NovelToon NovelToon
"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: mejatulis

Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGINTAI DI BALIK HUJAN

Sore itu, langit di atas Jakarta Selatan mendadak berubah menjadi abu-abu pekat yang menakutkan. Awan kumulonimbus bergulung-gulung rendah, menutup pendar cahaya matahari sebelum waktunya. Kurang dari lima belas menit setelah bel pulang sekolah berbunyi, hujan deras disertai angin kencang langsung mengguyur kompleks bangunan Harapan Elite International School. Suara gemuruh air yang menghantam atap kaca lobi depan terdengar konstan dan memekakkan telinga.

Di dalam ruang baca khusus OSIS di lantai tiga, Rina masih duduk sendirian di depan laptopnya. Sinar biru dari layar memantul di sepasang mata bulat hitamnya yang pekat. Jari-jemarinya yang lentik bergerak tanpa henti di atas papan ketik, menyusun draf restrukturisasi anggaran Divisi Logistik pasca kejatuhan Reza, sekaligus merancang analisis tren pasar komoditas tekstil untuk membantu restrukturisasi perusahaan ayahnya.

Jiwa dewasanya yang berusia dua puluh delapan tahun memaksa tubuh remaja enam belas tahun ini bekerja melampaui batas kemampuannya. Selama tiga hari berturut-turut, Rina hampir tidak tidur lebih dari empat jam semalam. Dampaknya mulai terasa sekarang. Kepalanya terasa sangat berat, denyut konstan yang menyakitkan mulai menyerang pelipisnya, dan pandangannya sesekali kabur.

“Satu halaman lagi... aku harus menyelesaikan modul ini sebelum besok,” batin Rina, memijat pangkal hidungnya yang terasa linu. Tubuhnya mulai diserang rasa menggigil yang halus akibat hawa dingin dari pendingin ruangan yang berembus konstan sejak pagi.

Ketika jam dinding digital di ruang OSIS menunjukkan pukul lima sore, Rina akhirnya menutup laptopnya dengan bunyi klik pelan. Dia merapikan buku-buku administrasinya ke dalam tas jinjing kulit minimalis, menyandang tas tersebut di bahu kiri, lalu melangkah keluar ruangan. Koridor lantai tiga sudah sepenuhnya mati, sepi dari lalu lalang manusia. Gema langkah kaki pantofel Rina terdengar sangat pelan dan sedikit terseret, kontras dengan langkah tegapnya yang biasa memancarkan dominasi.

Begitu Rina sampai di halte bus terbuka di depan gerbang utama sekolah, embusan angin malam yang membawa uap air hujan langsung menusuk kulitnya. Hujan masih turun dengan intensitas yang sangat lebat, menciptakan tirai air vertikal yang membatasi pandangan mata ke arah jalan raya.

Rina duduk di atas bangku besi halte yang dingin. Kepalanya mendadak berputar hebat. Rasa pusing yang tajam membuat dia terpaksa memejamkan mata erat-erat, menumpu keningnya di atas kedua telapak tangannya yang terasa sedingin es. Tubuhnya mulai gemetar hebat karena demam tinggi yang mendadak meledak akibat kelelahan ekstrem.

“Sial... tubuh remaja ini benar-benar ringkih,” rutuk Rina di dalam hati, mencoba mempertahankan kesadarannya yang perlahan mulai mengambang ringan di udara. Di kehidupan pertamanya, dia sering sakit sakitan karena stres dirundung. Dan sekarang, zirah mentalnya yang kuat ternyata tidak selaras dengan daya tahan fisik tubuh enam belas tahunnya.

Tidak ada angkutan umum yang lewat dalam waktu dekat karena kemacetan total akibat genangan air di sepanjang jalan protokol. Rina hanya bisa menyandarkan punggungnya pada pilar besi halte, memeluk tasnya erat-erat untuk mencari sedikit kehangatan, sementara kesadarannya perlahan-lahan mulai tersedot ke dalam kegelapan.

Ckiiiiittt.

Suara decitan halus ban mobil yang mengerem di atas aspal basah memecah suara gemuruh hujan. Sebuah sedan mewah hitam bermerek Mercedes-Benz Maybach berhenti tepat di depan lobi halte. Pintu penumpang bagian belakang terbuka dengan cepat, dan seorang remaja laki-laki melangkah keluar menembus tirai hujan sambil membawa sebuah payung hitam besar.

Itu adalah Kai Mahardika.

Jas sekolah hitamnya terpasang rapi, namun ekspresi wajah tampannya tidak lagi sedatar biasanya. Sepasang mata obsidian miliknya memancarkan kilat kepanikan yang sangat nyata dan langka begitu melihat sosok Rina yang sedang terkulai lemas di atas bangku halte dengan wajah yang sangat pucat seputih kain kafan.

Kai melangkah cepat, lalu berlutut di depan Rina, membiarkan sebagian bahu jas mahalnya basah kuyup demi memastikan payung hitam besarnya melindungi tubuh gadis itu sepenuhnya dari cipratan air hujan.

