Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung yang Bergeser
Jarum jam baru menunjukkan pukul setengah sembilan pagi ketika lobi utama Pratama Tower mulai dipenuhi bisik-bisik para karyawan. Berita mengenai pengejaran dramatis di Tanjung Perak hingga berujung pada penangkapan Baskoro telah menyebar begitu cepat. Meski tim humas perusahaan berusaha meredamnya lewat pernyataan resmi yang tersusun rapi, rasa penasaran para pegawai tetap sulit dibendung.
Namun, perhatian mereka seketika beralih saat pintu putar kaca terbuka dan memperlihatkan Jevandra serta Alana berjalan berdampingan memasuki gedung.
Jevandra tampil rapi dengan setelan jas abu-abu gelap yang pas di tubuhnya, memancarkan wibawa seorang pemimpin. Di sisinya, Alana tampak anggun mengenakan blazer putih gading yang dipadukan dengan celana panjang senada. Langkah keduanya selaras, penuh keyakinan, seolah menunjukkan bahwa mereka kini berdiri sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Tak seperti biasanya, Jevandra tak lagi menjaga jarak formal di depan publik. Tangannya dengan mantap melingkari pinggang Alana, membimbing sang istri melewati para staf yang menundukkan kepala penuh hormat.
"Siap?" bisik Jevandra ketika pintu lift khusus eksekutif menutup perlahan.
Alana melirik bayangan mereka yang terpantul di dinding lift yang mengilap. Dengan gerakan ringan, ia merapikan kerah jas Jevandra yang sedikit bergeser.
"Seharusnya aku yang menanyakan itu," balasnya sambil tersenyum tipis. "Hari ini kamu bukan lagi anak yang datang mencari arahan dari ayahmu. Kamu akan berdiri di hadapannya sebagai seorang CEO yang membawa hasil nyata."
Senyum kecil terukir di wajah Jevandra. Sebelum pintu lift terbuka, ia menggenggam tangan Alana dan mengecup singkat punggung tangannya.
"Kalau kamu ada di sampingku," ucapnya pelan, "ruang rapat itu bahkan terasa seperti taman bermain."
Begitu mereka memasuki lantai dua puluh delapan, suasana langsung berubah sunyi.
Ruang rapat utama telah dipenuhi para komisaris. Di ujung meja oval yang panjang, Bimo Pratama duduk dengan ekspresi dingin, sementara para anggota dewan lainnya sibuk menelusuri laporan di tablet masing-masing.
Keheningan semakin pekat ketika Jevandra dan Alana melangkah masuk.
"Duduklah, Jevandra... Alana," ujar Bimo singkat sambil menunjuk dua kursi di sisi kanan meja—tempat yang biasanya ditempati oleh orang-orang kepercayaannya.
Seperti biasa, Jevandra lebih dulu menarikkan kursi untuk Alana sebelum duduk di sampingnya. Tanpa menunggu arahan, ia segera menghubungkan laptop ke proyektor utama.
"Saya paham agenda rapat pagi ini adalah meminta pertanggungjawaban saya atas seluruh kejadian di Surabaya," katanya dengan suara tenang namun tegas. "Baskoro telah resmi ditahan oleh Polairud dan Bea Cukai atas dugaan penggelapan aset, pencucian uang, serta spionase industri. Seluruh data transaksi yang terhubung ke Cayman Islands juga sudah berhasil diamankan."
Seorang komisaris senior berdeham pelan.
"Kami menghargai keberhasilan itu, Pak Jevandra. Namun keputusan Anda menyerahkan Vanguard Maritime kepada Wijaya Logistics tanpa persetujuan dewan jelas melanggar prosedur tata kelola. Bukankah itu berarti Pratama kehilangan salah satu anak perusahaan yang cukup potensial?"
Sebelum Jevandra menjawab, Alana lebih dulu mengambil alih.
Senyumnya tetap sopan, tetapi tatapannya tajam.
"Potensial dalam hal apa, Pak Hendra?" tanyanya tenang. "Potensial menyeret Pratama Group masuk ke dalam jaringan penyelundupan internasional?"
Ia menyentuh layar tabletnya, dan seketika grafik hasil audit forensik muncul di layar utama.
"Selama tiga tahun terakhir, Vanguard Maritime hanyalah lubang hitam keuangan. Baskoro sengaja menumpuk utang operasional untuk menyamarkan dana yang ia gelapkan dari perusahaan. Jika kita mempertahankannya, Pratama harus menggelontorkan sekitar seratus lima puluh miliar rupiah hanya untuk menyelamatkan perusahaan itu. Mengapa kita harus menanggung utang yang lahir dari pengkhianatan?"
Jevandra melanjutkan penjelasan istrinya.
"Karena itu saya menyerahkan 'bom waktu' tersebut kepada Wijaya Logistics. Sebagai gantinya, mereka mengambil alih seluruh liabilitas Vanguard sekaligus memberikan hak distribusi eksklusif dengan potongan tarif dua puluh persen selama lima tahun. Kita terbebas dari beban hukum, menghilangkan risiko finansial, dan justru meningkatkan margin keuntungan logistik. Jadi... apakah masih ada yang menganggap keputusan ini merugikan perusahaan?"
Ruangan kembali hening.
Pak Hendra tak lagi memberi sanggahan. Sementara itu, beberapa komisaris mulai saling bertukar pandang dan mengangguk pelan setelah melihat angka-angka proyeksi keuntungan yang terpampang jelas di layar.
