begitu kita pergi bertiga saja juga tidak apa-apa aunty ," ucap Ayuna.
"Ya sudah seperti itu saja," jawab Ana melihat jam yang tertempel di dinding di ruangan itu.
"Sudah malam, sebaiknya kalian tidur," kata Ana.
"Ayo Elll!" Ajak Ana mengantarkan anak itu ke kamarnya dan menemaninya hingga tertidur.
Davian dan Yuna hanya saling pandang. Sepertinya mereka masih merasa canggung, antara satu dengan lainnya.
"Yuna Om…"
"Lupakan saja," jawab Yuna yang kemudian bangkit dari duduknya lalu berlalu pergi menuju kamarnya. Dia tahu jika Davian pasti akan kembali minta maaf dan Ayuna tidak ingin mendengarkan ucapan permintaan maaf Davian.
Davian hanya bisa menatap punggung Ayuna yang semakin menjauh. Dirinya juga tidak tahu kenapa sangat mudah terpancing jika itu menyangkut Ayuna.
***
"Mau kemana lagi?" Tanya Ana kepada putranya.
Mereka kini sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan.
"Hmm sepertinya sudah Mom, bagaimana kalau kita makan dan habis itu pulang, aku ingin tidur dulu sebelum nanti kita berangkat," ucap Ello dan Ana pun mengangguk setuju.
"Bagaimana sayang?" Tanya Ana menoleh ke arah Yuna, meminta pendapat gadis itu tentang apa yang tadi putranya katakan.
"Hmm, Yuna juga setuju aunty, lagian lihatlah!" Yuna menunjuk kedua tangannya yang penuh dengan belanjaan, karena tidak hanya Yuna bahkan Ana pun sama.
"Wah rupanya belanjaan kita banyak juga ya," ucap Ana yang baru tersadar jika belanjaannya sudah banyak bahkan kedua tangannya penuh dengan paper bag.
Ello hanya memutar bola matanya malas, sudah sangat hafal dengan kebiasaan mommynya yang selalu seperti itu, jika beli asal beli dan saat akan membayar, barulah sadar jika barang belanjaannya sangatlah banyak.
"Ya sudah ayo kita cari makanan saja," putus Ana dan kedua anak itu hanya mengikutinya di belakang.
"Kita makan disana saja Mom!" Ello dengan cepat menunjuk makanan yang diinginkannya.
"Aku juga setuju," jawab Yuna.
"Baiklah, ayo!"
Ana pun melangkah beriringan dengan Yuna, sedangkan Ello putranya berjalan di depannya.
…
"Ada apa lagi Jes, aku sibuk," ucap Davian yang terpaksa menerima panggilan masuk yang terus berulang-ulang kali berbunyi dan siapa lagi pelakunya, jika bukan Jessica.
"Vian bukannya kamu sudah janji kita akan makan bareng siang ini?" Tanya Jessica mengingatkan janji Davian padanya.
"Sorry aku tidak bisa siang ini, sore ini aku juga ada urusan, mungkin lain kali," jawab Davian.
"Lain kali? Lain kali kapan? Kamu harus katakan dengan jelas agar aku tahu pasti," ucap Jessica yang terlalu sering mendengar jawaban lain-lain kali saja jika dirinya mengajak Davian keluar.
"Besok," jawab Davian akhirnya.
"Baiklah besok, dan aku mau di rumah kamu," ucap Jessica bernegosiasi.
"Tidak bisa," jawab Davian cepat.
"Ya sudah jika kamu tidak mau di rumahmu, berarti kita harus makan bersama tujuh kali, bagaimana?"
Davian menghela nafas, "Baiklah," jawabnya pasrah karena jika dia menolak, Jessica punya seribu cara agar akhirnya dirinya mengiyakan apa yang dia mau.
Davian sangat tahu jika Jessica, wanita yang sangat keras kepala.
Mendengar jawaban Davian, Jessica dalam hati bersorak senang.
"Ya sudah, aku harus rapat sekarang," ucap Davian dan segera mengakhiri panggilan.
"Tuan kita berangkat sekarang!" Ucap Reza setelah mengetuk pintu yang memang terbuka.
Davian langsung bangkit mengancingkan jasnya kemudian berjalan keluar, karena dirinya memang ada rapat di luar.
"Ini semua gara-gara kamu," gerutu Davian menatap kesal Reza sang asisten yang Davian yakin sudah membocorkan semua informasi tentang dirinya pada Jessica.
"Maksud Anda Tuan?" Tanya Reza yang memang belum mengerti ucapan yang Davian maksud.
"Jessica, itu pasti karena ulahmu kan."
Reza menunduk, "Maaf Tuan, aku tidak bermaksud untuk…"
"Sudahlah, tapi ingat baik-baik jika dengan caraku dia tidak juga pergi dari kehidupanku, kau yang harus bertanggung jawab untuk membawanya menjauh dan pergi dariku," peringat Davian dan Reza hanya mengangguk sambil menunduk merasa bersalah.
…
"Om Davian belum juga pulang aunty?" Tanya Ayuna.
"Iya, jika dalam sepuluh menit Davian tidak juga pulang, aunty akan langsung berangkat," ucap Ana yang merasa kesal karena sepertinya Davian melanggar janji.
"Yuna coba hubungi Om dulu," kata Yuna mengambil ponselnya dan segera menghubungi Davian.
Tapi sayangnya, nomor Davian dalam keadaan tidak aktif.
"Kemana sih kamu Om?" Gumam Yuna sambil melirik ke arah Ana yang kini tengah bersiap.
"Ah Om Reza," ucap Ayuna tiba-tiba dan langsung menghubungi Reza untuk menanyakan tentang Om nya.
Nomor Reza aktif, tapi pria itu tidak kunjung menjawab panggilan darinya.
Yuna yang sedang mencoba menelpon kembali teralihkan saat mendengar suara aunty nya.
"Yuna, sepertinya aunty harus berangkat sekarang," kata Ana melihat jam di pergelangan tangannya.
Yuna mengangguk, "Baiklah, Yuna panggilkan taxi," kata Yuna dan baru saja kakinya akan melangkah, orang yang sejak tadi ditunggunya akhirnya muncul juga.
Apakah cinta baru akan mampu bertahan saat cinta pertama memiliki kenangan dan ruang tersendiri? Cari jawabannya di MY OWN KOREAN DRAMA
Chris McKenzie akan membawa kalian mengarungi indahnya cinta pertama dan bagaimana akhirnya dia dipertemukan dengan cinta baru. Siapa yang akhirnya dapat memenangkan aktris Korea Selatan Christina MacKenzie? Mantan bosnya atau member boyband GuBoy? Well.... kalian harus mengikuti kisahnya agar mengerti.
baru nyimak💪💪💪