"Rina! Rina Azalea, buka matamu!" panggil Kai, suaranya yang bariton rendah tidak lagi menyembunyikan emosi dinginnya, melainkan bergetar penuh rasa cemas yang mendalam.

Rina membuka kelopak matanya dengan sangat lambat. Pandangannya yang buram menangkap wajah simetris tampan Kai yang berada dalam jarak beberapa sentimeter saja dari wajahnya. "Kai...?" bisik Rina, suaranya terdengar sangat serak, lemah, dan kehilangan seluruh nada otoritasnya yang biasa.

Kai tidak membalas ucapan Rina dengan kata-kata. Dia mengulurkan telapak tangan kanannya yang hangat, menempelkannya pada dahi Rina. Detik berikutnya, rahang Kai mengetat. Suhu tubuh Rina sangat panas, kontras dengan permukaan kulit tangannya yang sedingin es.

"Kamu pintar menyusun strategi makro untuk menghancurkan musuh-musuhmu di sekolah, Rina. Tapi kamu sangat bodoh dan ceroboh dalam mengurus tubuhmu sendiri," ketus Kai, nadanya terdengar marah namun sarat akan rasa protektif yang sangat dalam.

Tanpa menunggu izin atau jawaban dari Rina, Kai langsung menyelipkan lengan kekarnya di bawah tekukan lutut dan punggung Rina. Dengan satu gerakan taktis yang sangat bertenaga, Kai mengangkat tubuh kurus Rina ke dalam dekapan dadanya—sebuah gendongan gaya bridal style yang membuat tubuh mereka merapat secara mutlak di tengah guyuran hujan.

Rina terlalu lemah untuk meronta atau memasang sikap waspada dewasanya. Rasa hangat yang mengalir dari tubuh tegap Kai serta aroma maskulin beraroma cedarwood yang dingin dari jas pemuda itu mendadak terasa seperti sebuah tempat berlindung paling aman yang selama ini dia cari seumur hidupnya. Rina secara refleks menyandarkan kepalanya yang pusing di atas dada bidang Kai, membiarkan kelopak matanya menutup kembali dengan pasrah.

Kai membawa tubuh Rina masuk ke dalam kabin mobilnya yang luas, hangat, dan beraroma kulit mewah. Dia memposisikan tubuh Rina berbaring menyandar di atas jok kulit yang empuk, lalu menutup pintu mobil dengan bunyi ketukan pelan yang solid.

Kai duduk di sebelah Rina, langsung melepaskan jas sekolah hitamnya yang agak basah, lalu menyampirkannya ke atas seluruh tubuh Rina layaknya selembar selimut tebal untuk meredam rasa menggigil gadis itu. Dia kemudian mengambil sebuah termos perak kecil dari kompartemen tengah mobil, menuangkan cairan teh jahe madu hangat yang mengepulkan uap ke dalam cangkir kecil.

"Minum ini perlahan," perintah Kai, menyangga bagian belakang kepala Rina dengan tangan kirinya secara sangat halus, membantu gadis itu menyesap cairan hangat tersebut sedikit demi sedikit.

Rasa hangat dari teh jahe itu perlahan mengalir menelusuri tenggorokan Rina, memberikan sedikit pasokan energi bagi kesadarannya yang sempat meredup. Warna merah samar mulai kembali ke pipinya yang tadinya pucat.

Kai meletakkan kembali cangkirnya, lalu duduk bersandar sambil melipat tangannya di dada. Matanya yang sewarna obsidian menatap profil samping wajah Rina yang sedang terpejam dengan intensitas tajam yang sangat pekat—sebuah tatapan penuh romansa slow-burn yang sarat akan janji perlindungan absolut yang tak terbantahkan oleh badai apa pun di luar sana.

"Sopir, jalankan mobilnya. Cari klinik terdekat, setelah itu bawa kami ke apartemen pribadi saya di kawasan Semanggi," perintah Kai kepada sopir pribadinya di barisan depan melalui interkom kaca pembatas.

"Baik, Den Kai," jawab sang sopir patuh, langsung melajukan sedan mewah itu membelah kemacetan jalanan Jakarta yang diguyur hujan deras.

Di dalam kabin mobil yang hangat dan sunyi itu, Rina bisa merasakan genggaman tangan kanan Kai yang sangat erat dan hangat mengunci jemari lentiknya yang dingin di balik selimut jas sekolah. Ketegangan politik sekolah dan konspirasi bisnis keluarga besar seolah menguap habis dari kepala Rina, menyisakan sebuah debaran jantung yang sangat cepat dan nyata seumur hidupnya dilahirkan kembali di kehidupan kedua ini.

 

1
Deevy Tresiyana
mantap💪Thor lanjutkan karya-karya mu yg kereeen👍🤭
Ulla Hullasoh
kerennn Tror
Ulla Hullasoh
wowww👍
Tamaa
ambisius sekali si Rina
Tamaa
Kok 16 tahun? bukannya harusnya 18 tahun, soalnya dia balik ke 10 tahun yang lalu
Tamaa
Jejak dulu 👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!