Dari tempat duduknya, Bimo Pratama mengamati putra dan menantunya tanpa berkedip.
Ia menyadari perubahan besar yang terjadi pada keduanya.
Jevandra kini memiliki keberanian mengambil keputusan yang dulu belum pernah ia tunjukkan. Sementara Alana tampil sebagai sosok yang tajam dalam membaca situasi dan kuat dalam menyusun strategi.
Mereka bukan lagi pasangan yang hanya dipersatukan demi kepentingan bisnis keluarga. Kini mereka benar-benar menjadi partner yang saling melengkapi dan mampu menghadapi siapa pun.
Surya perlahan menyandarkan tubuhnya.
"Keputusanmu memang tidak lazim, Jevandra," katanya akhirnya. "Namun sulit untuk menyangkal bahwa hasil akhirnya adalah pilihan terbaik dari kekacauan yang ditinggalkan Baskoro."
Ia lalu mengalihkan pandangan kepada seluruh anggota dewan.
"Apakah masih ada keberatan?"
Tak seorang pun menjawab.
"Baik. Rapat selesai. Tim legal segera selesaikan finalisasi kontrak dengan Wijaya Logistics."
Ia berhenti sejenak.
"Jevandra... Alana... kalian tetap di sini. Papa ingin membicarakan sesuatu."
Satu demi satu komisaris meninggalkan ruangan hingga hanya tersisa mereka bertiga.
Begitu pintu tertutup rapat, Bimo mengembuskan napas panjang. Raut wajahnya yang selama rapat begitu tegas kini tampak jauh lebih lembut.
"Kamu benar-benar membuat Papa terkejut, Jev," katanya perlahan. "Papa sempat berpikir Baskoro akan menghancurkanmu."
Jevandra tersenyum kecil.
"Saya tidak menghadapi semuanya sendirian, Pa."
Ia menoleh kepada Alana, lalu menggenggam tangan istrinya di atas meja tanpa ragu.
Surya memperhatikan pemandangan itu dengan senyum tipis.
"Papa bisa melihatnya. Tatapanmu sekarang berbeda. Dan Alana... terima kasih sudah menjaga Jevandra."
Alana menggeleng pelan.
"Kami saling menjaga, Papa."
Keheningan sesaat menyelimuti ruangan sebelum Bimo kembali berbicara.
"Kakek Haryo menelepon Papa dini hari tadi."
Jevandra dan Alana saling bertukar pandang.
"Beliau memujimu, Jevandra. Katanya, akhirnya Pratama memiliki penerus yang benar-benar memiliki taring."
Bimo berhenti sejenak.
"Tapi beliau juga mengingatkan satu hal. Katanya, aliansi yang kuat hanya akan bertahan jika dibangun di atas fondasi yang nyata, bukan sekadar kesepakatan di atas kertas."
Tatapan Bimo menjadi lebih dalam.
"Papa tidak tahu apa maksud sebenarnya. Tapi Papa berharap kalian benar-benar memahami jalan yang sedang kalian tempuh."
Jevandra menggenggam tangan Alana sedikit lebih erat.
"Kami tahu, Pa," jawabnya mantap. "Dan fondasi yang kami bangun jauh lebih kokoh daripada yang orang lain bayangkan."
.
.
.
Begitu keluar dari ruang rapat, seluruh ketegangan yang sejak pagi membebani pundak mereka seakan ikut menghilang.
Jevandra mengajak Alana masuk ke ruang kerja CEO, lalu menutup dan mengunci pintunya.
Alana bersandar santai di daun pintu sambil melipat kedua tangan.
"Jadi, Pak CEO," godanya ringan, "semua ancaman sudah selesai. Apa agenda kita berikutnya?"
Jevandra melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
Kedua tangannya bertumpu di sisi kanan dan kiri Alana, membuat wanita itu terkurung dalam kedekatan yang hangat.
"Agenda berikutnya?" ujarnya pelan sambil menatap mata Alana. "Aku ingin membatalkan semua rapat siang ini."
Alana mengangkat sebelah alisnya, berusaha menyembunyikan senyum yang mulai mengembang.
"Lalu?"
"Aku ingin mengajak istriku pulang. Kita pesan makanan cepat saji, menghabiskan waktu bersama, dan melupakan urusan perusahaan untuk sehari. Tidak ada harga saham, tidak ada ancaman, tidak ada rapat. Hanya kita berdua."
Tawa kecil Alana mengisi ruangan.
Itu adalah tawa yang selama ini nyaris tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, namun kini muncul begitu alami di hadapan Jevandra.
Dengan lembut, ia merapikan dasi suaminya.
"Itu mungkin strategi terbaik yang pernah kamu buat, Jevandra."
Jevandra tersenyum hangat.
Tanpa banyak kata, ia mendekat dan mengecup kening Alana singkat. Keduanya saling menatap dengan senyum yang sama, menikmati momen tenang setelah melewati badai panjang.
Di luar sana, dunia bisnis Jakarta masih dipenuhi persaingan dan intrik yang belum berakhir. Akan selalu ada tantangan baru yang menunggu.
Namun, di balik pintu ruang kerja yang tertutup rapat, Jevandra dan Alana sadar bahwa mereka telah memenangkan pertarungan terpenting dalam hidup mereka—bukan sekadar mengalahkan musuh, melainkan membangun kepercayaan, saling menguatkan, dan menyatukan dua hati yang kini melangkah ke arah yang sama.
**Bersambung...**